Harga Minyak Tinggi, Kehancuran Ekonomi Menanti
Analis minyak Paul Sankey dari perusahaan riset independen Sankey Research menyampaikan bahwa harga minyak mentah melonjak tinggi di tengah kekhawatiran soal keamanan pasokan. Krisis Rusia-Ukraina yang terus berkembang diprediksi menyebabkan kehancuran permintaan dan resesi ekonomi. "Saya khawatir kita tidak memiliki persediaan minyak yang cukup disini. Kita akan sampai ke US$ 120 hingga 150 per barel, dan kemudian kita mengalami kehancuran ekonomi," ujar Sankey kepada CNBC pada Kamis (3/3). Sebagai informasi, harga acuan minyak mentah internasional Brent dilaporkan telah melonjak 3,24% menjadi US$ 116,59 per barel. Sankey juga menambahkan bahwa kargo-kargo minyak dari Rusia sama sekali tidak bergerak pasca operasi militer yang diluncurkan ke Ukraina dan pemberitaan soal sanksi-sanksi, kendati harga minyak berada di level rendah.
Likuiditas Meningkat, Perbankan Tempatkan Dana di SBN
Porsi investasi perbankan di surat berharga negara (SBN) mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19. Hal ini dinilai baik untuk pendalaman pasar keuangan dan mengurangi ketergantungan terhadap investor asing. Namun, lebih ideal lagi jika keseimbangan antara perbankan, lembaga non perbankan, hingga investor individu dalam kepemilikan SBN. Dirjen pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Lucky Alfirman menuturkan, dalam kondisi pandemi, aktivitas ekonomi menurun signifikan "Hal ini disikapi bank dengan melakukan penempatan, salah satunya pada SBN yang diterbitkan pemerintah," ucap Lucky saat dihubungi, di Jakarta, belum lama ini. Lucky mengatakan, dari sisi pemerintah, terdapat kebutuhan pembiayaan yang meningkat signifikan dalam rangka penanganan dampak pandemi dan pemulihan ekonomi. (Yetede)
Pemerintah Sudah Siapkan Roadmap Transisi Pandemi ke Endemi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airangga Hartarto mengatakan, pemerintah telah mempersiapan peta jalan (roadmap) transisi dari pandemi menuju ke endemi antara lain mengenai pre kondisi kesehatan dan pelayanan kesehatan. "Kita ketahui proyeksi pertumbuhan di dunia pada 2023 lebih rendah dari 2022, sehingga momentum bagi Indonesia tumbuh. Kita harus dorong dan maksimalkan di 2022," kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam siaran pers yang diterima, Rabu (2/3). Pemerintah harus mendorong pemulihan daya beli dan diversifikasi ekonomi dengan melakukan reformasi struktural. "Presiden Jokowi akan menggenjot investasi, yang akan mendorong kita lepas dari middle income country dan di 2045 kita menjadi Top 10 negara dunia. Bahkan, jika Indonesia berada di track yang benar, kita termasuk 5 negara dengan ekonomi besar di dunia," ujarnya. (Yetede)
Kapital Tebal, Bank Kian Royal
Industri perbankan rupanya punya imunitas yang baik terhadap dampak negatif pandemi Covid-19. Buktinya, rasio kecukupan modal tergolong kuat dan berada dalam tren positif selama beberapa waktu terakhir. Tak ayal, hal itu membuat pelaku industri perbankan kian percaya diri untuk memacu ekspansi kendati situasi ekonomi masih dibayangi pandemi serta risiko global yang dipicu konflik antara Rusia dan Ukraina. Sejumlah bank bahkan berani menebar dividen lumayan besar lantaran laba tahun lalu moncer. Menurut laporan stabilitas sektor jasa keuangan yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terlihat capital adequacy ratio (CAR) alias rasio kecukupan modal perbankan nasional mencapai 25,78% pada Januari 2022. Angka itu jauh di atas ketentuan penyediaan modal minimum paling rendah 8% untuk bank dengan profil risiko peringkat 1, maupun 11%—14% untuk bank dengan peringkat risiko 4 atau 5.
Merespons Tantangan Evolusi Sektor Keuangan
Tren evolusi sektor keuangan saat ini mengarah kepada struktur dan karakteristik baru yang bersifat 4D, yaitu digital, deepening, desegregation, dan disruptive. Tren ini tidak hanya berlangsung di Indonesia tetapi juga terjadi secara luas di seluruh dunia, sebagaimana dieksplorasi di dalam studi-studi yang dilakukan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD, 2020), International Monetary Fund (Boot, et al., 2020), dan Bank for International Settlements (Feyen, et al., 2021). Tren ini diperkirakan bakal terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Evolusi ini tentunya harus segera direspons oleh otoritas terkait di setiap negara agar perubahannya sejalan dengan kebutuhan perekonomian nasional dan terus melindungi kepentingan konsumen sektor jasa keuangan melalui penyusunan kerangka kebijakan dan rencana aksi pengembangan industri jasa keuangan yang berkelanjutan.
Untuk merespon evolusi 4D ini ada 4S kerangka kebijakan yang penting untuk dilakukan, yaitu pertama, sistem pengawasan sektor jasa keuangan harus mengikuti tren digitalisasi industri yang sangat cepat. Dalam kaitan itu, otoritas terkait sudah saatnya mengembangkan sistem pengawasan berbasis artificial intelligence (AI), big data and analytics, dan natural language processing (NLP). Kedua, meningkatkan sosialisasi, edukasi dan market conduct. Financial deepening dan pertumbuhan industri jasa keuangan yang pesat dan masif tidak diiringi dengan penguatan edukasi kepada masyarakat dan penguatan pengawasan market conduct kepada industri, sehingga terjadi kesenjangan (gap) antara literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Ketiga, struktur organisasi pengawas sektor jasa keuangan harus ditingkatkan integrasinya agar pengawasan berjalan secara efektif dan optimal dalam merespons tren deepening and desegregation di sektor jasa keuangan.
Kenaikan Biaya Energi : Laju Terbatas Emiten Industri Dasar
Kenaikan harga bahan baku sebagai imbas meningkatnya harga komoditas global yang tersengat memanasnya konflik Rusia-Ukraina diperkirakan menahan laju pertumbuhan emiten-emiten yang berada dalam rumpun indeks IDX Basic Material. IDX Basic Material yang menaungi emiten di sektor industri dasar, termasuk pupuk, kimia dan kertas, terpantau melemah 0,99% pada perdagangan Rabu (2/3), bahkan dalam sepekan terakhir juga turun 2,15%. Meski sepanjang tahun berjalan masih berada di zona hijau dengan penguatan 0,39%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan terbatasnya pergerakan harga saham emiten dalam indeks industri dasar tidak lepas dari sejumlah sentimen dari luar negeri dan dalam negeri. Kenaikan harga bahan baku utama seperti komoditas energi dan barang kimia dasar telah menggerus margin.
Sebenarnya sejumlah sektor industri telah memperoleh harga khusus baik untuk komoditas batu bara maupun gas di tengah melonjaknya harga komoditas tersebut di pasar global. Hanya saja, tidak semua sektor memperoleh fasilitas itu. Sejumlah harga komoditas melambung tinggi, seperti batu bara yang menembus US$400 per ton dan minyak mentah yang menembus US$115 per barel, imbas dari invasi Rusia ke Ukraina. Hal ini bisa membawa keuntungan sementara bagi emiten terkait komoditas yang sedang naik harga. Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (3/3), harga batu bara di pasar Newcastle untuk kontrak Maret 2022 melambung 127% ke US$440 per ton. Untuk kontrak April 2022 naik 140% ke US$446 per ton. Adapun, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 4,98% ke US$116,11 per barel dan harga minyak Brent naik 5,57% ke US$119,22 per barel.Bisnis Kelengkapan Data Center : Socomec Gandeng Mitra Cipta Hardi Elektrindo
PT Mitra Cipta Hardi Elektrindo (MCHE) mengumumkan bahwa pihaknya telah dipercaya dan ditunjuk secara resmi sebagai distributor nasional untuk memasarkan produk dari Socomec. Salah satu hal yang membuat Socomec yakin adalah karena perseroan sebagai pemain utama di bisnis kelistrikan, serta memiliki kapasitas di bidang tersebut. Socomec diketahui sebagai perusahaan dalam inovasi energi dan produsen spesialis performa energi & solusi penyimpanan, sistem pengukuran & pemantauan daya, pengalihan daya, konversi daya, sakelar pemutus beban,
Untuk pasar tersebut, pihaknya menyasar target penjualan dengan melakukan distribusi yang lebih komprehensif secara nasional, baik untuk segmen dealer maupun kontraktor listrik.
Guna mencapai target tersebut, dia menyebut telah menyiapkan stok produk yang memadai. Dia menilai bahwa pelanggan mengandalkan stok yang lengkap untuk keperluan penggantian produk, maupun proyek yang sedang mereka jalankan.
Pabrikan Makanan Bersiap Menaikkan Harga Jual
Harga bahan pangan terus melesat akibat lonjakan harga komoditas maupun efek perang Rusia-Ukraina. Jika harga bahan pangan tak kunjung reda, pabrikan makanan olahan bersiap menaikkan harga jual lagi demi mengimbangi lonjakan harga bahan baku. Sebagai gambaran, harga bahan pangan seperti gandum, kedelai dan jagung di pasar global terus naik. Harga gandum, bahan baku utama terigu, misalnya, kemarin naik lagi 5,35% menjadi US$ 9,75 per bushel (1 bushel=27,2 kg). Ini adalah harga tertinggi gandum sejak Februari 2008.Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) mengakui dampak perang Rusia-Ukraina menyebabkan tren harga gandum dunia kembali naik. Direktur Eksekutif Aptindo, Ratna Sari Loppies menyatakan, tren kenaikan harga gandum global sudah terjadi sejak awal pandemi Covid-19.
Efek kenaikan harga gandum membawa dampak kepada produsen terigu di Indonesia. Produsen makanan ikut merasakan dampak kenaikan harga bahan pangan. Direktur PT Siantar Top Tbk, Armin menyebutkan, fluktuasi harga gandum tidak bisa dihindari setiap perusahaan. "Kami menyikapi kondisi ini dengan perhitungan di semua pos biaya. Kalau memang sifatnya temporer, kami harus tetap jalan. Kalau harganya sudah mengenai batas margin, mungkin kami atur strategi lagi, termasuk potensi penyesuaian harga jual produk," ungkap dia, kepada KONTAN
Pembebasan Tarif Pajak UMKM
Kementerian Keuangan membebaskan tarif pajak penghasilan (PPh) final yang berpenghasilan sebesar Rp 500 juta per tahun bagi UMKM selama pandemi Covid-19.
Rawan Koreksi Jelang 7.000
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan memasuki level all time high di 6.996,93 awal Maret 2022, tetapi, indeks saham akhirnya ditutup di level 6.921,44 atau naik 0,48% pada Selasa (1/3). Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menambahkan masih kuatnya capital inflow juga mempengaruhi pergerakan IHSG kemarin. Malah, dampak perang Ukraina jadi terbatas karena inflow ke saham-saham big caps cukup besar. Sentimen kenaikan harga komoditas yang mempengaruhi sahamnya dan laporan keuangan masih jadi daya tarik IHSG. Pandhu memprediksi, support terdekat di 6.580-6.900. Lalu resistance di 6.997 dan jika menguat bisa menembus sekitar 7.030.









