Bisnis
( 689 )Ancaman Resesi AS Menekan Perusahaan Indonesia
Ancaman resesi menghantui perekonomian Amerika Serikat (AS). Kondisi ini berpotensi menekan perusahaan asal Indonesia yang punya eksposur ekspor cukup besar, terutama ke pasar AS.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede memproyeksikan, ekspor Indonesia ke AS berpotensi turun. Di saat yang sama, investasi dari Negeri Paman Sam bakal menyusut. Sektor yang berpotensi terdampak signifikan adalah sektor tekstil yang berorientasi ekspor. Negara-negara di dunia juga berlomba mengerek suku bunga yang pada gilirannya menekan operasional negara.
Puluhan Multifinance Bermodal Cekak
Bisnis multifinance di tengah perbaikan kondisi ekonomi ternyata masih banyak berdarah-darah. Bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah menyerah dan mengembalikan izin bisnis mereka ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Misalnya, PT Amanah Finance yang baru-baru ini memutuskan mengembalikan izin usaha. Salah satu hal yang menyebabkan beberapa perusahaan mengembalikan izin usaha mereka maupun dicabut izin usaha, yakni terkait permodalan. Memang, berdasarkan catatan OJK, masih ada sekitar 25 perusahaan permbiayaan dari total multifinance yang masih belum memenuhi ketentuan terkait permodalan.
INOVASI BISNIS, Keinginan Pelanggan
Penulis bernama Nikole Wintermeier di salah satu tulisannya di laman Crobox mengatakan, pembelian barang atau layanan mewah membantu individu membangun narasi diri tentang status, kekayaan, atau keunikan. Semua itu adalah simbol yang membawa individu lebih dekat dengan diri ideal mereka. Namun, terkadang, jika produk tidak membawa individu lebih dekat ke diri ideal ini, mereka kehilangan kepenuhannya saat membeli produk atau mendapatkan layanan. Kita bisa belajar dari beberapa produk dan layanan kelas atas yang gagal membaca keinginan konsumen. Salah satunya adalah soal kebutuhan riset mendalam tentang persoalan atau kebutuhan konsumen. Mereka tak cukup didekati dengan asumsi. Riset mendalam dibutuhkan agar muncul inovasi yang pas kebutuhan dan keinginan konsumen.
Chief Executive Officer at DynaLux Consulting Omar Chaoui dalam salah satu tulisannya di akun LinkedIn-nya. menulis, apabila merek Anda berhenti berinovasi dan terus mengulangi hal yang sama berulang kali, Anda pasti akan menghadapi tantangan luar biasa pada masa depan. Merek lain sangat mungkin mencuri perhatian publik. Pada titik waktu tertentu, hal itu ditandai dengan kecepatan merek memperoleh pelanggan baru melambat. Ketika itu terjadi, mungkin semua sudah terlambat. Omar mengatakan, jelas merupakan sebuah kesalahan ketika pebisnis mengabaikan tren pasar, riset, dan inovasi Semua itu adalah beberapa elemen kunci untuk kelangsungan hidup bisnis Anda pada masa depan. (Yoga)
AMAZON WEB SERVICES : Bisnis Cloud Computing Terus Bertumbuh
Amazon Web Services (AWS) Asia Pacific (Jakarta) Region hadir di Indonesia sejak Desember 2021. AWS akan berinvestasi sebesar US$5 miliar atau setara dengan Rp71 triliun di Indonesia selama 15 tahun ke depan. Untuk mengetahui rencana bisnis AWS di Tanah Air, Redaksi Bisnis Indonesia berkesempatan mewawancarai Managing Director AWS for Asean Conor McNamara.
AWS menawarkan pelayanan yang memungkinkan para pelanggan untuk menjalankan beban kerja dengan aman, dengan latensi yang lebih rendah. Kami yakin peluncuran AWS di Jakarta akan memungkinkan negara-negara Asean lainnya untuk memiliki akses layanan dengan atensi yang lebih rendah, termasuk di negara yang berbatasan dengan Indonesia.
Kami melihat pertumbuhan yang luar biasa di semua sektor usaha. Seperti yang disampaikan CEO Amazon Andy Jassy, teknologi cloud adalah perubahan terbesar dalam hidup manusia. AWS hadir sejak 2006 dan saat ini, bisnis cloud computing AWS telah bernilai US$74 miliar dengan mencatatkan pertumbuhan sebesar 38% secara tahunan. Kami perkirakan bisnis cloud computing tumbuh secara global dan kami melihat pertumbuhan yang serupa di Indonesia dari berbagai segmen pelanggan, termasuk sejumlah startup besar seperti Traveloka, Tokopedia, dan lainnya.
Komitmen Temu Bisnis Kreatif 2022 Melejit 36%
Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) tahun 2022 mencapai komitmen temu bisnis (business matching) sebesar Rp 282,2 miliar, naik 36% dari capaian pada tahun 2021. KKI tahun ini juga berhasil meraup omzet Rp 28,2 miliar, yang terdiri dari omzet penjualan luring sebesar Rp 9,15 miliar dan daring sebesar Rp 19,05 miliar.
Deputi Gubernur BI Doni P. Joewono mengungkapkan, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang berpartisipasi dalam KKI mendapat peluang baik dalam memperoleh pasar di tengah pemulihan ekonomi Indonesia.
Rame-Rame Mengalap Berkah Transaksi Tol Nirsentuh
Pemerintah siap menggelar uji coba bertahap skema pembayaran jalan tol nontunai nirsentuh atau multi lane free flow (MLFF) tahun ini. Kelak, proyek senilai Rp 4,4 triliun ini akan melibatkan sejumlah pelaku usaha, mulai dari penyedia sistem MLFF, operator jalan tol, penyedia sistem pembayaran hingga operator telekomunikasi.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Danang Parikesit menyebutkan, uji coba ini agar pengguna jalan tol tidak terkejut dengan pemberlakuan skema dan proses pembayaran jalan tol terbaru tersebut.
Caplok Unit Syariah BTN, Aset BSI Tembus Rp 308,64 T
Jajaran bank-bank besar menikmati pertumbuhan laba jumbo kuartal pertama tahun 2022 ini. Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Tabungan Negara (BTN) mampu meraup pertumbuhan pendapatan bunga bersih cukup tinggi. Sementara Bank Central Asia (BCA) dan Bank BNI meraih kenaikan pendapatan cukup besar dari non bunga.
Di lain sisi, pencadangan sebagian besar bank ini juga melandai, seiring optimisme pemulihan ekonomi ke depan. Seperti pencadangan BNI turun 26% year on year (yoy) menjadi Rp 3,6 triliun. Pada kuartal I 2022, aset BSI dan UUS BTN, masing - masing senilai Rp 271,29 triliun dan Rp 37,35 triliun. Artinya, total aset kedua bank mencapai Rp 308,64 triliun, atau lebih tinggi dari Bank Cimb Niaga senilai Rp 307,4 triliun. Pengambilalihan UUS BTN disebut membuyarkan rencana BTN untuk melepas UUS BTN sebagai entitas sendiri. Konon, pengambilalihan UUS BTN ke BSI adalah keputasan Kementerian BUMN.
Inovasi Bisnis, Isu-isu Sensitif
Inovasi bisnis sering mengikut sertakan survei. Hasilnya digunakan untuk membuat produk. Hasil survei pula digunakan untuk materi pemasaran. Untuk mengajak konsumen membeli produk itu, dikeluarkanlah hasil survei yang lebih mudah ditangkap publik dan sedikit ”bumbu-bumbu” teks, video, atau foto yang makin mendekatkan produk itu dengan keseharian konsumen. Meski begitu, tidak sedikit pula, ketika menjadi materi pemasaran, semua rencana itu ambyar karena reaksi publik. Pada 2017, Pepsi melakukan kesalahan besar. Sebuah iklan yang dibintangi Kendall Jenner membuat model tersebut bergabung dengan kerumunan multietnis yang bergaya. Mereka turun ke jalan dan berkumpul untuk tujuan yang tidak terlalu jelas. Akan tetapi, publik melihat aksi tersebut mengeksploitasi, sekaligus mereduksi protes Black Lives Matter yang diduga menjadi ide dasar adegan tersebut. Jenner berjalan ke polisi dan menawarinya sekaleng soda. Polisi meminumnya kemudian kerumunan bersorak, ”Masalahnya, apa pun itu, terpecahkan selamanya!” Iklan ”sederhana” ini membuat keributan. Menurut laman Quartz, semua orang membencinya. Dalam waktu 48 jam, kemarahan publik memaksa Pepsi menarik iklan yang tak jelas nadanya itu dan meminta maaf. Merek tersebut membutuhkan 9 bulan untuk memulihkan reputasinya di kalangan milenial.
Secara keseluruhan, kasus ini merupakan pelajaran tentang bahaya yang mengintai pada upaya ”wakewashing”, upaya dangkal dari sutu merek untuk terlibat pada aktivisme yang sedang berkembang. Merek berupaya masuk di dalamnya, tetapi konsumen mengidentifikasi hal itu sebagai cara munafik atau sama sekali tidak bermakna yang memicu kemarahan orang di media sosial. Merek berusaha masuk ke dalam isu sensitif, tetapi sesungguhnya konsumen paham dan menilai cara itu tidak baik. Asosiasi bernama Interactive Advertising Bureau (IAB) Eropa pernah mengadakan survei terhadap 90 eksekutif senior Eropa yang bekerja di sektor periklanan digital. Mereka terdiri dari agensi, perusahaan teknologi iklan, dan penerbit. Mereka menemukan bahwa lebih dari tiga perempat (77 %) menganggap keamanan merek sebagai prioritas utama. Survei mengungkapkan 57 % responden setuju bahwa keamanan merek makin menjadi tantangan dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya,terutama karena pengiklan sekarang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang masalah isu-isu aktual. Peserta survei juga mengungkapkan langkah-langkah untuk mengamankan merek di kanal digital. Beberapa teknis pemasaran digital bisa mengurangi masalah di dalam pemasaran digital. Untuk itu, IAB menerbitkan panduan praktik terbaik di seluruh Eropa bersama dengan temuan surveinya. (Yoga)
Generasi Milenial Jadi Pasar Empuk KPR Bank
Kehadiran milenial makin diincar oleh perbankan dalam menyalurkan berbagai produk keuangan. Generasi milenial bahkan mampu mendorong kinerja kredit pemilikan rumah (KPR) hingga kuartal pertama 2022.
Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) misalnya telah menyalurkan 56% dari total portofolio KPR kepada nasabah milenial. Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto menyatakan segmen millenial memiliki prospek yang cerah.
Awas, Investasi Modal Ventura Bisa Saja Gagal
Anda masih ingat saat Masayoshi Son, Bos Sofbank menyesali investasinya yang gagal di startup We Work beberapa tahun lalu. Kegagalan bisnis We Work menyebabkan Softbank, perusahaan investasi asal Jepang ini sempat merugi.
Nah, mari tengok modal ventura dalam negeri, dengan investasinya yang selama ini cukup gencar mendanai di banyak startup. Direktur Utama Mandiri Capital Indonesia (MCI), Eddi Danusaputro mengatakan, dari semua portofolio yang dimiliki, tidak semuanya memiliki kinerja yang bagus. Meskipun demikian, Eddi tak terlalu mengkhawatirkan kinerja yang kurang bagus dari beberapa portofolio milik MCI. Tahun ini, MCI belum memberikan pendanaan. Meski MCI sudah menyediakan dana segar sebesar Rp 50 miliar hingga Rp 100 miliar. Vice President of Investments MDI Ventures, Aldi Adrian mengungkapkan hal senada. Ia menyebutkan, tidak semua portofolio startup yang didanai MDI Ventures memiliki kinerja bagus.
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









