Energi
( 493 )Liku-liku Berat Swasembada Energi
Presiden Prabowo menargetkan Indonesia bisa swasembada energi dalam beberapa tahun ke depan. Namun, sejumlah pengamat menilai visi itu akan menghadapi sejumlah tantangan berat. Tantangan pertama, produksi minyak Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Target produksi minyak 1 juta barel per hari (bph) yang dicanangkan pemerintah sebelumnya tak kunjung tercapai. Sebaliknya, produksi minyak malah turun dari 800 ribu bph menjadi 600 bph, sedangkan total kebutuhan sekitar 1,6 juta bph. Artinya, Indonesia harus mengimpor minyak 1 juta bph demi menutup kebutuhan dalam negeri.
Pada titik ini, mencegah penurunan produksi minyak lebih dalam menjadi hal krusial yang perlu dilakukan pemerintah. Sebab, rencana pemerintah menghidupkan lagi sumur-sumur minyak yang idle membutuhkan waktu panjang. Kedua, pengembangan bahan bakar nabati (BBN) membutuhkan investasi besar, kepastian bahan baku (feed stcok), dan lahan sebagai contoh, rencana pemerintah merealisasikan B60 menghadapi tantangan dari ketersediaan lahan. Program ini membutuhkan setidaknya tambahan lahan 10 juta hektare (ha). Kemudian, sawit yang ditanam membutuhkan waktu untuk bisa dipanen, setidaknya lima tahun. Padahal, target B60 ditargetkan dieksekusi dalam waktu dekat. (Yetede)
Upaya Dekarbonisasi Dioptimalkan Satgas Transisi Energi Nasional
Sejak dibentuk pada 2023, Satgas Transisi Energi Nasional terus berupaya melakukan dekarbonisasi ketenagalistrikan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi. Upaya yang telah dilakukan, antara lain, meningkatkan pendanaan untuk transisi energi berkeadilan dan pensiun dini penggunaan energi fosil. Hal tersebut mengemuka dalam acara Konferensi Bangun Bangsa 2024 bertajuk ”Keberlanjutan dalam Aksi: Mempercepat Perjalanan Dekarbonisasi di Asia Pasifik” yang diselenggarakan BAT Indonesia atau Bentoel Group dan Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) di Jakarta, Jumat (25/10). Konferensi Bangun Bangsa 2024 diselenggarakan untuk mendorong kolaborasi dan solusi atas hambatan dalam dekarbonisasi di semua tingkat industri.
Konferensi ini mempertemukan para pemangku kepentingan mulai dari pemerintah, industri, lembaga keuangan dan investor, pembuat kebijakan, LSM, hingga kelompok masyarakat. Andi Yulianti Ramli dari Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan menyampaikan, pada pemerintahan sebelumnya, Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi telah membentuk Satgas Transisi Energi Nasional (Satgas TEN). Satgas TEN yang dibentuk pada 2023 memiliki tugas mengawal proses transisi energi Indonesia untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat. Adapun transisi ini tidak hanya bertujuan untuk memitigasi perubahan iklim, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Salah satu capaian Satgas TEN ialah terkait perkembangan pendanaan program kemitraan transisi energi berkeadilan (JETP). Hingga September 2024, tercatat sudah ada persetujuan jaminan hingga 2 miliar USD serta 32 program hibah dan asisten teknis senilai 202,7 juta USD. Dari aspek regulasi, Satgas TEN yang didukung kementerian/lembaga lain telah menyelaraskan regulasi yang membuka peluang pendanaan hingga 2,8 miliar USD. Regulasi ini juga telah dituangkan menjadi peraturan menteri di bidang energi dan sumber daya mineral serta bidang perindustrian. Satgas TEN juga terus berupaya memensiunkan dini PLTU Cirebon-1, dengan memberi penawaran pendanaan dari Bank Pembangunan Asia sebesar 430 juta USD un tuk biaya tambahan kelistrikan Perusahaan Listrik Negara (PLN). (Yoga)
Kekayaan RI Mampu Swasembada Energi
Cita-cita dan Realisasi Swasembada Energi
Ekspansi Dua Bisnis Inti yaitu PLTP dan PLTB
Lambatnya Transisi Energi
Kerja Sama ESDM dan Eramet untuk Kaji Mineral Penting
Kolaborasi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan PT Eramet Indonesia Mining untuk melakukan studi dan eksplorasi mineral penting di Indonesia. Agung Pribadi, Kepala Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi (PSDMBP), menyatakan bahwa pemerintah aktif menjalin kerja sama dengan perusahaan asing untuk mengoptimalkan potensi mineral, terutama nikel, kobalt, dan litium, yang kini sangat dibutuhkan dalam pengembangan teknologi kendaraan listrik.
Kerja sama ini mencakup studi penyelidikan wilayah prospek mineral, karakterisasi bijih, serta eksplorasi litium dari geothermal brine. Agenda mendatang termasuk penyelidikan litium di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dengan metode geofisika dan geokimia. Kegiatan ini diharapkan dapat mengidentifikasi cadangan mineral baru yang bernilai ekonomis tinggi, sekaligus memperkuat pertukaran pengetahuan dalam bidang eksplorasi dan publikasi ilmiah antara kedua belah pihak.
Prospek Cerah Energi Baru Terbarukan
Pemerintah Mendorong Investasi Energi Bersih dan Orientasi Ekspor
Mempercepat Langkah Menuju Energi Bersih
Pertemuan Pemimpin Asia Zero Emission Community (AZEC) ke-2 di Vientiane, Laos, menyoroti komitmen negara-negara Asia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) dan mendorong dekarbonisasi, terutama melalui kolaborasi lintas batas di kawasan Indo-Pasifik. Indonesia, yang diwakili oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, memainkan peran penting dalam memajukan inisiatif Joint Crediting Mechanism Jepang, yang mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Para pemimpin AZEC menyetujui “tiga terobosan” yang menargetkan perubahan iklim, pertumbuhan ekonomi inklusif, dan ketahanan energi, serta meluncurkan rencana aksi untuk dekade mendatang. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah diversifikasi energi, peningkatan efisiensi energi, dan penggunaan teknologi energi terbarukan seperti sel surya perovskit, panas bumi, hidrogen, dan Carbon Capture, Utilisation, and Storage (CCUS). Indonesia, dengan proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Kayan dan konversi minyak kelapa menjadi bahan bakar pesawat, juga akan mendapatkan keuntungan langsung.
Dalam konteks pendanaan, Australia mengumumkan dukungan senilai 2 miliar Dolar Australia untuk AZEC, sementara AZEC terus mengupayakan pembiayaan transisi energi. Indonesia berencana memperkuat pasar karbonnya untuk menarik investasi, mempromosikan integritas tinggi dalam perdagangan karbon, dan berkontribusi pada ketahanan energi regional.
Pilihan Editor
-
Evaluasi Bantuan Langsung Tunai BBM
11 Oct 2022 -
Alarm Inflasi Mengancam Sektor Retail
11 Oct 2022 -
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut Sepekan Lagi
10 Oct 2022









