;

Ongkos Produksi dan Harga Jual Impit Peternak

Mohamad Sajili 10 May 2021 Kompas

Kenaikan ongkos produksi ayam ras berpotensi bakal berlanjut hingga bulan depan. Saat bersamaan harga jual ayam di tingkat peternak terancam anjlok seiring dengan akan turunnya permintaan pasca-Ramadhan dan Lebaran 2021. Kerugian peternak diperkirakan meningkat.

Pusat Informasi Harga Pangan Strategis mencatat, rata-rata nasional harga daging ayam ras di pasar tradisional per Jumat (7/5/5021) mencapai Rp 37.000 per kilogram (kg). Ada kenaikan dari awal April yang Rp 34.750 per kg dan awal Mei 2021 yang Rp 36.000 per kg. Regulasi mengatur harga acuan penjualan di tingkat konsumen Rp 35.000 per kg dan di tingkat peternak Rp 19.000-21.000 per kg.

Meski harga di tingkat konsumen di atas harga acuan, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Jawa Tengah Pardjuni menyatakan, peternak tetap menjual ayam pedaging Rp 19.000–Rp 20.000 per kg karena ada acuan. ”Di Jawa Tengah, ada peternak yang menjual Rp 18.000 per kg. Padahal, kami sedang menanggung rugi akibat naiknya harga pakan yang saat ini Rp 7.700–Rp 8.150 per kg. Pada awal tahun, harganya Rp 7.200 per kg,” ujarnya, Minggu (9/5/2021).


Tiga Perusahaan Dana Pensiun Memilih Pensiun Dini

Mohamad Sajili 10 May 2021 Kontan

Jumlah pemain dana pensiun terus berkurang sejak beberapa tahun terakhir. Namun kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kinerja industri yang masih mencatatkan pertumbuhan investasi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja membubarkan tiga penyelenggaran dana pensiun. Yaitu Dana Pensiun Unggul Indah Cahaya, Dana Pensiun Pegawasi RS Budi Kemuliaan dan Dana Pensiun Pfizer Indonesia. Pembubaran itu pada periode April - Mei 2021.

Deputi Komisioner Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, Anggar Budhi Nuraini mengatakan, pembubaran tersebut sudah sesuai dengan Keputusan Dewan Komisioner. "Pembubaran dilakukan atas permohonan pendiri dana pensiun untuk efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan program pensiun, " kata Anggar, dalam keterangan resmi, pekan lalu. Setelah pembubaran tersebut, tim likuidasi akan melakukan proses likuidasi sesuai ketentuan Peraturan OJK Nomor 9/POJK.05/2014 tentang Pembubaran dan Likuidasi Dana Pensiun. "OJK mengimbau kepada peserta dana pensiun untuk tetap tenang karena dana mereka akan dialihkan ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) dengan memenuhi ketentuan yang berlaku.

Merujuk data OJK, sampai dengan Maret 2021 terdapat 214 pemain dana pensiun. Jumlah itu memang terus berkurang dibandingkan Maret tahun sebelumnya yang mencapai 219 pelaku usaha di bisnis dana pensiun.

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), Bambang Sri Muljadi mengatakan berkurangnya jumlah pemain dana pensiun disebabkan beberapa faktor. Namun sebagian besar karena pendiri kesulitan keuangan menambah iuran peserta. Mereka juga rata-rata adalah pemain kecil. "Ke depan, dana pensiun semakin berkurang khususnya dari program manfaat pastu. Selain bubar, ada beberapa dana pensiun yang akan konversi ke program iuran pasti, " ungkap Bambang.

Walaupun berkurang, namun imbal hasil investasi (Rol) industri dana pensiun terus tumbuh. Secara industri, dana pensiun mencatatkan Rol sebesar 1,63% per Maret 2021. Nilai itu naik dari Maret 2020 senilai 1,52%. Dengan realisasi itu, ia memperkirakan strategi investasi dana pensiun akan tetap konservatif pada tahun ini. Investasi mereka akan lebih berorientasi pada liabilitas untuk menghindari risiko mismatch dengan likuiditas. "Artinya, komposisi investasi dana pensiun tidak banyak perubahan, " lanjutnya.

BNI Bakal Tutup 96 Kantor Cabang Tahun Ini

Fadilla Anggraini 10 May 2021 CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berencana menutup 96 kantor cabang (kacab) di seluruh Indonesia tahun ini. Hal itu dilakukan seiring melesatnya transaksi digital yang dilakukan oleh nasabah.

"Hampir 80 % volume transaksi itu sudah dilakukan secara digital, sehingga tinggal sedikit orang yang masih berinteraksi langsung. Ini masih ada karena beberapa alasan yang mungkin mereka lebih senang data ke cabang, tapi pelan-pelan kami akan shifting ke transaksi digital," ujar Direktur Layanan dan Jaringan BNI Ronny Venir, dikutip Antara, Senin (10/5).

Ronny menjelaskan transaksi yang dilayani oleh teller di kantor cabang kian menurun. Satu teller yang biasanya melakukan 150-200 transaksi, kini telah berkurang hampir 60 %.

"Dengan berkurangnya transaksi ini, kami mengurangi jumlah teller yang sudah dialihkan ke mesin. Begitu juga dengan kegiatan di customer service, biasanya rata-rata nasabah customer service itu 50-an, sekarang sudah berkurang," kata Ronny.

Sementara itu, Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BNI YB Hariantono mengungkapkan pihaknya beroperasi dengan dual mode. Di satu sisi layanan digital ditingkatkan, tapi layanan non-digital juga tetap berjalan.

"Khusus untuk layanan digital, kami melihat segmen masing-masing. Untuk segmen konsumer, fokus kami adalah layanan untuk mobile banking. Kami punyachannel yang banyak, kami masih punya channel ATM, internet banking, EDC, agent banking, tapi untuk konsumer yang self service-nya akan fokusnya di mobile banking," ujar Hariantono.

Sementara untuk segmen korporasi, perseroan bakal mengembangkan BNI Direct yang merupakan manajemen kas untuk perusahaan-perusahaan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran pajak, bank garansi, dan sebagainya.

Walau demikian, dia mengatakan khususnya di daerah masih dibutuhkan kantor-kantor cabang untuk melayani nasabah.

"Ada juga kalau mungkin pergi ke daerah-daerah tertentu yang digital literasinya tidak terlalu tinggi, mereka masih punya preferensi untuk melakukan transaksi di cabang. Jadi mungkin untuk kota-kota yang tidak terlalu urban, mereka mungkin lebih membutuhkan layanan di cabang-cabang," terangnya.

Survei BI: Konsumen Kembali Optimis, Pertama Sejak April 2020

Fadilla Anggraini 10 May 2021 CNN Indonesia

Jakarta, CNN Indonesia -- Survei Bank Indonesia (BI) mengindikasikan konsumen kian optimis terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2021 sebesar 101,5 yang masuk ke zona optimis.

Sebagai catatan, IKK di level 100 atau lebih menunjukkan sikap optimis konsumen. Sebaliknya, IKK di bawah 100 mencerminkan pesimistis masyarakat untuk melakukan konsumsi.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan capaian meningkat dibandingkan Maret 2021, kala itu IKK sebesar 93,4.

"IKK April 2021 juga merupakan angka optimisme pertama kali sejak IKK masuk zona pesimis pada April 2020," terang Erwin lewat rilis resmi, Senin (10/5).

BI menyebut keyakinan konsumen terpantau membaik pada seluruh kategori tingkat pengeluaran responden, tingkat pendidikan, dan kelompok usia responden.

Secara spasial, keyakinan konsumen membaik di 18 kota yang disurvei, dengan keyakinan tertinggi di kota Padang, diikuti oleh Bandung, dan Pangkal Pinang.

Berdasarkan hasil survei, disimpulkan kalau peningkatan optimisme konsumen pada April 2021 didorong oleh membaiknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Kondisi ekonomi yang dimaksud ialah aspek ketersediaan lapangan kerja, ekspansi kegiatan usaha yang meningkat, dan penghasilan yang meningkat pada 6 bulan yang akan datang.

Sementara itu, persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini terpantau membaik, didorong oleh perbaikan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan, dan ketepatan waktu pembelian barang tahan lama.

4 Negara Eropa Teken Kerja Sama Dagang, Kabar Baik Buat Sawit RI

Mohamad Sajili 10 May 2021 Sinar Indonesia Baru

Sejumlah negara di Eropa sudah menandatangani perjanjian kerja sama ekonomi Indonesia EFTA-CEPA. Penandatanganan ini diyakini bisa jadi angin segar bagi komoditas perdagangan Indonesia terutama produk sawit.

Produk sawit belakangan ini menjadi persoalan di pasar Eropa karena terkait isu lingkungan. Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengatakan, penandatanganan Indonesia EFTA-CEPA merupakan peluang yang sangat positif, termasuk dalam kaitannya dengan penerimaan produk kelapa sawit Indonesia.

Penerimaan EFTA terhadap produk kelapa sawit Indonesia ini menunjukkan bahwa resistensi sebenarnya tidak dilakukan oleh semua negara Eropa. Empat negara, yaitu Lietchtenstein, Swiss, Norwegia dan Islandia menambah deretan negara-negara Eropa yang sebenarnya menerima kelapa sawit kita.

Karena hal tersebut, pasar ekspor sawit RI makin besar. Pada intinya, negara-negara Uni Eropa harus melihat persoalan sawit dengan obyektif dan proporsional. Kebutuhan minyak nabati semakin besar di seluruh dunia. Tidak semua sumber minyak nabati bisa memenuhi kebutuhan dengan efisien seperti kelapa sawit.

Teknologi perkebunan, pemupukan, pengolahan air, pengolahan dan berbagai hal yang berkaitan dengan industri kelapa sawit terus berkembang. Ini membuat kelapa sawit akan makin efisien secara ekologis.


Valuasi Mega-IPO Unicorn US$ 100 M

R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Investor Daily, 10 Mei 2021

JAKARTA – Rencana raksasa unicorn dan decacorn Indonesia untuk go public akan dipercepat. Beberapa unicorn-decacorn yang berniat menggelar penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) sudah menyerahkan dokumen ke PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan kini masih diproses.

Unicorn atau decacorn terutama yang berniat melantai di bursa domestik dan luar negeri (dual listing), harus menyelesaikan sejumlah prosedur dan administrasi yang diperlukan. Sejauh ini, mega-IPO empat unicorn dan decacorn yang menggelar dual listing berpotensi menghasilkan valuasi sekitar US$ 100 miliar. Di lain sisi, BEI harus merevisi peraturan pencatatan agar dapat mengakomodasi IPO perusahaan new economy yang berbeda dengan perusahaan konvensional. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengatakan, sampai saat ini terdapat tiga perusahaan unicorn dan decacorn yang telah menyerahkan dokumennya untuk mempersiapkan diri menggelar IPO. Namun demikian, Inarno belum bisa menjelaskan secara detail siapa saja yang telah menyerahkan dokumen tersebut.

Untuk investor domestik, PT Astra International menginjeksikan total dana senilai US$ 250 juta dalam dua tahap, yakni US$ 150 juta pada 2018 dan US$ 100 juta pada 2019. Selain itu, PT Telkomsel mengalirkan dana US$ 150 juta ke Gojek. Ada juga Northstar Pacific milik pengusaha kondang Patrick Waluyo. Beberapa nama investor besar luar negeri yang berada di belakang Gojek adalah Facebook, Google, Sofbank,Temasek (Anderson Investment Pte Ltd), Tencent Holdings, Paypal, Sequoia Capital, Allianz Strategic Investments SARL, Asean China Investment Fund (US) III LP, London Residential II SARL,PT Asuransi Jiwa Sequis Life, PT Union Sampoerna. Sedangkan investor besar penyuntik dana Tokopedia adalah Softbank, Alibaba (Taobao Cina Holdings), Temasek (Anderson Investments Pte), Google, Masayoshi Son, Sequoia Capital, East Venture, Radiant Pioneer Limited, Radiant Trinity Limited. Temasek dan Google pada Oktober 2020 dikabarkan menyuntikkan dana ke Tokopedia senilai US$ 350 juta.

Bukalapak dan Traveloka 

Bukalapak dan Traveloka juga berniat dual listing, yakni di BEI dan di Nasdaq, AS. Traveloka tengah dalam pembicaraan lanjutan dengan SPAC Bridgetown Holdings Ltd untuk memuluskan jalan ke bursa AS. Keduanya berencana merger dan perusahaan gabungan itu berpotensi menaikkan valuasi Traveloka yang dinakhodai oleh Ferry Unardi ini menjadi  sekitar US$ 5 miliar. Transaksi tersebut berpotensi menggalang dana sekitar US$ 500-750 juta melalui skema investasi swasta di ekuitas publik (private investment in public equity/PIPE).

Sebagai salah satu perusahaan teknologi terdepan di Asia Tenggara, kata Reza, pencatatan saham Traveloka di Wall Street akan menempatkan perseroan pada liga yang sama dengan perusahaan teknologi kelas dunia lainnya yang juga tercatat di bursa AS tersebut. Demikian pula Bukalapak berniat listing di bursa AS melalui skema SPAC. Aksi merger dengan SPAC itu diperkirakan akan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar. Bukalapak baru saja mengantongi pendanaan baru hingga US$ 234 juta yang dipimpin oleh Microsoft, GIC Singapura, dan Emtek. Untuk IPO di BEI, Bukalapak menunjuk Mandiri Sekuritas sebagai penjamin emisi.

IPO Grab-Altimeter

Selain tiga unicorn tersebut, decacorn Grab sudah melangkah lebih maju dalam rencana untuk menggelar IPO di Nasdaq, AS . Grab Holdings Inc menggandeng SPAC Altimeter Growth Corp. Aksi IPO tersebut menargetkan perolehan dana segar hingga US$ 4,5 miliar. Aksi ini berpotensi menjadi penawaran saham terbesar yang pernah ada oleh perusahaan Asia Tenggara di Bursa AS. Altimeter Growth dan Grab akan menjadi anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan induk baru. Perusahaan gabungan tersebut diharapkan memiliki valuasi ekuitas secara proforma sekitar US$ 39,6 miliar serta investasi swasta pada ekuitas publik (private investment in public equity/PIPE) senilai US$ 4 miliar. Altimeter telah memberikan komitmen hingga US$ 500 juta sebagai bentuk contingent investments.

Berdampak Positif 

Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia Bari Arijono menyatakan bahwa mega-merger Gojek dan Tokopedia dan langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi. Pertama, merger dan IPO ini akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO yang akan melibatkan SPAC merupakan kepentingan investor, yang kurang memberikan manfaat bagi ekonomi digital di Indonesia dan dampaknya ke masyarakat. Startegi meraih dana global dengan menggandeng SPAC ini sukses dijalankan di AS, Hongkong, Jepang, dan Tiongkok. Kedua, merger ini bukan dalam rangka meningkatkan skala ekonomi perusahaan. Ketiga, merger ini cenderung menghilangkan kesempatan bagi milenial untuk berinovasi. Visi misi awal yang diusung Gojek dan Tokopedia bisa jadi kehilangan arah dan marwahnya, karena disetir oleh investor.

Sedangkan Direktur Panin Asset Management Rudiyanto berpendapat, rencana IPO sejumlah unicorn-decacorn akan memperkaya pilihan por tofolio saham bagi investor, khususnya saham teknologi dengan kapitalisasi besar yang selama ini belum ada. Hal ini tentunya akan sangat menarik lebih banyak dana asing yang masuk ke bursa domestik. Dia yakin IPO unicorn akan disambut positif pelaku pasar dan investor. “Dengan kapitalisasi pasar yang besar, manajer investasi juga akan mempertimbangkan sebagai bagian dari portofolio reksa dana,” katanya kepada Investor Daily. Hal senada dikemukakan Presiden Direktur Shinhan Asset Management Indonesia Tjiong Toni. Menurut dia, bursa akan menjadi lebih menarik buat investor asing maupun domestik, karena menambah pilihan emiten berkapitalisasi besar kategori new economy. “Yang ada sekarang hanya ada lima saham sekelas super bluechip seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII. Mereka adalah perusahaan old era economy,” ujarnya.

(Oleh - HR1)

Tidak Ada Urgensi Revisi UU Mata Uang

R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Investor Daily, 10 Mei 2021

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan, mata uang kripto (cryptocurrency) bukan merupakan alat pembayaran yang sah di Indonesia dan hanya rupiah satu-satunya yang diakui. Karena itu, bank sentral menilai, tidak ada urgensi untuk merevisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang demi mengakomodasi penggunaan mata uang kripto seperti Bitcoin.

“Dalam hal pembayaran, tidak perlu lagi ada pengaturan penambahan sebab UU Mata Uang sudah sa ngat clear, jelas mengatakan bahwa alat pembayaran yang sah di Indonesia satu-satunya hanya r upiah. Dan yang membuat UU Mata Uang ‘kan bukan BI juga, tapi pemerintah dan DPR,” ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam webinar Smar t FM 'Uang Kripto, Perlukah Diregulasi?, Sabtu (8/5). Menurut Erwin, jika ada mata uang lain yang berlaku selain rupiah di Indonesia, maka akan memenga ruhi kedaulatan negara. Meskipun ia memahami, masyarakat saat ini tengah menggemari mata uang kripto. “Urgensinya apa ju ga? Saya sih nggak lihat urgensinya mengubah UU hanya untuk mengakomodasi minat masyarakat yang nggak ada dasarnya itu,” tegas Erwin.

Er win menilai, mata uang kripto memiliki kesalahan nama yang kemudian dijadikan sebagai aset untuk berinvestasi. Pasalnya, nilai mata uang kripto saat ini melambung hanya didasarkan pada supply dan demand serta tidak memiliki underlying asset seperti jenis investasi lainnya. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat lebih berhati-hati dalam melakukan investasi. “Ini ‘kan naik semata karena demand-supply, beda dengan saham yang ada aset, diperdagangkan ada underlying asset dari aktivitas perusahaan itu sendiri. Nah, kripto ini, bagaimana dia jelaskan, tidak ada aktivitas ekonomi. Yang kredibel seperti Bitcoin pun sebetulnya tidak ada underlying asset-nya. Karena orang percaya nilainya akan naik, dengan sendirinya harga naik, walaupun dia baseless,” tegas dia

(Oleh - HR1)

Wika dan Waskita akan Tawarkan Sejumlah Proyek Tol pada SWF

R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Investor Daily, 10 Mei 2021

JAKARTA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk akan menawarkan beberapa proyek infrastruktur jalan tol kepada Sovereign Wealth Fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk meleverage (mengungkit) bisnis perseroan. Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (Wika) Agung Budi Waskito menyampaikan proyek-proyek lama Wika sebagian sedang diajukan. Hanya saja karena konsorsium seperti di Jalan Tol Balikpapan-Samarinda dan Manado-Bitung termasuk yang sedang diprakarsai akan didorong untuk dibiayai SWF.

Apalagi, lanjut dia, investasi ke depan banyak yang baru seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), energi terbarukan, kemudian belum lama ini Wika juga memenangkan tender Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jati Luhur. Dengan menawarkan proyek ke SWF, kata dia, membuat perseroan lebih confident. Bukan hanya itu, hadirnya SWF sekaligus menjadi penyemangat Wika untuk lebih banyak membangun infrastruktur di Indonesia. Pasalnya, dengan mendapat injection pendanaan dari SWF, otomatis akan dapat me-leverage Wika untuk mengerjakan proyek lain.

Hal senada juga disampaikan Direktur Operasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk Bambang Rianto. Menurut dia, kehadiran SWF jika dilihat dari benchmarking di Norwegia dan Singapura, manfaatnya sangat besar untuk melakukan aset recycle sehingga pembangunan infrastruktur menjadi berkelanjutan.

(Oleh - HR1)

Waspadai Gelembung di Pasar Aset Kripto

R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Investor Daily, 10 Mei 2021

JAKARTA – Di tengah lonjakan harga aset mata uang kripto, investor diimbau tetap harus waspada dan hati-hati menyikapinya. Sebagai contoh, harga dogecoin, salah satu aset kripto, melonjak 400% dalam kurun waktu seminggu. Hal ini memicu kekhawatiran terjadinya gelembung (bubble) di pasar aset kripto atau cryptocurrency.

“Para pakar investasi mengingatkan, ketika semua orang melakukan itu, gelembung harga akhirnya harus meledak dan investor pemula akan dibiarkan merugi jika tidak bisa keluar tepat waktu. Celakanya, sulit untuk memastikan kapan gelembung itu akan pecah. Artinya, unsur tiba-tiba, dadakan, kejutan, senantiasa membayangi mereka yang berinvestasi di aset kripto,” kata Ekonom dan Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ryan Kiryanto dalam keterangan tertulis, Minggu (9/5). Sementara itu, berdasarkan survei Bank of America, hampir 3 dari 4 atau setara 74% dari responden investor profesional melihat bitcoin sebagai gelembung. Mereka juga menilai bitcoin ada di peringkat kedua daftar perdagangan yang paling ramai, tepat di belakang saham teknologi. Tak heran, jika beberapa investor sudah memandang bitcoin sebagai gelembung spekulatif.

Mata uang kripto paling kondang, bitcoin, telah memiliki kapitalisasi pasar (market capitalization) di atas US$ 1 triliun setelah lonjakan harga yang terjadi pada tahun ini. Harga bitcoin sempat menyentuh level US$ 58.858. Alhasil, total kapitalisasi pasar mata uang kripto ini telah menembus US$ 2 triliun untuk pertama kalinya dalam sejarah. Hal ini didorong oleh lonjakan yang terjadi selama dua bulan terakhir seiring dengan kenaikan permintaan dari investor institusi. Untuk bitcoin, harganya bergerak cenderung positif seiring dengan keterlibatan investor institusional yang berniat meningkatkan return-nya.

Namun untuk berinvestasi, BI mengimbau masyarakat untuk berhatihati karena berinvestasi di cryptocurrency dengan alasan underlying asset (aset dasar) yang tidak jelas dan risiko yang tinggi. Dalam artian lain, mengingat aspek spekulatifnya begitu tinggi, maka investor, lebih-lebih investor pemula, termasuk investor milenial, harus cermat, cerdas dan berhati-hati sebelum memutuskan berinvestasi di aset kripto ini.

(Oleh - HR1)

Upaya Normalisasi Defisit, Saatnya Pangkas Anggaran Belanja

R Hayuningtyas Putinda 10 May 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Pemerintah perlu menginjak pedal rem anggaran belanja secara signifikan untuk menjaga amanah UU No. 2/2020 agar defisit anggaran harus kembali di bawah 3% dari produk domestik bruto pada 2023. Jika pengeluaran tak ditekan, normalisasi defisit hanya akan menjadi angan senja.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mencatat, ada dua opsi yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan normalisasi defisit sebagai salah satu bagian dari konsolidasi fiskal pada 2023.

Pertama menekan belanja, dan kedua menaikkan penerimaan negara. Dua opsi tersebut selalu dijadikan pilihan oleh banyak negara untuk memulihkan kondisi fiskal yang tertekan cukup dalam.

Pemangkasan belanja dilakukan di antaranya melalui pemotongan pengeluaran operasional yang mencakup gaji pegawai negeri sipil (PNS) atau aparatur sipil negara (ASN), dan penyesuaian anggaran subsidi.

Catatan serupa juga dituliskan oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI).

Lembaga itu menilai pemerintah menghadapi tantangan jangka menengah berupa pemenuhan mandat untuk menurunkan defisit kembali di bawah 3% dari produk domestik bruto (PDB) pada 2023.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan secara realistis, melihat permintaan agregat yang masih lemah dan penerimaan negara yang masih rendah hingga saat ini, hampir tidak mungkin pemerintah dapat memenuhi mandat tersebut tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi.

Dalam APBN 2021, pemerintah menetapkan peningkatan target penerimaan dan belanja negara masing-masing menjadi Rp1.743,6 triliun dan Rp2.750,0 triliun. Menurutnya, pemerintah perlu terus mengoptimalkan sumber penerimaan agar target tersebut tercapai dan defisit anggaran dapat ditekan. Namun, kondisi saat ini dinilai masih kurang kondusif bagi pemerintah karena ekonomi yang tertekan akibat Covid-19 dan beberapa kebijakan terkait perpajakan yang memangkas potensi penerimaan selama pandemi Covid-19. Di sisi lain, belanja negara juga ditargetkan meningkat. Inilah yang kemudian menjadi penghambat misi konsolidasi fiskal yang digaungkan pemerintah. Teuku pun menyarankan agar porsi belanja nonprioritas sedikit ditekan.

(Oleh - HR1)

Pilihan Editor