Logistik Hambat Kinerja Ekspor Perikanan
Potensi ekspor perikanan Indonesia tahun ini dinilai cukup besar seiring pulihnya ekonomi negara-negara maju. Akan tetapi, kendala logistik global dikhawatirkan menghambat kinerja ekspor. Selama semester I-2021, nilai ekspor perikanan tercatat 2,6 miliar dollar AS atau 42 persen dari target ekspor perikanan tahun ini senilai 6,05 miliar dollar AS. Nilai ekspor itu tumbuh 7,3 persen secara tahunan. Surplus neraca perdagangan komoditas perikanan tercatat 2,3 miliar dollarAS naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (PDSKP-KKP) Machmud Sutedja mengemukakan, pihaknya berharap ekspor perikanan tahun ini bisa mencapai target. Namun, permintaan global yang terus meningkat menghadapi tantangan berupa rendahnya kapasitas pengiriman dan penutupan (lockdown) lokal di beberapa negara.
Selain itu, terjadi kelangkaan kontainer berpendingin dan biaya kargo yang terus meningkat sebagai dampak berlanjutnya pandemi Covid-19. Ini masalah global. Kendala (logistik)itu sedang dibahas untuk dicarikan solusinya.
Direktur Logistik PDSKPKKP Innes Rahmania mengemukakan, pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan pemilik moda transportasi guna mencari solusi terhadap kendala logistik.
Gaji Tunggal Pejabat yang Rangkap Jabatan
Ombudsman Republik Indonesia (ORI) mengusulkan agar pejabat di pemerintahan yang rangkap jabatan sebagai komisaris menerima gaji tunggal. Pejabat itu dihargai karena dia punya kepakaran atau keahlian. Jadi, dia digaji negara, single salary. Bukan malah asyik rangkap jabatan semata-mata untuk dapat tambahan penghasilan.
Adapun Guru Besar Administrasi Negara Universitas Indonesia Eko Prasojo mengusulkan pemerintah mendata orang-orang yang bertalenta untuk menduduki posisi komisaris. Adanya talent pool ini bisa mencegah masuknya orang-orang tak berkualitas menjabat komisaris. Hal itu juga bisa mencegah masuknya kepentingan politik.
Alarm dari Peternak
Kamis pekan lalu, para peternak yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara resmi menggugat pemerintah ke pengadilan tata usaha negara. Mereka menilai pemerintah gagal menstabilkan harga ayam hidup di tingkat produsen sesuai regulasi.
Mereka menuntut ganti rugi Rp 5,4 triliun atas kerugian yang diderita peternak rakyat selama kurun 2019-2020. Derita timbul karena harga jual ayam hidup berulang anjlok, sementara harga sarana produksi cenderung tinggi, seperti pakan, obat, bibit, dan jagung.
Akan tetapi, ketentuan soal harga acuan hanya berlaku di atas kertas. Sebab, situasi di lapangan kerap berlaku sebaliknya. Harga jual ayam hidup anjlok di bawah harga acuan, sementara harga bibit lebih tinggi dibandingkan harga acuan. Kerugian peternak berlipat karena harga jual turun di tengah kenaikan ongkos produksi.
Sejumlah upaya memang telah ditempuh pemerintah, antara lain pengendalian produksi melalui kebijakan afkir dini induk ayam umur kurang dari 58 minggu dan pemusnahan telur tetas fertil (cutting hatched egg fertil) umur 19 hari. Langkah serupa telah berulang ditempuh pemerintah sejak beberapa tahun lalu.
Akan tetapi, problem fluktuasi harga masih berulang, sementara produksi sering surplus sehingga turut menekan harga jual ayam di tingkat peternak. Akibatnya, industri perunggasan nasional, penyerap sekitar 12 juta tenaga kerja dengan perputaran uang sekitar Rp 400 triliun per tahun, meredup beberapa tahun terakhir.
Pebisnis Outsourcing Pusing Tujuh Keliling
Bisnis alih daya atau outsourcing ikut terpukul pandemi korona (Covid-19). Permintaan terhadap tenaga outsourcing menyusut lantaran banyak pemberi kerja terkena efek pandemi. Ketua Umum Asosiasi Bisnis Alih Daya Indonesia (ABADI), Mira Sonia mengakui, saat kebijakan PPKM bergulir, banyak permintaan untuk merumahkan pekerja. "Anggota ABADI berusaha agar tenaga alih daya tetap dapat dibayarkan upahnya," ungkap dia kepada KONTAN, kemarin. Salah satu pemain outsourcing, ISS Indonesia, mengaku terkena dampak pandemi Covid-19. Presiden Direktur ISS Indonesia, Elisa Lumbantoruan mengatakan, sebelum pandemi Covid-19, jumlah karyawan ISS Indonesia berkisar 60.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. Kini, seiring pandemi, terjadi penurunan jumlah karyawan menjadi sekitar 47.000 orang. Bisnis ISS tertekan lantaran terjadi penurunan kebutuhan pelanggan akibat pembatasan kegiatan bisnis selama pandemi. Ditambah lagi, banyak perusahaan yang menerapkan sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sehingga permintaan jasa outsourcing berkurang.
Ketua Umum Jaringan Usahawan Independen Indonesia (Jusindo) Sutrisno Iwantono mengatakan, permintaan terhadap tenaga kerja outsourcing menurun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia. Terlebih, beberapa sektor seperti perhotelan dan restoran kini kesulitan beroperasi secara penuh. Dengan adanya pandemi, terlihat bahwa tantangan tenaga kerja outsourcing saat ini adalah sistem WFH yang mulai berpotensi terus berlanjut hingga pasca pandemi. Ditambah lagi, beberapa jenis pekerjaan mulai mengalami modifikasi dengan penggunaan teknologi yang lebih masif dan mengurangi mobilitas pekerjanya.Dugaan Kartel Obat Covid-19, KPK Bersiap Usut Laporan
Bisnis, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan bersiap menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dengan dugaan praktik kartel obat-obatan Covid-19. Plt. Juru Bicara KPK mengatakan bahwa masyarakat dipersilahkan untuk melapor apabila menemukan praktik kartel obat tersebut. Lembaga antirasuah juga menyatakan tidak akan ragu untuk mengusut kasus tersebut apabila menemukan keterlibatan pihak tertentu.
KPK mewanti-wanti agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi pandemi Covid-19 untuk keuntungan pribadi. Wakil Ketua KomisiII DPR meminta KPK dan Kepolisian untuk mengusut dugaan kartel besar terkait obat Covid-19. Pasalnya, diduga ada penyelenggaraan negara yang ikut bermain dalam bisnis obat Covid-19. Di sisi lain, Indonesia Corruption Watch (ICW) mengatakan jejaring tersebut menunjukkan adanya upaya mencari keuntungan di tengah krisis pandemi Covid-19 lewat relasi politik.
(Oleh - IDS)
Kinerja Pendanaan Semester I/2021, StartUp Tekfin Jadi Buruan
Bisnis, Jakarta - Perusahaan teknologi finansial atau tekfin masih menjadi garda terdepan incaran investor startup Indonesia. Sepanjang semester I/2021 setidaknya terdapat 25 transaksi pendanaan yang melibatkan startup fintech dari sekitar 50 transaksi pendanaan kepada seluruh startup yang beroperasi di Tanah Air, yang notabene turut diramaikan klaster populer. Beberapa di antaranya berupa pendanaan lini kredit buat para fintech finance dan lending yang terbilang telah matang, lainnya berupa ronde pendanaan untuk permodalan, mulai dari seed funding sampai pendanaan Seri B.
Periode 2021 akan tetap menjadi momentum bangkitnya pendanaan ke startup tahap awal, kendati kondisi ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 masih membayangi Indonesia. Startup di bidang logistik, media, ed-tech dan healthtech justru mengalami perkembangan signifikan, seperti Tokopedia, Sociolla, Warung Pintar, Waresix, Sirclo, IDN Media, dan Ruangguru, merupakan contoh dari portofolio East Ventures yang mengalami kenaikan yang sangat besar sepanjang 2020. Untuk startup yang terdampak negatif, diantaranya mereka yang bergerak di bidang ritel dan perjalanan luring, terutama karena kebijakan pembatasan sosial dan keterbatasan mobilitas masyarakat sejak awal pandemi.
(Oleh - IDS)
Harga Komoditas Naik, Realisasi PNBP Berbalik Positif
Pinjol Ilegal Dikendalikan Asing
Fintech P2P lending atau kerap disebut pinjaman online (pinjol) yang ilegal banyak dikendalikan asing, bahkan mayoritas server mereka berada di luar negeri. Karena itu, perlu ada kerja sama lintas negara untuk memberantasnya.“Kalau dilihat di Indonesia itu ada 22%, tidak diketahui lokasinya ada 44%, sisanya (sebanyak 34%) ada di luar negeri. Dari sini memang terlihat bahwa pinjol ilegal itu agak rumit untuk diberantas, perlu ada kerja sama lintas negara untuk melakukan pemberantasan,” kata Tongam L Tobing pada acara Zoom in with Primus bertajuk ‘Mencari Solusi Penanganan Pinjol Ilegal’ yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (22/7).
Tongam menuturkan, banyak dari korban pinjol ilegal yang belum paham betul mengenai layanan jasa keuangan. Mereka juga tidak melakukan cek legalitas produk atau entitas yang menawarkan. Maka dalam hal ini, edukasi dan sosialisasi mengenai fintech lending menjadi penting untuk diakselerasi. Tapi hal yang memang tidak bisa dipungkiri adalah banyak dari masyarakat terjerat pinjol ilegal karena kebutuhan dana yang mendesak, sementara keluarga atau teman belum bisa membantu, serta belum terjamah jasa keuangan konvensional. Rentetan masalah itu yang membuat masyarakat terpaksa meminjam ke pinjol ilegal yang dalam operasinya sarat akan tindak kejahatan.
(Oleh - HR1)
Lintasarta dan Artajasa Kerja Sama Bangun Layanan TPCM
Perusahaan pelopor sistem pembayaran dan prinsipal layanan ATM Bersama, PT Artajasa Pembayaran Elektronis (Artajasa) dan PT Aplikanusa Lintasarta (Lintasarta) sebagai penyedia layanan solusi total teknologi informasi dan komunikasi (TIK), berkolaborasi menghadirkan layanan baru, Third Party Card Management (TPCM). Kolaborasi konsorsium ini didukung PT Worldline Internasional Indonesia (Worldline). Direktur Utama Lintasarta, Arya Damar mengungkapkan, TPCM merupakan solusi lengkap untuk pengembangan proses bisnis produk berbasis kartu kredit hingga paylater account. “Layanan Third Party Processor (TPP) pertama di Indonesia ini terbilang lengkap dengan cakupan layanan aktivasi, transaksi, pembuatan tagihan, hingga pengawasan dari fraud,” kata Arya melalui virtual conference, Kamis, (22/7). Dia mengatakan, salah satu pilihan efisien yang dapat dilakukan adalah bekerja sama dengan pihak ketiga yang dapat mendukung sistem dan menangani operasional dari proses bisnis berbasis kartu hingga paylater account. “Untuk itu, layanan TPCM ini menjadi jawaban atas kebutuhan institusi perbankan ataupun institusi keuangan lainnya,” tandas Arya.
(Oleh - HR1)
Pemulihan Ekonomi Indonesia Melambat, S&P Pertahankan Peringkat Utang Outlook Negatif
Lembaga pemeringkat internasional Standard
and Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat utang atau
sovereign credit rating Indonesia
pada outlook negatif. Peringkat
utang ini dipertahankan karena
pemulihan ekonomi berjalan
lambat, sejalan dengan peningkatan kasus Covid-19 yang turut menekan kinerja ekonomi
Indonesia.
Economist Asia-Pacific S&P
Global Ratings Vishrut Rana
menjelaskan, tekanan dari meningkatnya kasus Covid-19 dan
terganggunya proses pemulihan
ekonomi juga berimplikasi terhadap kinerja fiskal pemerintah
tahun ini. “Ini dapat menghambat laju konsolidasi fiskal
menuju 2022, tergantung pada
beratnya perlambatan,” ujar dia
dalam laporan yang dikutip pada
Kamis (22/7).
Meskipun Menteri Keuangan
Sri Mulyani Indrawati mengindikasikan bahwa pemerintah akan
menekan defisit fiskal 2022
menjadi di kisaran 4,8% PDB,
sehingga defisit di 2023 bisa
maksimal 3%, namun ia menilai,
masih ada tantangan yang harus
dihadapi untuk mencapai target
tersebut.
Lebih lanjut ia mengatakan,
kunci untuk memperbaiki kinerja fiskal ini sangat bergantung pada kecepatan pemulihan
ekonomi dalam kurun waktu
2022 hingga 2024. Apabila pemulihan ini tidak dioptimalkan,
maka masih akan susah untuk
menerapkan langkah-langkah
kebijakan penambahan pendapatan negara yang sudah disusun
oleh otoritas.
Sebagai informasi, S&P pada
17 April 2021 mempertahankan peringkat utang Indonesia
pada BBB dan merevisi outlook
dari stabil menjadi negatif. Kemudian, pada 22 April 2021,
S&P mempertahankan outlook
negatif, dan kini lembaga tersebut tetap mempertahankannya.
(Oleh - HR1)






.jpg.)


