;

Potensi Penerimaan Pajak Digital Capai Rp 10 Triliun

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 12 Juni 2020

Rencana penarikan pajak pertambahan nilai (PPN) atas transaksi barang atau jasa digital dari luar negeri secara elektronik dengan tarif 10%, memiliki potensi penerimaan hingga Rp 10 triliun. Pajak yang mulai berlaku 1 Juli 2020 ini akan menyasar transaksi produk-produk digital seperti Netflix, Spotify, hingga Zoom. Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dari Fraksi PDIP Indah Kurnia mengatakan, Kementerian Keuangan berusaha mencari sumber pembiayaan baru dan menambah penerimaan negara di tengah pandemi Covid-19 dengan penarikan pajak digital. Dengan potensi transaksi produk digital sekitar Rp 102 triliun dan tarif PPN 10%, maka penerimaan yang akan didapat mencapai Rp 10 triliun.

Ia merinci ada tujuh bentuk dan nilai transaksi barang digital yang memiliki potensi di Indonesia. Pertama, transaksi dari perangkat lunak telepon genggam yang mencapai Rp 44,7 triliun, media sosial dan layanan over the top sebesar Rp 17,07 triliun, hak siaran atau layanan televisi berlangganan Rp 16,49 triliun, serta sistem perangkat lunak dan aplikasi sebesar Rp 14,06 triliun. Kemudian untuk transaksi digital dari penjualan film sebesar Rp 7,65 triliun, perangkat lunak khusus seperti perangkat mesin dan desain sebesar Rp 1,77 triliun. Kemudian untuk transaksi game, video, dan musik digital sebesar Rp 880 miliar. Tahun ini, defisit fiskal diproyeksi melebar hingga 6,34% atau setara Rp 1.039,2 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB). Belanja negara diproyeksi naik menjadi Rp 2.738,4 triliun sementara pendapatan turun menjadi Rp 1.699,1 triliun.

Indah mengatakan implementasi pengenaan PPN 10% mulai 1 Juli 2020 dapat dilakukan bertahap, dengan terlebih dahulu menarik pajak digital yang bersifat konsumtif, seperti Netflix dan Spotify. Sementara yang bersifat produktif, seperti Zoom bisa ditunda. Hal ini menimbang juga pengenaan pajak untuk platform digital ini akan dibebankan ke konsumen. Terkait ini, Indah menyarankan, agar pemerintah memberikan sosialisasi dan edukasi secara menyeluruh mengenai pajak platform digital.

Senior Country Representative US-ABC Angga Antagia mengatakan, dalam implementasi kebijakan ini Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan harus memberikan kemudahan dari segi registrasi dan pelaporan dengan dokumen elektronik yang disederhanakan. Kemudian, perlu ditentukan secara jelas ruang lingkup subjek pajaknya. Ia mengatakan, pemerintah juga perlu untuk menyelaraskan konsensus internasional dengan multitalteral seperti OECD framework dan menghindari unilateral measures.

Perbaikan Kinerja Perdagangan Indonesia - Ujian Pemulihan Ekspor

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 15 Jun 2020

Upaya pemulihan kinerja ekspor Indonesia pada tahun ini bakal berhadapan dengan sejumlah tantangan, mulai dari kebijakan restriksi, kompetisi perebutan pasar, hingga penurunan permintaan.

Aksi proteksionisme tersebut bakal mengganjal akses pasar produk Indonesia. Hal ini setidaknya terlihat dari munculnya tuduhan-tuduhan baru antidumping dan safeguard yang menyasar komoditas utama ekspor. 

Kementerian Perdagangan mencatat bahwa Indonesia harus menhadapi 16 kasus trade remedies selama pandemi Covid-19. Dari jumlah tersebut, 14 kasus merupakan investigasi baru dan dua di antaranya adalah investigasi review atau peninjauan ulang. 

India menjadi negara yang paling aktif melakukan investigasi tersebut dengan total 5 kasus. Posisinya disusul Amerika Serikat dan Ukraina. 

Wakil Ketum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta W. Kamdani mengatakan, masalah utama ekspor saat ini adalah kepercayaan pasar yang turun. Dari dalam negeri, Shinta menyatakan pemulihan ekspor dihadapkan pada faktor penurunan produktivitas nasional pada sektor-sektor yang berorientasi ekspor karena terimbas kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). 

Pada tahun ini, Kementerian Perdagangan menyiapkan misi dagang ke 11 negara tujuan dengan potensi transaksi ekspor mencapai US$62,60 miliar atau 38% dari target ekspor nonmigas 2020. 

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Kasan Muhri menyatakan, situasi pandemi Covid-19 yang turut memengaruhi fokus kebijakan negara tujuan ekspor menjadi tantangan dalam misi dagang tahun ini. 

Terkait upaya pemulihan ekspor, Shinta menyarankan agar pemerintah fokus pada pemberian fasilitas perdagangan dari sisi ekspor. Dengan demikian, biaya ekspor bakal menjadi lebih rendah dan membuat produk Indonesia menjadi lebih kompetitif. 

Wakil Ketua Umum Bidang Kebijakan Publik & Hubungan Antar Lembaga Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Rachmat Hidayat menuturkan, produk makanan olahan memiliki tren kenaikan permintaan seiring dibukanya perekonomian sejumlah negara. 

Namun, Rachmat mengaku tak sedikit pelaku usaha yang mengalami kendala permodalan dan bahan baku dalam 3 bulan terakhir. 

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia Sutanto masih memasang target optimistis bahwa produk tekstil ekspor Indonesia dapat mengisi pangsa pasar yang lebih besar di negara seperti Amerika Serikat sebagai efek dari perang dagang. 

Sementara itu, konsensus Bloomberg memperkirakan neraca dagang Mei akan mengalami surplus US$544,43 juta. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menjelaskan surplus dipicu oleh penurunan impor yang melebihi penurunan ekspor. Penurunan impor ini dikarenakan masih rendahnya aktivitas manufaktur di Indonesia. 


McKinsey: Optimisme Konsumen Turun ke Level Terendah

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 12 Juni 2020

McKinsey dalam survei sentimen konsumen Indonesia selama terjadi pandemi Covid-19 menemukan optimisme konsumen akan pemulihan ekonomi telah menurun ke level terendah sejak Maret 2020 dimana hanya tinggal 39% konsumen dari sebelumnya 51% yang mengaku optimistis ekonomi akan pulih dalam 2-3 bulan.

Menurut McKinsey, terdapat tiga perempat penduduk Indonesia mengalami penurunan pendapatan dan tabungan, meskipun sebagian besar menghabiskan lebih banyak (pendapatan). Sedangkan lebih dari seperempat konsumen telah beralih merek dan pengecer, dan banyak yang berharap untuk melanjutkan setelah krisis. Konsumen berharap untuk terus menghabiskan lebih banyak waktu memasak, mengkonsumsi konten video, belajar online, dan berkomunikasi satu sama lain secara virtual.


Keringanan Cukai - Relaksasi Minuman Alkohol Disiapkan

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Bisnis Indonesia, 12 Jun 2020

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Nirwala Dwi Heryanto mengatakan, pemerintah akan memperluas relaksasi cukai untuk minuman mengandung etil alkohol (MMEA) karena dianggap sebagai salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebelumnya, relaksasi diberikan untuk hasil tembakau yakni penundaan pembayaran cukai, serta pembebasan cukai etil alkohol untuk pembuatan hand sanitizer, disinfektan, dan produk sejenis. 

Rencananya, pelonggaran akan diberikan untuk minuman beralkohol golongan A, seperti bir dan minuman sejenis lainnya. 

Ada empat dampak yang harus ditanggung oleh para pelaku industri MMEA. Pertama penurunan penyerapan pasar, kedua penurunan penjualan, ketiga kebijakan meliburkan sementara karyawan, dan keempat penurunan proyeksi volume bayar cukai.

Dia menyebutkan bahwa cukai golongan A dibayarkan secara berkala. Sementara itu, di undang-undang relaksasi bisa dilakukan namun hanya 10 hari. 

Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar menilai, relaksasi harus diberikan terkait dampak yang diakibatkan dari pandemi corona.  

Industri rokok misalnya, bukan berarti relaksasi yang diberikan untuk mendorong orang merokok, melainkan bertujuan menyelamatkan para tenaga kerja. Begitu pula dengan industri minuman beralkohol. Jika jumlah pekerja yang kena PHK makin tinggi, maka akan menjadi beban pemerintah karena harus mengucurkan bantuan sosial lebih besar.   

Di sisi lain, Bea Cukai melakukan survei untuk mengukur dampak pandemi Covid-19 terhadap industri hasil tembakau, sebanyak 14,4% responden menyatakan telah menghentikan operasi bisnis. 

Sebanyak 95 pabrik meliburkan pegawainya dengan perkiraan pegawai diliburkan mencapai 14.515 orang. Selain itu, juga telah terjadi pemutusan hubungan kerja dengan total 152 orang. Di sisi lain, sebanyak 82 perusahaan telah mendapatkan penundaan pembayaran pita cukai selama 90 hari dengan nilai Rp18,1 triliun. 


Mei Penjualan Semen Anjlok 32 persen

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 12 Juni 2020

Penjualan semen nasional anjlok hingga 32% menjadi 3,8 juta ton pada Mei 2020 dibandingkan bulan sama tahun lalu. Sementara itu, dibandingkan April 2020, penurunannya mencapai 24,9%. Meski demikian, Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya meyakini, kinerja negatif industri semen tersebut tidak akan berlangsung lama.

Semen Indonesia juga mengalami penurunan penjualan cukup dalam yaitu merosot hingga 30,9% menjadi 2,1 juta ton dibanding April 2020 atau 36.7% bila dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini sebagaimana sebelumnya diperkirakan Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso karena adanya bulan ramadan dan hari Raya Idul Fitri, serta libur panjang dan diberlakukannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).


10 Institusi Keuangan Bisa Akses Pemanfaatan Data Kependudukan

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 12 Juni 2020

Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan hak akses pemanfaatan data kependudukan kepada 13 institusi yang terdiri dari, 10 institusi jasa keuangan, 2 perusahaan sektor kesehatan dan 1  lembaga amal. Akses itu dapat mempercepat pelayanan dan mencegah potensi pinjaman fiktif dari bisnis sejumlah institusi keuangan tersebut. Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrulloh mengatakan dengan bergabungnya 13 institusi itu, maka telah terdapat 2.108 pengguna yang memanfaatkan data kependudukan.

13 institusi tersebut diantaranya tiga penyelenggara fintech P2P lending yaitu PT Pendanaan Teknologi Nusa (Pendanaan.com), PT Digital Alpha Indonesia (UangTeman), dan PT Ammana Fintek Syariah (Ammana). Kemudian, empat multifinance yaitu PT Commerce Finance (CFinance), PT Astrido Pacific Finance, PT Radana Bhaskara Finance, dan PT Mitra Adipratama Sejati (MAS) Finance. Lalu dua bank yakni PT BPR Tata Karya Indonesia dan PT Bank Oke Indonesia Tbk. Lalu satu penyelenggara uang elektronik yaitu PT Visionet Internasional (OVO) serta dua perusahaan sektor kesehatan yaitu PT Indo Medika Utama dan PT Affinity Health Indonesia. Termasuk satu lembaga amal yakni Yayasan Dompet Dhuafa Republika.

Lonjakan Baru di Tiongkok Terkait Klaster Pasar

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 15 Juni 2020

Pemerintah Kota Beijing pada Minggu (14/6) melaporkan 57 kasus positif baru infeksi virus corona Covid-19. Angka harian tertinggi sejak April 2020 ini seluruhnya terkait dengan sebuah pasar grosir pangan besar di ibukota Tiongkok tersebut. Klaster baru ini membuat langkah-langkah karantina kembali diberlakukan. Warga di 11 wilayah permukiman di sekitar pasar diperintahkan tinggal di rumah.

Pasar Xinfandi dilaporkan merupakan pemasok terbanyak produkproduk segar bagi warga Beijing. “Beijing memasuki masa yang sangat tidak biasa,” ujar Xu Hejian, juru bicara Pemkot Beijing, dalam konferensi pers. Dari 36 kasus positif baru itu, 12 di antaranya tinggal di permukiman bagi orang-orang yang bekerja di Xinfandi, pasar yang berlokasi di distrik Fengtai. Hampir semua orang di sana antara pernah bekerja atau berbelanja di pasarnya. Salah satu kasus baru yang terkonfirmasi pada Minggu adalah pria berusia 56 tahun yang bekerja sebagai sopir bus bandara. Sebelum jatuh sakit, seperti dilaporkan media negara People's Daily, ia datang ke pasar Xinfandi pada 3 Juni 2020. Beijing News, seperti dilansir Reuters, melaporkan bahwa pria tersebut sudah berbulan-bulan tidak bekerja dan tidak ada kontak dengan para penumpang perjalanan udara.

Gao Xiaojun, juru bicara otoritas kesehatan Beijing mengatakan, siapa saja yang menunjukkan gejala demam akan menjalani tes serologi dan asam nukleat, untuk memastikan positif tidaknya Covid-19. Selain itu, mereka harus tes darah dan pemindaian CT. Fasilitas-fasilitas kesehatan, tambah Gao, tidak diperbolehkan menolak pasien yang menunjukkan gejala-gejala demam.


Covid 19 Ubah Model Bisnis dari Konvensional ke Digital

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 15 Juni 2020

Mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengingatkan, situasi  dunia pasca Covid-19 akan cenderung menjadi lebih rumit. Ada tujuh fenomena yang akan mewarnai dunia setelah Covid-19, yang salah satunya adalah pergeseran model bisnis dari konvensional ke digital.

Pertama,  kemungkinan  terjadinya perlambatan berkelanjutan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Kedua, kemungkinan akan adanya penurunan produktivitas karena terganggunya rantai pasok global. Ketiga, adanya tren pengajuan pinjaman di tingkat nasional, perusahaan, maupun individu. Keempat, adanya kesenjangan yang bisa jadi lumayan besar, antara pasar modal dan ekonomi riil. Kelima, kata dia, adalah pergeseran model bisnis dari paradigma lama ke paradigma digital/virtual. Keenam, kelanjutan dari periode dengan inflasi rendah yang cukup panjang, bahkan bukan tidak mungkin deflasi. Ketujuh, terlihat suatu polarisasi lebih lanjut antara Tiongkok dan Amerika Serikat atau yang oleh sebagian orang disebut dengan decoupling.

Penumpang Bandara Belum Pulih Sampai 2024

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 16 Juni 2020

Chief Executive Officer (CEO) Gatwick, Stewart Wingate kepada Steve Sedgwick dari CNBC mengatakan setidaknya Bandara Gatwick, London, Inggris akan membutuhkan tiga hingga empat tahun untuk kembali ke tingkat volume penumpang yang tercatat pada 2019. Bandara Gatwick juga sedang berada di bawah tekanan setelah dua maskapai penerbangan besar yaitu Virgin Atlantic dan British Airways, mengumumkan rencana pengurangan atau peninjauan kembali keberadaan mereka di Gatwick karena krisis saat ini.

Di sisi lain, industri perjalanan udara telah meminta Pemerintah Inggris untuk mengakhiri atau mengganti kebijakan karantina dengan yang baru, karena dianggap sebagai hambatan utama bagi pembukaan kembali bisnis mereka. Wingate menyebutkan, di daratan Eropa, aturan-aturan di perbatasan telah dilonggarkan, pesawat-pesawat mulai terbang, dan secara ekonomi hal itu sangat penting untuk berpartisipasi di pasar. CEO EasyJet Johan Lundgren juga telah membuat permohonan serupa setelah menghentikan operasional armadanya (grounded) selama 11 pekan. Manajemen EasyJet pada April memperkirakan kerugian antara 185 juta pundsterling dan 205 juta poundsteling dalam enam bulan pertama tahun fiskal karena pandemi.


Belanja di Platform Bukalapak Tumbuh 20 persen

R Hayuningtyas Putinda 21 Jun 2020 Investor Daily, 16 Juni 2020

Bukalapak, salah satu platform e-commerce terbesar di Tanah Air, mencatat pertumbuhan aktivitas belanja online di platformnya berkisar 15-20% selama masa pandemi Covid-19. VP of Merchant Bukalapak Kurnia Rosyada mengatakan, antusiasme masyarakat berbelanja serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terbukti dengan tercatatnya lebih dari 40.000 jenis produk yang dipasarkan oleh ratusan UMKM yang banyak bergabung sejak #BanggaBuatanIndonesia diluncurkan.

Memasuki bulan Juni ini, Bukalapak mulai mencatat kategori ponsel (handphone), sepeda, beserta hobi dan koleksi menjadi produk-produk yang paling banyak diminati pembeli. Khusus untuk kategori sepeda, pencarian paling populer pada sepeda gunung merek Polygon dan MTB. Lalu, produk sepeda lipat dengan merek Exotic, Pacific, dan United. Pembeli juga berburu produk aksesoris sepeda seperti kacamata Google, helm sepeda MTB, serta tempat minuman.


Pilihan Editor