CTRA Meraih Manfaat dari Subsidi Pajak
Emiten saham properti, PT Ciputra Development Tbk (CTRA), tengah memacu kinerja di akhir tahun ini. CTRA masih mengandalkan penjualan rumah tapak ketimbang apartemen. Hal itu merupakan bagian dari strategi CTRA dalam memanfaatkan subsidi Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) 100% yang diperpanjang hingga akhir tahun ini. "Hingga saat ini, kontribusi penjualan apartemen sebesar 3,3% dari total keseluruhan penjualan. Tapi, kami menargetkan mudah-mudahan bisa mencapai 4% dari total penjualan di akhir 2024," papar Direktur CTRA Harun Hajadi kepada KONTAN, pekan lalu. Harun menuturkan, manfaat insentif PPN DTP 100% sektor properti belum begitu terasa dalam memacu penjualan apartemen hingga periode kuartal IV ini. Dia menyebutkan, PPN DTP 100% memang membantu penjualan apartemen, tetapi belum mampu melonjakkan angka pembelian apartemen. Asal tahu saja, insentif PPN DTP yang sudah diberlakukan sejak akhir tahun lalu memang memudahkan penjualan stok properti, dengan pembayaran yang harus sudah lunas sebelum Desember 2024 dan bangunan sudah harus tersedia sebelum Desember 2024.
Adapun, proyek apartemen yang menjadi andalan CTRA adalah Apartemen The Newton 1 dan 2, Apartemen The Orchard, dan Apartemen Ciputra World Jakarta.
Pada paruh pertama 2024, CTRA berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,02 triliun, atau melonjak 32,12%
year on year
(yoy) dibandingkan dengan pencapaian di semester I-2023 yang senilai Rp 778,99 miliar.
Sedangkan penjualan apartemen CTRA di semester I-2024 hanya sebesar Rp 176,12 miliar, anjlok 41,8% yoy dibandingkan paruh pertama tahun lalu yang mencapai sebesar Rp 303,02 miliar.
Meski begitu, Manajemen CTRA tidak mau terburu-buru menyebut tren penjualan apartemen akan terus lesu hingga penghujung tahun. Pasalnya, potensi penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) bisa memberikan harapan bakal membaiknya penjualan apartemen ke depannya.
Penjualan Kendaraan di Akhir Tahun: Upaya Meningkatkan Angka
Menjelang akhir tahun 2024, sejumlah agen pemegang merek (APM) otomotif gencar menebar berbagai macam promo kepada para calon konsumen. Hal ini demi mendongkrak penjualan mobil baru yang sepanjang 2024 berada dalam tren melambat. Lihat saja, hingga Agustus 2024, penjualan mobil nasional turun 12,1% year on year (yoy) menjadi 684.879 unit di kategori retail (dealer ke konsumen). Salah satu merek yang cukup aktif menggelar program promo penjualan mobil baru adalah Daihatsu. Salah satu jaringan dealer Daihatsu yang menjangkau area Jabodetabek, yakni Astrido Daihatsu, memberlakukan promo pembelian mobil merek asal Jepang ini dengan uang muka atau down payment (DP) ringan. Secara umum, PT Astra Daihatsu Motor (ADM) juga memiliki program penjualan yang disebut Daifest 2024 yang berlaku sejak September sampai akhir Desember nanti. Program ini berisi diskon spesial, paket kredit spesial dan bebas biaya admin, promo tukar tambah, dan lain-lain. "Program penjualan Daihatsu memiliki dasar yang sama, namun tiap dealer bisa menawarkan promo beragam sesuai preferensi konsumen," ujar Marketing & Customer Relations Division Head Astra International Daihatsu Sales Operation Tri Mulyono, Minggu (6/10).
APM lainnya, PT Toyota Astra Motor (TAM) juga memacu penjualan melalui beragam promo bertajuk Toyota Spektakuler. Toyota memberikan promo DP ringan mulai 20% dan bunga cicilan 0%-2,9% hingga 3 tahun untuk pembelian Avanza, Veloz, dan Rush.
Honda Prospect Motor juga jor-joran menebar promo. Dealer Honda Jakarta Pusat menawarkan program spesial Oktober 2024 berupa
cashback
mulai Rp 5 jutaan untuk model Honda WR-V, HR-V, dan Brio. Honda juga menyediakan promo bebas biaya perawatan untuk Brio Satya, Brio RS, CR-V, Mobilio, dan BR-V.
Semakin Mudanya Pasien Penyakit Jantung
Kinerja DPR Terganggu Polemik Tunjangan Perumahan
Tantangan di Balik Penundaan EUDR hingga Akhir 2025
20 Regulasi Kosong
Taktik Merebut Pasar Daring
Harga Cabai Melonjak Turun
”Harga jatuh karena sentra-sentra cabai seperti di Sembalun Mataram, Banyuwangi, Jember, Paiton, Blitar, dan Bojonegoro semuanya sedang panen. Makanya, cabai di tingkat petani harganya rendah. Apalagi saat ini daya beli masyarakatturun sehingga pembelian cabai juga menurun,” katanya. Rendahnya harga cabai merah pernah terjadi lima tahun lalu saat pandemiCovid-19. Saat itu harga cabai merah di bawah Rp 5.000 per kg. Adapun 12 tahun lalu harga cabai merah pernah di angka Rp 2.000 per kg.Wahyu Nur Cahaya (35), petani cabai asal Ngantang, Malang, mengatakan, hampir dua bulan ini harga cabai merah besar terus merosot. ”Saat ini di petani harganya Rp 3.000-Rp 3.500 per kg. Kemarin di pasar dijual Rp 4.000 per kg tidak laku,” katanya. (Yoga)









