Industri Pengolahan Baja, Pengenaan Bea Masuk Antidumping Terus Dibahas
Bisnis, JAKARTA — Tim Pertimbangan Kepentingan Nasional tengah membahas usulan pengenaan bea masuk antidumping (BMAD) untuk bahan baku baja lapis aluminium seng atau BjLAS. Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menyatakan usulan BMAD tersebut ditujukan bagi komoditas BjLAS asal Vietnam dan China. Adapun hal tersebut telah disampaikan kepada pemerintah sejak Februari 2021.Ketua KADI Bachrul Chairi mengatakan pembahasan pengenaan BMAD untuk BjLAS cukup alot di pemerintah.
Saat ini, Bachrul menyebut Vietnam dan China melakukan dumping berkisar 25%-30% di bawah harga jual industri di dalam negeri. Namun, bagi Bachrul hal itu justru menimbulkan pertanyaan akan ketahanan industri dalam negeri sendiri. Dari sisi kapasitas, menurut kajian KADI, Indonesia pada 2018 memang belum mampu memenuhi kebutuhan BjLAS dalam negeri. Namun, ketika sudah ada komitmen pemerintah menerapkan fair trade, ada tambahan kapasitas dari dua perusahaan baru.
Di sisi lain, sejumlah proyek pemerintah diproyeksi bakal mangkrak bila BMAD untuk BjLAS diterapkan.Wakil Ketua Umum BPP Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Bidang Logistik dan Kepelabuhanan Erwin Taufan mengatakan importir kesulitas membeli BjLAS.
(Oleh - HR1)
Relaksasi PPN, Developer Mulai Tersentuh Dampak Insentif
Bisnis, SURABAYA — Relaksasi pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor properti sudah mulai dirasakan oleh kalangan developer di Surabaya Jawa Timur karena cukup berpengaruh terharap penjualan rumah atau apartemen ready stock.
Senior Director Ciputra Group Sutoto Yakobus mengatakan penjualan pada semester I tahun ini menunjukkan tren yang positif karena terbantu oleh kebijakan pembebasan PPN sampai DP (down payment) 0%.
“Secara keseluruhan di Ciputra Surabaya cukup baik karena dampak policy yang cukup bervariasi, dan kami juga cukup banyak stok sehingga relaksasi itu bisa dinikmati oleh market,” katanya saat Buka Bersama Ciputra, Selasa (4/5) malam.
Realisasi penjualan
Dalam kesempatan berbeda, General Manager Marketing Pakuwon Group Hario Utomo mengungkapkan kegiatan pameran Pakuwon yang berlangsung pada akhir Maret 2021 mampu merealisasikan penjualan mencapai Rp300 miliar. Realisasi penjualan tersebut melebih target penjualan selama pameran yakni Rp200 juta.
“Ini artinya antusiasme konsumen untuk membeli properti terutama yang mendapat relaksasi bebas PPN itu sangat tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kantor Cabang Medan mencatat realisasi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi di wilayah Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, dan Langkat hingga 25 April 2021 sebanyak 1.000 unit senilai Rp150 miliar.
(Oleh - HR1)
Rencana Kenaikan PPN, Inkonsistensi Skema Pajak Konsumsi
Bisnis, JAKARTA — Rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai pada tahun depan mencerminkan inkonsistensi pemerintah dalam mengatur skema pajak konsumsi. Sebab sebelumnya otoritas fiskal memilih opsi perluasan basis pajak untuk meningkatkan penerimaan dari sektor ini.
Berdasarkan Rencana Strategis Kementerian Keuangan 2020—2024, diusulkan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Pajak atas Barang dan Jasa.
Rencananya, RUU ini akan menggantikan konsep Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang selama ini berlaku.
Adapun urgensi pembentukan RUU Pajak atas Barang dan Jasa itu adalah meningkatkan kepatuhan PPN di Indonesia serta memperluas tax base sehingga dapat meningkatkan penerimaan dari PPN.
Perluasan tax base pengenaan pajak konsumsi tersebut dilakukan melalui penataan ulang perlakuan pajak atas barang dan jasa yang lebih membatasi pemberian fasilitas dan pengaturan ulang batasan pengusaha kena pajak.
Alih-alih merealisasikan rencana strategis tersebut, pemerintah justru berencana untuk menaikkan tarif PPN pada 2022. Kenaikan ini merupakan bagian dari reformasi fiskal di bidang perpajakan untuk mendukung konsolidasi fiskal yang ditargetkan pada 2023.
Faktanya, menaikkan PPN memiliki konsekuensi yang sangat besar, yakni makin tergerusnya konsumsi masyarakat yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi nasional. (Bisnis, 5/5).
Pengajar Ilmu Administrasi Fiskal Universitas Indonesia (UI) Prianto Budi Saptono mengatakan memperluas basis pajak menjadi opsi terbaik yang bisa dipilih oleh pemerintah ketimbang menaikkan tarif PPN yang memiliki risiko besar.
(Oleh - HR1)
Komoditas Pertanian, Dorong Kemitraan Petani Jagung
Bisnis, BANDUNG — Pemerintah Kabupaten Bandung
mengembangkan pola kemitraan antara petani, perusahaan, dan
perbankan untuk komoditas
jagung hibrida. Bupati Bandung Dadang
Supriatna mengatakan
para petani di
Desa Cikasungka, Kecamatan
Cikancung, mulai
melirik bentuk sinergitas
ini di atas
lahan garapan seluas
3.000 hektare.
Dengan pola itu,
tutur bupati, semua sudah
dipersiapkan sejak awal. Mulai dari
proses penanaman, pemeliharaan, hingga pihak mana yang akan menampung
hasil panen.Risiko kerugian dari pihak petani dapat diminimalisir, meningkatkan hasil
produksi dan otomatis menambah penghasilan,
sehingga para
petani lebih sejahtera.“Pola kemitraan ini
tidak terbatas pada jagung saja, tapi bisa juga pada kedelai, padi
dan umbi-umbian. Kita akan dukung, kita
kawal dan pantau perkembangannya minimal satu bulan
sekali, bagaimana ke-lanjutan dan
hasil produksinya,” tuturnya.
Kepala Dinas Pertanian
(Kadistan) Kabupaten Bandung A Tisna Umaran menjelaskan
meskipun di luar
musim atau off season, penanaman hari
itu merupakan kesanggupan dari
para petani Cikasungka.“Ada kesanggupan dari
kelompok tani untuk ceboran, sebagai bentuk memulai. Karena
saya dengar ini ada yang
membiayai, juga ada yang menampung.
Pola seperti itu saya
pikir sangat baik
karena intinya pertanian
itu kan bisnis, bukan hanya
kegiatan bercocok tanamnya,” terang
Tisna.
(Oleh - HR1)
Indosat Resmi Jual Menara Rp 10,47 Triliun
JAKARTA – PT Indosat Tbk
(ISAT) menjual sebanyak 4.247
menara telekomunikasi kepada
PT EPID Menara Assetco. Nilai
keseluruhan dari penjualan
menara itu mencapai Rp 10,47
triliun.
Sekretaris Perusahaan Indosat Billy Nikolas
Simanjuntak mengatakan, perseroan memiliki
rencana investasi dari tahun 2018 hingga beberapa tahun ke depan yang bertujuan untuk
meningkatkan layanan kepada pelanggan.
“Untuk mempercepat rencana itu, perseroan
mempertimbangkan inisiatif anorganik untuk
menjual menara,” kata dia dalam keterangan
tertulis, Rabu (5/5).
Karena itu, perseroan menyetujui untuk
menjual dan menyewa kembali 4.247 menara
telekomunikasi tersebut. Proses transaksi
yang dibagi dalam 5 paket ini diharapkan bisa
rampung sebelum 30 Juni 2021.
Dengan adanya penjualan menara ini,
perseroan bisa mempercepat peningkatan
layanan kepada pelanggan. Perseroan juga bisa
mengoptimasi struktur permodalan melalui
percepatan pembayaran sejumlah pinjaman.
President Director and CEO Indosat Ahmad
Al-Neama mengatakan, perseroan terus menjalankan strategi tiga tahun perusahaan dan
menjaga momentum pertumbuhan meski pandemi Covid-19 masih berlangsung. Pihaknya
optimistis pendapatan bisa bertumbuh sejalan
dengan pertumbuhan pendapatan industri
operator selular, sementara marjin EBITDA
diharapkan sekitar batas bawah level 40% pada
tahun ini.
“Peningkatan jaringan ini merupakan bagian
dari upaya perseroan mendukung transformasi
digital Indonesia yang sejalan dengan rencana
ekonomi digital pemerintah,” jelas dia saat
paparan kinerja, baru-baru ini.
(Oleh - HR1)
Social Bella Raih Pendanaan Rp 818 Miliar
JAKARTA – Sociall Bella, start-up
teknologi kecantikan (beauty-tech),
mengumumkan pendanaan terbarunya senilai Rp 818 miliar dari empat
investor yang dipimpin oleh L Catterton, perusahaan investasi dan
pengelola dana (private equity firm)
yang berpusat di Amerika Serikat.
Indies Capital, bersama dua pemegang saham Social Bella sebelumnya,
East Ventures dan Jungle Ventures,
juga turut berpartisipasi pada pendanaan di putaran kali ini. Pendanaan L
Catterton ke Social Bella merupakan
investasi pertamanya di Indonesia.
Sementara itu, bagi Social Bella, selain
menunjukkan potensi industri ritel kecantikan di Indonesia yang begitu besar di
Indonesia, pendanaan ini juga membuktikan kapabilitas serta kepemimpinan
perusahaan yang solid di industrinya.
President dan Co-founder Social
Bella Christopher Madiam mengatakan, tahun 2020 merupakan tahun
yang sulit. Akibat pandemi, kesehatan
dan mobilitas masyarakat sangat terdampak.
Principal L Catterton and Investment
Lead for Southeast Asia Yock Siong Tee
mengungkapkan, penetrasi industri kecantikan dan perawatan diri di kawasan
Asia Tenggara terus berkembang pesat
dengan pemain yang inovatif.
Lewat brand Sociolla, Social Bella
menjadi salah satu contoh yang menyediakan lebih banyak pilihan, produkproduk premium, dan terus meningkatkan jangkauannya, baik secara online
maupun offline terhadap konsumennya.
“Inovasi-inovasi yang dilakukan oleh
Sociolla mampu memuaskan, baik
konsumen serta brand principal secara seimbang,” tutur Yock Siong Tee.
(Oleh - HR1)
Tarif PPN Bakal Direvisi Menjadi Lebih Tinggi
JAKARTA – Menteri Koordinator
Bidang Perekonomian Airlangga
Hartarto mengungkapkan, pemerintah akan segera mengajukan revisi
aturan untuk menaikkan tarif pajak
pertambahan nilai (PPN) kepada
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Dengan rencana ini, tarif PPN yang
dibebankan ke konsumen dapat lebih
tinggi dari tarif biasanya yakni 10%.
“Tarif PPN, pemerintah masih
lakukan pembahasan dan dikaitkan
dengan UU yang akan diajukan ke
DPR terkait dengan RUU Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP), dan ini seluruhnya akan
dibahas oleh pemerintah, nanti pada
waktunya disampaikan,” ujar dia
dalam konferensi pers, Rabu (5/5).
Sebagai informasi, rencana ini
mengemuka dalam Rapat Koordinasi
Pembangunan Pusat 2021, seiring
dengan outlook penerimaan perpajakan di 2022 sebesar Rp 1.499,3 triliun
hingga Rp 1.528,7 triliun. Angka
tersebut 8,37% hingga 8,42% year on
year (yoy) dari proyeksi penerimaan
perpajakan tahun ini senilai Rp
1.444,5 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, terdapat empat
strategi yang dilakukan pemerintah
untuk mengejar target penerimaan
perpajakan 2022. Pertama, inovasi penggalian potensi dengan tetap
menjaga iklim investasi dan keberlanjutan dunia usaha.
Kedua, perluasan basis perpajakan
melalui e-commerce, cukai plastik,
dan menaikkan tarif PPN. Ketiga,
penguatan sistem perpajakan. Keempat, pemberian insentif fiskal secara
terukur.
(Oleh - HR1)
MPPA Gandeng JD.ID Perkuat Layanan Omni-channel
JAKARTA - PT Matahari Putra
Prima Tbk (MPPA) terus memperkuat layanan omni-channel O2O
melalui kolaborasi terbaru dengan
JD.ID. Kolaborasi ini memungkinkan MPPA menempatkan Toko
Virtual Resmi Hypermart, Foodmart, Primo, dan Hyfresh di JD.ID
untuk memberikan lebih banyak
akses dan kenyamanan bagi pelanggan dalam berbelanja berbagai
macam produk segar berkualitas
dan barang-barang rumah tangga.
“Mulai hari ini, 30 toko di Jabodetabek siap mendukung kolaborasi ini. Sementara MPPA akan
menambah lebih banyak toko
secara nasional ke dalam platform
sepanjang tahun 2021. MPPA juga
terus meningkatkan penawaran
online organiknya di Chat & Shop
by WhatsApp dan Hypermart Online e-commerce untuk solusi bisnis
ritel online lengkap bagi pelanggan
secara nasional di tengah pandemi
Covid-19 dan tren pertumbuhan
gaya hidup digital modern yang diadopsi oleh konsumen,” kata Corporate Secretary & Public Affairs
MPPA Danny Kojongian dalam
keterangan resmi, Rabu (5/5).
Terkait kolaborasi ini, Head of
Offline Business JD.ID Eyvette
Tung mengungkapkan kegembiraannya atas kolaborasi antar kedua
perusahaan. “JD.ID bukan hanya
platform ‘#DijaminOri’ atas produk
3C (komputer, elektronik rumah
tangga, dan perangkat komunikasi), tetapi juga merupakan platform belanja online ‘all-in-one’ dan
‘one-stop’ untuk semua kebutuhan
konsumen. Melalui kolaborasi ini,
kami berharap dapat memberikan
lebih banyak lagi pilihan produk
bagi pelanggan kami, terutama
produk makanan, makanan segar
segar, hingga perlengkapan rumah
tangga. Melalui kemitraan kami
dengan MPPA, kami pun akan tetap
setia pada komitmen untuk hanya
menyediakan produk berkualitas
tinggi, dengan layanan pengiriman
yang cepat dan andal,” kata Eyvette.
(Oleh - HR1)
Jadi Subholding, Pertaminan International Shipping Siap IPO
JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara
Erick Thohir meresmikan subholding pertama
PT Pertamina (Persero) yaitu PT Pertamina
International Shipping (PT PIS). Selanjutnya,
pemerintah menargetkan PIS dapat melantai di
Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun ini.
“Untuk go public tentu kami
melihat dari banyaknya corporate
action yang akan terjadi di market,
ada dari swasta ada BUMN, tentu
nanti window disesuaikan saat yang
tepat, tapi Insya Allah di tahun ini.
Kalau bulannya, kapannya kami
belum bisa, karena proses go public
itu tentu harus melakukan sosialisasi daripada pihak-pihak terkait,”
jelas Menteri BUMN Erick Thohir
dalam acara Peresmian PIS sebagai
Subholding Shipping Pertamina di
Jakarta, Rabu (5/5).
Erick menjelaskan transformasi
secara menyeluruh dilakukan sejak awal tahun 2020. Kementerian
BUMN memang sudah merapikan
road map dari masing-masing BUMN
sejak lama. Sayangnya, progres dari
masing-masing BUMN ada yang
cepat ada yang lamban. “Saya hari ini
mengapresiasi bahwa langkah yang
dilakukan Pertamina melakukan
transformasi ini cepat jadi bukan
masuk ke yang lambat,” katanya.
Rencana integrasi merupakan
bagian dari logistik kelautan, yang
tadinya hanya bisnis kapal sekarang
menjadi integrasi bisnis kelautan.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa langkah strategis tersebut merupakan bagian dari rencana Pertamina untuk mengintegrasikan bisnis dari PT PIS yang nantinya tidak hanya mengelola kapal-kapal tetapi juga sampai pada bisnis marine logistics. “Saya harap PT PIS dapat menjalankan amanah yang telah diberikan oleh PT Pertamina (Persero), dengan terus mengembangkan bisnisnya, menangkap setiap peluang bisnis yang ada, dan terus fokus untuk menjadi urat nadi pendistribusian energi untuk negeri,” ujarnya. Nicke mengatakan setelah resmi menjadi Subholding Shipping Pertamina, kini PIS mengelola 750 armada kapal, di mana 540 milik sendiri dan selebihnya sewa, serta mengelola enam pelabuhan dan terminal BBM dan LPG.
Pemain Global
PT Pertamina International Shipping (PIS), Subholding Shipping Pertamina, menargetkan bisa menjadi
pemain global di bidang perkapalan
dan logistik kelautan terintegrasi.
Terdapat tiga negara yang disasar
PIS untuk menangkap pertumbuhan
bisnis logistik perusahaan yakni
Thailand, Vietnam, dan Filipina.
Manager Business Development
Pertamina International Shipping
Dian Prama Irfani mengatakan,
beberapa negara Asia Tenggara
tersebut mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi atau
Produk Domestik Bruto (Gross
Domestic Product/ GDP). Alhasil,
ini juga berdampak pada peningkatan permintaan energi di negaranegara tersebut.
(Oleh - HR1)
Telkom Ikut Danai Fintech Cermati
JAKARTA – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM)
melalui anak usahanya, MDI Ventures, turut
berpartisipasi dalam pendanaan Seri C untuk
Cermati pada April 2021. Pendanaan tersebut akan
digunakan untuk mendukung pengembangan tim
dan produk Cermati.
CEO MDI Ventures Donald Wihardja menjelaskan, dengan dukungan TelkomGroup sebagai salah satu investor
utama, Cermati akan memperluas
distribusi produk mereka melalui jaringan luas yang dimiliki oleh TelkomGroup serta perusahaan-perusahaan
dan BUMN lainnya.
“Kami turut mendukung Cermati
dalam menawarkan produk-produk micro insurance dan micro lending supaya
bisa berperan penting terhadap inklusi
keuangan Indonesia,” ujar Donald
dalam keterangan resmi, Rabu (5/5).
Di lain pihak, Managing Partner
Centauri Fund Kenneth Li menjelaskan, bersama MDI Ventures, KB
Financial Group juga ikut ambil bagian
dalam investasi Cermati melalui KBMDI Centauri Fund. Dipilihnya Cermati karena KB-MDI Centauri Fund
melihat perusahaan ini potensi pertumbuhan yang masih sangat besar.
Karena itu, dengan ekosistem yang
dimiliki TelkomGroup dan KB Financial Group, pihaknya bisa membantu
mengakselerasi penetrasi keuangan
kepada segmen unbanked dan underbanked di Indonesia.
CEO dan Co-Founder Cermati.com
Andhy Koesnandar menjelaskan,
pihaknya mengapresiasi kerjasama
dengan MDI Ventures yang memiliki
keahlian dalam membangun perusahaan rintisan. Pihaknya berharap dapat memanfaatkan jaringan MDI yang
kuat di lingkungan Telkom Group
dan BUMN dapat meningkatkan kapabilitas produk dan aset kami. Investasi dan sinergi ini akan mempercepat
visi Cermati dalam memanfaatkan
teknologi untuk membantu mencapai
inklusi keuangan.
Direktur Strategic Portfolio Telkom
Budi Setyawan Wijaya mengatakan
bahwa investasi di Cermati akan
melengkapi ekosistem digital fintech yang tengah dikembangkan
oleh MDI sebagai corporate venture
capital Telkom Group. Ke depan,
Budi berharap adanya kolaborasi
antara anak perusahaan dan entitas
unit bisnis Telkom Group dengan Cermati untuk melahirkan produk-produk
digital yang inovatif, khususnya di
sektor financial services
(Oleh - HR1)









