;
Tags

Korporasi

( 1557 )

Danantara Akan Benahi Sengkarut Timah

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Mining Industry Indonesia (MIND ID), holding BUMN Industri Pertambangan, bakal membawa sengkarut masalah  tata kelola komoditas timah PT Timah Tbk (TINS) ke Danantara. Hal itu dilakukan agar lembaga superholding BUMN ini ikut terjun pada tataran taktis dan strategis, untuk membenahi tata kelola sekaligus menyehatkan kembali PT Timah. Saat ini, PT Timah menghadapi sejumlah masalah besar yang dikelompokkan dalam empat klaster utama. Pertama, menyangkut  permasalahan operasional seperti penambangan illegal (illegal mining) dan perdagangan illegal (illegal trading/commerce). Kedua, persolaan tata kelola  hulu seperti rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) yang menjadi domain Kementerian ESDM dan analis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan wewenang dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Klaster ketiga, PT Timah juga menghadapi persoalan pada aspek kerja tata kelola niaga seperti persetujuan ekspor dan penjualan fisik melalui bursa yang output-nya mencakup ekspor timah batangan (ingot) dan kebutuhan domestik. Dimana, Kementerian Perdagangan memegang  wewenang pada tata kelolal niaga ini. Klaster terakhir dalam hal tata kelola timah, emiten berkode saham TINS tersebut menghadapi tantangan dari sisi tata kelola industri seperti hilirisasi yang merupakan domain Kementerian Perindustrian. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoedin menyatakan, dalam upaya menyempurnakan tata kelola timah yang lebih baik perlu koordinasi antar kementerian dan lembaga untuk mencapai tujuan  hilirisasi komoditas timah di Indonesia.(Yetede)

 

Ekosistem Industri Penerbangan Tanah Air Dipacu

KT1 15 May 2025 Investor Daily

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus mendorong terciptanya ekosistem industri penerbangan di tanah Air mampu memiliki daya siang dengan negara lain. Setiap tahap awal pemerintahan bakal mengembangkan Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat. Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi mengatakan, menciptakan ekosistem industri penerbangan di dalam negeri harus bisa dilakukan bertahap, salah satunya dengan mendorong ekosistem bisnis layanan fasilitas dan perawatan atau Maintance Repair and Overhaul (MRO) di Tanah Air dengan memanfaatkan Bandara Internasional Kertjati di Jawa Barat. “Untuk ekosistem MRO, saya optimis hars bias bergerak seperti yang kami lakukan di Bandara Kertajati.

Segala upaya kami lakukan, dimana  kemarin Garuda Maintance Facility (GMF) AeroAsia sudah beroperasi di kawasan Aerospace Park Kertajati meski baru sebatas perawatan helicopter,” ujar Menhub Dudy. Menurutnya lahan untuk pengembangan Bandara Internasional Kertajati sebagai Kawasan Aerospace Park juga sudah tersedia. Sehingga dengan beroperasinya GMF diharapkan mampu mengundang para pelaku usaha lain yang berkecimpung di sektor aviasi dan kargo untuk bisa berinvestasi Aerospace Park. “Dengan adanya GMF kita berharap bisa  memantik industri aviasi lain bisa masuk ke Kertajati,” Bandara Kertajati tidak hanya berfungsi sekedar bandara, namun juga bisa berkembang dengan ekosistem aviasi yang lebih besar seperti MRO, kargo dan penerbangan haju hingga umroh. (Yetede)

Penurunan Bunga Tekan Ekspansi

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten perusahaaan pembiayaan pada  kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38 miliar. (Yetede)

Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (multifinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas larangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Tercatat sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun.  Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana pada Maret  2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp 278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan Maret 2024 yang sebesar Rp 432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp122,38 miliar. (Yetede)

Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak

HR1 15 May 2025 Kontan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia berhasil menunjukkan performa positif pada kuartal I-2025. Seluruh tujuh bank yang dimiliki investor Korsel mencatatkan laba bersih, menandakan ketahanan dan keberhasilan strategi mereka dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Capaian paling mencolok ditorehkan oleh PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang berhasil membalikkan kondisi dari rugi Rp 6,33 miliar pada kuartal I-2024 menjadi laba bersih Rp 351,92 miliar pada kuartal I-2025. Woo Yeul Lee, Direktur Utama KB Bank, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari transformasi menyeluruh sejak bergabung dengan KB Financial Group pada 2021. Ia menegaskan bahwa dukungan induk perusahaan dan komitmen jangka panjang menjadi kunci kebangkitan KB Bank.

PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) juga mencetak pertumbuhan laba signifikan sebesar 606,36% yoy, mencapai Rp 30,4 miliar. Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, menyebut pencapaian ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih serta efisiensi operasional. Bank ini juga mencatat kenaikan kredit sebesar 15,2% dan menargetkan pertumbuhan kredit 10% sepanjang 2025, dengan fokus pada UMKM, konsumsi, dan korporasi.

Sementara itu, Bank Nobu membukukan pertumbuhan laba 115,76% yoy, mencapai Rp 110,10 miliar pada kuartal I-2025.

Di tengah gejolak global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia mampu mencetak kinerja impresif berkat strategi efisiensi, dukungan grup induk, transformasi organisasi, serta ekspansi penyaluran kredit yang selektif. Tokoh-tokoh seperti Woo Yeul Lee dan Efdinal Alamsyah menegaskan pentingnya visi jangka panjang dan penguatan fundamental dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Harga Produk Turun, Marjin Laba Terancam

HR1 15 May 2025 Kontan
Meski kinerja PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) melemah pada kuartal I-2025 akibat cuaca buruk dan gangguan logistik, para analis tetap optimistis perusahaan akan mencapai target produksi 6,8 juta ton dan penjualan 6,1 juta ton batubara hingga akhir tahun. Optimisme ini ditopang oleh pemulihan operasional, perbaikan infrastruktur logistik, dan meredanya tensi perang dagang global.

Analis Ciptadana Sekuritas, Thomas Radityo, menyatakan hambatan produksi bersifat sementara dan proyeksinya akan pulih mulai kuartal II 2025, seiring rampungnya pembangunan konveyor pemuatan tongkang kedua.

Sementara itu, Iqbal Suyudi dari Edvisor Profina menyoroti faktor eksternal seperti membaiknya cuaca dan potensi peningkatan permintaan dari China yang menjadi katalis positif bagi ADMR. Ia juga menyambut baik kontribusi tambahan dari proyek smelter aluminium baru milik anak usaha ADMR, PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang dijadwalkan mulai beroperasi komersial di kuartal IV 2025.

Di sisi lain, Andhika Audrey dari Panin Sekuritas menjelaskan bahwa penurunan kinerja keuangan ADMR pada kuartal I disebabkan oleh jatuhnya harga jual rata-rata batubara metalurgi, meski volume penjualan naik. Ia menilai efisiensi yang dilakukan belum mampu menahan penurunan margin, namun tetap merekomendasikan buy untuk saham ADMR karena adanya diversifikasi ke energi hijau dan proyek smelter.

TIK Membeberkan Peran Operator Telekomunikasi dalam Memperkuat Konektivitas

KT1 14 May 2025 Investor Daily (H)
Huawei, perusahaan teknologi, informasi dan komunikasi (TIK) global membeberkan peran operator telekomunikasi dalam memperkuat konektivitas dan transformasi digital. Terdapat tiga nilai utama yang dikontribusikan operator telekomunikasi  untuk mendorong transformasi digital. Terdapat tiga nilai utama yang  dikontribusikan formasi digital, yakni connection value (konektivitas), industry value (dukungan bagi industri), dan era value (relevansi dengan zaman). "Dalam laju akselerasi industri TIK, tiga nilai utama yang dikontribusikan operator telekomunikasi untuk mempercepat ekonomi digital, connection, indusrty, dan Era, akan terus jadi penentu arah kemajuan, memastikan kemajuan dan mampu meraih potendi era digital sepenuhnya," kata President of Carrier Business Group Huawei Kawasan Asia Pasifik Denny Deng. Terkait connection value, berarti operator mendukung suatu eksositem yang terdiri dari individu rumah-rumah, dan internet of things (IoT) dimana  semua saling terhubung sepenuhnya. Kondisi ini mendorong perluasan layanan digital, dan di saat yang sama menegaskan adanya peluang untuk meningkatkan penetrasi 4G  guna mewujudkan konektivitas yang lebih luas. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)

Beban Operasional Ancam Kinerja Perusahaan

HR1 14 May 2025 Kontan
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) tengah mengandalkan strategi ekspansi ke luar Pulau Jawa dan rebranding toko menjadi AZKO untuk mendorong pertumbuhan penjualan pada 2025. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% yoy dan SSSG (same store sales growth) sebesar 1%.

Menurut Jocelyn Santoso, analis Maybank Sekuritas, strategi ekspansi ACES dengan pembukaan 25–30 toko baru, termasuk tiga toko di luar Jawa pada kuartal I-2025, berpotensi mendorong SSSG hingga 3%, lebih tinggi dari target internal perusahaan. Ia juga menilai ekspansi ke wilayah dengan kompetisi rendah dapat meningkatkan margin laba. Meski begitu, Jocelyn memperkirakan pertumbuhan penjualan ACES hanya akan mencapai 4,45% yoy pada akhir tahun.

Sementara itu, Indy Naila dari Edvisor Provina Visindo memperingatkan bahwa ekspansi bisa menjadi pedang bermata dua, karena dapat menaikkan beban operasional dan pemasaran. Ia menekankan pentingnya kontrol pengeluaran agar margin tetap terjaga.

ACES juga menghadapi tekanan dari proses rebranding toko menjadi AZKO. Jocelyn mencatat, beban operasional meningkat karena rebranding dan tunjangan Lebaran, yang menyebabkan penurunan laba bersih 31,1% yoy pada kuartal I-2025, meski penjualan naik 7,2% yoy menjadi Rp 2,14 triliun.

Namun, analis Kiwoom Sekuritas Abdul Azis tetap optimistis. Ia memproyeksikan pertumbuhan penjualan ACES dapat mencapai 5,6% yoy ke Rp 9,06 triliun di akhir 2025. Ia menilai valuasi saham ACES menarik, dengan sebagian besar risiko sudah tercermin dalam harga saham.

Dari sisi rekomendasi, Jocelyn dan Azis memberikan rating buy dengan target harga masing-masing Rp 750 dan Rp 645, sedangkan Indy merekomendasikan hold dengan target Rp 935.

Ekspansi dan rebranding ACES dinilai menjanjikan namun penuh tantangan. Keberhasilan strategi ini bergantung pada kemampuan perusahaan mengelola biaya dan mempertahankan margin di tengah tekanan operasional dan ketatnya persaingan ritel.