Keuangan
( 1012 )Kiat Mengelola THR, Jangan Habiskan untuk Lebaran
Tiga Tahap Perencanaan Keuangan
Perencanaan keuangan adalah kegiatan yang mendasari aktivitas
keseharian keuangan pribadi. Sayangnya, prioritas perencanaan terkadang
menjaditerbalik. Kegiatan investasi didahulukan sebelum memastikan keuangan aman
akan membuat potensi malapetaka keuangan di kemudian hari. Untuk memulai
tahapan perencanaan keuangan, Langkah pertama adalah membuat situasi keuangan menjadi
aman atau financially secure, yaitu kondisi saat penghasilan aktif sebuah rumah
tangga dapat memenuhi kebutuhan hidup dasar setiap bulannya. Contoh, rumah
tangga memiliki pengeluaran untuk hidup rutin Rp 7 juta per bulan, cicilan
rumah Rp 3 juta per bulan, dan pengeluaran untuk hiburan Rp 2 juta per bulan.
Maka kebutuhan hidup dasar rumah tangga adalah Rp 10 juta per bulan. Untuk memperoleh
keamanan finansial, diharapkan rumah tangga memiliki penghasilan aktif minimal Rp
10 juta per bulan.
Langkah kedua adalah menjadikan situasi keuangan lebih nyaman
atau financially comfortable. Di tahap ini, fokus pengelolaan adalah membangun
tabungan dan investasi untuk berbagai tujuan keuangan utama seperti pembelian
rumah tinggal, dana membesarkan anak, dan lainnya. Contohnya, menabung untuk
ibadah haji. Maka, menabung akan dilakukan terus hingga saldo tabungan haji
dapat digunakan untuk memberangkatkannya. Langkah ketiga adalah menjaga nilai
kekayaan untuk diteruskan kepada generasi selanjutnya. Ciri khas rumah tangga
yang tidak melahirkan sandwich generation adalah keuangan yang telah berhasil
mencapai tahap ketiga. Pada tahapan ini, rumah tangga berhasil memiliki
aset-aset yang juga dapat dilanggengkan sebagai aset hibah, waris, dan lainnya.
Salah satu modal dasar merencanakan keuangan adalah memiliki niat untuk mewujudkan
keuangan yang lebih sehat, dimulai dari membuat keuangan rumah tangga aman. (Yoga)
Mencapai Target Inklusi Keuangan 90%
PROGRAM FLPP 2024 : Kemenkeu Setuju Suntik Dana Rp229 Miliar
Kementerian Keuangan setuju menyuntikkan anggaran Rp229,06 miliar untuk mendukung pasokan subsidi 220.000 unit rumah melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) pada 2024. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa kucuran biaya tambahan tersebut meningkat sebesar 8,7% dari Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2023. “Untuk rencana kerja anggaran tahun 2024 BP Tapera sebesar Rp229,06 miliar, dengan kenaikan 8,7% dari RKAT 2023 secara prinsip telah kami setujui,” jelasnya di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Jakarta, Rabu (13/3). Dia berharap alokasi tambahan tersebut bisa menjadi modal awal bagi para Komisioner dan Deputi Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan (BP Tapera) agar bisa bekerja menyempurnakan hal-hal yang masih kurang. Pada 2024, Kementerian Pekerjaan PUPR siap menggelontorkan bantuan pembiayaan perumahan senilai Rp13,72 triliun untuk membangun 166.000 unit rumah subsidi FLPP.
Komisioner BP Tapera Adi Setianto sempat menyebutkan bahwa pihaknya bakal membidik kenaikan pasokan suplai rumah subsidi pada tahun ini. Awalnya, pemerintah dalam rencana kerja tahun anggaran 2024 menganggarkan bantuan pembiayaan perumahan FLPP senilai Rp13,73 triliun yang diproyeksi hanya mampu menyuplai sebanyak 166.000 unit.
Di samping itu, sepanjang tahun ini pemerintah juga akan menyalurkan sebanyak 166.000 unit subsidi bantuan uang muka (SBUM) dengan total anggaran sebesar Rp680 miliar.
DEJAVU FISKAL NEGARA
Pemerintah tampaknya mulai ketagihan dengan skema burden sharing dengan pemangku kebijakan di daerah dalam memenuhi besarnya belanja negara. Setelah burden sharing alias berbagi beban dengan pemerintah daerah (pemda) dianggap sukses dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 dan 2023, skema serupa juga akan diadopsi dalam penyusunan postur fiskal 2025. Berdasarkan informasi yang diperoleh Bisnis, Rancangan APBN 2025 di desain dengan skema berbagi beban bersama pemda melalui optimalisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Maklum, rumusan belanja pada tahun depan disusun tetap jumbo terutama dalam kaitan belanja perlindungan sosial (perlinsos) atau bantuan sosial (bansos). Di sisi lain, APBN akan ngos-ngosan apabila harus memikul beban sendiri untuk memenuhi belanja perlinsos yang menyangkut subsidi, kompensasi energi, serta bansos. Sejumlah pejabat di Kementerian Keuangan pun tidak merespons pertanyaan yang diajukan Bisnis perihal skema burden sharing pusat-daerah dalam APBN 2025. Dalam periode akhir pelaksanaan APBN 2022, burden sharing pusat-daerah dijalankan dengan diwajibkannya pemda mengalokasikan sebagian dana transfer umum (DTU) yang bersumber dari dana alokasi umum (DAU) dan dana bagi hasil (DBH) untuk bansos. Kemudian dalam APBN 2023, burden sharing pusat-daerah diimplementasikan melalui penyesuaian alokasi DBH yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam (SDA) apabila terjadi kenaikan harga komoditas yang berkorelasi pada pembengkakan subsidi. Secara umum, burden sharing 2023 tetap berfokus pada mitigasi dini kenaikan harga minyak yang akan memacu mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM).
Di sisi lain, pemerintah memiliki alasan yang cukup kuat mengandalkan daerah untuk membantu pembiayaan belanja sosial pada tahun depan. Sebab per 5 Januari 2025 seluruh pemda secara resmi menerapkan skema pajak baru yang terkandung dalam UU No. 1/2022 tentang Hubungan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah atau HKPD. Dalam UU itu, ada banyak substansi yang diklaim dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Sementara itu, kalangan pengusaha mendukung upaya pemerintah pusat untuk kembali menerapkan burden sharing dengan daerah dengan fokus pada belanja sosial. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Kemaritiman, Investasi, dan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta W. Kamdani, mengatakan idealnya skema itu berlaku setiap tahun mengingat ketidakpastian global masih sangat tinggi. Burden sharing juga dinilai mampu mensinergikan budgeting APBN dan APBD yang tidak profesional dan dapat meneken realisasi anggaran subsidi bansos yang rentan penyalahgunaan. Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sarman Simanjorang, menambahkan skema itu akan berjalan sempurna apabila hanya melibatkan pemda dengan PAD yang cukup solid. Menurutnya, belanja bansos memang harus melibatkan APBD agar terjadi pemerataan stabilitas daya beli. Akan tetapi, perlu juga dilihat kemampuan fiskal masing-masing daerah. Adapun, Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Armand Suparman, mengkritisi dasar dilakukannya burden sharing dalam RAPBN 2025.
Mengatur Keuangan Ramadhan Tetap Aman
Berdasarkan hasil riset, pola pengeluaran rumah tangga mengalami
pergeseran di bulan Ramadhan. Pada umumnya, pos belanja makanan akan meningkat
tajam diikuti dengan pos belanja pribadi dan hadiah. Sebagai kompensasinya,
banyak orang yang menunda untuk berinvestasi di bulan ini. Bahkan, tidak jarang
mengambil solusi meminjam akibat lebih besar pengeluaran daripada penghasilan.
Karyawan sebaiknya memahami ada perbedaan alokasi keuangan untuk gaji bulanan
rutin dan THR. Hal ini sejatinya mengingatkan bahwa penghasilan bulan ini dan
bulan depan sama saja alias tidak ada kenaikan.
Agar anggaran pengeluaran tetap aman terkendali, Langkah awal
adalah membuat anggaran untuk satu bulan ke depan. Penghasilan, baik dari gaji
maupun usaha, digunakan untuk biaya hidup selama satu bulan. Pengeluaran rutin
untuk rumah tangga, makan sahur, dan berbuka puasa seharusnya tetap mengikuti
anggaran bulanan normal. Adapun pengeluaran untuk lebaran dan sedekah lainnya
sebaiknya diambil dari THR. Cara alokasi dan pemisahannya, Pertama,
mengutamakan pos pengeluaran wajib di bulan Ramadhan, yaitu zakat fitrah.
Terlepas besaran penghasilan, sumber dana dan alokasi
persentasenya bergantung pada jumlah kepala di keluarga. Alokasi untuk pengeluaran
ini sebaiknya diambil dari penghasilan bulanan jika khawatir tidak kebagian
alokasi dari dana THR. Kedua, pengeluaran rutin bulanan. Meski dibayarkan di bulan
Ramadhan, biaya listrik, uang sekolah anak, dan lainnya tetap harus dikeluarkan
seperti biasa. Oleh sebab itu, usahakan untuk tidak menggunakan alokasi ini
untuk pengeluaran lainnya. Segera pisahkan alokasi pengeluaran rutin bulanan ke
dalam rekening yang terpisah dengan kebutuhan lebaran serta tambahan kenikmatan
di bulan Ramadhan.
Sehatnya, alokasi untuk pengeluaran rutin bulanan hanya maksimal
50 % dari penghasilan setiap bulannya. Ketiga, antisipasi pengeluaran tak
terduga lebih awal. Keempat, dana gaya hidup Ramadhan. Acara buka bersama menjadi
bagian dari gaya hidup masa kini di bulan Ramadhan. Meski silaturahmi harus
dijaga, kesehatan keuangan juga jangan sampai kebablasan. Pengeluaran lebaran
dan mudik sebaiknya dialokasi kan dari dana THR. Kelima, dana darurat. Tambahan
alokasi untuk dana gaya hidup khusus di bulan Ramadhan memang terpaksa diambil
dari alokasi tabungan dan investasi bulanan. (Yoga)
Bidik Dana Rp 2 Triliun, BSI Rilis Sukuk Seri SR020
Tantangan Badan Supervisi LPS
DPR pada akhir 2023 menyetujui tujuh nama anggota Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) periode 2023-2028. Badan supervisi ini dibentuk berdasarkan UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, terutama pada Bab XA angka 61 Pasal 89A yang mengamanatkan pembentukan Badan Supervisi LPS. LPS adalah lembaga independen yang berfungsi menjamin simpanan nasabah penyimpan dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan. Fungsi dan tugas penting itu membutuhkan pengawasan dalam pelaksanaannya. Karena itulah Badan Supervisi LPS dibentuk dalam melaksanakan fungsi pengawasan di bidang tertentu terhadap LPS.
Sepanjang tahun lalu, industri jasa keuangan, terutama sektor non-bank, seperti asuransi, diterpa banyak kasus yang meresahkan masyarakat. Salah satunya skandal PT Asuransi Jiwasraya yang merugikan begitu banyak nasabah. Dampaknya, kasus itu menekan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri perasuransian. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi LPS. Kehadiran Badan Supervisi LPS diharapkan dapat mendorong LPS mewujudkan program penjaminan polis sesuai dengan jadwal. Dengan demikian, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri jasa keuangan, terutama perasuransian, dapat segera kembali pulih. Namun LPS wajib menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). (Yetede)
Berhemat ala Kelas Menengah
Di tengah situasi ekonomi yang masih diselimuti
ketidakpastian dan kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, kelas
menengah bersiasat untuk bertahan dengan berhemat. Ada sejumlah tips dan trik yang
mereka lakukan untuk berhemat. Novia (33) di Lombok, NTB, berkata “Situasi
ekonomi belakangan ini membuat saya harus memiliki sedikitnya dua pekerjaan.
Pertama sebagai penjual kerajinan rotan, kedua sebagai tutor bahasa Inggris.
Saya bahkan pernah memiliki tiga pekerjaan. Memang tidak mudah, tetapi saya harus
mampu beradaptasi dan mau melakukan hal-hal yang bahkan ada di luar zona nyaman”.
A Wisnu Triyogo (31) Karyawan swasta, di Jakarta, mengatakan “Untuk menghemat,
saya sebisa mungkin makan di rumah dan membawa bekal. Jika lapar lagi, saya lebih
memilih makan di warteg, bukan di mal. Saat harus memesan makanan daring, saya
jadi hitung-hitungan lebih detail saat mau memakai promo yang tersedia. Untuk
keperluan gaya hidup lain pun, seringnya memantau dulu ada promo atau diskon
atau tidak. Yang penting, prinsipnya, lihat dan hitung dulu”.
Saya berhemat dimulai dari hal-hal sederhana. Dalam konteks
bekerja ke kantor, saya selalu membawa bekal sendiri. Ini sekaligus bisa menjaga
asupan makanan sehat dan higienis. Selain berhemat, ya, lebih sehat, juga
makanannya suka sesuai selera saya. Bawa minum sendiri pakai tumbler. Dengan
membawa bekal sendiri, saya bisa menghemat Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per
bulan,” ujar Monavia Ayu Rizaty (28) Jurnalis data di salah satu media Jakarta.
Ivany Atina (30) di Jakarta mengatakan ”Inflasi harga bahan kebutuhan pokok
yang semakin awur-awuran, ditambah adanya pos pengeluaran rutin baru, seperti
biaya sekolah dan biaya les anak, memaksa saya untuk mengencangkan ikat
pinggang dengan mengurangi pengeluaran. Beberapa tahun lalu, dalam sepekan
sekali, saya dan keluarga rutin melakukan leisure activity, dengan makan di
restoran atau staycation di hotel yang bagus. Sekarang, aktivitas leisure belum
tentu sebulan sekali. Saya juga selalu mencatat pengeluaran harian dan
membaginya ke dalam beberapa pos anggaran agar semakin mawas dengan kondisi
keuangan pribadi. (Yoga)
Anak Muda Bertahan, Bulan ke Bulan
Konsultan keuangan dan pendiri Mind Money Balance, Lindsay
Bryan-Podvin, mengatakan, milenial dan gen Z menghadapi banyak persoalan ekonomi,
mulai dari krisis kemampuan membeli rumah, utang pinjaman sekolah atau kuliah,
hingga tingginya biaya pengasuhan anak. Kondisi ini membuat mereka tidak mudah
memasuki kehidupan finansial orang dewasa. Impian menjadi kaya di kalangan mereka
pun menguat. ”Gaya hidup kelas menengah terasa di luar jangkauan. Padahal,
setiap hari mereka dicekoki cerita dan gambaran di media sosial yang menunjukkan
orang yang lebih kaya tampak lebih bahagia,” kata Bryan-Podvin. Untuk bisa hidup
lebih kaya, gen Z menginginkan gaji lebih tinggi. Survei terbaru Redfield and
Wilton Strategies menyebutkan, di AS, gen Z menilai gaji tahunan sebesar 74.000
USD atau Rp 1,2 miliar tidak masuk dalam kelompok kelas menengah.
Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, rata-rata kekayaan
bersih gen Z adalah yang terendah. Menurut Bank Sentral AS, individu di bawah
usia 35 tahun memiliki kekayaan bersih rata-rata 39.000 USD. Tidak hanya
kekayaan bersih mereka lebih rendah, gaji rata-rata gen Z juga lebih rendah
ketimbang generasi lain sehingga sulit untuk menyewa apartemen, membeli mobil, atau
sekadar makan enak. Menurut survei American Staffing Association dan Harris
Poll terhadap 2.000 orang dewasa AS, pekan lalu, 66 % karyawan berusia 18-27
tahun berniat meminta kenaikan gaji tahun ini. Mereka khawatir gaji mereka tak
bisa mengimbangi inflasi. Generasi milenial dan gen Z mengaku harus hidup dari
gaji ke gaji karena gaji mereka habis untuk membayar tagihan dan belanja
kebutuhan primer.
Banyak yang mengaku berada dalam situasi seperti itu karena
harus membiayai anggota keluarga lainnya dan memiliki utang yang besar.
Sebenarnya mereka ingin berinvestasi, tetapi masalahnya tidak ada sisa uang
untuk berinvestasi. Survei perusahaan konsultan Deloitte pada 2023 terhadap
22.000 milenial dan gen Z di seluruh dunia menemukan makin banyak anak muda mencari
kerja sampingan demi menambah penghasilan. Untuk menghemat uang, anak muda di
AS mulai banyak yang memilih menyimpan dan bertransaksi dengan uang tunai.
Alasannya, memegang uang tunai lebih mudah dikendalikan ketimbang bertransaksi
melalui e-wallet di ponsel. Cara bersiasat lain adalah sejumlah anak muda
memilih tinggal bersama orangtua mereka. Bahkan, menurut BBC, 25 Januari 2024,
mengutip laporan PewResearch, menyebutkan, anak muda usia 18-34 tahun mengaku
masih dibantu orangtua untuk membayar kebutuhan, seperti uang pulsa ponsel,
tagihan internet, bahkan kebutuhan sehari-hari. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Kayuhan Ekonomi Sepeda di Yogyakarta
11 Dec 2021 -
Konglomerasi Menguasai Asuransi Umum
04 Oct 2021 -
Ribbit Capital Danai Bank Jago
05 Oct 2021 -
PPATK : Transaksi Narkoba Tembus Rp 120 Triliun
30 Sep 2021









