Samator Pasok Gas untuk Kawasan Industri
Emiten perusahaan gas, PT Samator Indo Gas Tbk (AGII) meresmikan pabrik ke-56 di Kawasan Industri Terpadu Batang atau KIT Batang, Jawa Tengah. Pabrik ini siap melayani tenant di sektor medis dan industrial yang ada di KITB, serta pelanggan lain di wilayah Jawa Tengah. Presiden Direktur Samator Indo Gas Rachmat Harsono mengatakan, fasilitas baru ini bisa menopang kinerja penjualan dan profitabilitas AGII di tengah meningkatnya permintaan dari pelaku industri. Rachmat menjelaskan, pembangunan pabrik di kawasan KITB telah dimulai sejak bulan Maret 2023, dengan menyerap biaya investasi sebesar Rp 500 miliar. "Dengan hadirnya pabrik Samator yang modern ini, kami semakin yakin bahwa KITB dapat menjadi kawasan industri yang hijau, pintar, dan berkelanjutan," ujar Rachmat, Selasa(2/10). Salah satu pelanggan pertama yang akan dipasok oleh pabrik baru AGII adalah KCC Glass Corporation (KCC Glass), sebuah perusahaan manufaktur kaca yang berkantor pusat di Korea Selatan. Pabrik KCC Glass di KITB akan menjadi salah satu pabrik kaca terbesar di Asia Tenggara. Namun, tidak terbatas di kawasan KITB saja.
Pabrik yang berdiri di lahan seluas 2,7 hektare (ha) ini juga membidik industri-industri di kawasan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.
Yang pasti, kehadiran pabrik baru ini diharapkan dapat menopang kinerja bisnis Samator Gas agar dapat mencapai level pertumbuhan lebih tinggi lagi dari yang sudah dicapai saat ini.
Adapun, laba bruto sebesar Rp 640,81 miliar atau meningkat 6,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 603,61 miliar.
Rachmat mengatakan, kontribusi utama penjualan pada semester I-2024 datang dari sektor kesehatan atau
healthcare. Hal ini tak lepas dari kemampuan AGII dalam mempertahankan jaringan rumah sakit baru dan yang sudah ada.
Kontribusi berikutnya bersumber dari sektor infrastruktur seiring meningkatnya aktivitas sektor konstruksi. Sementara itu, sektor barang konsumsi menunjukkan permintaan yang stabil, namun sektor ritel belum menunjukkan pertumbuhan yang diharapkan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bangkitkan Industri Hilir Sehingga Ekspor Meningkat
Industri fintech P2P Lending Hingga Agustus 2024 Meraup Laba Sebesar Rp656,8 miliar.
Tekad Bulat Bisnis Adaro Energy
IHSG Tertekan Serangan Rudal Iran-Israel
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (02/10/2024) ditutup melemah -78,87 poin atau -1,03% ke level 7.563. Hal ini sebagai dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisis geopolitik di Timur Tengah, pasca serangan rudal Iran ke Israel. Namun, sejumlah analis masih optimistik IHSG mampu kembali ke zona hijau. Meskpiun IHSG melemah, sektor basic materialis menjadi yang paling kuat dengan kenaikan tipis sebesar +0,03%.
aDi sini lain, sektor transportation & logistics mengalami penurunan terbesar dengan pelemahan -1,95%, yang mencerminkan dampak langsung dari ketidakpastian global dan fluktuasi harga energi akibat krisisi geoplitik di Timur Tengah. Dalam risetnya, Pilarmas Sekuritas menuturkan, situasi di Timur Tengah menjadi fokus perhatian para pelaku pasar setelah Iran meluncurkan serangan rudal terhadap Israel, yang kemudian di respons dengan ancaman pembalasan dari Israel dan Amerika Serikat. Ketegangan ini menambah tekanan pada pasar saham di Asia, termasuk Indonesia, yang ikut terseret dalam pelemahan. (Yetede)
Kontraksi manufaktur tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi
Kontraksi manufaktur selama tiga bulan berturut-turut menjadi PR yang harus segera dibenahi oleh pemerintahan Prabowo Subianto. Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament (APSyFI) Redma Gita. Redma Wirawasta mengatakan, perbaikan industri manufatur bergantung pada pemerintahan baru nantinya. Dia menilai kinerja Kemenperin sangat positif selama ini, karena dianggap sangat paham pada industri. Redma menilai justru masalahnya ada di Kemenkeu dan Kementerian ESDM.
"Kalau Menkeu tidak mengerti masalah manufaktur, tidak pro industri dalam negeri, ya dalam lima tahun kedepan akan terjadi deindustrialisasi dan industri akan tambah banyak pabrik yang tutup," ucap Redma kepada Investor Daily. Dia mengatakan, tanda-tanda kontraksi sebenarnya sudah terlihat dari 2023, dimana ada dua poin penting yang penurunan industri manufaktur yaitu dari pasarnya yang tidak bagus dan harga energi yang mahal. Market globalnya sedang tidak bagus sehingga semua mengandalkan pasar dalam negeri, sehinga pasar dalam negeri itu diserang produk-produk impor," terang Redma. (Yetede)









