Mendulang Untung Dari Geliat Batu Bara
Momentum menggeliatnya harga batu bara di pasar internasional mengembuskan angin segar di ranah energi dan sumber daya mineral, khususnya pertambangan batu bara. Pada Oktober ini, harga si Emas Hitam menguat setelah sebelumnya sempat lunglai akibat pandemi. Bursa ICE Neswcastel mencatat harga batu bara di pasar global mencapai mencapai US$247,50 per metrik ton untuk kontrak Desember 2021. Pada saat yang sama, harga batu bara acuan di pasar domestik, menyentuh US$161,63 per metrik ton atau yang tertinggi sejak ditetapkan pada 2009.
Selama ini kegiatan ekplorasi batu bara di Indonesia begitu rendah. Perusahaan batu bara cenderung lebih fokus pada kegiatan produksi dibandingkan dengan kegiatan eksplorasi. Berdasarakan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESD), investasi eksplorasi tambang sejak 2016 cenderung stagnan. Tercatat pada 2016 investasi eksplorasi baru mencapai sebesar UUS$65 juta, pada 2017 sebesar sebesar US$115 juta, dan pada 2018 sebesar US$145 juta. Sementara itu, pada 2019 sebesar US$274 juta, dan pada tahun lalu kurang lebih tercapai US$300 juta.
Pemerintah telah memberikan banyak intensif untuk menarik minat pemilik tambang untuk berinvestasi dalam kegiatan eksplorasi. Termasuk membuat peta jalan yang berisikan kebijakan untuk mendukung sektor tambang sebagai salah satu pilar perekonomian nasional. Upaya tersebut ternyata belum cukup kuat untuk mengungkit minat investor. Di sisi lain, melalui kegiatan eksplorasi maka potensi hasil tambang disetiap wilayah penghasil akan lebih maksimal diperoleh dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat sekitar tambang dan rakyat Indonesia. (yetede)
Rencana Penerapan Pajak Karbon, Industri Butuh Dukungan Insentif
Aset Kripto, Bitcoin Ditaksir Capai US$70.000
Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, saat ini populasi aset-aset kripto seperti Bitcoint semakin meningkat. Hal ini terlihat dari paparan investor terhadap aset ini yang semakin besar. "Ini terutama terlihat dari pelaku-pelaku pasar di Wall Street, dimana CME, Chicago Board Option Exchange (CBOE), dan Nasdaq telah meluncurkan pasar berjangka untuk Bitcoint. Hal ini semakin memperkuat legitimasi aset-aset kripto di pasar aset," katanya pada Bisnis, Kamis (14/10). Wahyu melanjutkan, legitimasi dan regulasi memang telah menjadi isu laten bagi perkembangan aser-aset kripto. Meski demikian dia memandang prospek aset kripto masih sangat positif seiring dengan perkembangan teknologi, liberalisasi dan globalisasi.
Sementara itu, investor institusional juga terus menunjukkan ketertarikannya pada aset kripto. Menurut Wahyu, aset-asetdigital kedepannya akan menjadi bagian dari alokasi cadangan strategis sebuah institusi. Dia memaparkan, strategi umum dari aset-aset kripto adalah melawan dolar AS. Uang dolar AS fiat akan makin turun nilainya dan membutuhkan aset lindung nilai atau alternatif. Saat ini, aset-aset kripto juga perlahan menggeser kedudukan emas yang dulunya menjadi andalan. "Resikonya hanya soal kapan waktu dan modal yang tepat,"
Selain bitcoint, Wahyu juga merekomondasikan untuk mencermati aset Ethereum karena pergerakan masih memilki potensi upside. "Untuk strategi dalam jangka menengah dan panjang memang sebaiknya memang buy on weaknes." Senada, Komisaris Utama PT HFX Internasional PT Digital Aset Internasional Sutopo Widodo memprediksi aset kripto akan mencapai level tertingginya yang juga didukung dengan perkembangan pesat industri kripto.yang juga didukung dengan perkembangan pesat industri kripto."Dengan hadirnya bursa kripto di Indonesia akan menjadi hal positif terkait ekosistem investasi," ujar Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) Fajar Wibhiyadi. (yetede)
Implementasi UU HPP, Pajak Karbon Picu Pungutan Ganda
Gopay Resmi Tertanam di Aplikasi Tokopedia
Persaingan uang elektronik semakin seru. Setelah Ovo tak mendapat tempat khusus, Gopay kini masuk dalam ekosistem Tokopedia. Aplikasi Gopay menjadi dompet digital yang tertanam di aplikasi e-commerce tersebut. Masuknya Gopay ini menjadi dompet digital resmi Tokopedia yang sebelumnya diisi oleh Ovo. Hal ini menambah jejaring Gopay di Tokopedia yang sebelumnya masuk ke Tokopedia melalui fitur Gopay Later "Hadirnya kami sebagai pilihan pembayaran di Tokopedia merupakan perluasan manfaat bagi Gopay yang telah diandalkan jutaan masyarakat Indonesia untuk bertransaksi sehari-hari termasuk belanja online," kata Fibriyani Elastri, Chief Marketing Officer Gopay, dalam siaran pers, Kamis (14/10).
Basis Penentu Ekspor & Impor Komoditas
Jika tidak ada halangan, pemerintah akan memakai neraca komoditas sebagai patokan untuk menentukan persetujuan ekspor atau impor (PE/PI) bagi pengusaha. Itulah salah satu manfaat dari neraca komoditas. Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan, pemerintah akan menetapkan neraca komoditas pada tahun 2022 lewat Peraturan Presiden yang masih tahap harmonisasi. Penerapan penggunaan neraca komoditas tersebut, katanya, akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, ada lima komoditas yang penerbitan persetujuan ekspor dan impor (PE dan PI) harus berdasarkan neraca komoditas. Yakni gula, garam, daging, beras dan produk perikanan. Tahap kedua, pelaksanaan bagi sejumlah komditas akan dilakukan pada tahun 2023.
Pajak Asuransi Bisa Dongkrak Harga Produk
Rencana pemungutan pajak terhadap bisnis jasa asuransi yang akan kena pajak pertambahan nilai (PPN) minimal 5% bisa juga berdampak ke konsumen langsung. Meski belum ada hitungan resmi, rencana pengenaan PPN tersebut bisa membuat biaya premi ke konsumen naik. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai, beleid baru ini akan menyulitkan perusahaan untuk melaksanakan aturan ini. Wakil Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Bidang Keuangan, Jenry Cardo Manurung menyebutkan, pengenaan jasa asuransi sebagai jasa kena pajak akan menimbulkan kewajiban administrasi PPN karena seluruh perusahaan asuransi akan menjadi Pengusaha Kena Pajak. Meski belum ada hitungan resmi, rencana pengenaan PPN tersebut bisa membuat biaya premi ke konsumen naik. Direktur Utama BRI Life, Iwan Pasila juga mengungkapkan bahwa, memang pengenaan pajak ini akan menurunkan take home pay para agen, sehingga jika tidak disikapi dengan baik, akan berdampak pada penurunan premi.
Krisis Energi di China dan India Bisa Pacu Ekspor RI
Krisis energi yang terjadi belakangan, membawa berkah bagi Indonesia. Hal tersebut mendorong kinerja ekspor. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan kembali mencatat surplus. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mencetak surplus US$ 3,68 miliar. Walaupun angka ini lebih kecil dari surplus Agustus sebesar US$ 4,74 miliar. Indonesia juga ketiban berkah dari krisis energi di China dan India. Saat ini, China sedang mengalami kekurangan batubara untuk produksi listrik, sehingga mengganggu kinerja manufaktur. India juga sedang mengalami hal sama. Krisis energi di China dan India tersebut bisa mendorong kedua negara itu mengimpor batubara dari Indonesia lebih banyak lagi.
Kinerja manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia lain juga menggembirakan, salah satunya Thailand. Ini pun memperlebar peluang ekspor yang lebih tinggi. Sementara kinerja impor September, diperkirakan sebesar US$ 15,60 miliar atau turun 6,45% mtm. Hanya, secara tahunan impor masih tercatat naik 34,68% yoy. Peningkatan impor secara tahunan, didorong oleh ekspansinya kinerja manufaktur Indonesia karena ada pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang meningkatkan permintaan.
Isu Pangan dan Energi Perlambat Pertumbuhan
IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini. Lonjakan harga pangan dan krisis energi turut menjadi pertimbangan. Dana Moneter Internasional atau IMF mengoreksi pertumbuhan ekonomi global pada 2021 menjadi 5,9 persen. Sebelumnya, pada Juli 2021, IMF memproyeksikan ekonomi global tumbuh 6 persen.IMF juga mengoreksi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, China, dan Indonesia pada tahun ini. Ekonomi AS yang semula diperkirakan tumbuh 7 persen dikoreksi menjadi 6 persen, China 8,1 persen menjadi 8 persen, dan Indonesia dikoreksi dari 3,9 persen menjadi 3,2 persen.Koreksi ini dimuat dalam World Economic Outlook Edisi Oktober 2021 bertajuk ”Recovery During a Pandemic: Health Concerns, Supply Disruptions, and Price Pressures” yang dirilis pada 13 Oktober 2021.Penyebaran virus korona baru varian Delta yang menyebabkan pembatasan aktivitas ekonomi dan tersendatnya rantai pasok global di banyak negara menjadi penyebab utama melambatnya ekonomi. IMF menyebutkan, kesenjangan vaksin Covid-19 global makin besar.
Potensi Bank Digital di Indonesia Masih Sangat Besar
Bisnis bank digital di Indonesia punya potensi sangat besar untuk bertumbuh. Ini karena masih besarnya segmen pasar yang belum terjangkau oleh perbankan konvensional. Digitalisasi dan inovasi layanan perbankan membuat bank digital lebih lincah dan bisa menjangkau segmen pasar yang belum tersentuh.Hal itu mengemuka dalam webinar Usulan Terkait Potensi Neobank di Indonesia yang diselenggarakan Indonesia Fintech Society (IFSOC), Kamis (14/10/2021). Hadir sebagai pembicara Ketua IFSOC Mirza Adityaswara dan anggota Steering Committee IFSOC, Rudiantara. Turut hadir sebagai penanggap ekonom senior Center of Reform on Economics (CORE), Hendri Saparini, dan Wakil Ketua Umum I Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Karaniya Dharma saputra. Rudiantara mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir banyak bermunculan neobank, model baru perbankan dengan layanan digital serta melayani nasabah tanpa keberadaan kantor cabang. Maraknya neobank juga menunjukkan tingginya permintaan akan layanan perbankan yang cepat, mudah,serta tanpa mengharuskan pertemuan fisik. ”Pandemi (Covid-19) mempercepat digitalisasi pada banyak aspek kehidupan, termasuk layanan perbankan,” ujar Rudiantara.









