;

Banyak Kebutuhan, Jual Kopi Asalan

28 Jul 2021 Sumatera Ekspres
Banyak Kebutuhan, Jual Kopi Asalan

Sejak beberapa pekan terakhir harga kopi alami penurunan. Sebelumnya Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu. Kini berkisar Rp 17 ribu per kg. Bahkan bisa tembus Rp 14 ribu per kg. "Penurunan harga ini karena banyak faktor. Di antaranya tingkat kekeringan rendah dan petani memilih cepat menjual kopi untuk mendapatkan uang," ujar Eren (30), petani asal Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat.

Dikatakan, tauke membeli kopi petani melihat dari tingkat kekeringan dan kebersihan. "Kalau kopinya kotor dan basah harga lebih murah," ujarnya.

Petani pun cenderung menjual lebih awal. Karena kebutuhan untuk kebutuhan hidup.

Meningkatkan harga, dirinya mengolah dua macam kopi. Pertama kopi asalan yang biasa di jual ke tengkulak dan kopi petik merah. "Untuk harga yang lebih baik tentu kopi harus kering dan bersih. Kita masih mengolah kopi asalan karena permintaannya tinggi dan cepat dijual.

Sementara petik merah permintaan belum terlalu banyak. Namun dari segi harga cukup tinggi. Kalau kering dan bersih bisa mencapai Rp 35 ribu - Rp 45ribu per kg," ungkap Eren.

Hal yang sama juga terjadi di Empat Lawang. Harga komoditi kopi juga alami penurunan berkisar Rp 18 ribu sampai Rp 19 ribu per kg. Penurunan harga ini sangat dikeluhkan petani kopi. Karena hasil kopi merupakan hasil tahunan bukan seperti komoditi karet ataupun sawit.

Malik, petani mengatakan, musim panen tahun ini harga biji kopi murah. Tidak tembus di angka Rp 20 ribu per kilogram. "Saat jual sebelum Lebaran Idul adha malah lebih murah Rp 17 ribu. Sekarang berkisar 18 - 19 ribu tergantung kualitas. Kalau untuk tembus Rp 20 ribu, sepertinya sulit,” katanya.

Diakuinya, perawatan kebun kopi proses dan biaya tidak sedikit. Mulai dari pemupukan, pembersihan tunas, pembersihan rumput, hama dan lainnya.

Pasca panen pun belum bisa langsung dijual, harus dijemur beberapa hari dulu sampai kering lalu dimasukkan mesin penggiling buah kopi, untuk memisahkan kulit dengan biji kopi. "Biji kopi itulah nanti yang bisa dijual keagen-agen kopi. Butuh proses yang panjang supaya bisa menjadi uang. Kalau dapat 100 kilo, uangnya cuma Rp 1,8 juta," katanya.

Dirinya berharap, harga kopi bisa merangkak naik. "Kalau bisa Rp 20 sampai Rp 21 ribu. Kalau dulu harga kopi pernah tembus Rp 25 ribu," harapnya.

Selain itu, dampak murahnya harga biji kopi, bisa membuat sektor ekonomi terpuruk dan tingkat kriminal juga meningkat. Kalau harganya normal, para petani bisa sejahtera dan pasar bisa ramai," ujarnya.

Sementara di Muara Enim, harga kopi sempat alami penurunan sebelum ldul adha. Sebelum Lebaran harga kopi Rp 17 ribu per kg. "Kalau normalnya bisa sampai Rp 19 ribu dengan kondisi kopi bagus," ujar Dunsri, petani di kawasan Desa Lubuk Nipis Kecamatan Panang Enim.

Menurutnya, penurunan harga kopi juga dampak dari Covid 19. "Daerah Teluk Betung Lampung yang merupakan gudang kopi tutup karena di zona merah," imbuhnya.

Tapi, kini kondisi mulai membaik. Hanya saja kekhawatiran petani masih ada mengingat kondisi serupa bisa saja terjadi. "Kalau kondisi kopi kami jelek sehingga harga anjlok tentunya bisa dipahami, tapi ini penyebabnya di luar kemampuan kami," katanya.

Menurutnya, kopi dari Muara Enim memang lebih banyak dijual ke luar. Karenanya, kondisi kawasan tujuan akan memengaruhi harga. "Kita paham kondisi ini, kami juga berharap pemerintah ada solusi untuk para petani ini," harapnya.

Tags :
Download Aplikasi Labirin :