Bisnis
( 689 )Percepatan Transformasi Digital: Bisnis Pusat Data Perlu Merata
Pemerintah didesak membenahi sebaran pusat data di Indonesia yang mayoritas berada di DKI Jakarta seiring dengan lonjakan kebutuhan infrastruktur tersebut di Tanah Air. Dari 64 lokasi pusat data, sebanyak 44 lokasi berada di Jakarta sedangkan sisanya berada di Indonesia bagian barat. Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi mengatakan desakan itu merespons beberapa investor pusat data yang memilih lokasi berdasarkan kemauan pengembang pusat data. "Kedepannya juga akan makin banyak pusat data dibangun, baik investasi lokal maupun asing. Saat ini, data center berdiri dan pemilihan lokasi berdasar kemauan pengembang pusat data. Ini yang harus dibenahi," katanya, Rabu (16/2).
Pemerintah harus mengatur lokasi pusat data agar tidak hanya mendominasi di Jakarta, Batam dan Jawa Barat. Menurutnya, lokasi pusat data harus merata di seluruh Tanah Air, termasuk di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur. Pengaturan lokasi pusat data diperlukan sesuai PP No. 82/2012 yang mewajibkan investor pusat data menempatkan lokasi bisnisnya di wilayah Indonesia. Sementara itu, Head of Sales & Tenant Relations Suryacipta City of Industry (Suryacipta) Binawati Dewi menargetkan bisa menampung lima perusahaan pusat data di kawasannya pada 2022. Salah satu investor pusat data siap beroperasi dalam waktu dekat. Namun, dia enggan menyebutnya saat ini. Menurutnya, permintaan pusat data di daerah juga semakin meningkat karena ada PP No. 71/2019 tentang Sistem dan Transaksi Elektronik dan PP No. 5/2021 yang mengklasifikasikan pusat data sebagai bagian dari sektor industri dan wajib berada di kawasan industri.
Fenomena Bisnis : Crazy Rich di Medsos
Istilah ”crazy rich” alias orang kaya tujuh turunan ramai ketika Kevin Kwan pada 2013 membuat novel berseri dengan judul Crazy Rich Asians. Kisah dan polah orang kaya di Asia ini kemudian difilmkan sebagai drama komedi romantis AS pada 2018 yang disutradarai Jon M Chu. Sejak itu, banyak orang Indonesia ikut-ikutan menyebut dirinya sebagai ”crazy rich”. Publik pun seperti mengamini kehadiran mereka, setidaknya bila kita melihat pengikut dan komentar di akun-akun mereka itu. Harian South China Morning Post pernah membuat laporan tentang 5 orang yang disebut sebagai muda, elite, dan crazy rich di Singapura. Kita dengan mudah mengetahui latar belakangnya dan juga usaha yang digeluti orangtuanya. Mereka bukanlah orang yang tiba-tiba lahir dari langit dengan cerita dramanya menjadi kaya. Sebaliknya, kita sulit mengetahui bisnis masa lalu anak muda yang tiba-tiba mengaku elite di Indonesia. Kemunculan usaha mereka hanya dalam waktu dua-tiga tahun banyak menimbulkan tanda tanya. Peran di dalam aktivitas sosial juga kurang terlihat. Sayang sekali, sejumlah media malah mengamini ”keelitan” mereka.
Pengaruh ”orang kaya gila” di Indonesia dalam tren gaya hidup juga masih minim. Mereka lebih banyak memamerkan kekayaan di media sosial dengan komunikasi yang direkayasa. Pujian yang tidak organik, komentar yang diusung oleh pendengungnya, dan lalu lintas yang palsu. Mereka bercerita tentang kisah sukses, tetapi terasa dangkal. Anak perempuan yang tumbuh di lingkungan paling elite di Singapura, pada umur 6 tahun masuk sekolah elit Methodist Girls’ School (MGS), Singapore Chinese Girl School (SCGS), atau the Convent of the Holy Infant Jesus (CHIJ). Setelah sekolah, waktu yang ada dihabiskan bersama tutor untuk mempersiapkan mereka menghadapi ujian mingguan. Pada akhir pekan, mereka mengisi kegiatan dengan bermain piano, biola, balet, atau membaca, dan beberapa kegiatan lain, tetapi kita sulit menemukan jejak pendidikan orang Indonesia yang seolah mendapat kedudukan elite di media sosial itu, sebagian besar gelap. Kita tidak tahu pendidikan yang diterima mereka hingga menjadi ”sukses”. Kemudahan di media sosial sepertinya telah dibajak oleh segelintir orang. Ada yang dengan seenaknya mempromosikan aset kripto tanpa menyebut risikonya. (Yoga)
Inovasi Bisnis, Norma Kerja Berubah
Pada November tahun lalu ada 4,5 juta tenaga kerja di AS yang memilih keluar dari pekerjaan. Padahal, ada juga pembukaan lowongan baru sebesar 10,6 juta pekerja. Sementara menurut laporan Goldman Sachs terbaru, sebanyak 2,5 juta orang menghilang dari dunia kerja, 800.000 orang memilih pensiun dini dan sisanya akan kembali ke dunia kerja. Secara umum, pandemi mengubah pikiran banyak kalangan. Mereka mengundurkan diri dari dunia kerja karena tidak ada atau kurangnya jaminan keamanan kesehatan. Ada juga yang ingin memulai usaha baru, menghabiskan uang tabungan, gaya hidup yang berubah, menikmati investasi di properti, dan sebagian besar sebenarnya menunggu situasi berubah.
Salah satu yang menarik yang dibahas Al Jazeera dan CNN beberapa waktu lalu adalah kenyataan banyak orang menunggu perubahan di perusahaan. Orang tidak mau kembali ke dunia kerja sebelum ada perbaikan gaji, bonus kerja, dan juga perbaikan tempat kerja. Calon pekerja mempunyai posisi lebih tinggi. Mereka akan menunggu tawaran lebih baik dibanding masa lalu. Pandangan yang perlu diubah adalah kenyataan bahwa perbedaan antara kantor dan rumah sudah semakin abu-abu. Karyawan akan memilih perusahaan yang mampu membangun kultur baru yang bisa mengoneksikan antara kantor dan rumah. Selain itu, sikap yang menarik sejak perekrutan, semisal dengan memberi air minum, makan siang, atau uang transportasi saat wawancara, juga sudah cukup untuk mengimpresi talenta di awal perkenalan dengan perusahaan. Norma kerja telah berubah. (Yoga)
Agenda G20 dan Moto GP Dibayangi Laju Covid-19
Sejumlah event internasional, termasuk pertemuan G20 dan Moto-GP, kembali dibayangi lonjakan kasus positif Covid-19. Jika kasus baru tak terbendung dan memicu wabah ekstrem, bukan tak mungkin sejumlah event dunia itu batal terselenggara. Sebagai gambaran, Senin (7/2), kasus positif baru Covid-19 bertambah 26.121 menjadi sekitar 4,54 juta. Memang, laju kasus harian turun dibanding sehari sebelumnya yang mencapai 36.057 kasus. Toh, secara keseluruhan, penularan Covid-9 sedang dalam tren naik. Situasi ini bisa menghambat penyelenggaran sejumlah perhelatan, pameran dan event lain. Apalagi pemerintah kembali membatasi mobilitas dan menaikkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dari level 2 menjadi level 3 di Jabodetabek maupun sejumlah wilayah Jawa dan Bali. Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour Iswandi Said juga mengungkapkan, lonjakan kasus Covid-19 turut memicu pembatalan pesanan hotel, dan menjadwal ulang pesananannya. "Jumlahnya lumayan banyak, ada sekitar 10%-20% pembatalan pemesanan," ungkap Iswandi.
Bisnis Cloud Global Terus Bertumbuh
Bisnis komputasi awan (cloud) global semakin cerah. Pasar infrastruktur cloud secara global berhasil mencetak pertumbuhan pada tahun 2021. Sepanjang tahun lalu bisnis infrastruktur cloud bertambah sekitar US$ 50 miliar, menjadi sekitar US$ 178 miliar. Berdasarkan data Synergy Research, penambahan tersebut setara dengan pertumbuhan sekitar 36% secara tahunan di kuartal terakhir 2021. Nah, untuk tiga besar perusahaan global masih dikuasai oleh Amazon, Microsoft dan Google. Bisnis ketiganya terus tumbuh pada tingkat yang luar biasa. Mereka mengambil keuntungan dari pertumbuhan tersebut dengan kekuatan pasar mereka. Microsoft dan Google tumbuh lebih cepat pada tingkat yang sama, sekitar 45% untuk kuartal ini. Sementara Amazon tumbuh hanya di bawah 40%. Dari sisi pasar, Indonesia sendiri merupakan pasar dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik. Menurut prediksi International Data Corporation (IDC), pasar cloud Indonesia akan tumbuh rata-rata 31% per tahun lima tahun ke depan. Bisa menjadi US$ 1,2 miliar pada tahun 2024 seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.
Bisnis Digital MNCN
Sejumlah emiten media terus memperkuat bisnis digital. Langkah itu sejalan dengan potensi belanja iklan digital yang membesar. Menurut Statista, lembaga riset data pasar dan konsumer, belanja iklan digital Indonesia mencapai US$ 2,1 miliar tahun lalu dan masih akan tumbuh tahun ini. Kontribusi pendapatan digital di emiten media seperti PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dari semula hanya single digit naik menjadi dua digit dalam dua tahun terakhir. Kontribusi segmen digital MNCN meningkat pesat. Pada kuartal I-2019 hanya 7,1%, pada tahun 2022, hitungan analis, menjadi 25%.
Inovasi Bisnis, Putar Arah Saat Krisis
Beberapa perusahaan melakukan putar arah ketika terjadi badai. AirAsia Group berganti nama menjadi Capital A, untuk lebih mencerminkan bisnis inti dan rencana pengembangan grup ke depan seiring pesatnya transformasi digital, yang menandakan era baru, lebih dari sekadar maskapai penerbangan, ujar CEO Capital A Tony Fernandes. AirAsia sebagai maskapai tetap melekat, tetapi jauh sebelum pandemi, ia berniat untuk memanfaatkan kekuatan data yang telah dibangun lebih dari 20 tahun terakhir dan menggabungkannya dengan penggunaan teknologi. Aksi korporasi AirAsia terlihat sejalan dengan visi baru mereka, diantaranya dengan membeli saham Gojek di Thailand.
Under Armour dan L Brands Inc adalah perusahaan yang juga melakukan putar haluan saat pandemi. Peritel Under Armour memilih penjualan langsung kepada konsumen dibandingkan mempertahankan semua tokonya. Perusahaan induk L Brands Inc memutuskan melepas Bath & Body Works dan Victoria’s Secret & Co dari induknya dan menjadi entitas tersendiri. Bath & Body Works tidak lagi memiliki toko fisik, sementara Victoria’s Secret masih mengandalkan toko, tetapi mulai melakukan penjualan daring. (Yoga)
Aksi Bank Asing : UOB Caplok Bisnis Konsumer Citigroup di Asean
Setelah berita tentang penutupan bisnis konsumer Citigroup di 13 negara bergulir sejak tahun lalu, akhirnya United Overseas Bank Limited (UOB) Group mengumumkan akan mengakuisisi bisnis konsumer Citigroup itu di empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Kabar hengkangnya Citigroup dari Indonesia sempat menghebohkan industri perbankan Indonesia tahun lalu. Meski demikian, Citigroup akhirnya menjelaskan bahwa aksi itu akan dilakukan bertahap. UOB Group mengakuisisi bisnis konsumer Citigroup di empat negara Asean senilai S$5 miliar atau setara dengan Rp53,21 triliun. Bisnis ini mencakup portofolio bisnis pinjaman tanpa agunan dan pinjaman beragunan, wealth management dan retail deposit atau tabungan segmen ritel.
Pertumbuhan Pemain Baru, Prospek Cerah Usaha Gadai
Peluang bisnis pergadaian masih cukup menjanjikan. Banyak pemain bisnis yang masuk di layanan ini tecermin dari izin yang diterbitkan oleh regulator. Setidaknya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan 32 izin usaha pergadaian swasta sepanjang 2021. Terbaru, OJK menerbitkan izin perusahaan pergadaian kepada lima perusahaan gadai pada Desember 2021, antara lain PT Indo Gadai Prima, PT Mega Mas Gadai, PT Sukses Gadai Sejahtera, PT Pergadaian Mitra Bersama, dan PT Pusat Gadai Elmyrah. Sekretaris Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) Holilur Rohman mengatakan bahwa potensi bisnis gadai memang masih cukup besar untuk digali. Namun, bertambahnya jumlah perusahaan gadai swasta berizin belum tentu merupakan pemain baru.
Menguji Daya Tahan BUMN
Dana negara telah disuntikkan untuk memperkuat daya tahan BUMN, tahun 2022 pandemi berlanjut, daya tahan BUMN, baik yang sedang berbenah maupun mulai bertransformasi, kembali diuji. Setidaknya ada 6 BUMN dengan utang jumbo, yaitu PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan utang 9,8 miliar USD, PT Krakatau Steel (KS) Tbk Rp 31 triliun, PTPN Rp 43 triliun, PT Waskita Karya (Persero) Tbk Rp 90 triliun, PLN Rp 643,9 triliun, dan PT Angkasa Pura I (Persero) Rp 28 triliun. Selain imbas pandemi Covid-19, penumpukan utang terjadi karena manajemen bisnis buruk di masa lalu, seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, dan PTPN. Ada juga penumpukan utang karena perusahaan menanggung beban investasi proyek strategis pemerintah, seperti PLN, Angkasa Pura I, dan Waskita Karya. Hingga saat ini, perusahaan BUMN itu berjuang melunasi utang secara bertahap, bahkan mengambil langkah restrukturisasi utang. KS, misalnya, pasca-penandatanganan perjanjian restrukturisasi Januari 2020 hingga Desember 2021 telah membayar utang Rp 3,2 triliun. Manajemen baru KS juga berencana melepas 40 % kepemilikan aset perusahaan kepada mitra strategis.
Selain mengandalkan kemampuan manajemen, perusahaan BUMN juga bergantung pada PMN. Pada Juli 2021, Kementerian BUMN mengajukan PMN tahun anggaran 2022 bagi 12 perusahaan sebesar Rp 72,449 triliun, untuk menyehatkan sejumlah perusahaan serta menjalankan penugasan negara. Setiap BUMN penerima PMN harus berkomitmen mengelola PMN secara akuntabel dan transparan, terlihat dalam indikator kinerja utama (key performance indicators/KPI), sebagai syarat kontrak kerja antara BUMN penerima PMN dan kementerian terkait. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, program utama Kementerian BUMN, termasuk transformasi BUMN, telah dituntaskan dengan baik. Di tengah pandemi Covid-19, BUMN secara konsolidasi berhasil meningkatkan laba bersih dari Rp 13 triliun pada akhir 2020 menjadi Rp 61 triliun hingga triwulan III-2021. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Orang Kaya Singapura Akan Dikenai Pajak
19 Feb 2022 -
Membabat Para Penentang
19 Feb 2022 -
Euforia Bank Digital Mendongkrak Kekayaan Taipan
21 Feb 2022 -
Tiga Bisnis yang Dibutuhkan Dimasa Depan
02 Feb 2022









