;
Tags

investor asing

( 87 )

Presiden Raih Komitmen Investasi Exxon Mobil Rp232 Triliun

KT1 17 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Presiden jokowi mengantongi komitmen investasi menilai US$ 15, miliar atau sekitar Ro232 triliun dari ExxonMobil untuk pembangunan kilang petrokimia hijau berikut pembangunan karbon capture storage (CCS). Jika rencana investasi ini terealisasi, fasilitas CCS itu akan menjadi  yang terbesar di Asia Tenggara. bahkan, kila petrokimia ExxonMobil bakal menjadi salah satu yang tercanggih di dunia. "Saya apresiasi rencana kerja sama untuk pembangunan kilang petrokimia hijau dan carbon capture storage (CCS) dengan nilai mencapai US$ 15 miliar," ujar Presiden dalam pertemuan itu itu. Disebutkan bahwa sebelum gelarab  KTT APEC 2023, Jokowi melobi CEO ExxonMobil Darren Woods untuk berinvestasi di Tanah Air. Di tempat terpisah, Presiden ExxonMobil Indonesia, Carole Gall, mengatakan kerja sama ini menunjukkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan perusahaan untuk mendorong peralihan ke masa depan dengan emisi yang lebih rendah. (Yetede)

Menarik Modal Asing Masuk dengan Instrumen di Pasar Sekunder

KT1 09 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Tingginya ketidakpastian perekonomian dunia berdampak pada fluktuasi minat investor asing untuk  menyimpan dana di pasar keuangan domestik. Oleh karena itu, Bank Indonesia (BI) terus berupaya meningkatkan gairah investor baik dalam  maupun luar negeri untuk menyimpan dana di perbankan nasional, dengan meluncurkan sejumlah intrusmen. Dalam hal ini, BI menyiapkan intrusmen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) agar investor asing bisa berpartisipasi lebih di pasar keuangan domestik khususnya bagi investor yang ingin menyimpan dalam termin pendek. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto mengatakan, peningkatan  imbal hasil (yield) surat utang di negara maju mengakibatkan keluarnya modal asing dari negara berkembang. Hal tersebut mempengaruhi perekonomian dan nilai tukar mata uang di negara berkembang. "Fenomena ini yang mendasari kami di BI untuk meng-introduce yang namanya sekuritas valas BI untuk yang konvensional dan sukuk valas untuk syariah. Ketika volume likuiditas bertambah investor tidak langsung masuk ke spot market," kata Edi. (Yetede)

Batam Kian Diminati Industri Tenaga Surya

KT3 17 Oct 2023 Kompas

Perusahaan industri hilir tenaga surya asal AS, Atelier Solar, membangun pabrik di Kawasan Industri Wiraraja, Kota Batam, Kepulauan Riau. Kehadiran perusahaan itu menambah daftar panjang industri hilir tenaga surya yang berinvestasi di Batam setelah pemerintah berencana mengekspor listrik energi bersih ke Singapura. Presdir Kawasan Industri Wiraraja Akhmad Ma’ruf, Senin (16/10) mengatakan, Atelier Solar merupakan perusahaan pembuat panel surya dan baterai. Pada tahap pertama, perusahaan itu bakal mengucurkan investasi Rp 1 triliun untuk membangun pabrik seluas 2 hektar di Kawasan Industri Wiraraja.

”Tahap awal, Atelier baru akan memproduksi panel surya dan butuh lebih kurang 525 pekerja. Produk yang dihasilkan akan diekspor ke AS,” kata Ma’ruf yang juga menjabat Ketua Kadin Kepri. Selain Atelier, ada enam perusahaan industri hilir tenaga surya lain yang berinvestasi di Kawasan Industri Wiraraja, yaitu PT Jaya Electrical Energy, PT Marubeni Global Indonesia, PT Wiraraja Yunan International, PT Apolo Solar Indonesia, PT Alpha Solar, dan PT Tynergi Technology Indonesia. Menurut Ma’ruf, banyak perusahaan energi baru terbarukan asal AS, China, Jepang, dan Singapura yang berminat membangun pabrik di Batam. Hal ini karena lokasi Batam yang strategis di jalur pelayaran internasional. Selain itu, sebagai kawasan perdagangan bebas (free trade zone/FTZ), Batam juga menawarkan insentif fiskal kepada para investor.  (Yoga)

Menadah Saham Yang Dibuang Asing

HR1 12 Sep 2023 Kontan

Beberapa investor asing terpantau mulai berkemas-kemas dari bursa saham Indonesia. Mereka bersiap mengantisipasi keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) pada pekan depan. Memang pada Senin (11/9), asing tercatat melakukan aksi beli bersih alias net buy senilai Rp 891,37 miliar. Namun sepanjang tahun 2023, investor asing mencetak net sell sebesar Rp 1,39 triliun. Padahal sampai dengan Juli 2023, investor asing masih mencatatkan net buy sebesar Rp 18,92 triliun. Sejak Agustus 2023, investor asing mulai terendus melakukan aksi jual. Equity and Economics Analyst KGI Sekuritas, Rovandi menjelaskan aksi penjualan oleh asing karena The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sampai 5,75%. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan, kalau The Fed menaikkan suku bunga, investasi di Amerika akan lebih menarik. "Imbal hasil SUN juga akan mengalami penurunan, sehingga harga obligasi kian murah. Ini menjadi sebuah kesempatan bagi asing untuk melirik pasar obligasi," ucap dia. Rovandi menilai, agar bisa kembali memanggil investor asing yang sudah pergi, kenaikan suku bunga BI menjadi salah satu jalan yang bisa ditempuh. Investor asing terpantau tercatat melakukan net sell terbesar pada TLKM sebesar Rp 2,3 triliun sepanjang 2023. Ini turut menekan harga TLKM 1,33% year to date (ytd) ke level Rp 3.700.

Di China, RI Undang Investor Kendaraan Listrik

KT3 29 Jul 2023 Kompas

Presiden Jokowi menggelar rangkaian pertemuan bisnis bersama Kadin di China serta sejumlah pengusaha China. Indonesia menyatakan komitmennya menjaga investasi tetap stabil dan berjalan baik. Presiden mendorong prioritas investasi di berbagai bidang, terutama ekosistem kendaraan listrik, energi baru terbarukan, serta pembangunan Ibu Kota Nusantara. ”Saya lihat beberapa dari sini juga sudah masuk untuk membangun ekosistem kendaraan listrik yang ingin kita bangun ke depan,” ucap Presiden Jokowi di Shangri- La Hotel, Chengdu, China, Jumat (28/7) dalam siaran pers.

Menurut Presiden, diperkirakan akan ada 1 juta mobil listrik yang diproduksi di Indonesia pada 2035.  Adapun untuk sepeda motor listrik akan ada 2,4 juta unit pada tahun yang sama. Dalam hal energi baru terbarukan (EBT), Presiden menyampaikan, Indonesia ingin mendorong para investor dari China untuk turut serta menanamkan investasinya. Potensi EBT di Indonesia adalah 434.000 megawatt. Jumlah ini tergolong sangat besar, meliputi tenaga air, surya, gelombang laut, angin, dan geotermal. ”Saya kira ini sebuah kesempatan yang sangat baik untuk ke depan energinya hijau, nanti produknya hijau (ramah ling kungan), jualan produknya bisa berada di posisi premium,” ujar Presiden Jokowi. (Yoga)


Cengkraman Investor Asing Semakin Kuat

HR1 21 Jul 2023 Kontan

Cengkeraman investor asing pada industri perbankan Indonesia tercatat sudah cukup kuat. Namun, minat para investor luar negeri untuk masuk ke perbankan di Tanah Air masih belum surut hingga saat ini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberi bocoran bahwa tahun ini atau paling lambat awal tahun 2024 bakal ada proses akuisisi bank lokal yang akan melibatkan investor asing. Baru-baru ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, peningkatan minat investor asing masuk ke perbankan Indonesia berasal dari beberapa negara, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. Sejauh ini, cengkeraman investor Jepang tercatat paling kuat. Tercatat ada lima bank swasta yang dikendalikan investor asal Negeri Sakura ini. Hal itu ditambah dengan kehadiran kantor cabang bank MUFG Bank Ltd. Total aset bank yang dikendalikan investor Jepang mencapai Rp 724,33 triliun, berdasarkan data per Maret 2023. Presiden Direktur Bank Danamon Daisuke Ejima mengungkapkan, lembaga keuangan Jepang itu sejak awal sudah memandang pasar Indonesia potensial. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai regional executive MUFG Bank Asia Pasifik ini bilang, investasi MUFG di Bank Danamon saat ini masih sesuai kesepakatan, yakni fokus pada bisnis korporasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), konsumer, serta Adira Finance. Di bisnis korporasi, kata Ajime, Bank Danamon banyak memanfaatkan jaringan perusahaan yang dimiliki oleh MUFG, antara lain Toyota, Honda, dan beberapa merek otomotif lainnya. Sementara bisnis konsumer akan terus diperkuat lewat kolaborasi dengan Adira Finance dan perusahaan yang baru saja diakuisisi MUFG seperti Home Credit Indonesia dan Mandala Finance. Selain itu, juga mengakuisisi aset konsumer Standard Chartered Rp 1,3 triliun.

Bank Lokal Masih Jadi Incaran Investor Asing

HR1 07 Jul 2023 Kontan (H)

Minat investor asing untuk masuk ke industri keuangan di Indonesia masih tinggi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sejumlah investor asing tengah mengantre untuk masuk ke sejumlah perusahaan keuangan di Tanah Air, termasuk mengincar bank di dalam negeri. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan, investor dari Jepang, Korea Selatan, serta Singapura masih menunjukkan ketertarikannya terhadap bank domestik. Ia mengisyaratkan bakal ada investor asing yang dalam waktu dekat akan mengumumkan akuisisi bank lokal. Sayang, Dian masih enggan menyebutkan nama bank dan investor yang dimaksud. Selain akuisisi, akan ada juga merger bank yang juga melibatkan investor asing. Kabar yang beredar, investor baru yang akan masuk BRIS itu akan membeli saham BRIS milik Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Spekulasi yang beredar, nama QNB mencuat menjadi kandidat investor BSI. Rumor ini berkembang seiring dengan pertemuan antara Menteri BUMN Erick Thohir dengan Menteri Keuangan Qatar Ali bin Ahmed Al Kuwari pada Mei 2023. Sampai berita ini naik cetak, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo hingga kini belum menjawab klarifikasi dari KONTAN. Sementara Wakil Direktur Utama BSI Bob Tyasika Ananta menyatakan, proses akuisisi saham BRIS merupakan domain pemegang saham.

Kepercayaan Investor Asing terhadap Pasar SBN Diyakini Meningkat

KT3 03 Jun 2023 Kompas

Porsi kepemilikan asing di pasar Surat Berharga Negara atau SBN mulai mengalami kenaikan secara bulanan. Dengan kondisi fundamental ekonomi yang terjaga, pemerintah meyakini kepercayaan investor asing terhadap pasar surat utang negara kembali pulih. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, total dana investor asing di SBN Rupiah pada 29 Mei 2023 adalah Rp 829,98 triliun atau menyentuh porsi 15,31 % total kepemilikan SBN Rupiah. Jumlah investor asing di pasar SBN itu naik sebesar Rp 8,15 triliun dibandingkan posisi per akhir April 2023, yaitu Rp 822,69 triliun atau dengan porsi 14,86 %. Sebelumnya, pada akhir Maret 2023, porsi kepemilikan asing di pasar SBN Rupiah sebesar 14,69 % dengan nilai Rp 805,1 triliun. Porsi kepemilikan asing di SBN sebenarnya sudah tercatat menurun besar-besaran sejak pandemi Covid-19.

Sebelum pagebluk, pada 2019, porsi kepemilikan asing pada SBN tercatat 38,75 %. Per tahun 2020, turun menjadi 25,2 % dan per Januari 2023 berada di kisaran 14 %. Wakil Menkeu Suahasil Nazara mengatakan, kepemilikan asing di pasar surat utang negara ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, kepemilikan SBN oleh investor asing adalah pertanda bahwa pasar obligasi pemerintah dan perekonomian RI masih menarik bagi investor asing. Di sisilain, kepemilikan asing yang terlalu besar di pasar obligasi negara juga membuat pasar SBN lebih rapuh terhadap risiko arus modal keluar (capital outflow) ketika terjadi sentimen atau guncangan eksternal, seperti saat pandemi. ”Pandemi membuat confidence investor turun, dan di saat-saat susah seperti itu, ada persepsi bahwa cash is the king. Akhirnya banyak investor asing tidak yakin dengan perekonomian Indonesia dan  memutuskan keluar,” kata Suahasil dalam wawancara di kantornya di gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (31/5). (Yoga)


Mendag Minta Investor Asing Gandeng Pemasok Lokal

KT1 13 Apr 2023 Investor Daily

Mendag Zulkifli Hasan meminta investor asing meningkatkan kerja sama dengan para pemasok lokal serta turut memberi pembinaan kapasitas dan kapabilitas. “Investor yang membina pemasok lokal akan diuntungkan dengan konsistensi kualitas produk dan jumlah produksi. Pemasok Indonesia pun akan mendapatkan  pengetahuan melalui transfer pengetahuan mengenai mutu barang yang terbaik sesuai standar nasional, standar Jepang dari PT Okabe, maupun standar internasional,” kata Zulhas dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (12/04). Dalam pertemuan yang dilakukan oleh Zulkifli dengan PT Okabe Hardware Indonesia (OHI) pada Selasa (11/04) dia menyampaikan dukungan dan mengapresiasi investasi PT OHI di Indonesia.

Investasi PT OHI diharapkan dapat menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal seiring rencana ekspansi perusahaan tersebut melalui pembukaan cabang cabang baru. “Pembukaan galeri baru akan memberi dampak langsung bagi ekonomi sekitar,” kata dia. PT OHI pun mengajak Mendag meresmikan pembukaan Okabe Gallery yang pertama di Jalan Jalur Sutera 32A (Serpong Utara), Kota Tangsel, Banten. Pembukaan dan peresmian Okabe Gallery direncanakan pada 19 Mei 2023. PT OHI adalah perusahaan penanaman modal asing yang merupakan anak perusahaan Okabe Co Ltd Japan yang berpusat di Tokyo, Jepang. PT OHI bergerak di bidang eceran bahan bangunan dengan bidang usaha bahan konstruksi antara lain logam, porselen dan kayu, dan perlengkapan rumah tangga. (Yetede)


Dana Asing Mengalir Deras ke Tanah Air

HR1 10 Apr 2023 Kontan (H)

Gejolak ekonomi global dan krisis likuiditas perbankan ternyata menjadi berkah bagi pasar modal emerging market, termasuk Indonesia. Gara-gara krisis tersebut, pelaku pasar kini sibuk memindahkan dananya ke pasar negara berkembang. Dari data EPFR Global dan TD Securities yang dilansir Bloomberg, Sabtu (8/4), ada sekitar US$ 5,5 miliar dana asing yang mengalir ke pasar ekuitas emerging market sepanjang Maret lalu. Lebih dari 70% dana tersebut masuk ke China dan sisanya masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut data Bursa Efek Indonesia, sepanjang 2023 berjalan ini, investor asing membukukan net buy Rp 9,34 triliun. Sebulan terakhir, per 6 April, investor asing mencetak net buy sebesar Rp 6,51 triliun. Sementara itu di pasar obligasi, kepemilikan investor asing bertambah Rp 2,66 triliun dibandingkan posisi akhir Maret 2023. Sedangkan jika dibandingkan dengan posisi awal tahun ini, kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 58,28 triliun atau naik 7,64%. Ada beberapa faktor yang mendorong masuknya dana asing ke pasar negara berkembang. Misalnya, kebijakan moneter yang lunak dan pembukaan kembali ekonomi setelah pandemi Covid-19. Mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dollar AS. Para pakar juga menilai pertumbuhan ekonomi di negara berkembang lebih bergantung ke pasar domestik.