investor asing
( 87 )Presiden Raih Komitmen Investasi Exxon Mobil Rp232 Triliun
Menarik Modal Asing Masuk dengan Instrumen di Pasar Sekunder
Batam Kian Diminati Industri Tenaga Surya
Perusahaan industri hilir tenaga surya asal AS, Atelier Solar, membangun pabrik di Kawasan Industri Wiraraja, Kota Batam, Kepulauan Riau. Kehadiran perusahaan itu menambah daftar panjang industri hilir tenaga surya yang berinvestasi di Batam setelah pemerintah berencana mengekspor listrik energi bersih ke Singapura. Presdir Kawasan Industri Wiraraja Akhmad Ma’ruf, Senin (16/10) mengatakan, Atelier Solar merupakan perusahaan pembuat panel surya dan baterai. Pada tahap pertama, perusahaan itu bakal mengucurkan investasi Rp 1 triliun untuk membangun pabrik seluas 2 hektar di Kawasan Industri Wiraraja.
”Tahap awal, Atelier baru akan memproduksi panel surya dan butuh lebih kurang 525 pekerja. Produk yang dihasilkan akan diekspor ke AS,” kata Ma’ruf yang juga menjabat Ketua Kadin Kepri. Selain Atelier, ada enam perusahaan industri hilir tenaga surya lain yang berinvestasi di Kawasan Industri Wiraraja, yaitu PT Jaya Electrical Energy, PT Marubeni Global Indonesia, PT Wiraraja Yunan International, PT Apolo Solar Indonesia, PT Alpha Solar, dan PT Tynergi Technology Indonesia. Menurut Ma’ruf, banyak perusahaan energi baru terbarukan asal AS, China, Jepang, dan Singapura yang berminat membangun pabrik di Batam. Hal ini karena lokasi Batam yang strategis di jalur pelayaran internasional. Selain itu, sebagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ), Batam juga menawarkan insentif fiskal kepada para investor. (Yoga)
Menadah Saham Yang Dibuang Asing
Beberapa investor asing terpantau mulai berkemas-kemas dari bursa saham Indonesia. Mereka bersiap mengantisipasi keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada pekan depan.
Memang pada Senin (11/9), asing tercatat melakukan aksi beli bersih alias net buy senilai Rp 891,37 miliar. Namun sepanjang tahun 2023, investor asing mencetak net sell sebesar Rp 1,39 triliun.
Padahal sampai dengan Juli 2023, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 18,92 triliun. Sejak Agustus 2023, investor asing mulai terendus melakukan aksi jual.
Equity and Economics Analyst
KGI Sekuritas, Rovandi menjelaskan aksi penjualan oleh asing karena The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sampai 5,75%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, kalau The Fed menaikkan suku bunga, investasi di Amerika akan lebih menarik.
"Imbal hasil SUN juga akan mengalami penurunan, sehingga harga obligasi kian murah. Ini menjadi sebuah kesempatan bagi asing untuk melirik pasar obligasi," ucap dia.
Rovandi menilai, agar bisa kembali memanggil investor asing yang sudah pergi, kenaikan suku bunga BI menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh.
Investor asing terpantau tercatat melakukan
net sell
terbesar pada TLKM sebesar Rp 2,3 triliun sepanjang 2023. Ini turut menekan harga TLKM 1,33%
year to date
(ytd) ke level Rp 3.700.
Di China, RI Undang Investor Kendaraan Listrik
Presiden Jokowi menggelar rangkaian pertemuan bisnis bersama Kadin di China serta sejumlah pengusaha China. Indonesia menyatakan komitmennya menjaga investasi tetap stabil dan berjalan baik. Presiden mendorong prioritas investasi di berbagai bidang, terutama ekosistem kendaraan listrik, energi baru terbarukan, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara. ”Saya lihat beberapa dari sini juga sudah masuk untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang ingin kita bangun ke depan,” ucap Presiden Jokowi di Shangri- La Hotel, Chengdu, China, Jumat (28/7) dalam siaran pers.
Menurut Presiden, diperkirakan akan ada 1 juta mobil listrik yang diproduksi di Indonesia pada 2035. Adapun untuk sepeda motor listrik akan ada 2,4 juta unit pada tahun yang sama. Dalam hal energi baru terbarukan (EBT), Presiden menyampaikan, Indonesia ingin mendorong para investor dari China untuk turut serta menanamkan investasinya. Potensi EBT di Indonesia adalah 434.000 megawatt. Jumlah ini tergolong sangat besar, meliputi tenaga air, surya, gelombang laut, angin, dan geotermal. ”Saya kira ini sebuah kesempatan yang sangat baik untuk ke depan energinya hijau, nanti produknya hijau (ramah ling kungan), jualan produknya bisa berada di posisi premium,” ujar Presiden Jokowi. (Yoga)
Cengkraman Investor Asing Semakin Kuat
Cengkeraman investor asing pada industri perbankan Indonesia tercatat sudah cukup kuat. Namun, minat para investor luar negeri untuk masuk ke perbankan di Tanah Air masih belum surut hingga saat ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberi bocoran bahwa tahun ini atau paling lambat awal tahun 2024 bakal ada proses akuisisi bank lokal yang akan melibatkan investor asing.
Baru-baru ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, peningkatan minat investor asing masuk ke perbankan Indonesia berasal dari beberapa negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.
Sejauh ini, cengkeraman investor Jepang tercatat paling kuat. Tercatat ada lima bank swasta yang dikendalikan investor asal Negeri Sakura ini. Hal itu ditambah dengan kehadiran kantor cabang bank MUFG Bank Ltd. Total aset bank yang dikendalikan investor Jepang mencapai Rp 724,33 triliun, berdasarkan data per Maret 2023.
Presiden Direktur Bank Danamon Daisuke Ejima mengungkapkan, lembaga keuangan Jepang itu sejak awal sudah memandang pasar Indonesia potensial. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai regional executive MUFG Bank Asia Pasifik ini bilang, investasi MUFG di Bank Danamon saat ini masih sesuai kesepakatan, yakni fokus pada bisnis korporasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), konsumer, serta Adira Finance.
Di bisnis korporasi, kata Ajime, Bank Danamon banyak memanfaatkan jaringan perusahaan yang dimiliki oleh MUFG, antara lain Toyota, Honda, dan beberapa merek otomotif lainnya.
Sementara bisnis konsumer akan terus diperkuat lewat kolaborasi dengan Adira Finance dan perusahaan yang baru saja diakuisisi MUFG seperti Home Credit Indonesia dan Mandala Finance. Selain itu, juga mengakuisisi aset konsumer Standard Chartered Rp 1,3 triliun.
Bank Lokal Masih Jadi Incaran Investor Asing
Minat investor asing untuk masuk ke industri keuangan di Indonesia masih tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejumlah investor asing tengah mengantre untuk masuk ke sejumlah perusahaan keuangan di Tanah Air, termasuk mengincar bank di dalam negeri. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan, investor dari Jepang, Korea Selatan, serta Singapura masih menunjukkan ketertarikannya terhadap bank domestik.
Ia mengisyaratkan bakal ada investor asing yang dalam waktu dekat akan mengumumkan akuisisi bank lokal. Sayang, Dian masih enggan menyebutkan nama bank dan investor yang dimaksud. Selain akuisisi, akan ada juga merger bank yang juga melibatkan investor asing.
Kabar yang beredar, investor baru yang akan masuk BRIS itu akan membeli saham BRIS milik Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Spekulasi yang beredar, nama QNB mencuat menjadi kandidat investor BSI.
Rumor ini berkembang seiring dengan pertemuan antara Menteri BUMN Erick Thohir dengan Menteri Keuangan Qatar Ali bin Ahmed Al Kuwari pada Mei 2023. Sampai berita ini naik cetak, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo hingga kini belum menjawab klarifikasi dari KONTAN.
Sementara Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menyatakan, proses akuisisi saham BRIS merupakan domain pemegang saham.
Kepercayaan Investor Asing terhadap Pasar SBN Diyakini Meningkat
Porsi kepemilikan asing di pasar Surat Berharga Negara atau SBN mulai mengalami kenaikan secara bulanan. Dengan kondisi fundamental ekonomi yang terjaga, pemerintah meyakini kepercayaan investor asing terhadap pasar surat utang negara kembali pulih. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, total dana investor asing di SBN Rupiah pada 29 Mei 2023 adalah Rp 829,98 triliun atau menyentuh porsi 15,31 % total kepemilikan SBN Rupiah. Jumlah investor asing di pasar SBN itu naik sebesar Rp 8,15 triliun dibandingkan posisi per akhir April 2023, yaitu Rp 822,69 triliun atau dengan porsi 14,86 %. Sebelumnya, pada akhir Maret 2023, porsi kepemilikan asing di pasar SBN Rupiah sebesar 14,69 % dengan nilai Rp 805,1 triliun. Porsi kepemilikan asing di SBN sebenarnya sudah tercatat menurun besar-besaran sejak pandemi Covid-19.
Sebelum pagebluk, pada 2019, porsi kepemilikan asing pada SBN tercatat 38,75 %. Per tahun 2020, turun menjadi 25,2 % dan per Januari 2023 berada di kisaran 14 %. Wakil Menkeu Suahasil Nazara mengatakan, kepemilikan asing di pasar surat utang negara ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, kepemilikan SBN oleh investor asing adalah pertanda bahwa pasar obligasi pemerintah dan perekonomian RI masih menarik bagi investor asing. Di sisilain, kepemilikan asing yang terlalu besar di pasar obligasi negara juga membuat pasar SBN lebih rapuh terhadap risiko arus modal keluar (capital outflow) ketika terjadi sentimen atau guncangan eksternal, seperti saat pandemi. ”Pandemi membuat confidence investor turun, dan di saat-saat susah seperti itu, ada persepsi bahwa cash is the king. Akhirnya banyak investor asing tidak yakin dengan perekonomian Indonesia dan memutuskan keluar,” kata Suahasil dalam wawancara di kantornya di gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/5). (Yoga)
Mendag Minta Investor Asing Gandeng Pemasok Lokal
Mendag Zulkifli Hasan meminta investor asing meningkatkan kerja sama dengan para pemasok lokal serta turut memberi pembinaan kapasitas dan kapabilitas. “Investor yang membina pemasok lokal akan diuntungkan dengan konsistensi kualitas produk dan jumlah produksi. Pemasok Indonesia pun akan mendapatkan pengetahuan melalui transfer pengetahuan mengenai mutu barang yang terbaik sesuai standar nasional, standar Jepang dari PT Okabe, maupun standar internasional,” kata Zulhas dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (12/04). Dalam pertemuan yang dilakukan oleh Zulkifli dengan PT Okabe Hardware Indonesia (OHI) pada Selasa (11/04) dia menyampaikan dukungan dan mengapresiasi investasi PT OHI di Indonesia.
Investasi PT OHI diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal seiring rencana ekspansi perusahaan tersebut melalui pembukaan cabang cabang baru. “Pembukaan galeri baru akan memberi dampak langsung bagi ekonomi sekitar,” kata dia. PT OHI pun mengajak Mendag meresmikan pembukaan Okabe Gallery yang pertama di Jalan Jalur Sutera 32A (Serpong Utara), Kota Tangsel, Banten. Pembukaan dan peresmian Okabe Gallery direncanakan pada 19 Mei 2023. PT OHI adalah perusahaan penanaman modal asing yang merupakan anak perusahaan Okabe Co Ltd Japan yang berpusat di Tokyo, Jepang. PT OHI bergerak di bidang eceran bahan bangunan dengan bidang usaha bahan konstruksi antara lain logam, porselen dan kayu, dan perlengkapan rumah tangga. (Yetede)
Dana Asing Mengalir Deras ke Tanah Air
Gejolak ekonomi global dan krisis likuiditas perbankan ternyata menjadi berkah bagi pasar modal
emerging market, termasuk Indonesia. Gara-gara krisis tersebut, pelaku pasar kini sibuk memindahkan dananya ke pasar negara berkembang.
Dari data EPFR Global dan TD Securities yang dilansir
Bloomberg, Sabtu (8/4), ada sekitar US$ 5,5 miliar dana asing yang mengalir ke pasar ekuitas
emerging market
sepanjang Maret lalu. Lebih dari 70% dana tersebut masuk ke China dan sisanya masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Menurut data Bursa Efek Indonesia, sepanjang 2023 berjalan ini, investor asing membukukan
net buy
Rp 9,34 triliun. Sebulan terakhir, per 6 April, investor asing mencetak
net buy
sebesar Rp 6,51 triliun.
Sementara itu di pasar obligasi, kepemilikan investor asing bertambah Rp 2,66 triliun dibandingkan posisi akhir Maret 2023. Sedangkan jika dibandingkan dengan posisi awal tahun ini, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 58,28 triliun atau naik 7,64%.
Ada beberapa faktor yang mendorong masuknya dana asing ke pasar negara berkembang. Misalnya, kebijakan moneter yang lunak dan pembukaan kembali ekonomi setelah pandemi Covid-19. Mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dollar AS.
Para pakar juga menilai pertumbuhan ekonomi di negara berkembang lebih bergantung ke pasar domestik.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









