Fenomena Bisnis : Crazy Rich di Medsos
Istilah ”crazy rich” alias orang kaya tujuh turunan ramai ketika Kevin Kwan pada 2013 membuat novel berseri dengan judul Crazy Rich Asians. Kisah dan polah orang kaya di Asia ini kemudian difilmkan sebagai drama komedi romantis AS pada 2018 yang disutradarai Jon M Chu. Sejak itu, banyak orang Indonesia ikut-ikutan menyebut dirinya sebagai ”crazy rich”. Publik pun seperti mengamini kehadiran mereka, setidaknya bila kita melihat pengikut dan komentar di akun-akun mereka itu. Harian South China Morning Post pernah membuat laporan tentang 5 orang yang disebut sebagai muda, elite, dan crazy rich di Singapura. Kita dengan mudah mengetahui latar belakangnya dan juga usaha yang digeluti orangtuanya. Mereka bukanlah orang yang tiba-tiba lahir dari langit dengan cerita dramanya menjadi kaya. Sebaliknya, kita sulit mengetahui bisnis masa lalu anak muda yang tiba-tiba mengaku elite di Indonesia. Kemunculan usaha mereka hanya dalam waktu dua-tiga tahun banyak menimbulkan tanda tanya. Peran di dalam aktivitas sosial juga kurang terlihat. Sayang sekali, sejumlah media malah mengamini ”keelitan” mereka.
Pengaruh ”orang kaya gila” di Indonesia dalam tren gaya hidup juga masih minim. Mereka lebih banyak memamerkan kekayaan di media sosial dengan komunikasi yang direkayasa. Pujian yang tidak organik, komentar yang diusung oleh pendengungnya, dan lalu lintas yang palsu. Mereka bercerita tentang kisah sukses, tetapi terasa dangkal. Anak perempuan yang tumbuh di lingkungan paling elite di Singapura, pada umur 6 tahun masuk sekolah elit Methodist Girls’ School (MGS), Singapore Chinese Girl School (SCGS), atau the Convent of the Holy Infant Jesus (CHIJ). Setelah sekolah, waktu yang ada dihabiskan bersama tutor untuk mempersiapkan mereka menghadapi ujian mingguan. Pada akhir pekan, mereka mengisi kegiatan dengan bermain piano, biola, balet, atau membaca, dan beberapa kegiatan lain, tetapi kita sulit menemukan jejak pendidikan orang Indonesia yang seolah mendapat kedudukan elite di media sosial itu, sebagian besar gelap. Kita tidak tahu pendidikan yang diterima mereka hingga menjadi ”sukses”. Kemudahan di media sosial sepertinya telah dibajak oleh segelintir orang. Ada yang dengan seenaknya mempromosikan aset kripto tanpa menyebut risikonya. (Yoga)
Tags :
#BisnisPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023