;

Tak Ada Kamus Kalah Melawan Obligator

Yuniati Turjandini 10 Jun 2022 Tempo (H)

Sejumlah obligator Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) menggugat ke pengadilan karena barang asetnya disita negara. Berbagai gugatan dari para obligator diprediksi terus bermunculan menyusul penyitaan masif aset BLBI selama dua tahun terakhir. Pakar hukum administrasi negara dari Universitas Indonesia, Dian Puji Simatupang, mengatakan Satuan Tugas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI atau Satgas BLBI harus melengkapi berbagai dokumen guna menghadapi sidang gugatan tersebut. Prosedur dan mekanisme penyitaan serta pengambilalihan aset harus dicek ulang. "Agar tidak ada kekurangan yuridis dalam pengambilan keputusan," kata Dian kepada Tempo, kemarin. Awal pekan ini, anak kaharudin Ongko. Kaharudin adalah pemilik Bank Umum Nasional dan Arya Paduarta. Ia punya kewajiban obligasi dari dua bank itu senilai sekitar Rp 8,2 triliun kepada negara. Awal pekan ini, anak Kaharudin Ongko, Irjanto, menggugat  ke Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta. (Yetede)

Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan

Yoga 10 Jun 2022 Kompas (H)

Yusuf Ramli (50) tak pernah membayangkan perjalanan hidupnya sampai pada titik di mana penghidupan ribuan orang bakal bergantung pada usahanya. Yusuf muda pernah terpaksa menumpang tidur di masjid Pasar Tanah Abang karena tak lagi punya rumah untuk pulang. Pada titik terendahnya, Yusuf pernah hidup dari belas kasihan para pemain judi biliar di Kota Padang. Saat itu sekitar tahun 1996. Dia baru saja menyewa kapal untuk menangkap lobster di perairan Samudra Hindia, antara Pulau Nias dan Kepulauan Mentawai. Kapal sudah disewa, perbekalan melaut sudah ada. Namun, nakhoda menolak berlayar karena kapal dalam kondisi bocor. Tak mau rugi, Yusuf akhirnya nekat menakhodai sendiri kapal tersebut. Kemampuan menakhodai kapal didapat Yusuf saat dia menuntut ilmu di Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Dumai dan Akademi Usaha Perikanan (AUP) Jakarta. Yusuf bertaruh nyawa di Samudra Hindia dengan kapal /bocor. ”Setiap malam saya terpaksa ikut menimba air dari kapal. Sesampai di Mentawai, saya tak berani lagi membawa kapalnya,” ujarnya. Ketika kembali ke Padang, uang sudah tak ada. Namun, Yusuf enggan pulang ke kampung halamannya di Air Tiris, Kampar, Riau. Perjalanan hidup yang keras telah menempanya menjadi seperti sekarang: salah satu pengusaha perikanan dengan omzet mencapai Rp 1,3 triliun.

Selepas bersekolah di SUPM Dumai, Yusuf melanjutkan kuliah ke AUP (sekarang Politeknik Ahli Usaha Perikanan) Jakarta tahun 1989 dan lulus tiga tahun kemudian. Selepas diwisuda dari AUP, Yusuf ditawari menjadi pengajar di bekas almamaternya, SUPM Dumai. Tawaran itu ditampiknya. Yusuf merasa tak cocok menjadi pengajar. Dia memutuskan berlaut. Kapal ikan berbendera Kanada menjadi tujuannya selama 2,5 tahun. Dari situ, Yusuf yang telah berkeluarga memutuskan membuka warung makan di daerah Pondok Pinang, Jaksel. Usahanya hanya bertahan dalam hitungan bulan. Di tengah usaha warung makannya yang bangkrut, Yusuf ditinggal istrinya. Dia yang sebelumnya menumpang hidup di rumah mertua, tak lagi punya tempat tinggal. Yusuf kemudian mengadu nasib di Pasar Tanah Abang. Namun, karena tak punya modal, dia hanya menjual daster milik para pemilik kios pakaian. Dia jajakan keliling pasar, jauh dari kios para pemilik daster tersebut. Sabtu-Minggu menjadi hari yang dia tunggu karena para pemilik kios biasanya tak membuka lapaknya. Sepulang menjajakan daster, dia tinggal di masjid.

Tahun 1997, saat menjadi sopir dokter Lukas, Yusuf diperkenalkan kepada pengasuh Pesantren Al Islah Bondowoso, Kiai Maksum. Mengetahui bahwa sopirnya pernah kuliah di AUP, dokter Lukas dan Kiai Maksum memodali Yusuf berjualan ikan di Pasar Muara Baru, Jakarta. Pada 1998, Yusuf berjualan di Pasar Muara Baru, dari pukul 18.00 hingga 24.00. Malam hari dia bergaul dengan sesama pedagang ikan. Siang harinya, Yusuf bergaul dengan para tauke ikan di Muara Baru. Pada 1999, seorang tauke di Muara Baru yang biasa mengekspor ikan layur ke Korea memberi Yusuf kesempatan menjadi pemasok. Dari sini dia mulai belajar pemrosesan dan pengolahan ikan untuk diekspor. Untuk menjadi pengusaha perikanan, selain harus punya kapal tangkap dan kapal pengangkut, dia juga harus memiliki gudang berpendingin (cold storage) dan angkutan (truk) berpendingin. Tahun 2000 untuk pertama kalinya dia berhasil mengekspor ikan ke Korea. Sebanyak 25 ton ikan layur diekspor dalam satu kontainer 40 feet. Tiga tahun kemudian Yusuf melebarkan usahanya. Dia membangun pabrik pengolahan ikan, di Bitung, Kendari, dan Banggai Laut, untuk mengamankan pasokan ikan. Setelah diolah, ikan dibawa ke Jakarta dan didistribusikan ke sejumlah sentra pemindangan di Jawa. Saat ini perusahaan Yusuf memiliki 11 pabrik pengolahan ikan di seluruh Indonesia. Dia memasok hingga 1.000 ton ikan per bulan untuk industri pemindangan ikan. Satu pabrik, bisa memiliki 5 sampai 10 pemasok. Setiap pemasok memiliki sedikitnya 5 kapal ikan ukuran 50 GT. Untuk pasar luar negeri, Yusuf mengekspor ikan layur, tuna, cumi, hingga layang umpan atau muroaji. Bahkan, Yusuf kini menjadi salah satu eksportir terbesar ikan asin dari Indonesia terutama ke  Sri Lanka. (Yoga)


Tahun Ini Pertamina Prioritaskan PSO

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Investor Daily (H)

Setelah meraih laba bersih US$ 2,05 miliar-setara  Rp29,7 triliun pada kurs Rp14.500 per dolar AS-,kinerja PT Pertamina (Persero) akan terus  membaik seiring dengan efisiensi dan transformasi  yang tengah dilaksanakan. Namun, melihat situasi geopolitik dan ekonomi global saat ini yang tengah didera inflasi tinggi, Pertamina akan memprioritaskan pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat (public service obligation/PSO). Sebagai BUMN, Pertamina harus mencapai dua hal, yakni meraih profit dan melaksanakan PSO. Akan tetapi, melihat turunnya daya beli masyarakat, Pertamina tahun ini lebih memprioritaskan PSO. "Kalau harga BBM dinaikkan, inflasi akan melonjak, dan itu akan sangat memberatkan masyarakat dan mempengaruhi stabilitas ekonomi makro," ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam diskusi dengan para pemimpin redaksi di Garaha Pertamina, Jakarta, Rabu (8/6). Pada tahun 2021,kontribusi Pertamina terhadap penerimaan negara Rp 200,7 triliun, terdiri atas pajak, dividen, BPBP, signature bonus, dan pembayaran minyak mentah dan kondensat bagian bagian negara. (Yetede)

Restrukturisasi Melanda, Profit Bank Mandiri Makin Kinclong

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Investor Daily (H)

Selaras dengan kondisi ekonomi yang terus membaik, tren restrukturisasi kredit terdampak pandemi Covid-19 terus mengalami penurunan. OJK mencatat hingga April 2022, nilai restrukturisasi terdampak pandemi Covid-19 telah menuju ke-angka Rp 606,39 triliun. Merespon hal tersebut, Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha menjelaskan tren restrukturisasi kredit debitur terdampak Covid-19 di Bank Mandiri kian melandai. Rudi menjelaskan bila dibandingkan dengan posisi tertinggi pada Juni 2021 posisi restrukturisasi Covid-19 di Bank Mandiri telah menurun sebesar Rp32,48 triliun. Dia menambahkan, tren penurunan restrukturisasi Covid-19 juga tercermin dalam total Loan At Risk (LAR) termasuk debitur terdampak  Cobid-19 Bank Mandiri yang mencapai level 16,4% di April 2022. "Untuk menjaga kualitas kredit, Bank Mandiri secara intens melakukan monitoring termasuk melakukan stres test secara berkala serta menerapkan early warning sign untuk memastikan  posisi pencadangan berada di level optimal," pangkas Rudi. (Yetede)

Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Investor Daily (H)

Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 menjadi 5,1% atau  turun 0,1% dari proyeksi sebelumnya 5,2%. Akan tetapi, proyeksi tersebut masih berada dalam target pemerintah berkisar 4,8-5,5%. Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) Juni 2022 disebutkan, perekonomian Indonesia akan mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dagang Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu. "Selain menjadi salah satu dari sedikit negara yang dapat mengembalikan output ke level prapandemi  sejak 2021. Kinerja ekonomi domestik tahun ini juga terus menguat, antara lain didukung situasi pandemi yang terus terkendali," ucap Febrio, Rabu (/6). APBN, kata Febrio, juga akan terus diarahkan menjadi instrumen penting untuk merespon dinamika ekonomi yang terjadi, termasuk menjadi peredam tekanan. Ditengah meningkatnya resiko global, APBN akan terus diarahkan  untuk melindung daya beli masyarakat, khususnya kelompok yang rentan, dan menjaga pemulihan ekonomi. (Yetede)

Survei Indikator: Publik Makin Percaya Kejagung Tuntaskan Kasus Minyak Goreng

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Investor Daily

Hasil survei nasional Indikator Politik Indonesia menunjukkan keyakinan publik terhadap Kejaksaan Agung (Kejagung) dapat menuntaskan kasus dugaan korupsi terkait izin ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya, termasuk minyak goreng, makin meningkat. Hal ini imbas dari penetapan Lin Che Wei sebagai tersangka. "Jadi ada peningkatan tingkat keyakinan publik terhadap kejaksaan. Nah, mungkin ini lagi-lagi, surveinya dilakukan setelah Lin Che Wei ditangkap. Jadi, penetapan Lin Che Wei sebagai tersangka oleh Kejagung meningkatkan public confidence terhadap kejaksaan dalam rilis survei nasional bertajuk. "Kepercayaan publik terhadap Lembaga-lembaga Penegak Hukum dan Agenda Pemberantasan Korupsi." di Jakarta, Rabu (8/6). Mayoritas publik percaya Lin Che Wei terlibat kasus dugaan korupsi terhadap izin ekspor CPO dan turunannya, termasuk minyak goreng. "Namun diantara yang tahu 21% sebagian besar percaya atau sangat percaya 23 plus 65, jadi hampir 90% bahwa Lin Che Wei  melakukan pemufakatan jahat dengan mengondisikan izin ekspor minyak goreng," ujar Burhanudin Muhtadi. (Yetede)

Mayapada Hospital Terbitkan Obligasi Rp 950 Miliar

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Investor Daily

Emiten pengelola jaringan Mayapada Hospital, PT Sejahtera Anugrahjaya Tbk (SRAJ), berencana menerbitkan obligasi senilai Rp 950 miliar. Aksi korporasi ini bertujuan untuk mendanai pembangunan rumah sakit baru perseroan. Direktur Independen SRAJ Charlie Salim menyampaikan, perseroan akan menerbitkan obligasi dalam dua seri, seri A sekitar Rp 470 miliar dan seri B sekitar Rp475 miliar, sehingga total mencapai Rp950 miliar. "Untuk seri A jangka waktunya tiga tahun dan seri B jangka waktunya sekitar lima tahun," kata Charlie. Dalam penerbitan obligasi tersebut, SRAJ menunjuk PT Bank Mandiri Sekuritas dan PT BEI Danareksa sebagai penjamin emisi efek. Sejalan dengan itu, saat ini perseroan tengah fokus untuk menyelesaikan pembangunan Mayapada Hospital Bandung yang progresnya telah mencapai 53,15%. Rumah sakit tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada akhir 2022. "Mayapada Hospital Bandung ini akan menjadi rumah sakit keenam kami dengan nilai investasi sebesar Rp 900 miliar. Kami tidak berencana melakukan akuisisi. tetapi pembangunan sendiri," jelas Charlie. (Yetede)

Kendali Sebatas Di buku Sri

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Tempo (H)

Semak belukar memenuhi lahan dibalik seng di pengkolan Jalan Embong Wungu dan Jalan Basuki Rahmat, Kelurahan Embong Kaliasin, Surabaya. Sebuah bangunan jembar yang atapnya tinggal separuh berdiri disisi lahan tersebut. Area kosong di seberang bangunan dikotori sampah dan menjadi tempat penyimpanan beberapa gerobak makanan. Sebagian area dijadikan tempat parkir sepeda motor. Lahan dan rumah tersebut ditengarai merupakan aset BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) yang dikuasai pihak ketiga. Meski bangunan dan lahan itu tampak terbengkalai, di samping pintu pagar terdapat plang yang menjelaskan status kepemilikannya. Di sana tertulis tanah milik PT Hotel Embong Wongoe. Lahan tersebut tercantum dalam Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Aset Properti dan Aset Kredit BLBI 2020 dan Semester I 2021 di Kementerian Keuangan selaku Bendara Umum Negara. Lahan ini hanya satu dari 808 aset BLBI yang dilaporkan dikuasai pihak ketiga, yang terdiri atas 183 aset eks Bahan Penyehat Perbankan Nasional dan sisanya eks aset kelolaan PT Perusahaan Pengelola Aset. Adapun nilai totalnya mencapai Rp 5,83 triliun. (Yetede)

Tampak di Pendataan, Buram di Lapangan

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Tempo (H)

Tak semata mengungkapkan kelemahan tata kelola dan pengamanan aset, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pun mengkritik hasil pendataan aset BLBI yang dikumpulkan Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DKJN) Kementerian Keuangan. Dalam Laporan Hasil Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Aset Properti dan Aset BLBI 2020 dan Semester I 2021, skema pengumpulan dan verifikasi aset properti tersebut belum menjamin kelengkapan data. "Pelaksanaan kegiatan inventarisasi berisiko tidak efektif dan hasilnya belum dapat digunakan untuk perbaikan penatausahaan aset properti," demikian isi catatan BPK dalam hasil audit yang dikukuhkan pada Januari 2022. Alih-alih terverifikasi secara lengkap, BPK mendapati beragam masalah aset BLBI, seperti 211 unit aset yang keberadaannya tidak bisa diidentifikasi, 58 unit aset yang terdata oleh kantor wilayah DJKN dan masuk daftar nominatif tapi tidak ada dalam neraca, serta 64 aset yang fisiknya dikelola Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) tapi tidak tercantum dalam kertas kerja inventarisasi. (Yetede)

Memburu Pemalsu Aset BLBI

Yuniati Turjandini 09 Jun 2022 Tempo (H)

Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri segera menetapkan tersangka baru dalam akses dugaan pemalsuan surat aset jaminan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), yang dilaporkan Direktorat Jendral Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan. Saat ini, kepolisian tengah mendalami kasus pemalsuan pada dua aset yang berlokasi di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat; dan kasus penggelapan  tanah di Karawaci, Tangerang, Banten. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigadir Jendral Andi Rian Djajadi, mengatakan setidaknya ada empat orang yang saat ini dicurigai terlibat dalam pemalsuan di dua tempat tersebut. Pada kasus Jasinga, tiga orang tengah masuk radar kepolisian. 

Mereka adalah dua pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bogor dan satu warga sipil yang berperan sebagai makelar tanah. Menurut Andi, makelar itu merupakan orang-orang yang selama ini dipercaya mengurus tanah jaminan tersebut. "Mereka melihat peluang yang bisa dimanfaatkan karena (tanah) tak diurus, sehingga mereka mengakui ini sebagai lahan mereka. Lalu dibantu oleh oknum BPN untuk mengalih namakan akta kelahiran," kata Andi kepada Tempo. (Yetede)

Pilihan Editor