Internasional
( 1352 )Permintaan Energi Fosil Bakal Berkurang
Invasi Rusia ke Ukraina memicu percepatan transisi energi dari bahan bakar minyak ke energi terbarukan. International Energy Agency (IEA), dalam laporan World Energy Outlook 2022, mencatat inisiatif untuk beralih berdampak pada permintaan global terhadap energi fosil. Direktur Eksekutif IEA, Faith Birol, menuturkan, kebijakan yang disiapkan banyak negara untuk melakukan transisi saat ini mengubah peta energi dunia. "Respons pemerintah di seluruh dunia berpotensi menjadikan krisis energi sekarang sebagai titik balik bersejarah menuju sistem energi yang lebih bersih, lebih terjangkau, dan lebih aman," ujarnya.
Pilihan untuk melakukan transisi energi membuat permintaan energi fosil menurun hingga 2050 nanti. Berdasarkan kebijakan yang berlaku di berbagai negara, yang dalam outlook itu disebut stated policies scenario (Steps), IEA memperkirakan porsi bahan bakar fosil pada bauran energi global turun dari 80 % menjadi 60 % dalam 28 tahun ke depan. Khusus batu bara, IEA menyatakan perdagangan global komoditas ini akan turun 20 % pada 2030 dan 70 % pada 2050. Angka itu dihitung berdasarkan skenario komitmen yang diumumkan pemerintah negara-negara di dunia atau disebut announced pledges scenario (APS). Jika merujuk pada komitmen net zero emission, perdagangan batu bara global bahkan diprediksi menurun hingga 90 % antara tahun 2021 dan 2050 karena komoditas ini digantikan energi bersih. (Yoga)
Arab Saudi Luncurkan Inisiatif Bernilai US$ 10,6 M
Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) meluncurkan inisiatif awal 40 miliar riyal (US$ 10,64 miliar) untuk menarik investasi terkait rantai pasokan ke dan dari kerajaan. Menurut laporan kantor berita SPA, inisiatif Pangeran Mohammed tersebut bakal mencakup alokasi dana 10 miliar riyal dalam bentuk insentif yang akan diberikan ke para investor rantai pasokan. Berdasarkan pernyataan yang dikutip SPA, inisiatif rantai pasokan terbaru itu termasuk pembentukan sejumlah zona ekonomi khusus. Inisiatif ini merujuk pada reformasi legislatif dan prosedural yang sedang berlangsung. “Inisiatif Ketahanan Rantai Pasokan Global (The Global Supply Chain Resilience Initiative) akan memanfaatkan sumber daya, infrastruktur dan lokasi Kerajaan untuk menghadirkan ketahanan yang lebih besar bagi ekonomi dan perusahaan di seluruh Eropa, Amerika, dan Asia, sambil lebih meningkatkan posisi Arab Saudi dalam ekonomi global.
Arab Saudi juga menawarkan akses ke minyak, gas, listrik, energi terbarukan dan sumber daya manusia dengan biaya yang kompetitif,”” demikian disampaikan dalam pernyataan, yang dilansir Reuters, seraya menunjukkan catatan proyek produksi hidrogen biru dan hijau kerajaan. Sebagai informasi, negara yang berada di kawasan Teluk itu pada tahun lalu mengumumkan rencana investasi lebih dari 500 miliar riyal untuk sektor infrastruktur – termasuk pembangunan bandara dan pelabuhan laut – di akhir dekade ini sebagai upaya menjadi pusat transportasi dan logistik, di bawah rencana diversifikasi ekonomi. Selain itu, rencana “Vision 2030” yang diusulkan Pangeran Mohammed bertujuan memodernisasi Arab Saudi dan menghilangkan ketergantungan ekonominya dari pendapatan minyak. (Yoga)
Elon Musk Dikabarkan Bakal PHK Staf Twitter
Orang terkaya di dunia Elon Musk dikabarkan berencana memangkas 75 persen karyawan Twitter yang jumlah totalnya mencapai 7.500 orang. Langkah ini dilakukan demi menyehatkan perusahaan. Namun, banyak pihak menyangsikannya dan menduga Musk bermaksud menghancurkan Twitter. Laporan itu diterbitkan pada Kamis (20/10) oleh surat kabar The Washington Post. (Yoga)
Perdana Menteri Liz Truss Mengundurkan Diri
PM Inggris Liz Truss, Kamis (20/10) mengundurkan diri dari kursi pemimpin Partai Konservatif, artinya, ia pun mundur dari posisinya sebagai PM Inggris, posisi yang baru didudukinya kurang dari dua bulan. ”Kegagalan” mengemban mandat partai untuk membenahi kinerja ekonomi menjadi alasan pengunduran diri itu. ”Saya dipilih Partai Konservatif dengan mandat mengubahnya. Kami memenuhi tagihan energi dan memangkas asuransi nasional. Dan kami menetapkan visi untuk pajak rendah, target ekonomi pertumbuhan tinggi yang akan memanfaatkan Brexit. Namun saya mengakui, mengingat situasinya, saya tidak dapat memenuhi mandat tersebut, karena itu, saya telah berbicara dengan Raja dan menyampaikan kepada beliau bahwa saya mengundurkan diri dari posisi pemimpin Partai Konservatif,” kata Truss di depan kantornya di Downing Street, London. ”Saya menjabat pada saat kondisi ekonomi dan internasional tengah didera ketidakstabilan. Kondisi kehidupan rumah tangga dan bisnis dibayangi kekhawatiran pada besarnya biaya yang harus mereka tanggung, serangan Rusia atas Ukraina mengancam benua kita, dan Inggris telah begitu lama terhambat oleh pertumbuhan ekonomi yang rendah,” kata Truss. Langkah Truss dinilai sangat mengejutkan karena sehari sebelumnya ia menegaskan bahwa dia tidak akan menyerah. Ia bahkan menegaskan hal itu dengan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang pejuang, seseorang yang tidak mudah menyerah. Namun, tekanan pada Truss memang tidak ringan. Selain isu ekonomi, berdasarkan catatan kantor Berita Associated Press, ia pun dihadapkan pada ”buruknya” situasi internal Partai Konservatif.
Sebelum memutuskan mengundurkan diri, Truss telah kehilangan Suella Braverman, Mendagri Inggris. Sebelum pengunduran diri Braverman, Truss memecat Menteri Keuangan Inggris Kwasi Kwarteng. Seorang anggota parlemen dari Partai Konservatif, Simor Hoare, mengatakan, kondisi pemerintahan sedang kacau. Banyak anggota parlemen lantas meminta Truss mundur, terutama setelah berminggu-minggu kondisi domestik tidak kunjung membaik. Rencana-rencana ekonomi yang dibangunnya justru memicu gejolak keuangan dan krisis politik. ”Sudah waktunya bagi perdana menteri untuk mundur,” kata Miriam Cates, anggota Parlemen Inggris. Anggota parlemen lainnya, Steve Double, mengatakan, Truss tidak cocok dengan tugas itu. Salah satu yang memicu kemarahan anggota parlemen adalah sikap Truss yang tetap ingin mempertahankan upaya memperoleh gas serpih melalui metode fracking, teknologi hidrolika patahan. Metode itu banyak ditentang kalangan Konservatif. Perdebatan keras mengenai hal itu memicu ”kekacauan” di Parlemen Inggris. Kondisi ekonomi Inggris memang tak mudah. Bulan lalu, inflasi mencapai 10,1 %, harga pangan melonjak hingga mencapai titik tertinggi dalam 42 tahun terakhir. Bank Sentral Inggris terpaksa mengintervensi mencegah krisis menyebar lebih luas, termasuk untuk menyelamatkan dana pensiun. (Yoga)
Hongkong Anggarkan US$ 3,8 Miliar untuk Tarik Talenta dan Investasi Asing
CEO Hong Kong John Lee, Rabu (19/10) mengatakan, pihaknya menganggarkan dana HK$ 30 miliar atau US$ 3,8 miliar untuk menarik talenta dan investasi asing. Hong Kong berusaha mengembalikan daya tariknya sebagai pusat finansial dunia di Asia karena sepanjang pandemi Covid-19 kehilangan ribuan penduduk. “Kami akan meluncurkan skema masuk bagi talenta papan atas untuk memburu kariernya di Hong Kong. Karena selama dua tahun terakhir, angkatan kerja lokal berkurang sekitar 140.000. Selain aktif membina dan mempertahankan talenta-talenta lokal, pemerintah juga akan proaktif menarik talenta-talenta dunia,” tutur Lee, seperti dikutip CNBC.
Ia menyebutkan, mereka yang berpenghasilan US$ 318.000 per tahun dan lulusan 100 universitas terbaik dunia dengan pengalaman kerja tiga tahun dalam lima tahun terakhir, mendapatkan izin tinggal dua tahun untuk menjelajah peluang karier di Hong Kong. Orang asing yang masuk Hong Kong berdasarkan skema itu, membeli tempat tinggal, dan menjadi penduduk permanen akan bisa mengajukan pengembalian bea materai dan bea materai hunian baru untuk properti pertama. Lee juga mengumumkan langkah-langkah untuk memperkuat daya saing Hong Kong sebagai pusat keuangan dunia. Termasuk mempermudah perusahaan untuk listing di Bursa Hong Kong. Otoritas Bursa Hong Kong akan merevisi aturan listing untuk papan utama pada tahun depan. Untuk memfasilitasi penggalangan dana oleh perusahaan-perusahaan teknologi canggih yang belum untung dan memenuhi syarat perdagangan saham. (Yoga)
Pangan Menjadi Komoditas Mewah
Dua penulis opini harian Kompas merespons peringatan Hari Pangan Sedunia dengan tema ”Jangan Ada yang Ditinggalkan” pada 16 Oktober lalu melalui dua tulisan (Kompas, 17/10). Direktur Lembaga Daya Dharma Jakarta dan Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Jakarta, Adrianus Suyadi, menulis, banyak orang Indonesia membuang makanan. Sisa makanan mendominasi jenis sampah di Indonesia, yakni 40 % dari semua jenis sampah seperti data Kementerian KLH 2020. Untuk mengatasi krisis pangan, pada tingkat individu dan keluarga diperlukan perubahan perilaku untuk lebih menghargai pangan, misalnya tak menyisakan makanan, tak membuang sampah makanan, mengurangi konsumsi makanan untuk binatang piaraan, dan lebih untuk sesama yang kekurangan makanan.
Guru Besar Universitas Santo Thomas Medan Posman Sibuea menulis, ancaman kelaparan ditingkat warga tak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan pendapatan, atau memberikan lapangan pekerjaan, yang diharapkan dapat meningkatkan akses pangan warga. Bangsa ini memerlukan upaya yang lebih dahsyat lagi, yaitu perubahan budaya. Tekanan krisis pangan bisa dikurangi saat kita menghentikan kebiasaan buruk: menyepelekan dan membuang makanan. Kita tak lagi berlimpah pangan. Perilaku itu harus dihentikan. Makanlah secukupnya. Harus ada perbaikan rantai pangan sehingga tak ada lagi pangan yang terbuang sia-sia. Perubahan budaya konsumsi perlu segera dilakukan. Makanan adalah barang mewah yang tak bisa lagi disia-siakan. Kita harus bisa mengukur kebutuhan secara seimbang. Di sisi lain, teknologi dibutuhkan agar produksi di tingkat petani bisa diketahui lebih dini dan didekatkan dengan konsumen sehingga rantai tidak panjang dan pangan tidak terbuang. (Yoga)
IMF dan Kebijakan Adaptif-Seimbang
IMF memperbarui peringatannya tentang resesi dunia 2023. IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % ke 2,7 %. Hal menarik dari pernyataan ini adalah bagaimana IMF mencoba menjaga keseimbangan di antara pengendalian ekspektasi inflasi tanpa terlalu mengorbankan potensi pertumbuhan. Selain itu, IMF juga mencoba meredam announcement effect dengan menyeimbangkan prospek suram, harapan, dan solusi. Hal ini merupakan alternatif sikap ortodoksi Bank Sentral AS (TheFed) yang punya target ketat membawa kembali inflasi ke 2 %, apapun risikonya. Posisi IMF yang mengambil jalan tengah ini sesuai dengan prediksi bahwa pengambil kebijakan pada saat ketidakpastian tinggi lebih suka menghindari risiko (Arrow; 1965 dan Holcombe; 1989). Hal ini merupakan adaptasi kebijakan setelah melihat dunia yang baru saja dilanda pandemi Covid-19 serta diterpa krisis energi dan pangan akibat konflik Rusia-Ukraina.
Indonesia disebutkan IMF sebagai salah satu titik terang dunia. Begitu pula India. Melihat keduanya, ada persamaan karakter dari keduanya, yakni luas wilayah dan jumlah populasi kelas menengahnya, serta bagian dari perekonomian yang merupakan sektor non-traded (non-exportable) cukup besar walaupun tetap ada segmen yang berorientasi ekspor atau campuran antara ekspor dan dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahunan 5,44 % pada triwulan II-2022 didukung pertumbuhan sektor-sektor yang notabene adalah non-traded, seperti transportasi dan pergudangan (21,27 %), akomodasi dan makanan-minuman (9,76 %). Di tengah menguatnya dollar AS, surplus neraca dagang Indonesia yang sudah 28 bulan berturut-turut menginsulasi perekonomian dalam negeri, exchange rate passthrough, dan inflasi global. Sebagai akibatnya, laju depresiasi rupiah akibat menguatnya indeks dollar AS tidak terlalu cepat sehingga tidak terlalu jauh dari keseimbangan alamiahnya. Beberapa produk manufaktur di luar minyak nabati, seperti besi, baja, mesin perlengkapan elektrik dan perlengkapannya, serta kendaraan dan bagiannya, merupakan produk-produk yang tertinggi pertumbuhannya. (Yoga)
Credit Suisse akan Jual Bisnis untuk Tambah Modal
Credit Suisse dikabarkan siap menjual sebagian bisnisnya di dalam negeri untuk menambah modal sekitar 4,5 miliar franc Swiss atau US$ 4,48 miliar. Financial Times melaporkan pada Sabtu (15/10) bahwa yang akan dijual antara lain kepemilikan saham di SIX Group, operator Bursa Zurich. Lalu 8,6% kepemilikan di perusahaan teknologi asal Madrid, Spanyol, Allfunds. Kemudian dua bank Swiss, Pfandbriefbank dan Bank-Now. Serta usaha patungan dengan American Express, yaitu Swisscard. “Kami akan memperbarui perkembangan kajian strategi komprehensif pada pengumuman laporan keuangan kuartal tiga,” kata Credit Suisse kepada Reuters via surat elektronik. Pengumuman laporan keuangan tersebut dijadwalkan pada 27 Oktober 2022. Pada kesempatan itu, Credit Suisse juga dikabarkan akan menyampaikan strategi bisnis baru. Financial Times bulan lalu melaporkan bahwa Credit Suisse telah menyusun rencana untuk membagi tiga bank investasinya. Upaya-upaya ini ditempuh untuk keluar dari jerat skandal selama tiga tahun terakhir.
Bank asal Swiss ini antara lain merugi lebih dari US$ 5 miliar akibat bangkrutnya perusahaan investasi Archegos tahun lalu. Credit Suisse juga harus mensuspens dana para klien terkait perusahaan dana investasi Greensill Capital yang juga bangkrut. Blog Inside Paradeplatz awal bulan ini juga melaporkan bahwa Credit Suisse akan menjual Savoy Hotel di Paradeplatz di distrik keuangan Zurich. Nilai jual hotel mewah tersebut dikabarkan sebesar 400 juta franc Swiss. Sementara Reuters pada September lalu melaporkan bahwa Credit Suisse akan memangkas biaya-biaya dengan mengurangi sekitar 5.000 lapangan kerja di seluruh kelompok usaha. Skandal demi skandal itu telah membuat harga saham Credit Suisse anjlok. Terakhir berada di level 4,42 franc Swiss dari 5 franc Swiss sebulan lalu. Dan sempat menyentuh 4,14 franc Swiss pada Rabu (12/10). Rencana tersebut menjadi jalan terbaik untuk memulihkan kepercayaan. CEO Ulrich Koerner, yang baru menjabat pada Agustus 2022, yang akan menyampaikan strategi bisnis baru pada 27 Oktober itu. (Yoga)
Perang Minyak Membara Lagi
Babak terbaru perang minyak meletus pada hari terakhir peringatan Yom Kippur, 5 Oktober 2022. Hari itu, Arab Saudi bersama mitranya di Organisasi Negara Produsen Minyak OPEC+ (anggota OPEC + Rusia) mengumumkan pemangkasan produksi dua juta barel per hari. Jumlah pemangkasan itu separuh dari yang diumumkan OPEC dalam perang minyak 1973. Reaksi AS atas keputusan itu sama, marah besar. Sebab, sejak Maret 2022, Washington membujuk Riyadh menaikkan produksi. Faktanya, OPEC+ yang praktis dikendalikan Arab Saudi bersama Rusia malah memangkas produksi. Selepas pengumuman OPEC+, Presiden AS Joe Biden mengancam menimbang ulang hubungan Washington dengan Riyadh. Bahkan, sejumlah politisi Demokrat menggesa pengesahan aturan yang melarang penjualan senjata dan kerja sama pertahanan Washington-Riyadh. Demokrat memandang, dengan 70 % persenjataan Riyadh yang dipasok Washington, larangan itu sebagai balasan setimpal atas keputusan Arab Saudi menolak permintaan AS menaikkan produksi minyak.
Direktur Kajian Timur Tengah CSIS AS Jon Alterman menyebut, Riyadh harus bersiap pada permusuhan terbuka, terutama dari Kongres AS. ”Amat buruk bagi Arab Saudi jika tidak punya teman di Kongres,” katanya. Juru Bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby menyebut, Riyadh telah berpihak kepada Moskwa. Riyadh disebut sudah paham pemangkasan produksi akan menguntungkan Moskwa. Pemangkasan itu bisa membuat dunia akan semakin kekurangan pasokan. Dampaknya, akan semakin sulit memaksakan sanksi AS dan sekutunya pada industri migas Rusia. Dengan porsi hingga separuh dari keseluruhan ekspornya, migas menjadi sumber pendapatan penting bagi Moskwa. AS dan sekutunya memandang, sanksi pada migas akan mengurangi kemampuan Moskwa melanjutkan perang di Ukraina. Untuk membuat sanksi itu berjalan, pasar energi global harus mendapat pemasok pengganti. Oleh karena itu, AS dan sekutunya terus membujuk Riyadh dan mitranya menaikkan produksi migas. Keputusan OPEC+ pada 5 Oktober 2022 menunjukkan, bujukan AS gagal. (Yoga)
Berselancar di Tengah Gelombang Resesi
Di saat gelombang air laut mendekati puncaknya, peselancar itu justru merapat seolah tanpa rasa cemas untuk sejurus kemudian meliuk-liuk mengendarai ombak hingga ke bibir pantai. Sekilas gelombang yang menjulang memang tampak begitu menyeramkan tetapi sesungguhnya tidak semua ombak laut adalah musuh karena karakteristik bentukannya yang dapat dipelajari. Dengan risiko terukur, para peselancar profesional akan mampu memanfaatkan momentum gelombang besar sebagai sahabat yang dapat membawa kesenangan di saat surfing. Analogi ombak agaknya dapat dikaitkan dengan peringatan lembaga internasional akhir-akhir ini yang menyebutkan bakal terjadinya gelombang besar yang mendera dunia. Adalah Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang berulang kali mendentangkan lonceng peringatan risiko terjadinya gelombang resesi global pada 2023 sejak pertengahan tahun ini. Kedatangan gelombang besar itu bahkan semakin memperlihatkan wujud seramnya ketika beberapa negara mulai merasakan dampak pada melemahnya perekonomian. IMF dalam laporan World Economic Outlook 2023 teranyar pada Rabu (12/10) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2022 akan mencapai 3,2% atau tidak berubah dari perkiraan sebelumnya dan melemah di posisi 2,7% pada tahun 2023 atau 0,2 poin persen lebih rendah daripada perkiraan Juli. Menurut IMF, situasi ini akan menyebabkan sepertiga ekonomi global merasakan resesi secara teknis pada tahun ini atau tahun depan. Technical recession yang dimaksud adalah suatu keadaan ketika produk domestik bruto menurun atau pertumbuhan ekonomi riil mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut.
Kondisi resesi ini dapat menyebabkan penurunan seluruh aktivitas ekonomi yang pada gilirannya akan berdampak pada kesehatan perekonomian suatu negara. Di tingkat korporasi, resesi ekonomi dapat memicu penurunan keuntungan perusahaan, melemahnya permintaan, berkurangnya jumlah tenaga kerja hingga kebangkrutan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menjadi Juru Bicara untuk diskusi finance track dalam konferensi persnya, seperti dikutip dari laman YouTube Kementerian Keuangan, mengatakan forum G20 menengarai sejumlah tantangan yang akan dihadapi ekonomi global ke depan. Tidak hanya bagi negara miskin dan berkembang, tantangan nyata tersebut juga akan dirasakan negara maju dengan risiko yang sama. Bahkan tidak berlebihan jika menyebut dunia saat ini berada dalam kondisi yang berbahaya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat tingginya harga komoditas, tekanan inflasi yang meningkat yang dibarengi oleh kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas membuat risiko resesi semakin besar.









