Harapan Emiten Peritel : Aliran Belanja Mendorong Pergerakan Bursa
Kinerja emiten peritel yang cenderung bertumbuh, seiring dengan peningkatan belanja masyarakat diprediksi berimbas ke pergerakan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, dari 15 emiten ritel yang melaporkan kinerja keuangan semester I/2024, 12 emiten di antaranya melaporkan pertumbuhan pendapatan.
Kinerja emiten peritel di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang positif pada semester I/2024, didorong oleh daya beli masyarakat yang masih terjaga dan peningkatan belanja domestik. Tokoh seperti Maximilianus Nicodemus dari Pilarmas Investindo dan Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas mencatat bahwa stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat menjadi katalis utama bagi pertumbuhan ini, meskipun tantangan seperti suku bunga tinggi dan persaingan dengan e-commerce tetap ada. Emiten seperti PT Erajaya Swasembada (ERAA) dan Grup MAP juga agresif dalam ekspansi gerai baru, yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja mereka di masa depan. Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, merekomendasikan saham-saham seperti MIDI, AMRT, MAPI, dan MAPA sebagai peluang investasi.
Program Makan Bergizi Prabowo Bawa Berkah bagi UMKM Kuliner
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah diperkirakan mendapatkan berkah dari program makan bergizi gratis 78 juta anak Indonesia yang dicanangkan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Menkop UKM) Teten Masduki mengatakan proyeksi itu sesuai dengan besarnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di sektor kuliner.
Program makan bergizi gratis untuk 78 juta anak Indonesia, yang dicanangkan oleh Presiden Terpilih Prabowo Subianto, diperkirakan akan memberikan dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama yang bergerak di sektor kuliner. Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, berharap UMKM dapat dilibatkan dalam program ini, mengingat potensinya untuk memberikan dorongan ekonomi yang signifikan bagi sektor tersebut. Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo, juga menekankan pentingnya program ini, yang akan mencakup sarapan dan makan siang bagi anak-anak, serta nutrisi tambahan untuk ibu hamil, sebagai upaya berkelanjutan mengatasi masalah stunting di Indonesia.
Korporasi Menghadapi Musim Dingin: Dampak untuk Indonesia
Winter terjadi di bursa saham Indonesia. Kinerja emiten di semester pertama tahun ini tak menggembirakan. Tercermin dari pertumbuhan pendapatan korporasi yang cenderung melemah pada periode kuartal kedua 2024. Bahkan, realisasi belanja modal alias capital expenditure (capex) emiten turun pertama kalinya dalam tujuh kuartal terakhir. Riset terbaru Bank Central Asia (BCA) menunjukkan, pendapatan rata-rata korporasi Indonesia turun 2,3% pada kuartal kedua 2024. Selama ini, banyak emiten di Indonesia yang pendapatannya dipengaruhi oleh harga komoditas. Nah, pertumbuhan harga komoditas di 2024 tak terlalu istimewa. Di sisi lain, sektor seperti barang konsumen diskresioner dan sektor kesehatan memang masih mengantongi pertumbuhan pendapatan yang relatif kuat dan positif. Tapi perlu dicatat, sektor-sektor ini tidak berpengaruh besar terhadap kondisi perusahaan keseluruhan, karena ukurannya relatif kecil. "Pertumbuhan pendapatan di sektor kesehatan tampaknya didorong oleh ekspansi agresif penyedia layanan kesehatan ke kota-kota tingkat bawah, bukan dari pertumbuhan organik," tulis analis BCA Lazuardin Thariq Hamzah dan Barra Kukuh Mamia dalam riset 5 Agustus 2024.
Sektor yang serapan capexnya turun paling dalam adalah sektor jasa industri yang terkoreksi 48,2% yoy. Capex sektor tambang dan mineral juga turun 24,8% yoy dan sektor telekomunikasi turun 22,5% yoy pada kuartal II ini. Angka PMI manufaktur Indonesia pun mengalami kontraksi pada bulan Juli 2024, pertama kalinya sejak Agustus 2021. Hal ini menunjukkan periode yang lambat untuk investasi di masa depan. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy tak menampik, saat ini sebagian besar harga saham tengah menurun. Cuma sedikit saham yang mencetak return bagus. Ini menandakan investor ritel dan investor institusi tengah menahan diri untuk bertransaksi di saham. "Emiten menunggu kabinet baru dan kebijakan presiden baru juga. Plus, ini untuk mengantisipasi resesi di beberapa negara besar," ungkapnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai, pada semester kedua, pertumbuhan pendapatan dan serapan capex diproyeksikan akan lebih tinggi. Sentimen positifnya berasal dari pilkada, pelantikan presiden, pemilihan kabinet baru, hingga potensi pemangkasan suku bunga Fed.
Cadangan Besar untuk Mempertahankan Kekuatan Rupiah
Posisi cadangan devisa Indonesia kembali meningkat. Menguatnya cadangan devisa menandakan bank sentral punya amunisi berlimpah untuk menjaga pergerakan rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa per akhir Juli 2024 mencapai US$ 145,4 miliar, naik US$ 5,2 miliar dari posisi bulan sebelumnya US$ 140,2 miliar. Cadangan devisa Juli 2024 adalah yang tertinggi setelah pada Desember 2023 tercatat US$ 146,4 miliar. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi B, Erwin Haryono menjelaskan, kenaikan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi penerbitan sukuk global pemerintah. Juga karena penerimaan pajak dan jasa. "Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2024 setara pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/8). Lonjakan cadangan devisa juga didukung arus modal asing yang masuk ke Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Catatan BI sejak awal tahun hingga 1 Agustus 2024, net inflow ke SRBI mencapai Rp 173,32 triliun, lebih tinggi dibanding posisi 27 Juni 2024 sebesar Rp 123,21 triliun. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto melihat, lonjakan cadangan devisa memberikan sinyal bahwa amunisi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melimpah. Bahkan, masih ada peluang kenaikan cadangan devisa Indonesia ke depan. Pertama, potensi inflow di pasar obligasi sejalan dengan menurunnya imbal hasil obligasi global. Hal ini membuat investor masuk ke pasar obligasi RI yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kedua, potensi inflow seiring berubahnya persepsi pelaku pasar terkait kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Ketiga, fundamental ekonomi dalam negeri yang masih baik, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tercatat stabil. Berbagai kondisi itu membuat ruang penurunan suku bunga acuan BI alias BI-Rate semakin terbuka. Ramalan Myrdal, ada ruang penurunan BI-Rate hingga 50 basis poin (bps) secara bertahap. Dalam waktu dekat, ia melihat BI bisa memangkas suku bunga 25 bps terlebih dahulu.
Peralihan Aset Meningkat, Aktivitas Pasar Saham Meredup
Bagian Kredit Bank untuk Sektor UMKM Tergerus
Memburuknya kualitas kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tengah beberapa waktu terakhir berdampak pada porsi portofolio kredit di sektor ini. Porsi kredit UMKM yang dimiliki bank, dalam hal ini utamanya bank KBMI 4, terlihat mengalami penyusutan. Ambil contoh di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Komposisi portofolio kredit bank ini mengalami perubahan per semester I-2024. Dalam setahun, porsi segmen kredit kecil turun dari 18,9% ke 17,4%, sementara segmen kredit mikro turun dari 48,1% menjadi 46,6%. Di sisi lain, BRI yang memiliki karakteristik bank UMKM justru meningkatkan porsi kredit korporasi. Di periode sama, kontribusi kredit segmen korporasi mencapai 18%, naik dari periode sama tahun lalu jadi sekitar 15,5%. Direktur Utama BRI Sunarso menuturkan, BRI selalu melihat potensi dari tiap segmen.
Jika memang sedang ada pemburukan kualitas di segmen tertentu, bank ini tidak akan memaksakan untuk tumbuh. Sunarso menambahkan, BRI memang memperketat kriteria risk acceptance dan guideline portofolio. Portofolio kredit yang sudah menjadi aset bank juga dipilah mana, yang masih baik dan mana yang bermasalah. Kondisi serupa terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bank ini mencatat porsi kredit UMKM di semester satu tinggal 13,7%. Sebagai perbandingan, pada periode sama tahun lalu, kredit UMKM berkontribusi 14%. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, permintaan kredit dari sektor UMKM tengah lesu karena daya beli menurun, sehingga langkah ekspansif dari UMKM turut terhambat. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menambahkan, dalam mendorong penyaluran kredit, Bank Mandiri mengedepankan prinsip kehati-hatian, dengan memperkuat sistem mitigasi risiko, melalui pengawasan dan analisa risiko pasar serta profil masing-masing debitur.
Industri Mandiri dan Sehat
Industri kesehatan menjadi bagian penting untuk mengiringi Indonesia meraih cita-cita menuju Indonesia Emas. Industri farmasi sebagai bagian dari industri kesehatan, memainkan peran kunci dalam memastikan ketersediaan dan aksebilitas obat-obat bagi seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan kapasitas produksi dan inovasi yang didukung oleh SDM mumpuni serta ditopang regulasi pemerintah menjadi bagian penting untuk mencapai kemandirian dalam industri farmasi nasional.
Tercatat nilai pasar farmasi Indonesia pada 2022 mencapai Rp 127 triliun hingga Rp 130 triliun. Namun, dari 10 produk biologi dengan konsumsi terbesar, hanya empat produk yang dapat diproduksi di dalam negeri. Mengutip data Badan Pusat Statistik, kontribusi sektor farmasi terhadap PDB meningkat setiap tahunnya, mencapai 1,6% pada tahun 2020. Sementara data, Kementerian Perindustrian menyebut sektor farmasi menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja langsung pada tahun 2022, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5%. (Yetede)









