Generasi Cardless, QRIS Jadi Primadona
Pertamina Geotermal Jadi Raja Emiten Panas Bumi
Target 20 Juta Wisman Perlu Tambah Jumlah Penerbangan
Siap -siap Wajib Asuransi Kendaraan
Pencabulan Korban Kekerasan Seksual di Kantor Polisi
Potensi Rekonsiliasi Hamas dan Fatah lewat Mediasi Cina
Efektivitas Pemeriksa Fakta Melawan Disinformasi
'KUTUL' Beras Impor
Manajemen produksi, rantai pasok, dan tata kelola beras kembali menjadi sorotan. Dugaan manipulasi impor beras yang melibatkan Perum Bulog dengan perusahaan asal Vietnam pun mencuat. Hal ini menandai ketidakmampuan pemerintah dalam menciptakan swasembada pangan. Parahnya lagi, pemangku kebijakan tengah melakukan evaluasi atas ketentuan yang mengatur peta lahan sawah di 8 provinsi, lantaran masih terbatasnya ruang untuk merealisasikan program satu juta rumah. Jika tak ditata dengan bijak, lahan produktif pun bakal kian menyusut. Implikasinya, produksi beras tereduksi dan importasi makin tinggi yang membuka celah adanya 'hengki pengki' oleh oknum-oknum tertentu.
Dilema Berdikari & Impor Beras
Kegiatan impor pangan lagi-lagi jadi sorotan. Kali ini yang dibincangkan publik adalah kasus dugaan korupsi dalam kegiatan impor beras yang bisa mencoreng kredibilitas pemerintah. Hal itu bermula dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menerima laporan yang menyebut dugaan mark-up impor dilakukan terhadap 2,2 juta ton beras dan kerugian negara terkait dengan biaya demurrage di pelabuhan. Kondisi tersebut bisa menurunkan penilaian terhadap rapor pemerintah yang sepanjang tahun ini disibukkan dengan dinamika krisis beras sehingga harus melakukan importasi baik untuk memenuhi cadangan maupun bantuan sosial. Impor, meski acapkali menimbulkan polemik, menjadi andalan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri ketika pasokan beras terbatas.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi beras terus menurun. Luas panen pun kian susut, demikian pula produktivitas yang stagnan. Dalam 5 tahun terakhir, luas panen di Tanah Air hanya berkisar 10,2 juta hektare (ha) dan angka produksi pun terus turun tersisa 53,9 juta ton. Lahan memang menjadi salah satu masalah. Penyusutan lahan sawah memang telah menjadi dilema. Satu sisi, pemerintah membutuhkan area yang luas untuk memenuhi program sejuta rumah guna mengatasi backlog perumahan yang mencapai 10 juta unit. Di sisi lain, lahan yang luas juga diperlukan untuk menjaga produktivitas sawah dan ketersediaan pangan. Saat ini rata-rata luas tanam hanya 500.000 ha per bulan. Importasi dilakukan bertahap. Sampai dengan Juni 2024, Bulog sudah menjalankan 5 tahap importasi dengan jumlah sekitar 300.000 ton beras dalam setiap tahap. Artinya, sepanjang semester I/2024 Bulog mengimpor sekitar 1,5 juta ton beras. Dalam prosesnya, bobot impor dipecah dalam 10—12 lot di kisaran 25.000—30.000 ton di setiap tahap dan disebar ke 26 pelabuhan penerima. Kongkalikong dan ketidakjelasan diduga masih terjadi dalam praktik impor beras terutama dari besaran fee dari perusahaan asing yang ditugaskan melakukan ekspor, dan biaya atau denda demurrage atau batas waktu pemakaian peti kemas di dalam pelabuhan. Idealnya, pemerintah harus lebih cermat dalam mendesain impor dengan menekan risiko dalam konteks penyalahgunaan wewenang maupun manipulasi harga.
EKSPLORASI TAMBANG : IDENBURG JATUH KE PELUKAN AUSTRALIA
Sejumlah aset tambang mineral di Papua milik PT Iriana Mutiara Idenburg segera menjadi milik korporasi asal Australia Far East Gold Limited, setelah keduanya menjalin kesepakatan pada pekan lalu. Hal ini menandai babak baru eksplorasi mineral di Bumi Cendrawasih. Blok Idenburg di Pulau Papua bukanlah aset mineral baru. Area prospek di wilayah ini dinaungi oleh Kontrak Karya generasi ke-6 dengan luasan mencapai 95.280 hektare (ha). Data Minerba One Map Indonesia (MOMI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa aset ini masuk dalam wilayah Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang berada di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Pegunungan. Tahapan kegiatan pada blok ini adalah eksplorasi untuk komoditas mineral logam emas. Dalam perjalanannya, aset eksplorasi ini sudah pernah dilakukan pengeboran oleh Barrick Gold Corporation pada 1994-1997, Newmont Corporation dan Newcrest Mining pada 1998, Placer Dome pada 2001-2002, dan Avocet Mining pada 2004-2009. Akan tetapi, dari 14 area prospek yang dimiliki, baru 5 area saja yang telah dilakukan pengeboran. Artinya, baru sekitar 30% saja. Aksi akuisisi secara bertahap pun dilakukan mulai pekan lalu, setelah keduanya melakukan Binding Term Sheet (BTS). Pada penandatanganan BTS, Far East Gold telah menggelontorkan 150.000 dolar Australia, dengan hak eksklusif selama 3 bulan untuk menyelesaikan tawaran perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales and purchase agreement/CSPA) yang dapat diperpanjang tiga kali dengan perjanjian saling menguntungkan dengan durasi masing-masing 30 hari dan pembayaran sebesar 50.000 dolar Australia setiap periode 30 hari. Fase selanjutnya adalah menuju kepemilikan 51%. Pada fase ini Far East Gold mesti menggelontorkan 250.000 dolar Australia saat penandatangan CSPA, guna menggenggam 2,5 juta lembar saham pada harga 0,1 dolar Australia per lembarnya.
Managing Director Far East Gold Shane Menere mengatakan bahwa penandatangan BTS untuk proyek emas Idenburg sangat prospektif. “Jarang sekali kita menemukan proyek kaliber seperti itu dengan database historis yang substansial tentang pekerjaan yang diselesaikan oleh banyak penambang emas besar dunia,” katanya dalam keterangan resmi Far East Gold, pekan lalu. “Mengingat besarnya minat berbagai pihak terhadap Proyek Idenburg, maka diberikannya kesempatan kepada Far East Gold untuk mengembangkan lebih lanjut proyek ini merupakan suatu bentuk dukungan terhadap kerja yang telah dilakukan oleh tim Far East Gold yang sangat berpengalaman selama ini, termasuk menjadi perusahaan pertama dalam sejarah Kontrak Karya Woyla yang berhasil mengebor proyek tersebut,” jelasnya. Dia menambahkan, pihaknya amat gembira dengan database historis yang luas mengenai pekerjaan eksplorasi dan banyak pengeboran bermutu tinggi yang menunjukkan potensi besar dari Idenburg.









