Keuangan
( 1012 )Hindari 3 Kesalahan Keuangan di Masa Produktif
Kebebasan finansial adalah momen kehidupan yang ingin diraih
oleh banyak pekerja. Selepas sekolah maupun kuliah, biasanya di usia 22 tahun
seseorang mulai bekerja untuk mendapatkan penghasilan hingga tiba masa purnabakti
yang di berbagai kantor dan lembaga bervariasi antara usia 55 tahun dan 60
tahun. Penelitian Columbia University Mailman School of Public Health tentang
kaitan penghasilan dan kesehatan otak, menemukan bahwa jumlah penghasilan yang
dikelola selama masa produktif akan berpengaruh terhadap percepatan hilang ingatan
di masa tua. Maka perlu diketahui apa saja kesalahan keuangan yang mungkin
dilakukan di masa produktif agar tidak berulang.
Pertama, tidak membuka diri untuk membuka keran penghasilan
lain. Pengelolaan keuangan di masa produktif memiliki beberapa dimensi. Jumlah
penghasilan tentu saja menjadi faktor penentu. Penerima upah rendah yang
berkelanjutan mengalami penurunan memori yang jauh lebih cepat di usia yang
lebih tua. Solusinya adalah fokus pada peningkatan kapasitas diri sepanjang
hidup, terutama di awal masa bekerja. Kedua, memiliki gaya hidup yang
berlebihan. Seseorang tidak akan memiliki masalah di masa produktifnya, tetapi
sangat berbahaya saat menjelang pensiun kelak. Solusinya adalah melakukan
pembagian alokasi penghasilan minimal untuk 3 hal, yaitu pos biaya hidup
(living), pos tabungan (saving), dan pos gaya hidup (playing).
Ketiga, berinvestasi tanpa ilmu. Fenomena ingin mem eroleh imbal
hasil investasi tinggi dalam waktu singkat semakin marak sejak munculnya opsi
berinvestasi di aset kripto. Bahkan, tidak sedikit pekerja usia produktif yang terjebak
dengan penawaran trading yang ternyata investasi bodong. Solusinya adalah
literasi sebelum inklusi. Ragam asset investasi yang ditawarkan oleh lembaga
jasa keuangan sebaiknya dipelajari dalam hal potensi keuntungan serta potensi
risiko yang menyertainya. (Yoga)
Penyaluran KUR Bank Masih Jauh dari Target
Taipan Menjaring Cuan Jumbo dari Perbankan
Stabilitas keuangan Tetap Terjaga
Lima Evaluasi untuk Keuangan yang Sehat
Mengukur kesehatan keuangan
rumah tangga menjadi sangat penting,terutama di masa penuh dinamika seperti saat ini. Patut dipahami, hidup manusia
terus berjalan terlepas seperti apa kondisi perekonomian. Tanpa harus melakukan
perhitungan yang rumit ala perencana keuangan, sebenarnya setiap rumah tangga
dapat menggunakan beberapa indikator untuk mengetahui seberapa sehat
keuangannya. Ada lima indikator untuk tahu seberapa sehat keuangan rumah tangga
kita. Pertama, evaluasi kondisi kehidupan. Kestabilan pemasukan sebagai sumber
daya rumah tangga adalah salah satu factor penentu kesehatan keuangan. Kedua,
evaluasi komitmen pembayaran pinjaman. Pinjaman yang sehat adalah bilamana
jumlah seluruh cicilan pinjaman hanya maksimal 1/3 penghasilan bulanan.
Ketiga, evaluasi
pengeluaran bulanan. Secara umum, keuangan rumah tangga tergolong baik apabila
dapat menyisihkan penghasilan di awal untuk dana darurat, tabungan, atau untuk investasi.
Keempat, jumlah dana darurat. Pahami bahwa dana darurat berbeda dengan tabungan.
Momen saat ada saudara membutuhkan
bantuan atau pun adanya musibah finansial yang harus ikut ditanggung oleh rumah
tangga pribadi, maka dana darurat akan menjadi jalan keluarnya. Kelima,
evaluasi jumlah aset. Menyisihkan penghasilan untuk ditabung dan diinvestasikan
adalah hal penting untuk membentuk asset, untuk memenuhi berbagai kebutuhan
hidup di masa depan yang nilainya akan meningkat karena adanya tingkat inflasi.
Langkah berikutnya adalah tidak bergantung pada pinjaman untuk membiayai keperluan
hidup sehari-hari dan menyisihkan sebagian penghasilan untuk dana darurat dan
investasi masa depan. (Yoga)
OJK Dorong Perencanaan Keuangan sejak Dini
Menangkal Gangguan Siber ke Sistem Keuangan
Menangkal Gangguan Siber ke Sistem Keuangan
Bertabur Insentif, Bank Harus Memacu Kredit
Peluang Bisnis Besar dari Ajang Olahraga
Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









