Karena Seniman dan Korporasi Harus Berkolaborasi
"......Apa agamamu? Agamaku air yang membersihkan pertanyaanmu..." Sepenggal puisi karya penyair Philipus Joko Pinurbo (Jokpin) itu dibacakan budayawan dan aktor kawakan, Butet Kertarejasa, dengan dada bergetar. Suaranya yang parau seakan hendak meremukan tongkat stainless yang menopang tubuhnya diatas panggung. "Ini pertanyaan kotor yang harus kita perangi," tegas Butet, usai membacakan potongan sajak berjudul Buku Latihan Tidur tersebut. Ia membacakannya disela-sela makan malam sederhana di sebuah restoran nun jauh di kalimantan sana. Restoran bernama Bontang Kuring itu terletak di tepi Danau Permai yang senyap dan rimbun.
Acara yang berlangsung pada Selasa malam itu dihadiri sekumpulan seniman, wartawan, karyawan PKT. Selain Butet Kertarejasa, sekitar 30 pentolan seniman lain dari berbagai daerah hadir pada acara itu, diantaranya Nasirun (pelukis), Agus Noor (penyair/cerpenis), Jokpin (penyair), Putu Wijaya (pelukis) Jumaldi Alfi (sastrawan), Bambang Heras (pelukis, dan Inggit Putria Marga (penyair). Kehadiran para seniman dari berbagai daerah di PKT tentu saja bukan tanpa alasan "Kami ingin menjadikan industri lebih berbudaya, lebih beradab, sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih optimal kepada seluruh stockholders," kata Direktur Utama PKT, Rahmad Pribadi kepada Investor Daily. (Yetede)
Tags :
#Dalam NegeriPostingan Terkait
Menakar Daya Tahan Momentum Elektrifikasi
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023