Ongkos Produksi dan Harga Jual Impit Peternak
Kenaikan ongkos produksi ayam ras berpotensi bakal berlanjut hingga bulan depan. Saat bersamaan harga jual ayam di tingkat peternak terancam anjlok seiring dengan akan turunnya permintaan pasca-Ramadhan dan Lebaran 2021. Kerugian peternak diperkirakan meningkat.
Pusat Informasi Harga Pangan Strategis mencatat, rata-rata nasional harga daging ayam ras di pasar tradisional per Jumat (7/5/5021) mencapai Rp 37.000 per kilogram (kg). Ada kenaikan dari awal April yang Rp 34.750 per kg dan awal Mei 2021 yang Rp 36.000 per kg. Regulasi mengatur harga acuan penjualan di tingkat konsumen Rp 35.000 per kg dan di tingkat peternak Rp 19.000-21.000 per kg.
Meski harga di tingkat konsumen di atas harga acuan, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Pardjuni menyatakan, peternak tetap menjual ayam pedaging Rp 19.000–Rp 20.000 per kg karena ada acuan. ”Di Jawa Tengah, ada peternak yang menjual Rp 18.000 per kg. Padahal, kami sedang menanggung rugi akibat naiknya harga pakan yang saat ini Rp 7.700–Rp 8.150 per kg. Pada awal tahun, harganya Rp 7.200 per kg,” ujarnya, Minggu (9/5/2021).
Tiga Perusahaan Dana Pensiun Memilih Pensiun Dini
Jumlah pemain dana pensiun terus berkurang sejak beberapa tahun terakhir. Namun kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja industri yang masih mencatatkan pertumbuhan investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja membubarkan tiga penyelenggaran dana pensiun. Yaitu Dana Pensiun Unggul Indah Cahaya, Dana Pensiun Pegawasi RS Budi Kemuliaan dan Dana Pensiun Pfizer Indonesia. Pembubaran itu pada periode April - Mei 2021.
Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Anggar Budhi Nuraini mengatakan, pembubaran tersebut sudah sesuai dengan Keputusan Dewan Komisioner. "Pembubaran dilakukan atas permohonan pendiri dana pensiun untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan program pensiun, " kata Anggar, dalam keterangan resmi, pekan lalu. Setelah pembubaran tersebut, tim likuidasi akan melakukan proses likuidasi sesuai ketentuan Peraturan OJK Nomor 9/POJK.05/2014 tentang Pembubaran dan Likuidasi Dana Pensiun. "OJK mengimbau kepada peserta dana pensiun untuk tetap tenang karena dana mereka akan dialihkan ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Merujuk data OJK, sampai dengan Maret 2021 terdapat 214 pemain dana pensiun. Jumlah itu memang terus berkurang dibandingkan Maret tahun sebelumnya yang mencapai 219 pelaku usaha di bisnis dana pensiun.
Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Muljadi mengatakan berkurangnya jumlah pemain dana pensiun disebabkan beberapa faktor. Namun sebagian besar karena pendiri kesulitan keuangan menambah iuran peserta. Mereka juga rata-rata adalah pemain kecil. "Ke depan, dana pensiun semakin berkurang khususnya dari program manfaat pastu. Selain bubar, ada beberapa dana pensiun yang akan konversi ke program iuran pasti, " ungkap Bambang.
Walaupun berkurang, namun imbal hasil investasi (Rol) industri dana pensiun terus tumbuh. Secara industri, dana pensiun mencatatkan Rol sebesar 1,63% per Maret 2021. Nilai itu naik dari Maret 2020 senilai 1,52%. Dengan realisasi itu, ia memperkirakan strategi investasi dana pensiun akan tetap konservatif pada tahun ini. Investasi mereka akan lebih berorientasi pada liabilitas untuk menghindari risiko mismatch dengan likuiditas. "Artinya, komposisi investasi dana pensiun tidak banyak perubahan, " lanjutnya.
BNI Bakal Tutup 96 Kantor Cabang Tahun Ini
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berencana menutup 96 kantor cabang (kacab) di seluruh Indonesia tahun ini. Hal itu dilakukan seiring melesatnya transaksi digital yang dilakukan oleh nasabah.
"Hampir 80 % volume transaksi itu sudah dilakukan secara digital, sehingga tinggal sedikit orang yang masih berinteraksi langsung. Ini masih ada karena beberapa alasan yang mungkin mereka lebih senang data ke cabang, tapi pelan-pelan kami akan shifting ke transaksi digital," ujar Direktur Layanan dan Jaringan BNI Ronny Venir, dikutip Antara, Senin (10/5).
Ronny menjelaskan transaksi yang dilayani oleh teller di kantor cabang kian menurun. Satu teller yang biasanya melakukan 150-200 transaksi, kini telah berkurang hampir 60 %.
"Dengan berkurangnya transaksi ini, kami mengurangi jumlah teller yang sudah dialihkan ke mesin. Begitu juga dengan kegiatan di customer service, biasanya rata-rata nasabah customer service itu 50-an, sekarang sudah berkurang," kata Ronny.
Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI YB Hariantono mengungkapkan pihaknya beroperasi dengan dual mode. Di satu sisi layanan digital ditingkatkan, tapi layanan non-digital juga tetap berjalan.
"Khusus untuk layanan digital, kami melihat segmen masing-masing. Untuk segmen konsumer, fokus kami adalah layanan untuk mobile banking. Kami punyachannel yang banyak, kami masih punya channel ATM, internet banking, EDC, agent banking, tapi untuk konsumer yang self service-nya akan fokusnya di mobile banking," ujar Hariantono.
Sementara untuk segmen korporasi, perseroan bakal mengembangkan BNI Direct yang merupakan manajemen kas untuk perusahaan-perusahaan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran pajak, bank garansi, dan sebagainya.
Walau demikian, dia mengatakan khususnya di daerah masih dibutuhkan kantor-kantor cabang untuk melayani nasabah.
"Ada juga kalau mungkin pergi ke daerah-daerah tertentu yang digital literasinya tidak terlalu tinggi, mereka masih punya preferensi untuk melakukan transaksi di cabang. Jadi mungkin untuk kota-kota yang tidak terlalu urban, mereka mungkin lebih membutuhkan layanan di cabang-cabang," terangnya.
Survei BI: Konsumen Kembali Optimis, Pertama Sejak April 2020
Jakarta, CNN Indonesia -- Survei Bank Indonesia (BI) mengindikasikan konsumen kian optimis terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2021 sebesar 101,5 yang masuk ke zona optimis.
Sebagai catatan, IKK di level 100 atau lebih menunjukkan sikap optimis konsumen. Sebaliknya, IKK di bawah 100 mencerminkan pesimistis masyarakat untuk melakukan konsumsi.
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan capaian meningkat dibandingkan Maret 2021, kala itu IKK sebesar 93,4.
"IKK April 2021 juga merupakan angka optimisme pertama kali sejak IKK masuk zona pesimis pada April 2020," terang Erwin lewat rilis resmi, Senin (10/5).
BI menyebut keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori tingkat pengeluaran responden, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden.
Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di 18 kota yang disurvei, dengan keyakinan tertinggi di kota Padang, diikuti oleh Bandung, dan Pangkal Pinang.
Berdasarkan hasil survei, disimpulkan kalau peningkatan optimisme konsumen pada April 2021 didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan.
Kondisi ekonomi yang dimaksud ialah aspek ketersediaan lapangan kerja, ekspansi kegiatan usaha yang meningkat, dan penghasilan yang meningkat pada 6 bulan yang akan datang.
Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau membaik, didorong oleh perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.
4 Negara Eropa Teken Kerja Sama Dagang, Kabar Baik Buat Sawit RI
Sejumlah negara di Eropa sudah menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi Indonesia EFTA-CEPA. Penandatanganan ini diyakini bisa jadi angin segar bagi komoditas perdagangan Indonesia terutama produk sawit.
Produk sawit belakangan ini menjadi persoalan di pasar Eropa karena terkait isu lingkungan. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, penandatanganan Indonesia EFTA-CEPA merupakan peluang yang sangat positif, termasuk dalam kaitannya dengan penerimaan produk kelapa sawit Indonesia.
Penerimaan EFTA terhadap produk kelapa sawit Indonesia ini menunjukkan bahwa resistensi sebenarnya tidak dilakukan oleh semua negara Eropa. Empat negara, yaitu Lietchtenstein, Swiss, Norwegia dan Islandia menambah deretan negara-negara Eropa yang sebenarnya menerima kelapa sawit kita.
Karena hal tersebut, pasar ekspor sawit RI makin besar. Pada intinya, negara-negara Uni Eropa harus melihat persoalan sawit dengan obyektif dan proporsional. Kebutuhan minyak nabati semakin besar di seluruh dunia. Tidak semua sumber minyak nabati bisa memenuhi kebutuhan dengan efisien seperti kelapa sawit.
Teknologi perkebunan, pemupukan, pengolahan air, pengolahan dan berbagai hal yang berkaitan dengan industri kelapa sawit terus berkembang. Ini membuat kelapa sawit akan makin efisien secara ekologis.
Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M
JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan
decacorn Indonesia untuk go public akan
dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang
berniat menggelar penawaran umum perdana
(initial public offering/IPO) sudah menyerahkan
dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini
masih diproses.
Unicorn atau decacorn terutama
yang berniat melantai di bursa
domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah
prosedur dan administrasi yang
diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO
empat unicorn dan decacorn yang
menggelar dual listing berpotensi
menghasilkan valuasi sekitar US$
100 miliar.
Di lain sisi, BEI harus merevisi
peraturan pencatatan agar dapat
mengakomodasi IPO perusahaan
new economy yang berbeda dengan
perusahaan konvensional.
Direktur Utama Bursa Efek
Indonesia (BEI) Inarno Djajadi
mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan
decacorn yang telah menyerahkan
dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun
demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja
yang telah menyerahkan dokumen
tersebut.
Untuk investor domestik, PT Astra
International menginjeksikan total
dana senilai US$ 250 juta dalam dua
tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018
dan US$ 100 juta pada 2019. Selain
itu, PT Telkomsel mengalirkan dana
US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga
Northstar Pacific milik pengusaha
kondang Patrick Waluyo.
Beberapa nama investor besar
luar negeri yang berada di belakang
Gojek adalah Facebook, Google,
Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings,
Paypal, Sequoia Capital, Allianz
Strategic Investments SARL, Asean
China Investment Fund (US) III
LP, London Residential II SARL,PT
Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union
Sampoerna.
Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank,
Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte),
Google, Masayoshi Son, Sequoia
Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited.
Temasek dan Google pada Oktober
2020 dikabarkan menyuntikkan dana
ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.
Bukalapak dan Traveloka
Bukalapak dan Traveloka juga
berniat dual listing, yakni di BEI
dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah
dalam pembicaraan lanjutan dengan
SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS.
Keduanya berencana merger dan
perusahaan gabungan itu berpotensi
menaikkan valuasi Traveloka yang
dinakhodai oleh Ferry Unardi ini
menjadi sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang
dana sekitar US$ 500-750 juta melalui
skema investasi swasta di ekuitas
publik (private investment in public
equity/PIPE).
Sebagai salah satu perusahaan
teknologi terdepan di Asia Tenggara,
kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama
dengan perusahaan teknologi kelas
dunia lainnya yang juga tercatat di
bursa AS tersebut.
Demikian pula Bukalapak berniat
listing di bursa AS melalui skema
SPAC. Aksi merger dengan SPAC
itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.
Bukalapak baru saja mengantongi
pendanaan baru hingga US$ 234 juta
yang dipimpin oleh Microsoft, GIC
Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di
BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri
Sekuritas sebagai penjamin emisi.
IPO Grab-Altimeter
Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih
maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab
Holdings Inc menggandeng SPAC
Altimeter Growth Corp. Aksi IPO
tersebut menargetkan perolehan
dana segar hingga US$ 4,5 miliar.
Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah
ada oleh perusahaan Asia Tenggara
di Bursa AS.
Altimeter Growth dan Grab akan
menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan
induk baru. Perusahaan gabungan
tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi
swasta pada ekuitas publik (private
investment in public equity/PIPE)
senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah
memberikan komitmen hingga US$
500 juta sebagai bentuk contingent
investments.
Berdampak Positif
Founder & CEO Digital Enterprise
Indonesia Bari Arijono menyatakan
bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger
dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO
yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang
memberikan manfaat bagi ekonomi
digital di Indonesia dan dampaknya
ke masyarakat. Startegi meraih dana
global dengan menggandeng SPAC ini
sukses dijalankan di AS, Hongkong,
Jepang, dan Tiongkok.
Kedua, merger ini bukan dalam
rangka meningkatkan skala ekonomi
perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan
bagi milenial untuk berinovasi. Visi
misi awal yang diusung Gojek dan
Tokopedia bisa jadi kehilangan arah
dan marwahnya, karena disetir oleh
investor.
Sedangkan Direktur Panin Asset
Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan
por tofolio saham bagi investor,
khususnya saham teknologi dengan
kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat
menarik lebih banyak dana asing
yang masuk ke bursa domestik.
Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan
investor. “Dengan kapitalisasi pasar
yang besar, manajer investasi juga
akan mempertimbangkan sebagai
bagian dari portofolio reksa dana,”
katanya kepada Investor Daily.
Hal senada dikemukakan Presiden
Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni.
Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor
asing maupun domestik, karena
menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy.
“Yang ada sekarang hanya ada lima
saham sekelas super bluechip seperti
BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII.
Mereka adalah perusahaan old era
economy,” ujarnya.
(Oleh - HR1)
Tidak Ada Urgensi Revisi UU Mata Uang
JAKARTA – Bank Indonesia (BI)
kembali menegaskan, mata uang kripto
(cryptocurrency) bukan merupakan alat
pembayaran yang sah di Indonesia dan hanya
rupiah satu-satunya yang diakui. Karena
itu, bank sentral menilai, tidak ada urgensi
untuk merevisi Undang-Undang Nomor
7 Tahun 2011 tentang Mata Uang demi
mengakomodasi penggunaan mata uang kripto seperti Bitcoin.
“Dalam hal pembayaran,
tidak perlu lagi ada pengaturan
penambahan sebab UU Mata
Uang sudah sa ngat clear, jelas
mengatakan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia
satu-satunya hanya r upiah.
Dan yang membuat UU Mata
Uang ‘kan bukan BI juga, tapi
pemerintah dan DPR,” ujar
Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam
webinar Smar t FM 'Uang
Kripto, Perlukah Diregulasi?,
Sabtu (8/5).
Menurut Erwin, jika ada mata
uang lain yang berlaku selain
rupiah di Indonesia, maka akan
memenga ruhi kedaulatan negara. Meskipun ia memahami,
masyarakat saat ini tengah
menggemari mata uang kripto.
“Urgensinya apa ju ga? Saya sih
nggak lihat urgensinya mengubah UU hanya untuk mengakomodasi minat masyarakat
yang nggak ada dasarnya itu,”
tegas Erwin.
Er win menilai, mata uang
kripto memiliki kesalahan nama
yang kemudian dijadikan sebagai aset untuk berinvestasi.
Pasalnya, nilai mata uang kripto saat ini melambung hanya
didasarkan pada supply dan
demand serta tidak memiliki
underlying asset seperti jenis
investasi lainnya. Oleh karena
itu, ia meminta masyarakat lebih
berhati-hati dalam melakukan
investasi.
“Ini ‘kan naik semata karena
demand-supply, beda dengan saham yang ada aset, diperdagangkan ada underlying asset dari
aktivitas perusahaan itu sendiri.
Nah, kripto ini, bagaimana dia
jelaskan, tidak ada aktivitas
ekonomi. Yang kredibel seperti
Bitcoin pun sebetulnya tidak ada
underlying asset-nya. Karena
orang percaya nilainya akan
naik, dengan sendirinya harga
naik, walaupun dia baseless,”
tegas dia
(Oleh - HR1)
Wika dan Waskita akan Tawarkan Sejumlah Proyek Tol pada SWF
JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk
(Wika) dan PT Waskita
Karya (Persero) Tbk akan
menawarkan beberapa proyek infrastruktur jalan tol
kepada Sovereign Wealth
Fund (SWF) atau Indonesia
Investment Authority (INA)
untuk meleverage (mengungkit) bisnis perseroan.
Direktur Utama PT Wijaya
Karya (Persero) Tbk (Wika)
Agung Budi Waskito menyampaikan proyek-proyek
lama Wika sebagian sedang
diajukan. Hanya saja karena
konsorsium seperti di Jalan
Tol Balikpapan-Samarinda
dan Manado-Bitung termasuk
yang sedang diprakarsai akan
didorong untuk dibiayai SWF.
Apalagi, lanjut dia, investasi ke depan banyak yang
baru seperti pembangkit
listrik tenaga surya (PLTS),
energi terbarukan, kemudian belum lama ini Wika
juga memenangkan tender
Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jati Luhur. Dengan menawarkan proyek
ke SWF, kata dia, membuat
perseroan lebih confident.
Bukan hanya itu, hadirnya SWF sekaligus menjadi
penyemangat Wika untuk
lebih banyak membangun
infrastruktur di Indonesia.
Pasalnya, dengan mendapat
injection pendanaan dari
SWF, otomatis akan dapat
me-leverage Wika untuk
mengerjakan proyek lain.
Hal senada juga disampaikan Direktur Operasi
PT Waskita Karya (Persero) Tbk Bambang Rianto.
Menurut dia, kehadiran
SWF jika dilihat dari benchmarking di Norwegia
dan Singapura, manfaatnya
sangat besar untuk melakukan aset recycle sehingga
pembangunan infrastruktur
menjadi berkelanjutan.
(Oleh - HR1)
Waspadai Gelembung di Pasar Aset Kripto
JAKARTA – Di tengah
lonjakan harga aset mata
uang kripto, investor
diimbau tetap harus
waspada dan hati-hati
menyikapinya. Sebagai
contoh, harga dogecoin,
salah satu aset kripto,
melonjak 400% dalam
kurun waktu seminggu.
Hal ini memicu
kekhawatiran terjadinya
gelembung (bubble) di
pasar aset kripto atau
cryptocurrency.
“Para pakar investasi mengingatkan,
ketika semua orang melakukan itu,
gelembung harga akhirnya harus
meledak dan investor pemula akan
dibiarkan merugi jika tidak bisa keluar
tepat waktu. Celakanya, sulit untuk
memastikan kapan gelembung itu
akan pecah. Artinya, unsur tiba-tiba,
dadakan, kejutan, senantiasa membayangi mereka yang berinvestasi di aset
kripto,” kata Ekonom dan Staf Ahli
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ryan
Kiryanto dalam keterangan tertulis,
Minggu (9/5).
Sementara itu, berdasarkan survei
Bank of America, hampir 3 dari 4 atau
setara 74% dari responden investor
profesional melihat bitcoin sebagai
gelembung. Mereka juga menilai
bitcoin ada di peringkat kedua daftar
perdagangan yang paling ramai, tepat
di belakang saham teknologi. Tak
heran, jika beberapa investor sudah
memandang bitcoin sebagai gelembung spekulatif.
Mata uang kripto paling kondang,
bitcoin, telah memiliki kapitalisasi
pasar (market capitalization) di atas
US$ 1 triliun setelah lonjakan harga
yang terjadi pada tahun ini. Harga
bitcoin sempat menyentuh level US$
58.858. Alhasil, total kapitalisasi pasar
mata uang kripto ini telah menembus
US$ 2 triliun untuk pertama kalinya
dalam sejarah. Hal ini didorong oleh
lonjakan yang terjadi selama dua bulan
terakhir seiring dengan kenaikan permintaan dari investor institusi. Untuk
bitcoin, harganya bergerak cenderung
positif seiring dengan keterlibatan
investor institusional yang berniat
meningkatkan return-nya.
Namun untuk berinvestasi, BI
mengimbau masyarakat untuk berhatihati karena berinvestasi di cryptocurrency dengan alasan underlying
asset (aset dasar) yang tidak jelas dan
risiko yang tinggi. Dalam artian lain,
mengingat aspek spekulatifnya begitu tinggi, maka investor, lebih-lebih
investor pemula, termasuk investor
milenial, harus cermat, cerdas dan
berhati-hati sebelum memutuskan
berinvestasi di aset kripto ini.
(Oleh - HR1)
Upaya Normalisasi Defisit, Saatnya Pangkas Anggaran Belanja
Bisnis, JAKARTA — Pemerintah perlu menginjak pedal rem anggaran belanja secara signifikan untuk menjaga amanah UU No. 2/2020 agar defisit anggaran harus kembali di bawah 3% dari produk domestik bruto pada 2023. Jika pengeluaran tak ditekan, normalisasi defisit hanya akan menjadi angan senja.
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mencatat, ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan normalisasi defisit sebagai salah satu bagian dari konsolidasi fiskal pada 2023.
Pertama menekan belanja, dan kedua menaikkan penerimaan negara. Dua opsi tersebut selalu dijadikan pilihan oleh banyak negara untuk memulihkan kondisi fiskal yang tertekan cukup dalam.
Pemangkasan belanja dilakukan di antaranya melalui pemotongan pengeluaran operasional yang mencakup gaji pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN), dan penyesuaian anggaran subsidi.
Catatan serupa juga dituliskan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).
Lembaga itu menilai pemerintah menghadapi tantangan jangka menengah berupa pemenuhan mandat untuk menurunkan defisit kembali di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2023.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan secara realistis, melihat permintaan agregat yang masih lemah dan penerimaan negara yang masih rendah hingga saat ini, hampir tidak mungkin pemerintah dapat memenuhi mandat tersebut tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.
Dalam APBN 2021, pemerintah menetapkan peningkatan target penerimaan dan belanja negara masing-masing menjadi Rp1.743,6 triliun dan Rp2.750,0 triliun. Menurutnya, pemerintah perlu terus mengoptimalkan sumber penerimaan agar target tersebut tercapai dan defisit anggaran dapat ditekan. Namun, kondisi saat ini dinilai masih kurang kondusif bagi pemerintah karena ekonomi yang tertekan akibat Covid-19 dan beberapa kebijakan terkait perpajakan yang memangkas potensi penerimaan selama pandemi Covid-19. Di sisi lain, belanja negara juga ditargetkan meningkat. Inilah yang kemudian menjadi penghambat misi konsolidasi fiskal yang digaungkan pemerintah. Teuku pun menyarankan agar porsi belanja nonprioritas sedikit ditekan.(Oleh - HR1)









