;

Berselancar di Tengah Gelombang Resesi

Ekonomi Hairul Rizal 15 Oct 2022 Bisnis Indonesia
Berselancar di Tengah Gelombang Resesi

Di saat gelombang air laut mendekati puncaknya, peselancar itu justru merapat seolah tanpa rasa cemas untuk sejurus kemudian meliuk-liuk mengendarai ombak hingga ke bibir pantai. Sekilas gelombang yang menjulang memang tampak begitu menyeramkan tetapi sesungguhnya tidak semua ombak laut adalah musuh karena karakteristik bentukannya yang dapat dipelajari. Dengan risiko terukur, para peselancar profesional akan mampu memanfaatkan momentum gelombang besar sebagai sahabat yang dapat membawa kesenangan di saat surfing. Analogi ombak agaknya dapat dikaitkan dengan peringatan lembaga internasional akhir-akhir ini yang menyebutkan bakal terjadinya gelombang besar yang mendera dunia. Adalah Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang berulang kali mendentangkan lonceng peringatan risiko terjadinya gelombang resesi global pada 2023 sejak pertengahan tahun ini. Kedatangan gelombang besar itu bahkan semakin memperlihatkan wujud seramnya ketika beberapa negara mulai merasakan dampak pada melemahnya perekonomian. IMF dalam laporan World Economic Outlook 2023 teranyar pada Rabu (12/10) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2022 akan mencapai 3,2% atau tidak berubah dari perkiraan sebelumnya dan melemah di posisi 2,7% pada tahun 2023 atau 0,2 poin persen lebih rendah daripada perkiraan Juli. Menurut IMF, situasi ini akan menyebabkan sepertiga ekonomi global merasakan resesi secara teknis pada tahun ini atau tahun depan. Technical recession yang dimaksud adalah suatu keadaan ketika produk domestik bruto menurun atau pertumbuhan ekonomi riil mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut. 

Kondisi resesi ini dapat menyebabkan penurunan seluruh aktivitas ekonomi yang pada gilirannya akan berdampak pada kesehatan perekonomian suatu negara. Di tingkat korporasi, resesi ekonomi dapat memicu penurunan keuntungan perusahaan, melemahnya permintaan, berkurangnya jumlah tenaga kerja hingga kebangkrutan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang menjadi Juru Bicara untuk diskusi finance track dalam konferensi persnya, seperti dikutip dari laman YouTube Kementerian Keuangan, mengatakan forum G20 menengarai sejumlah tantangan yang akan dihadapi ekonomi global ke depan. Tidak hanya bagi negara miskin dan berkembang, tantangan nyata tersebut juga akan dirasakan negara maju dengan risiko yang sama. Bahkan tidak berlebihan jika menyebut dunia saat ini berada dalam kondisi yang berbahaya. Perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat tingginya harga komoditas, tekanan inflasi yang meningkat yang dibarengi oleh kenaikan suku bunga dan pengetatan likuiditas membuat risiko resesi semakin besar.



Download Aplikasi Labirin :