DCI dan Grup Salim Operasikan Data Center
PT DCI Indonesia Tbk (DCII) bersama Group Salim telah menuntaskan pembangunan kompleks hyperscale data center park bernama H2. Kompleks pusat data yang terletak di Pertiwi Lestari Industrial, Estate, Karawang, Jawa Barat tersebut siap digunakan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Gedung H2-01 yang dibangun sejak kuartal IV-2020 ini telah berstatus siap beroperasi dan menjadi bagian dari fasilitas data center hyperscale terbesar di Indonesia. Data Center dikembangkan diatas lahan seluas 86 hektar. Gedung data center yang dinamai H2-01 didirkan setinggi 10 lantai.
Axton Salim mengatakan, Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara dengan total populasi sebesar 250 juta, namun kapasitas data center per kapita paling rendah dibandingkan dengan negara lain di dunia. Jika rata-rata konsumsi per kapita adalah 10 watt, data center Indonesia dapat bertumbuh mencapai 2.700 watt ke depan. Sebagai carrier neutral data center, termasuk layanan colocation, layanan interconnection, dan ruang bekerja. Hingga kini, H2 telah telah dipercaya oleh pelanggan internasional dengan tersewanya dua lantai gedung data center H2.
"Tingkat kebutuhan data center di Indonesia meningkat drastis dalam dua tahun terakhir. Digitalisasi terus berkembang pesat dengan adaptasi komputasi awan yang terus meningkat disertai dengan aktivitas sekolah dan kerja dari rumah selama masa pandemi Covid-19. Kompleks hyberscale data center H2 dibangun dengan latar belakang tersebut dengan prinsip eco-sustainable, yaitu dengan memasang solar panel power sebagai salah satu sumber listrik di kawasan data center." jelas Axton. Group Salim merupakan salah satu pemegang saham yang mendukung upaya pengembangan Emtek sejak awal. Adapun porsi kepemilikan Anthoni Salim di Emtek mencapai 9%. (yetede)
Pemerintah akan "Pensiunkan" Pembangkit Tenaga Fossil RI
Pemerintah indonesia bersungguh-sungguh akan menghilangkan keberadaan pembangkit listrik tenaga fosil, salah satunya adalah PLTU. Targetnya seluruh pembangkit listrik akan bersumber dari energi baru terbarukan (EBT) mulai 2060, dan mulai 2030 tidak ada lagi pembangunan pembangkit listrik tenaga fosil.
Sekarang kalau ingin tahu ada lagi nggak program yang sedang mau digagas? ada, yaitu mempercepat pensiunnya PLTU atau early retirement.
Rencana pensiun dini PLTU sedang dibahas. Tujuan yang ingin dicapai adalah menekan emisi karbon dari pembangkit listrik yang bergantung pada batu bara itu, serta untuk menyediakan ruang lebih lebar untuk EBT.
Harga Timah di Pasar Fisik JFX Capai Tertinggi
Harga timah di Pasar Fisik Timah Murni Batangan yang diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) / Jakarta Futures Exchange (JFX). pada Selasa (19/10) mencapai harga yaitu USD 39.800 per metrik ton. Harga ini merupakan harga tertinggi sejak Timah Murni Batangan diperdagangkan di Bursa Berjangka Jakarta.
Selama Oktober 2021, harga timah murni batangan di BBJ telah mengalami peningkatan sebesar 18,2%, di mana pada awal perdagangan pada 1 Oktober 2021, harga yang terjadi sebesar US$ 33.670 per metrik ton. Kenaikan harga di pasar fisik timah murni batangan ini menunjukkan bahwa ada kenaikan permintaan pasar, khususnya untuk ekspor.
Transaksi Hasil Laut Tembus Rp 2 M
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Provinsi Jawa Timur (Jatim), Dyah Wahyu Ermawati mengatakan, kegiatan gelar produk di Buyers Meet Sellers diharapkan bisa membuat pelaku usaha bertransaksi.
Total ada 100 UKM yang ujuk gigi pada kegiatan ini dan berasal dari sejumlah kabupaten di Jatim. Buyers Meet Sellers 2021 Produk Kelautan dan Perikanan berhasil bukukan transaksi Rp2.254.900.650. Traksaksi tersebut telah berjalan dari awal tahun 2021 hingga bulan Oktober 2021 ini.
Konsumsi Solar Meningkat
Pertamina membantah kelangkaan solar merupakan tanda-tanda krisis energi. Pertamina memastikan stok BBM masih normal dan bahkan ada harga BBM yang turun mulai Oktober ini. Kelangkaan solar antara lain terjadi di Malang dan Madiun, Jawa Timur. Di Kota Madiun, banyak antrean pembeli Solar di SPBU Pertamina.
Tercatat adanya peningkatan konsumsi di gasoil yang didominasi oleh solar subsidi. Sepanjang semester I 2021 tercatat sebesar 37.813 kiloliter per bulan dan terus meningkat hingga mencapai 17 persen pada bulan September atau sekitar 44.439 kiloliter.
Sementara untuk sektor gasoline, peningkatan yang mencolok terjadi di Pertamax, dengan periode semester 1 2021 rerata bulanan sebesar 12.586 kiloliter, merangkak naik hingga mencapai kenaikan 49 persen di bulan September sebesar 18.840 kiloliter.
4 PLTU PLN di Sulawesi Manfaatkan FABA
Setelah ditetapkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, di mana limbah batubara berupa Fly Ash dan Bottom Ash telah dikeluarkan dari kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Saat ini 4 pembangkit listrik PLN di Sulawesi yang memanfaatkan Batubara sebagai bahan bakarnya telah mendapatkan izin pemanfaatan FABA. Sumber utama FABA berasal dari proses pembakaran batubara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dengan adanya izin tersebut maka PLTU tersebut dapat memanfaatkan FABA menjadi produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti paving block, batako dan bahan campuran industri semen.
Shortfall Pajak Terkendali
Shortfall penerimaan Pajak pada tahun ini diperkirakan dalam kendali otoritas fiskal sejalan dengan moncernya kinerja penerimaan per Agustus 2021. Derasnya aliran penerimaan ini ditopang oleh Pajak konsumsi, serta prospek cerah penerimaan hingga pengujung tahun, menyusul lonjakan harga komoditas.Sejalan dengan positifnya performa pajak sepanjang tahun berjalan 2021, pemerintah menaikkan outlook penerimaan pada tahun ini dari sebelumnya Rp1.142,5 triliun menjadi Rp1.171,60 triliun. Apabila mengacu pada target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 senilai Rp1.229,58 triliun dan outlook tersebut, shortfall penerimaan pajak pada 2021 hanya berada di angka Rp57,98 triliun. Namun, berdasarkan penghitungan Bisnis, shortfall penerimaan pajak 2021 bisa senilai Rp93,11 triliun. Ini dengan memasukkan realisasi sepanjang Januari—Agustus 2021 senilai Rp741,30 triliun dan proyeksi September—Desember diasumsikan tidak jauh berbeda dengan tahun lalu yakni rerata Rp98,79 triliun per bulan. Artinya, dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi pada pengujung tahun ini yang masih belum cukup pulih, maka perkiraan penerimaan pajak berada di angka Rp1.136,47 triliun. Kendati demikian, estimasi shortfall pajak pada tahun ini menjadi yang terendah setidaknya selama 5 tahun terakhir.
Potensi Perikanan Budi Daya, Peluang Baru Ekspor Ikan
Subsektor perikanan budi daya diproyeksikan menjadi tumpuan utama kinerja perikanan di Indonesia pada masa mendatang. Sayangnya, perikanan budi daya masih dihantui problem tingginya harga pokok produksi dan pengangkutan ekspor.
Sebuah papan pengumuman terpasang di Desa Jogosimo, Klirong, Kabupaten Kebumen. Kata ‘pemberitahuan’ dicetak tebal dengan warna merah menyala di papan tersebut, seperti sebuah pengingat akan suatu hal yang penting.“Di kawasan ini akan dibangun program nasional kawasan perikanan budi daya. Harap untuk mengosongkan lahan ini maksimal 31 Oktober 2021 karena akan dilakukan pembersihan,” demikian bunyi pengumuman itu.Kecamatan Klirong yang berlokasi 19 kilometer di pesisir selatan Kebumen itu kelak akan menjadi saksi muncul-nya tambak udang baru. Area itu akan menjadi lokasi pertama pengembangan kawasan budi daya terintegrasi berorientasi ekspor. Bupati Kebumen Arif Sugiyanto mengatakan program kawasan perikanan budi daya atau shrimp estate tentunya menjadi kebanggaan daerahnya.
Kala itu, Bupati baru saja menandatangani kerja sama pengembangan shrimp estate bersama Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).Pengembangan shrimp estate merupakan manifestasi dari salah satu program utama KKP yaitu pengembangan kawasan budi daya untuk peningkatan ekspor. KKP punya target meningkatkan produksi perikanan budi daya, terutama udang yang produksinya bisa mencapai 2 juta ton pada 2024.“Saya meyakini jika model ini berhasil maka dapat dikembangkan di wilayah lain dengan pengembangan potensi budi daya di masing-masing wilayah,” kata Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono pada kesempatan yang sama.
Penerimaan Negara, Kerja Keras Selesaikan Sengketa Pajak
Besarnya tekanan terhadap otoritas fiskal untuk merealisasikan target penerimaan pajak di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang telah berlangsung sejak Maret 2021 berujung pada melonjaknya kasus sengketa pajak sepanjang tahun lalu. Berdasarkan Laporan Tahunan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan, total jumlah sengketa pajak yang mencakup keberatan, pembetulan, pengurangan, penghapusan, dan pembatalan pada 2020 mencapai 187.435 permohonan. Jumlah tersebut meningkat sebesar 11,94% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 167.439 penyelesaian permohonan. Sejalan dengan itu, jumlah pengajuan banding oleh wajib pajak juga meningkat yakni dari 10.346 permohonan pada 2019 menjadi 10.503 permohonan pada 2020, sedangkan pengajuan gugatan oleh wajib pajak naik dari 2.028 permohonan pada 2019 menjadi 2.062 permohonan pada tahun lalu. Pengamat Ekonomi IndiGo Network Ajib Hamdani mengatakan meningkatnya jumlah sengketa pajak ini sejalan dengan beratnya tekanan target penerimaan di masa pandemi Covid-19.
Adapun, sepanjang 2020, realisasi penerimaan pajak tercatat hanya sebesar Rp1.069,98 triliun, meleset dari target yang ditetapkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 sebesar Rp1.198,82 triliun. Berdasarkan laporan kinerja DJP, penerimaan pajak sampai dengan triwulan IV/2020 ditopang oleh penerimaan pajak penghasilan (PPh) nonmigas yang berkontribusi sebesar Rp560,67 triliun atau 52,41%.
Perhutani Jawa Timur, Penjualan Log Kayu Meningkat
Perum Perhutani Regional Jawa Timur optimistis target penjualan komoditas log kayu hingga akhir tahun ini tercapai Rp774,3 miliar atau tumbuh 21% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu Rp639,8 miliar. Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jatim, Karuniawan Purwanto Sanjaya mengatakan penjualan sepanjang Januari—Oktober 2021 senilai Rp681,3 miliar atau 88% dari target tahun ini, bahkan telah melebihi total penjualan tahun lalu. “Jadi masih ada waktu untuk penambahan pendapatan di sisa akhir tahun ini yang nanti akan memperbesar selisih pendapatan dengan tahun lalu,” katanya, Rabu (20/10). Menurutnya, penjualan terus meningkat karena pasar log kayu yang tidak terpengaruh oleh pandemi Covid-19. Peningkatan pendapatan yang signifikan juga ditopang dari kayu A3 (diameter di atas 30 cm) atau kayu besar yang kini mulai langka di pasaran. “Selain itu, peningkatan ini juga karena Perhutani merupakan pemain tunggal pasar kayu besar, karena dari kayu rakyat hanya memproduksi kayu-kayu berdiameter kecil sampai sedang,” jelasnya. Data Perum Perhutani Regional Jatim mencatat, realiasi pendapatan dari hasil penjualan log kayu pada 2019 mencapai Rp551,6 miliar dengan volume kayu jati dan kayu rimba sebanyak 347.565 m3.









