Penyaluran Pembiayaan Multifinance
Energi Buy-back Saham Rp 1 T
PT Harum Energy Tbk (HRUM) akan melakukan pembelian kembali (buyback) saham perseroan dengan nilai maksimal Rp 1 triliun. Aksi korporasi ini diharapkan dapat mendukung likuiditas perdagangan saham perseroan agar lebih mencermin kondisi fundamental perusahaan. "Perseroan meyakini bahwa pembelian saham akan bermanfaat pada perusahaan dan para pemegang saham," kata Manajemen Hukum Energy dalam prospektus yang dipublikasikan. Perseroan berencana meminta persetujuan, aksi buyback tersebut dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 17 Agustus 2024.
Dengan periode pembelian kembali saham direncanakan pada 18 September 2024-September 2025. "Sehubungan dengan pelaksanaan pembelian kembali saham, perseroan akan menganggarkan sejumlah dana yang berasal dari akun saldo laba per tanggal 30 Juni 2024. Dana yang dianggarkan perseroan dalam rangka pembelian kembali saham maksimal sebesar Rp 1 triliun, termasuk untuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara, dan biaya lainnnya sehubungan dengan pelaksanaan pembelian kembali saham," tulis manajemen Harum Energy. (Yetede)
Penjualan Eceran Juli Meningkat
Bengkak APBN karena Insentif ASN
Prestasi yang Tidak Memuaskan Bulu Tangkis di Olimpiade Paris
Isu Korupsi Dana Haji
Agenda Transisi Energi Mengabaikan Pemerintah Daerah
Andaikan dulu Veddriq Leonardo Berhenti Memanjat
Seperti teori efek kupu-kupu atau butterfly effect, satu keputusan yang diambil seseorang bisa berdampak besar dalam hidupnya. Nasib berbeda diyakini menanti peraih medali emas Olimpiade Paris 2024, Veddriq Leonardo, jika dulu memutuskan berhenti menekuni panjat tebing. Sembilan tahun lalu, Veddriq Leonardo berada di persimpangan antara berhenti dan lanjut menekuni panjat tebing. Veddriq kehilangan motivasi untuk memanjat setelah gagal berangkat ke Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing di Yogyakarta pada 2015, padahal, dia sudah berlatih keras. ”Waktu itu rasanya kurang dukungan. Latihan terus, tetapi enggak pernah lomba. Saya mulai mikir, apa saya fokus kuliah saja, tidak usah manjat lagi,” kata Veddriq. Saat itu Veddriq sudah menjadi mahasiswa tahun pertama Universitas Tanjungpura, Pontianak, Kalbar. Veddriq telah menjajal olahraga panjat tebing sejak duduk di bangku kelas 10 SMAN 6, Pontianak, pada 2011.
Dia mengenal panjat tebing lewat aktivitas ekstrakurikuler pencinta alam. Namun, Veddriq kecewa karena hasil latihan bertahun-tahun itu tidak pernah diuji di perlombaan. Wajar jika terbersit pikiran untuk berhenti. Namun, dukungan teman-temannya meyakinkan Veddriq untuk tetap berlatih. Setahun berselang, keputusan Veddriq berbuah manis. Ia memenangkan medali perunggu Kejuaraan Nasional Yunior Panjat Tebing 2016 di Bangka Belitung. Walau bukan medali tertinggi, namun, lebih dari cukup bagi Veddriq memantapkan hatinya pada panjat tebing. Dia berprestasi bukan hanya di level nasional, melainkan juga internasional.
Dalam debutnya di seri Piala Dunia 2018 di Moskwa, Rusia, Veddriq langsung membuat kejutan dengan meraih medali perunggu. Hanya butuh tiga tahun, Veddriq mengubahnya menjadi medali emas di seri Piala Dunia 2021 Salt Lake City, AS. Di situ Veddriq mencatatkan rekor dunia pertama kalinya. Keran medali seolah terus terbuka dan selebihnya adalah sejarah. ”Kalau waktu itu berhenti, mungkin saya sekarang sudah jadi kepala sekolah, he-he-he,” ujar Veddriq, yang lulus program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.
Profesi itu paling mungkin dijalaninya andai tak jadi seorang atlet. Andai saat itu memilih berhenti memanjat, tak ada nama Veddriq yang terpampang abadi dalam daftar pemecah rekor dunia berkali-kali. Tidak ada juga medali-medali emas pada beragam kejuaraan dan Piala Dunia. Bisa jadi, tidak ada juga medali emas pertama Indonesia di Olimpiade Paris 2024 yang diraih di Le Bourget, Perancis, Kamis (8/8/2024), itu. Veddriq telah menorehkan sejarah sebagai atlet yang menjuarai panjat tebing nomor speed putra edisi perdana di Olimpiade. Dia juga mewujudkan harapan banyak pihak untuk kehadiran emas bagi kontingen Indonesia di Paris. (Yoga)
Empat Detik Veddriq Leonardo untuk Medali Emas Indonesia
Veddriq Leonardo menghapus dahaga medali emas Indonesia dengan meraih emas panjat tebing nomor speed putra Olimpiade Paris 2024 di Le Bourget, Perancis, Kamis (8/8/2024). Setelah menanti 13 hari seusai upacara pembukaan, lagu ”Indonesia Raya” akhirnya berkumandang di Olimpiade Paris 2024. Medali emas disumbang pahlawan dari cabang panjat tebing, Veddriq Leonardo, yang hanya butuh waktu sekitar 4 detik untuk dikenang selama-lamanya dalam sejarah Indonesia. Atmosfer tegang, gugup, dan khawatir dari tim Indonesia lenyap seketika di Arena Le Bourget, Kamis (8/8) ketika layar penunjuk waktu di jalur Veddriq menyala berwarna hijau dan bertuliskan 4,75 detik. Itu menandakan kemenangannya di final atas wakil China, Wu Peng, yang hanya 0,02 detik lebih lambat. Veddriq resmi meraih emas. Pertama untuk Indonesia di Paris dan pertama dalam sejarah
”Merah Putih” di luar cabang bulu tangkis. ”Emas ini merupakan berkah dari kerja keras, usaha, dedikasi semuanya. Dari tim pelatih, atlet, teman-teman, dan keluarga. Ini kado buat Indonesia,” katanya sambil tersenyum lebar. Rasa haru tim panjat tebing Indonesia tidak terbendung. Pelatih Hendra Basyir yang selalu tampak ”dingin” menangis sekencang-kencangnya. Dia memeluk semua orang yang ada di depannya. Rahmad Adi Mulyono, pemanjat Indonesia yang dikalahkan Veddriq di babak awal eliminasi, juga bersorak. Lagu ”Indonesia Raya” berkumandang, bendera Merah Putih berkibar tinggi. Veddriq menyanyikan dengan khidmat. Di bawah, pemanjat putri Rajiah Sallsabillah dan Desak Made Rita Kusuma Dewi turut bernyanyi.
Billah, yang sukses meredam tangis saat kalah di perebutan medali perunggu sehari sebelumnya, tidak kuasa lagi menahan air mata. Emas itu menyudahi paceklik kontingen Indonesia, tiga hari jelang penutupan Olimpiade. Emas juga membasuh luka tim panjat tebing, sehari seusai kepahitan yang dialami para pemanjat putri. Veddriq menjadi sang penyelamat. Dia memanjat ke puncak dunia untuk memperlihatkan kebesaran Indonesia. Yenny Wahid, Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI),turut hadir dan menjadi saksi lahirnya sejarah baru di Paris. Dia berkata, prestasi Veddriq baru permulaan dari perjalanan panjang panjat tebing di Olimpiade. Emas itu dipersembahkan untuk Indonesia yang akan merayakan hari ulang tahun kemerdekaan. (Yoga)
Muhammad Yunus, Mengelola Kredit Desa Menjadi Pengelola Negara
Setelah dilanda kerusuhan berminggu-minggu yang menewaskan ratusan orang, Bangladesh kini menatap masa depan baru. Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin, Rabu (7/8) menyiapkan pemerintahan sementara dengan Muhammad Yunus (84) menjadi PM sementara. Yunus dilantik pada Kamis (8/8) pukul 20.00. Kepala Staf Angkatan Darat Bangladesh Jenderal Waker-Uz-Zaman menyebut, pemerintahan peralihan dibentuk sebelum pemilu digelar. Pemerintahan transisi pimpinan Yunus akan mengganti pemerintahan Sheikh Hasina yang bubar setelah Hasina kabur ke India pada Senin (5/8). Ahmed Ahsan, mantan ekonom Bank Dunia dan Direktur Policy Research Institute di Bangladesh, mengatakan, Yunus adalah orang yang tepat. Ia dipilih mahasiswa yang memelopori seluruh pergerakan. ”Ia sangat dihormati, di negara ini maupun di dunia,” kata Ahsan pada Al Jazeera.
Ia berasal dari keluarga kaya. Saat kelas 4 SD, guru menyarankan Yunus bersekolah di Sekolah Menengah Inggris (Middle English School) di Chittagong untuk kelas 5 dan 6. Di sana, Yunus terus berprestasi. Ia dikirim ke Jambore se-Pakistan pada 1952, lalu menjadi wakil tim Jambore sekolah ke Kanada. Pada 1957, ia diterima di Universitas Dhaka dan lulus pada 1961, lalu belajar dengan beasiswa ke Universitas Vanderbilt di Nashville, Tennessee, AS. Gelar doktor bidang ekonomi ia raih pada 1970 dan menjadi asisten profesor di Universitas Negeri Tennessee Tengah di Murfreesboro, Tennessee, AS. Saat di AS dan masih menjadi mahasiswa, ia menjadi aktivis yang mendukung pemisahan Bangladesh dari Pakistan. Walau bisa hidup tenang dan makmur menjadi dosen Universitas Negeri Tennessee, ia memilih pulang ke Bangladesh yang sudah merdeka dari Pakistan.
Saat mengajar, Yunus bertemu pengemis wanita di Desa Jobra, dekat kampus. Yunus juga melihat kemiskinan di sekitarnya. Ia gelisah: menyandang gelar doktor, tetapi ia tidak bisa mengangkat derajat hidup warga Bangladesh yang dilanda kelaparan. Yunus lalu meminjam uang ke bank untuk dipinjamkan ke kaum papa. Ada yang kembali, ada yang tidak. Namun, ia tak jera. Pada 1975, Presiden Zia ur Rahman mencanangkan program swasembada pangan. Yunus menjadi pemikirnya. Tapi, ia melakukan penelitian sendiri, mencari cara paling efektif membantu kaum papa. Ia mengupayakan pinjaman dari Janata Bank pada 1976, untuk modal Grameen Bank Prakalpa atau Proyek Bank Desa, yang dimulai di Jobra. Peminjamnya warga termiskin, tidak punya lahan. Pinjaman diharapkan kembali dan perempuan jadi debitor terbanyak.
Yunus menemukan pinjaman kecil atau kredit mikro yang diberikan kepada warga miskin membuat perbedaan besar. Inilah awal berdirinya Grameen Bank (bank desa) yang memelopori penyediaan kredit mikro kepada orang miskin untuk memulai usaha baru. Yunus dikenal sebagai ”bankir bagi orang miskin”, ia membantu mengangkat jutaan orang keluar dari kemiskinan melalui Grameen Bank miliknya. Pada 2006, Yunus dan Grameen Bank diganjar Penghargaan Nobel Perdamaian atas kerja menciptakan pembangunan ekonomi dan sosial dari bawah. Saat itu, bank itu sudah meminjamkan 7 miliar USD kepada lebih dari 7 juta peminjam, dimana 97 % peminjam adalah perempuan dengan tingkat pembayaran kembali hampir 100 %. Selain Nobel Ekonomi 2016, Yunus menerima Anugerah Ramon Magsaysay. Kini tugas baru menantinya untuk memulihkan stabilitas Bangladesh. (Yoga)









