;

Kimia Farma Perluas Bisnis Klinik Kecantikan

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Radar Surabaya

Perseroan Terbatas (PT) Kimia Farma (Persero) Tbk terus melakukan ekspansi usaha. Kali ini BUMN farmasi itu memperluas bisnis klinik kecantikan. Mereka kini memiliki klinik kecantikan bernama Marcks’ Venus Aesthetic Clinic (MVC).

Konsep dari Marcks’ Venus Aesthetic Clinic ini adalah merawat kecantikan kulit dan tubuh pria dan wanita masyarakat Indonesia dengan menekankan aspek kesehatan di semua treatment dan skincare-nya. Manajemen Kimia Farma mengklaim MVC didukung oleh dermatologis dan dokter profesional.

Secretary Kimia Farma Ganti Winarno Putro dalam keterangan resminya, Kamis (5/11), mengklaim dalam kondisi pandemi MVC menerapkan standar keamanan ketat untuk mencegah Covid-19. Seperti physical distancing melalui online booking appointment yang bertujuan dapat mengatur jadwal kedatangan, sehingga tidak terjadi penumpukan pelanggan di klinik.

Kimia Farma memastikan MVC tak hanya menjangkau pelanggan di Jakarta, Bandung, dan Bogor saja. Masyarakat di luar wilayah itu bisa tetap menikmati layanan MVC melalui layanan konsultasi online dan delivery skincare yang bisa dilakukan melalui daring.


Holding BUMN Penerbangan Ditarget Terbentuk Akhir Tahun

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Radar Surabaya

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengungkapkan, pembentukan holding BUMN penerbangan (aviasi) ditargetkan dapat dimulai akhir tahun ini. Pembentukan holding tersebut ditandai dengan terbitnya peraturan pemerintah (PP) tentang pembentukan holding BUMN penerbangan.

Sebetulnya, penerbitan PP sendiri sudah molor dari target. Irfan pernah menyampaikan PP tentang pembentukan holding BUMN penerbangan itu ditargetkan terbit Oktober 2020. “(Holding BUMN penerbangan) sedang difinalisasi, tapi semua itu menunggu PP keluar. Diharapkan bulan Oktober keluar,” ujar Irfan pada Juli lalu.

Kementerian BUMN telah menunjuk PT Survai Udara Penas (Persero) sebagai induk holding penerbangan. Pasalnya, seluruh saham perusahaan itu masih digenggam pemerintah. Selain Garuda Indonesia, beberapa perusahaan yang akan menjadi anggota holding penerbangan, yakni PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Pelita Air (Persero), dan PT Air Nav Indonesia (Persero).


Hingga 31 Oktober , Penerimaan Pajak Sumut I 75,06%

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Harian Sinar Indonesia Baru

Hingga 31 Oktober 2020 realisasi penerimaan pajak di lingkungan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Sumatera di Medan mencapai 75,06% dan target penerimaan tahun in sebesar Rp 16,68 trillun.

“Realisasi penerimaan pajak tersebut berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-347/PJ/2020,” kata Pil Kakanwil Ditjen Pajak Sumut | Max Darmawan, Kamis (5/11).

Disebutnya, target penerimaan pajak tahun 2019 sebesar Ap 20.64 triliun, namun dibandingkan target penerimaan pajak tahun 2020 sebesar Rp 16,68 trilliun. Penerimaan pajak Kanwil DJP Sumut I, katanya, sebesar Ap 16,68 triliun, namun jika dibandingkan target tahun 2019 sebesar Rp 20,64 triliun, maka pertumbuhannya -19,20%.

Akan tetapi bila dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar Ap 17,15 triliun, maka pertumbuhannya -2,73%. “Jadi hingga 31 Oktober 2020, kinerja capaian target penerimaan Kanwil DJP Sumut sebesar 75,06% dari target sebesar 16,68 triliun dengan pertumbuhan -5,02%. Sementara pertumbuhan brutonya -1,21% yang sebelumnya pada 27 Oktober 2020 positif 0.81%,” ujarnya.

Secara nasional, capaian realisasi penerimaan pajak per 31 Oktober 2020 sebesar 69.27% dari target sebesar Rp 1.198,82 trilliun dengan pertumbuhannya-18,57%.

 


Bisnis Ikan Cupang Hias Layak Menjadi Usaha Alternatif

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Harian Sinar Indonesia Baru


Bisnis ikan cupang layak menjadi usaha alternatif di tengah pandemi Covid 19 untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Dede salah satu warga Perdagangan yang menekuni bisnis ikan cupang hias, saat ditemul di Tempat usahanya di Perdagangan Kacamatan Bandar, Kamis (5/11) mengatakan, semenjak berbisnis ikan cupang hias, pendapatannya semakin meningkat. Dalam seminggu dirinya menjual ikan cupang hias dari berbagai jenis sebanyak 15 ekor dengan harga per ekornya Rp 100 ribu.

Adapun koleksi ikan hias yang dipelihara dan dibisniskan adalah ikan cupang jenis plakat yang belakangan ini tenar seperti hellboy, blue rim, multi colour, ikan cupang siam sisir dan ada beberapa lainnya.

Hatta pengusaha ikan hias di Jalan Sandang Pangan Perdagangan mengatakan, pembeli ikan hias di tempatnya semakin meningkat. Adapun harga ikan cupang hias di tempat usahanya bervariasi yakni mulai dari Rp 70 ribu sampul Rp 250 ribu per ekorya." Harga sesuai jenisnya,” ujarnya.


Struktur Ketenagakerjaan Terdisrupsi

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Kompas

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional per Agustus 2020, yang dirilis BPS, Kamis (5/11/2020), menunjukkan, porsi jumlah pekerja formal menurun dari 44,12 persen pada Agustus 2019 menjadi 39,53 persen pada Agustus 2020 atau 50,77 juta orang dari total 128,45 juta penduduk yang bekerja.

Sebaliknya, porsi pekerja informal melonjak dari 55,88 persen menjadi 60,47 persen atau 77,68 juta orang pada kurun yang sama. “Peningkatan paling banyak di sektor informal ini ada pada mereka yang berstatus pekerja keluarga atau pekerja yang tidak dibayar,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Kamis.

Per Agustus 2020, pekerja penuh, yakni mereka yang bekerja minimal 35 jam per minggu, menurun dari 71,04 persen menjadi 63,85 persen dari total penduduk bekerja. Sementara pekerja setengah pengangguran meningkat cukup tajam, yakni dari 6,42 persen menjadi 10,19 persen, dan pekerja paruh waktu meningkat dari 22,54 persen menjadi 25,96 persen.

Pergeseran struktur ketenagakerjaan ini sejalan dengan prediksi Organisasi Buruh Internasional (ILO), pada Mei 2020, bahwa pandemi yang memukul ekonomi global akan menggeser struktur ketenagakerjaan dalam jangka panjang, yakni dari sektor formal menuju informal.

Secara keseluruhan, BPS mencatat, 29,12 juta orang atau 14,28 persen dari 203,97 juta orang penduduk usia kerja terdampak Covid-19. Orang yang menganggur akibat Covid-19 jumlahnya 2,56 juta orang sehingga menambah angka pengangguran per Agustus 2020 menjadi 9,77 juta orang.


Potensi Ekonomi Digital Indonesia Masih Menarik

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Kontan

Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$ 40 miliar pada tahun lalu dan berpotensi menyentuh US$ 133 miliar di tahun 2025. Pasalnya, Indonesia akan menguasai pasar digital di kawasan Asia Tenggara dengan potensi sumber daya yang besar dan jumlah populasi penduduk yang terus bertambah.

Segmen e-commerce dan marketplace dinilai tumbuh pesat, salah satu pemain utama e-commerce Indonesia, Tokopedia dilaporkan bakal mendapat kucuran dana US$ 350 juta atau Rp 5,1 triliun dari raksasa teknologi Google dan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek Holdings.

Baru-baru ini, Sociolla juga meraih pendanaan senilai Rp 841 miliar dari Temasek, Pavilion Capital dan Jungle Ventures . Kabar teranyar, Bukalapak bakal mendapatkan suntikan dana dari Microsoft, meski belum gamblang berapa bocoran pendanaan yang diberikan.

Laporan Bloomberg menyebutkan Microsoft telah menyetujui investasi US$ 100 juta di Bukalapak. Namun CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin tak membeberkan secara spesifik berapa dana dari perusahaan raksasa software tersebut. Dalam program itu, Bukalapak akan mengadopsi Microsoft Azure sebagai platform cloud perusahaan.

Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, perkembangan start-up di Indonesia masih cukup menarik bagi investor. Hal itu didorong potensi pasar digital di Indonesia yang masih sangat besar. Sederet keunggulan Indonesia seperti potensi bonus demografi dengan populasi milenial yang tinggi. Kelompok usia milenial dikenal akrab dengan dunia digital, sehingga investasi di dunia digital menjadi menarik.

Di samping itu, minat investor masuk perusahaan start-up tidak terlepas dari inovasi digital para pelaku usaha rintisan teknologi. “Kedua faktor ini menjadi alasan tren penyaluran dana dari investor ke perusahaan start-up masih banyak terjadi di tengah pandemic,” sebut Bima kepada KONTAN, Rabu (4/11).


Bantuan UMKM Orientasi Ekspor Sebesar Rp 16 Miliar

Mohamad Sajili 06 Nov 2020 Kontan

Kementerian Perdagangan (Kemdag) terus berupaya mendorong upaya ekspor produk Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Upaya tersebut dilakukan dari sisi pembiayaan melalui trade financing. Adapun total bantuan pembiayaan yang diberikan kepada UKM berorientasi ekspor saat ini baru mencapai Rp 16,1 miliar.

“Kami ingin memajukan peningkatan ekspor bagi UKM, tapi untuk melakukannya diperlukan pembiayaan yang optimal,”  ujar Menteri Perdagangan Agus Suparmanto, Kamis (5/11).

Dengan adanya bantuan pembiayaan ini pemerintah berharap tingkat produktivitas UMKM Indonesia meningkat. Selain itu diharapkan dapat mendorong UKM untuk naik kelas dan mampu bersaing dengan produk-produk ekspor dari negara lain di pasar tujuan.  

Ekspor Indonesia pada periode Januari - September 2020 mengalami penurunan sebesar 5,81% dari periode yang sama tahun 2019 lalu. Total ekspor Indonesia pada periode tersebut tercatat US$ 117,19 miliar. Penurunan ekspor akibat pandemi ini coba disiasati dengan mendorong UKM yang jumlahnya 90% dari total pelaku usaha di Indonesia untuk ikut berkontribusi.


Sentimen Kendaraan Listrik, Demam Saham Emiten Nikel Potensial Berlanjut

R Hayuningtyas Putinda 06 Nov 2020 Bisnis Indonesia

#APK


Demam saham itu lantaran harga komoditas tersebut berada dalam tren bullish dan prospek gencarnya penetrasi kendaraan listrik secara global, mengingat logam dasar itu merupakan bahan baku utama baterai kendaran listrik. Berdasarkan data Bloomberg harga nikel di bursa London telah menguasai hingga 9,42% sepanjang tahun berjalan 2020. Nikel sempat ditutup di level US$16.203 per ton pada medio Oktober 2020. 

Adapun, saham yang di serbu investor antara lain, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang berhasil menguat 33,93% sepanjang tahun 2020 dan teraprestasi hingga 56,25% dalam 3 bulan perdagangan terakhir. Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga menguat 17,31% sepanjang tahun berjalan 2020 dan naik 24,49% dalam 3 bulan perdagangan terakhir.

Analis RHB Sekuritas Ghibran Al Imran mengatakan bahwa minat investor yang tinggi terhadap saham-saham nikel dapat bertahan untuk jangka waktu yang panjang apalagi jika harga nikel dapat bertahan di posisinya saat ini. Adapun, di antara saham nikel lainnya Ghibran cenderung berpihak terhadap INCO mengingat fokus utama bisnis emiten itu di nikel, sedangkan ANTM memiliki lini bisnis emas yang berisiko turun pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan bahwa saham sektor komoditas akan menjadi saham pilihan investor pada tahun depan seiring dengan pemulihan ekonomi.

Pengangguran Dan Resesi, Hubungan Segitiga Yang Kian Ruwet

R Hayuningtyas Putinda 06 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melansir data sensus ketenagakerjaan per Agustus 2020 Notabene, data ketenagakerjaan hanya direkapitulasi otoritas statistik dua kali dalam setaun, yaitu periode Februari dan Agustus. Dalam laporan terbaru, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2020 menembus 7,07% atau naik 1,84% dibandingkan dengan Agustus 2019. Ini sekaligus merupakan capaian TPT terburuk, setidaknya dalam 5 tahun terakhir. Normalnya, rerata TPT di Indonesia adalah sekitar 5%.

Menyadari hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengaku pengusaha terus putar otak untuk mencegah dampak fatal dari tingginya pengangguran terhadap kinerja sektor rill, yang tengah ditekan itu kelesuan permintaan. Hariyadi memproyeksikan TPT di Tanah Air baru bisa kembali ke situasi prapandemi paling cepat pada 2022. Bahkan untuk menekan TPT sebesar 1% saja masih sulit direalisasikan tahun depan, karena banyak perusahaan yang meneruskan strategi efisiensi.

Sementara itu, Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia Timboel Siregar menilai tak ada cara selain memacu pembukaan lapangan kerja sektor Informal untuk menyeimbangkan kinerja industri, pasar kerja, dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, upaya menggenjot penciptaan lapangan kerja di sektor informal akan efektif menekan lagi TPT 2021 ke level normal 4,5%-5%. Jelas, hubungan segitiga antara pasar kerja, dunia industri, dan perekenomian secara umum sedang karut marut.

Komoditas Tambang, ‘Perang’ China-Australia & Nasib Emiten Batu Bara

R Hayuningtyas Putinda 06 Nov 2020 Bisnis Indonesia

Melansir Bloomberg, Rabu (4/11), Importir dari china di minta untuk tidak mengimpor produk komoditas Australia termasuk batu bara, bijih tembaga dan konsentratnya, gula, kayu, anggur, hingga lobster. Hubungan dagang menjadi makin panas sejak Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison menyerukan penyelidikan independent terhadap asal-usul virus corona pada April 2020.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan boikot tersebut tentu akan berdampak pada harga batu bara. Hendra melanjutkan perusahaan yang bisa mengambil peluang dari momentum tersebut adalah pelaku usaha yang memiliki spot kontrak di bawah 1 tahun atau memiliki slot batu bara dengan kualitas yang sama dengan Australia.

Adapun harga batu bara termal Newcastle untuk kontrak yang ditransaksikan dibanderol pada level harga US$59,25/ton pada akhir pekan, atau terhitung menguat 2% dari posisi penutupan pekan sebelumnya di US$58/ton. Menurut Equity Analyst Samuel Sekuritas Indonesia Desy Lapagu, aksi boikot ini berdampak kepada kelebihan pasokan global. Pasalnya, produk yang selama ini dipasok ke China harus tertahan dan membanjiri pasar di luar negara tersebut.

Menyusul memanasnya hubungan kedua negara tersebut, mayoritas saham emiten pertambangan kompak menunjukan pelemahan atau berada di zona merah pada perdagangan Rabu (4/11). Analis Kresna Sekuritas Robertus Yanuar Hardy dalam risetnya menilai emiten tambang UNTR masih layak untuk dikoleksi.  

Pilihan Editor