Ekspansi Pasar Ekspor: Harapan Bagi Emiten
PT Mayora Indah Tbk (MYOR) diproyeksi mampu melanjutkan pertumbuhan kinerja, didukung oleh kenaikan harga rata-rata produk atau average selling price (ASP) serta kinerja di pasar ekspor yang bertumbuh. Analis Ciptadana Sekuritas, Putu Cantika Putri mengungkapkan, bisnis domestik emiten konsumer ini tumbuh dua digit pada Agustus 2024, dan bisnis ekspor naik satu digit besar, yang disokong oleh peningkatan harga jual. Hal ini memunculkan optimisme proyeksi penjualan keseluruhan sampai akhir 2024 akan mencapai 10%-12% year on year (yoy). MYOR juga mencatat saluran distribusi, terutama general trade terus berkinerja baik meskipun ada penyesuaian ASP yang lebih tinggi seiring dengan musim masuk sekolah. Pasar ekspor juga menunjukkan pertumbuhan positif.Pasar Thailand pulih setelah penyesuaian inventaris karena perubahan distributor. Kemudian Tiongkok dan Vietnam diuntungkan dari peningkatan permintaan terkait dengan Festival Kue Bulan pada September. Sementara, biaya produksi lainnya tetap stabil dengan harga gandum rata-rata sebesar US$ 5,3 per bushel dan harga CPO diperkirakan akan berkisar sekitar RM 4.500 per ton.
Oleh sebab perkembangan pergerakan harga bahan baku tersebut, MYOR berencana untuk secara bertahap menaikkan harga karena penyesuaian harga sebelumnya diprediksi tidak cukup untuk mempertahankan margin kotor untuk estimasi kuartal III-2024 yang sebesar 26,9%.
Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya mengatakan, penyebaran pangsa pasar emiten ini cukup merata, baik di luar negeri maupun dalam negeri. Adapun di dalam negeri hingga kuartal I 2024 mencapai 64%.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo menilai, momentum Pilkada bisa menjadi pendorong kinerja MYOR, karena adanya potensi pertumbuhan daya beli. Tetapi di sisi lain tensi geopolitik juga bisa membuat masyarakat enggan berbelanja.
Putu menaikkan estimasi penjualan sebesar 3,8% YoYmenjadi Rp 35,1 triliun untuk akhir tahun ini dengan asumsi kenaikan ASP sebesar 5%. Kemudian laba bersih diperkirakan mencapai Rp 3,36 triliun pada akhir tahun 2024. Pada 2023 pendapatan MYOR sebesar Rp 31,48 triliun dan laba bersih Rp 3,19 triliun.
Pasar Perbankan Syariah Belum Maksimal
Perkembangan pangsa pasar perbankan syariah di Tanah Air bergerak lelet. Meski mayoritas populasi Indonesia beragama Islam dan regulator terus berupaya mendorong ekosistem syariah, pangsa pasar perbankan syariah hanya naik tipis dalam lima tahun terakhir. Per Juli 2024, pangsa pasar perbankan syariah dari sisi aset baru mencapai 7,26% dari total aset industri perbankan. Angka tersebut hanya naik tipis dari tahun 2020. dengan pangsa pasar sebesar 6,47%. Sedangkan pangsa pasar pembiayaan syariah baru mencapai 7,89% pada Juli 2024. Angka ini naik tipis dari 7,58% pada tahun 2022. Oleh karena itu, regulator dan juga pemain di industri ini perlu bekerja lebih keras lagi untuk melakukan edukasi dan menciptakan produk-produk syariah yang menarik. Agar pangsa pasar meningkat lebih cepat, perbankan syariah harus mampu menumbuhkan kredit jauh lebih tinggi dibanding industri. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan syariah per Agustus 2024 tumbuh 11,65% secara tahunan. Pertumbuhannya sudah sedikit lebih baik dari pertumbuhan kredit secara industri, yang hanya mencapai 11,4% pada periode tersebut. Konsultan Ekonomi Syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Adiwarman Azwar Karim melihat, ada beberapa penyebab pangsa pasar tak cepat berkembang.
Pertama, beberapa unit usaha syariah (UUS) besar menahan pertumbuhan karena aset sudah hampir mencapai Rp 50 triliun, level yang diwajibkan untuk spin off.
Kedua, pilkada sangat berdampak pada Bank Pembangunan Daerah (BPD). UUS milik BPD mengalami perlambatan ekspansi karena cenderung wait and see.
Romy Buchari, Direktur Perbankan Syariah Maybank Indonesia, melihat kondisi perbankan syariah saat ini lebih baik dibanding lima tahun terakhir. Sebelumnya, pangsa pasar bank syariah terjebak di level 5%.
Adapun aset Maybank Syariah per Juni 2024 tercatat sebesar Rp 41 triliun. Angka ini turun dari Rp 43 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, Romy membantah pihaknya sengaja mengerem pertumbuhan aset guna menghindari kewajiban spin off.
Senada,
Corporate Secretary Division Head
Bank Mega Syariah Hanie Dewita optimistis industri perbankan syariah akan tumbuh positif sampai akhir tahun.
Asuransi Properti Jadi Andalan Baru
Bisnis asuransi properti masih tumbuh solid di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat hingga semester I 2024 pendapatan premi dari lini asuransi harta benda ini mampu tumbuh 32,8% secara tahunan menjadi Rp 16,6 triliun. Ketua AAUI Budi Herawan menyebut salah satu penopang pertumbuhan asuransi properti berasal dari segmen komersial. Berdasarkan data Bank Indonesia, Indeks Permintaan Properti Komersial untuk kategori sewa tumbuh 4% sepanjang kuartal II 2024, meningkat dari posisi kuartal sebelumnya yang naik 3,41%. Pada saat yang sama, Indeks Permintaan Properti Komersial untuk kategori jual naik 0,32% sepanjang triwulan II 2024, alias tak banyak berubah dari kuartal I. Sejumlah perusahaan asuransi umum pun mencatat kinerja positif pada lini bisnis asuransi harta benda. Hingga Agustus lalu, PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia alias Tugu Insurance misalnya mencatat pertumbuhan premi asuransi properti sebesar 112% secara tahunan. Presiden Direktur Tugu Insurance Tatang Nurhidayat mengatakan pendapatan premi asuransi harta benda perusahaannya menembus Rp 2,2 triliun.
Angka tersebut menurutnya melampaui target yang telah ditetapkan perusahaan.
Dalam mengembangkan bisnis ini, Tugu Insurance memiliki beberapa strategi. Di antaranya terus mengoptimalkan
captive business
di sejumlah sektor andalan sekaligus melakukan penetrasi non-
captive
dengan membangun berbagai kanal distribusi baru. Selain itu, Tugu Insurance juga terus mengembangkan berbagai produk yang kompetitif, agar dapat diterima dan sesuai kebutuhan pasar.
Sementara itu Presiden Direktur PT Asuransi Tokio Marine Indonesia, Sancoyo Setiabudi pendapatan premi asuransi harta benda perseroan tumbuh 12% hingga Agustus 2024. Premi dari sektor properti komersial menjadi pendorongnya.
Sancoyo bilang, pihaknya optimistis dapat mempertahankan kinerja solid asuransi harta benda sampai dengan akhir tahun 2024. Sampai saat ini, lanjutnya, asuransi harta benda masih selaras dengan target yang ditetapkan perseroan senilai Rp 1 triliun.
INTP Tingkatkan Penjualan Semen di Pasar Domestik
Emiten produsen semen, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatatkan penjualan semen sebanyak 11,9 juta ton hingga bulan Agustus 2024 lalu. Jumlah ini meningkat 10,18% year on year (yoy) dibandingkan periode Januari-Agustus 2023 yang sebesar 10,8 juta ton. Corporate Secretary INTP Dani Handajani mengatakan, realisasi penjualan itu sejalan dengan target yang telah ditetapkan Perusahaan di awal tahun ini. "Indocement berhasil menjual semen sebanyak 11,9 juta ton dengan pangsa pasar mencapai 29,7%," ungkap Dani ke KONTAN, Rabu (2/10). Pertumbuhan penjualan itu turut ditopang oleh penjualan yang dibukukan PT Semen Grobogan. Perusahaan semen tersebut diakuisisi INTP pada Desember 2023 lalu. Semen Grobogan banyak menyumbang penjualan di wilayah Jawa Tengah.
Dengan bergabungnya Semen Grobogan, Manajemen INTP optimistis kinerja penjualan akan terus bertumbuh ke depannya. Dani menuturkan, pertumbuhan penjualan semen masih ditopang konsumsi semen curah.
Terjadi peningkatan signifikan pada komposisi pendapatan produk semen curah, yakni dari 25,4% pada semester I-2023 menjadi 30,6% pada semester I-2024.
Kendati pendapatan meningkat, tapi INTP mengalami penurunan laba bersih sebesar 37,76%
year on year
(yoy), yakni dari Rp 698,43 miliar di paruh pertama 2023 menjadi Rp 434,70 miliar di semester I-2024.
Adapun, terkait belanja modal atau
capital expenditure
(capex) tahun ini, INTP menganggarkan dana sebesar Rp 1 triliun. Adapun, penyerapan capex hingga semester I-2024 sebesar Rp 248 miliar.
Selain itu, Manajemen INTP berharap, kebijakan lanjutan pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia dapat menggairahkan sektor properti, sehingga dapat menaikkan penjualan semen.
Di sisi lain, INTP juga berharap, agar pemerintah baru bisa meneruskan program insentif pajak pertambahan nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk sektor properti. Bukan saja sektor properti, insentif itu juga menjadi salah satu katalis positif bagi industri semen.
Samator Pasok Gas untuk Kawasan Industri
Emiten perusahaan gas, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) meresmikan pabrik ke-56 di Kawasan Industri Terpadu Batang atau KIT Batang, Jawa Tengah. Pabrik ini siap melayani tenant di sektor medis dan industrial yang ada di KITB, serta pelanggan lain di wilayah Jawa Tengah. Presiden Direktur Samator Indo Gas Rachmat Harsono mengatakan, fasilitas baru ini bisa menopang kinerja penjualan dan profitabilitas AGII di tengah meningkatnya permintaan dari pelaku industri. Rachmat menjelaskan, pembangunan pabrik di kawasan KITB telah dimulai sejak bulan Maret 2023, dengan menyerap biaya investasi sebesar Rp 500 miliar. "Dengan hadirnya pabrik Samator yang modern ini, kami semakin yakin bahwa KITB dapat menjadi kawasan industri yang hijau, pintar, dan berkelanjutan," ujar Rachmat, Selasa(2/10). Salah satu pelanggan pertama yang akan dipasok oleh pabrik baru AGII adalah KCC Glass Corporation (KCC Glass), sebuah perusahaan manufaktur kaca yang berkantor pusat di Korea Selatan. Pabrik KCC Glass di KITB akan menjadi salah satu pabrik kaca terbesar di Asia Tenggara. Namun, tidak terbatas di kawasan KITB saja.
Pabrik yang berdiri di lahan seluas 2,7 hektare (ha) ini juga membidik industri-industri di kawasan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Yang pasti, kehadiran pabrik baru ini diharapkan dapat menopang kinerja bisnis Samator Gas agar dapat mencapai level pertumbuhan lebih tinggi lagi dari yang sudah dicapai saat ini.
Adapun, laba bruto sebesar Rp 640,81 miliar atau meningkat 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 603,61 miliar.
Rachmat mengatakan, kontribusi utama penjualan pada semester I-2024 datang dari sektor kesehatan atau
healthcare. Hal ini tak lepas dari kemampuan AGII dalam mempertahankan jaringan rumah sakit baru dan yang sudah ada.
Kontribusi berikutnya bersumber dari sektor infrastruktur seiring meningkatnya aktivitas sektor konstruksi. Sementara itu, sektor barang konsumsi menunjukkan permintaan yang stabil, namun sektor ritel belum menunjukkan pertumbuhan yang diharapkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bangkitkan Industri Hilir Sehingga Ekspor Meningkat
Industri fintech P2P Lending Hingga Agustus 2024 Meraup Laba Sebesar Rp656,8 miliar.
Tekad Bulat Bisnis Adaro Energy
IHSG Tertekan Serangan Rudal Iran-Israel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (02/10/2024) ditutup melemah -78,87 poin atau -1,03% ke level 7.563. Hal ini sebagai dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan rudal Iran ke Israel. Namun, sejumlah analis masih optimistik IHSG mampu kembali ke zona hijau. Meskpiun IHSG melemah, sektor basic materialis menjadi yang paling kuat dengan kenaikan tipis sebesar +0,03%.
aDi sini lain, sektor transportation & logistics mengalami penurunan terbesar dengan pelemahan -1,95%, yang mencerminkan dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisisi geoplitik di Timur Tengah. Dalam risetnya, Pilarmas Sekuritas menuturkan, situasi di Timur Tengah menjadi fokus perhatian para pelaku pasar setelah Iran meluncurkan serangan rudal terhadap Israel, yang kemudian di respons dengan ancaman pembalasan dari Israel dan Amerika Serikat. Ketegangan ini menambah tekanan pada pasar saham di Asia, termasuk Indonesia, yang ikut terseret dalam pelemahan. (Yetede)
Kontraksi manufaktur tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi
Kontraksi manufaktur selama tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi oleh pemerintahan Prabowo Subianto. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) Redma Gita. Redma Wirawasta mengatakan, perbaikan industri manufatur bergantung pada pemerintahan baru nantinya. Dia menilai kinerja Kemenperin sangat positif selama ini, karena dianggap sangat paham pada industri. Redma menilai justru masalahnya ada di Kemenkeu dan Kementerian ESDM.
"Kalau Menkeu tidak mengerti masalah manufaktur, tidak pro industri dalam negeri, ya dalam lima tahun kedepan akan terjadi deindustrialisasi dan industri akan tambah banyak pabrik yang tutup," ucap Redma kepada Investor Daily. Dia mengatakan, tanda-tanda kontraksi sebenarnya sudah terlihat dari 2023, dimana ada dua poin penting yang penurunan industri manufaktur yaitu dari pasarnya yang tidak bagus dan harga energi yang mahal. Market globalnya sedang tidak bagus sehingga semua mengandalkan pasar dalam negeri, sehinga pasar dalam negeri itu diserang produk-produk impor," terang Redma. (Yetede)









