;
Tags

Internasional

( 1369 )

Bisakah Dunia Bertahan Tanpa Migas Rusia

KT1 08 Jun 2022 Investor Daily (H)

Rusia adalah pemain utama di pasar energi global dan satu dari tiga produsen minyak mentah terbesar di dunia, bersama Arab Saudi dan Amerika Serikat. Invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari akan sangat berdampak pada pasokan energi global, dan pada perekonomian Rusia sendiri. Rusia sangat tergantung pada pendapatan minyak dan gas alam, yang mencakup 45% dari anggaran federal menurut data 2021. Tahun lalu, Rusia mengekspor 4,7 juta bph minyak mentah ke berbagai negara di seluruh dunia. Dilihat data per negara, Tiongkok adalah negara pengimpor terbesar dengan volume 1,6 juta bph. Namun secara kawasan pasar minyak mentah Rusia adalah Eropa yaitu 2,4 juta bph. Gangguan pasokan minyak global akan pertama kali melanda Uni Eropa (UE) setelah kawasan itu memutuskan  kebijakan embargo terhadap  Rusia. UE telah sepakat melarang semua minyak impor dari Rusia yang dikirim lewat laut mulai akhir tahun ini.(Yetede)

EMBARGO MINYAK RUSIA MENGANCAM KETAHANAN ENERGI EROPA

KT3 08 Jun 2022 Kompas

Berdasarkan data resourcetrade.earth pada 2015-2020, kebutuhan impor minyak bumi di Uni Eropa yang berasal dari sejumlah negara rata-rata berkisar 990 juta ton oil equivalen (toe) per tahun, 236 juta toe atau 24 % didatangkan dari Rusia. Impor minyak bumi Uni Eropa ini setiap tahunnya membutuhkan dana 431 juta USD, artinya, 93 juta USD dibayarkan Uni Eropa kepada Rusia tiap tahun sebagai imbal jasa atas transaksi komoditas minyaknya. Demikian pula dengan gas bumi. Setiap tahun Uni Eropa mendatangkan produk impor energi fosil jenis ini 453 juta toe dari sejumlah negara di dunia. Salah satunya berasal dari Rusia yang mengirimkan 68 juta toe gas buminya ke kawasan Eropa. Total nilai ekonomi yang harus dibayarkan Uni Eropa dari perdagangan impor gas bumi ini kepada Rusia rata-rata 19 miliar USD per tahun. Besaran nilai impor ini setara 15 % seluruh impor gas bumi Uni Eropa. Total, ketergantungan Uni Eropa terhadap komoditas minyak dan gas dari Rusia rata-rata 20 % kebutuhan per tahun.

Akibat invasi Rusia ke Ukraina, akhir Mei 2022, para pemimpin Uni Eropa bersepakat untuk memberlakukan larangan impor minyak dari Rusia sebagai bentuk kebijakan untuk menghentikan serangan Rusia terhadap Ukraina. Para pemimpin negara negara kawasan Eropa itu sepakat untuk melarang pasokan 75 % minyak bumi dari Rusia dan akan ditingkatkan hingga 90 % pada akhir 2022. Tujuannya, agar Rusia segera mengakhiri invasinya ke Ukraina. Untuk mencapai tujuan embargo sebagai sarana menghentikan perang, Uni Eropa perlu bekerja sama dengan sejumlah negara produsen migas terbesar di dunia. Uni Eropa harus segera mendapat kepastian pasokan energi fosil dari negara-negara produsen dan eksportir migas terbesar di dunia, seperti AS, Arab Saudi, dan negara-negara Timur Tengah lainnya. Dapat pula menjajaki peningkatan kerja sama energi dengan Kanada dan juga negara-negara di Afrika Barat. Dengan mendapat pasokan migas dari negara-negara produsen tersebut, peluang gejolak ekonomi akibat pelarangan impor energi fosil dari Rusia dapat diminimalkan. Harga sektor energi dapat dikendalikan sehingga kondisi perekonomian global kondusif. (Yoga)


Risiko Global dan Pemulihan

KT3 07 Jun 2022 Kompas

Meningkatnya risiko global saat ini berkaitan dengan kenaikan suku bunga The Fed dan bank-bank sentral lain karena inflasi tinggi. Inflasi di AS 8,4 %, di Eropa 7,5 %, Inggris 9 %, dan di banyak negara berkembang lebih tinggi lagi. Perang Rusia-Ukraina mendorong harga pangan dan energi naik. Tindakan lockdown karena Covid-19 di Shanghai, China, menekan pertumbuhan ekonomi China dan global karena menghambat rantai pasok global dan konsumsi. Bahkan beberapa pihak memperkirakan akan terjadi stagflasi, yaitu resesi (pertumbuhan negatif) dan inflasi tinggi.

Meningkatnya risiko global ini tentu berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia. Namun, sebagai negara penghasil komoditas, Indonesia juga diuntungkan dengan ekspor yang meningkat tinggi, surplus perdagangan, dan meningkatnya konsumsi masyarakat membuat pertumbuhan ekonomi berlanjut, 5,01 % di triwulan I-2022. Adapun inflasi mulai meningkat ke 3,47 %, setara suku bunga kebijakan BI 3,5 %. Semestinya suku bunga kebijakan lebih tinggi secara memadai daripada inflasi. Menahan inflasi dengan menambah subsidi energi yang terus membesar tentu sangat memberatkan APBN dan distortif terhadap perekonomian.

Risiko global meningkat dengan berlanjutnya perang Rusia-Ukraina. Dengan penghentian impor minyak dari Rusia, harga minyak meningkat lagi di atas 100 dollar AS/barel. Harga pangan juga naik karena Rusia dan Ukraina produsen besar gandum. Ditambah lagi dengan lockdown di Shanghai membuat ekonomi China mengalami perlambatan dan rantai pasokan terganggu. Risiko global ini kemungkinan masih akan tinggi sampai 2023 karena ketidakpastian dari kenaikan harga pangan dan energi dari pengaruh berlanjutnya perang Rusia-Ukraina. (Yoga)


AS Bebaskan Tarif Impor Panel Surya ASEAN

KT3 07 Jun 2022 Kompas

Presiden AS Joe Biden dikabarkan bakal membebaskan tarif impor panel surya dari empat negara di Asia Tenggara. Keempat negara itu meliputi Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Malaysia yang selama ini memasok 80 % kebutuhan panel surya ke perusahaan-perusahaan manufaktur di AS. Namun, Pemerintah AS masih akan melakukan penyelidikan atas sebuah laporan yang menduga bahwa produsen panel surya di empat negara itu merupakan anak-anak perusahaan China. (Yoga)

Pendanaan Global Disepakati

KT3 07 Jun 2022 Kompas

Negara-negara G20 sepakat membentuk Dana Perantara Keuangan sebagai mekanisme pendanaan global dalam penanganan pandemi. Melalui mekanisme ini, penanganan pandemi di masa depan diharapkan lebih baik sekaligus mempermudah akses pada kebutuhan medis bagi semua negara, terutama negara berkembang. Menkes RI Budi Gunadi Sadikin dalam The Second G20 Health Working Group Meeting di Lombok, NTB, Senin (6/6) menyampaikan, mobilisasi sumber daya keuangan global menjadi bagian penting dalam upaya penguatan ketahanan sistem kesehatan global. Sumber daya keuangan tersebut diperlukan mulai dari upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga respons pandemi.

Pertemuan Health Working Group Kedua ini mengusung tema ”Membangun Ketahanan Sistem Kesehatan Global”. Sebanyak 250 delegasi terlibat dalam pertemuan tersebut dengan 90 delegasi hadir secara langsung dan sisanya hadir secara daring. Tiga agenda utama yang dibahas dalam pertemuan itu, yakni mobilisasi sumber daya keuangan untuk pandemi dan mobilisasi sumber daya kesehatan dasar untuk pandemi. Agenda lainnya, optimalisasi surveilans genomik dan penguatan mekanisme berbagi data untuk kesehatan masyarakat global. Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus  menyampaikan, rancangan terkait dana perantara keuangan akan dibahas bersama dengan Bank Dunia. Ia sepakat jika WHO menjadi koordinator untuk investasi terkait ketahanan kesehatan global. Dana kontingensi WHO juga diperlukan untuk kondisi darurat demi memastikan pembiayaan dapat terukur untuk tanggap darurat. (Yoga)


WHO: Wabah Cacar Monyet Mencapai 780 Kasus

KT1 06 Jun 2022 Investor Daily

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan pada Minggu (5/6), bahwa 780 kasus cacar monyet yang terkonfirmasi di laboratorium dilaporkan dari 27 negara non-endemik. WHO pun sedang berupaya mempertahankan kasusnya di tingkat risiko global sedang. "Sangat mungkin negara lain akan mengindentifikasi kasus dan bakal ada penyebaran virus lebih lanjut," ujar WHO, yang dilansir AFP. Kini, satu kasus cacar monyet terkonfirmasi di negara non-endemik telah dianggap sebagai wabah. "Beberapa negara melaporkan bahwa generasi baru kasus tidak lagi muncul hanya di antara kontak yang  diketahui dari kasus yang dikonfirmasi sebelumnya. Ini menunjukkan rantai penularan terlewatkan melalui sirkulasi  virus yang tidak terdeteksi. Meskipun risiko saat ini terhadap kesehatan manusia dan masyarakat umum tetap rendah, risiko kesehatan masyarakat dapat menjadi tinggi jika virus ini memanfaatkan peluang untuk menempatkan dirinya di negara-negara  non-endemik sebagai patogen manusia yang tersebar luas. (Yetede)


India yang Bebas dan Aktif di Tengah Polarisasi Dunia

KT3 05 Jun 2022 Kompas

Posisi India dalam sejumlah resolusi PBB terkait perang di Ukraina, dianggap cenderung dekat ke Kremlin. Apalagi India terang-terangan menambah impor minyak mentah dari Rusia. Menlu India Subrahmanyam Jaishankar, saat menjadi narasumber GLOBSEC’s Bratislava Forum, konferensi di Eropa Tengah yang membicarakan strategi global, 3 Juni 2022, berkata ”Sejujurnya, saya tidak melihat kaitan kebijakan nonblok dan impor minyak (dari Rusia). Eropa hari ini membeli minyak dan gas (dari Rusia). Saya baru saja membaca paket sanksi dari Eropa terhadap Rusia. Paket didesain dengan mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat Eropa,” kata Jaishankar. Jika AS dan Eropa bisa penuh pertimbangan demi kepentingan mereka sendiri, hal yang sama mestinya diterapkan untuk kepentingan negara lain. AS dan Eropa, bebas mengambil kebijakan agar ekonominya tidak traumatik.  Pemerintah India, lanjut Jaishankar, tidak mengirim orang untuk membeli minyak Rusia. India mengirim orang untuk membeli minyak dengan harga terbaik yang tersedia di pasar.

”Jika AS dan Eropa punya perhatian dalam urusan ini, mengapa mereka tidak mengizinkan minyak dari Iran dan Venezuela masuk ke pasar? Mereka (AS dan Eropa) menutup sumber minyak lain. Lalu mereka (AS dan Eropa) bilang, kalian tidak boleh masuk ke pasar dan mendapatkan minyak terbaik untuk rakyat kalian. Saya pikir, itu bukan pendekatan yang adil,” tutur Dubes India untuk AS pada 2013-2015 itu. Padatnya kegiatan diplomasi India sejak April 2022 menunjukkan relevansi dan pentingnya India pada politik internasional mutakhir. India sibuk menerima kunjungan para ”diplomat top” dari Barat dan Timur, seperti Menlu China Wang Yi, Menlu Inggris Liz Truss, Menlu Rusia Sergey Lavrov, PM Jepang Fumio Kishida, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Wakil Penasihat Keamanan Nasional AS Daleep Singh.

Menlu Indonesia 2009-2014, Marty Natalegawa, berpendapat, India adalah negara demokrasi terbesar di dunia dengan 1,4 miliar jiwa penduduk. Saat ini, India memiliki PDB terbesar ke-6 di dunia. Merujuk pada PowerIndex yang diterbitkan Global Fire Power, India berada di urutan ke-4 negara dengan kekuatan militer terbesar di dunia. India adalah juga satu dari segelintir negara dengan program ruang angkasa yang sudah maju. Pengajar Ilmu Hubungan Internasional Unpad Teuku Rezasyah, menyatakan, India mempunyai kemampuan memetakan semua negara di dunia berdasarkan konsep Mandala, yang mencakup kekurangan-kelebihan serta kepentingan sejumlah negara. Salah satu faktor yang membuat India relevan dan penting dalam politik internasional mutakhir, adalah diplomasinya yang aktif di berbagai level. Modi dan Jaishankar hadir di banyak forum internasional. Kehadiran pemimpin negara dalam forum internasional menunjukkan keseriusan dan menunjukkan penghormatan terhadap hukum-hukum internasional. (Yoga)


MENANTI KONSISTENSI WASHINGTON DI ASIA TENGGARA

KT3 02 Jun 2022 Kompas

Di hadapan Presiden Joe Biden dan koleganya, bersama pemimpin negara-negara anggota ASEAN, saat KTT ASEAN-AS di Washington DC, ASt, Kamis (12/5), PM Malaysia Dato’ Sri Ismail Sabri Yaakob berbicara blak-blakan. Dia mengatakan, ada rasa frustrasi di kalangan para pemimpin negara-negara ASEAN ketika di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS keluar dari pakta perdagangan regional tahun 2017. AS adalah mitra penting bisnis ASEAN, sebagai investor asing terbesar dan mitra dagang terbesar kedua. Nilai perdagangan dua mitra itu 308,9 miliar USD pada 2020. AS juga membuat para pemimpin ASEAN merasa diabaikan ketika Trump memilih bersinggungan dengan Korut daripada menghadiri pertemuan langsung dengan para pemimpin ASEAN. Sampai akhir masa jabatannya, Trump tidak pernah bertemu dengan para pemimpin ASEAN. PM di Negeri Jiran itu mendorong AS untuk mengadopsi agenda perdagangan dan investasi yang jauh lebih aktif dengan ASEAN. ASEAN, demikian Ismail Sabri berusaha meyakinkan, akan menguntungkan AS secara ekonomi dan sebagai mitra strategis.

Biden menjawabnya sehari kemudian, Jumat (13/5). Dia mengatakan, di bawah kepemimpinannya, hubungan AS-ASEAN memasuki era baru, dengan pernyataan berisi 28 poin tentang visi bersama antara kedua pihak. AS dan ASEAN berencana untuk meningkatkan hubungan, dari kemitraan strategis menjadi kemitraan strategis komprehensif, November mendatang. Dalam KTT ASEAN-AS, Biden menjanjikan kucuran dana 150 juta USD atau Rp 2,191 triliun untuk kawasan ini. Komitmen keuangan baru tersebut mencakup investasi senilai 40 juta USD dalam infrastruktur, terutama untuk membantu dekarbonisasi pasokan listrik di kawasan (transisi energi baru terbarukan), 60 juta USD untuk keamanan maritim, dan 15 juta USD untuk pendanaan kesehatan, khususnya deteksi dini Covid-19 serta pandemi lain. Pendanaan tambahan akan membantu negara-negara ASEAN mengembangkan ekonomi digital dan UU kecerdasan buatan. Pemerintah AS juga menjanjikan pengerahan kapal-kapal Penjaga Pantai (US Coast Guard) ke perairan di kawasan untuk menghalau kapal-kapal China yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal. (Yoga)


AS-UE Tambah Pengecualian dari Sanksi Rusia

KT3 02 Jun 2022 Kompas

AS dan Uni Eropa mengecualikan minyak, pupuk, dan produk pertanian dari daftar komoditas yang dikenai sanksi terhadap Rusia. Dubes AS di PBB Linda Thomas-Greenfield, Selasa (31/5) mengatakan, AS akan memberikan surat jaminan tak adanya sanksi bagi pupuk dan produk pertanian Rusia. Pasca-serangan Rusia ke Ukraina per 24 Februari lalu, Barat menjatuhkan berbagai sanksi kepada Rusia. (Yoga)

PANGAN, Dering Alarm Bencana

KT3 31 May 2022 Kompas

Laporan Global tentang Krisis Pangan 2022 menyajikan fakta yang memilukan: hampir 193 juta orang mengalami kerawanan pangan akut. Angka itu bertambah 40 juta orang dibandingkan dengan laporan serupa oleh World Food Programme tahun 2020. Konflik dan gangguan keamanan diidentifikasi sebagai pemicu utama yang mendorong tingkat kerawanan pangan. Akan tetapi, faktor lain seperti pandemi, gangguan rantai pasok, dan perubahan iklim berkelindan hingga menghasilkan dampak yang ”sempurna”. Kombinasi atas beberapa faktor itu semakin menjauhkan sebagian warga dunia ke akses pangan. Harga pangan yang tinggi juga berisiko mengurangi asupan kalori dan nutrisi.

Bank Dunia mencatat, per 19 Mei 2022, Indeks Harga Pertanian naik 42 % dibandingkan Januari 2022. Harga jagung dan gandum, naik 55 % dan 91 %. Harga rata-rata bulanan beberapa jenis beras naik tiga bulan terakhir. Beras Vietnam broken 5 %, naik dari 384,2 USD per ton pada Februari jadi 402,4 USD per ton pada April. Pada 18 Mei 2022, Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutkan, tingkat kelaparan global berada pada titik tertinggi baru. Hanya dalam dua tahun, jumlah orang yang sangat rawan pangan meningkat dua kali lipat, yakni dari 135 juta orang sebelum pandemi Covid-19 menjadi 276 juta orang saat ini. Alarm bencana pangan telah berdering kencang. Sementara situasi ke depan masih serba tak pasti. Apalagi jika perang Rusia-Ukraina berlanjut, sementara rantai pasok masih terganggu dan negara-negara produsen pangan makin memproteksi produknya demi kepentingan dalam negerinya. Harga pangan, energi, dan inflasi berisiko tetap tinggi. (Yoga)


Pilihan Editor