Pukulan Ganda Sektor Manufaktur pada 2025
Industri Perbankan Mengalami Pertumbuhan Laba Bersih 8,04% Yoy
Industri perbankan mengalami pertumbuhan laba bersih 8,04% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 194,97 triliun per akhir September 2024. Pencapaian tersebut didukung dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang sebesar Rp407,22 triliun, naik 2,7% (yoy). Apabila ditelisik lebih dalam, pertumbuhan laba bersih per September tahun ini mengalami penguatan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya masih single digit dan masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu. Berdasarkan data OJK, pertumbuhan laba bersih tertinggi berasal dari kelompok bank berdasarkan modal intil (KBMI) 2 yang mencapai 49,58% (yoy) pada akhir September 2024 menjadi Rp 19,49 triliun.
Berikutnya, pertumbuhan dari KBMI 4 dengan laba bersih tertinggi Rp136,04 triliun, naik 7,89% (yoy) di kuartal III-2024. Kemudian KBMI 3 dengan laba Rp30,98 triliun, tumbuh 1,71% (yoy) per September 2024. Sedangkan, kelompok bank mini (KBMI 1) mencatatkan laba bersih Rp 8,46 triliun, anjlok 22,31% dibandingkan dengan September 2023 senilai Rp 10,89 triliun. Dari data yang dihimpun Investor Daily, pertumbuhan laba bersih industri perbankan per September ini menjadi yang paling tinggi sejak awal 2024. Adapun, pada Januari 2024 tercatat laba bersih terkontraksi 1,77% (yoy), per Maret sudah tumbuh positif 2,01% (yoy), namun April kembali terkontraksi 0,48% (yoy).
Kilau Amman Mineral Menorehkan Kinerja Keuangan Mengesankan pada Januari-September 2024
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menorehkan kinerja keuangan mengesankan pada Januari-September 2024 (9M24) dengan raihan laba bersih US$ 720 juta atau setara Rp11,46 triliun, melesat 958% dibanding periode sama tahun lalu (year on year/yoy). Capaian signifikan ini sejalan dengan prestasi emiten tambang emas tersebut yang mampu mencatatkan rekor produksi terbesar sejak diakuisisi pada tahun 2016. Hal itu turut menaikkan ekspektasi pembagian dividen bagi pemegang saham perseroan. "Sejak Amman mengambil alih operasi Batu Hijau pada November 2016, perusahaan secara konsisten meraih berbagai rekor produktivitas dan produksi.
Tahun ini, kami mencatat tonggak sejarah baru dengan mencapai rekor produktivitas pertambangan dan produksi tertinggi untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2024," kata Direktur Utama Amman Mineral Internasional Alexander Ramlie. Alex mengungkapkan, produksi konsentrat perseroan meningkatkan signifikan sebesar 85% menjadi 637,1 ribu ton dibanding tahun lalu 344,24 ribu ton, dengan produksi tembaga naik 68% dari 199 juta pon menjadi 335 juta pon. Dan produksi emas meningkat tajam sehingga 173% dari 259,17 yang mengesankan ini didukung oleh produksi bijih berkadar tinggi dari Fase 7," kata dia. (Yetede)
Ditengah Kondisi Biaya Dana yang Mahal dan Sejumlah Tantangan Makroekonomi
Presiden Prabowo Subianto Membawa Komitmen Sejumlah Negara untuk Mewujudkan Program Makan Bergizi gratis.
Syarat dan Tahapan Mengikuti Pemutihan Pajak Kendaraan, Cek Daerah Mana Saja?
Musim Gugur Bank Perkreditan
Bea Cukai Soekarno-Hatta Akan Hancurkan Barang Sitaan Senilai Rp1,2 Miliar
IPO Jumbo Hadapi Rintangan Berat
Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tantangan besar terkait dengan Initial Public Offering (IPO) di penghujung tahun ini. Meskipun dua emiten besar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), telah mengumumkan rencana IPO, langkah ini menjadi pertaruhan besar mengingat kondisi pasar yang tengah lesu. Sepanjang tahun ini, kebanyakan IPO didominasi oleh emiten kecil dan menengah dengan nilai emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu, yang mencatatkan 79 emiten baru. Selain ketidakpastian pasar yang mendorong calon emiten menunda IPO, kualitas IPO juga menjadi sorotan, terutama terkait dengan tindakan oknum yang mencoreng citra pasar modal, yang mendorong Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk lebih selektif dalam meloloskan emiten baru.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY) sebagai dua calon emiten besar yang tengah menyambut kesempatan untuk melaksanakan IPO di tengah situasi pasar yang penuh tantangan.
Window Dressing, Harapan Akhir Tahun Pasar Saham
Meskipun terdapat harapan akan terjadinya window dressing dan beberapa aksi besar di pasar modal, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir tahun ini cenderung lesu. Pada bulan November, IHSG mengalami penurunan signifikan sebesar 4,94%, meskipun secara tahunan (YoY) masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 2,33%. Perdagangan yang lesu ini mencerminkan penurunan gairah investor dan transaksi pasar yang melambat, dengan rata-rata transaksi harian yang jauh di bawah target Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, terdapat optimisme karena aksi window dressing yang biasanya dilakukan oleh manajer investasi di penghujung tahun, serta adanya dua IPO jumbo yang diharapkan dapat memberikan dorongan positif bagi pasar. Kedua emiten besar tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang keduanya berpotensi meraup dana besar melalui IPO mereka, masing-masing sekitar Rp4,59 triliun dan Rp4,71 triliun.
Tokoh yang relevan dalam artikel ini adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) dan PT Daya Intiguna Yasa Tbk. (MDIY), yang diharapkan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan pasar saham Indonesia menjelang tutup tahun.









