Bantuan Tipis Jasa Bandara
Gratisnya biaya pendaratan dan penyimpanan pesawat di bandar udara yang dikelola Kementerian Perhubungan dianggap berdampak tipis terhadap beban operasional maskapai penerbangan. Sebab, kebijakan yang diatur lewat Keputusan Direktur Perhubungan Udara Nomor PR 14 Tahun 2022 itu hanya berlaku di lapangan yang dikelola unit penyelenggara bandar udara (UPBU). "Tidak semua dapat, hanya untuk maskapai niaga berjadwal. Itu pun yang beroperasi di rute UPBU," ucap Wakil Ketua Komisi Transportasi Dewan Perwakilan Rakyat, Andi Iwan Darmawan Aras, kepada Tempo, Rabu 3 Agustus 2022. Masih 29 Juni hingga 31 Desember 2022, Kementerian Perhubungan menggratiskan tarif penerimaan negara bukan pajak (PNBP) untuk jasa pendaratan, penempatan, dan penyimpanan pesawat udara di bandara. (Yetede)
Tiket Mahal Belum Terbendung
Mahalnya tiket pesawat masih akan menghantui penumpang selama periode sepi atau low season penerbangan bulan ini. Sekretaris Jenderal Indonesia National Air Carriers Association INACA), Bayu Sutanto, mengatakan lonjakan tarif sulit di redam selama harga avtur belum melandai. Kondisi ini diperparah oleh pelemahan nilai mata uang dan kenaikan harga barang di masa pemulihan ekonomi. "Bahan bakar tetap menjadi porsi terbesar," ujarnya kepada tempo, Rabu, 3 Agustus 2022. Mahalnya avtur belakangan menjadi alasan maskapai untuk mematok harga mahal, Lonjakan harga kian urgen lantaran porsi avtur dan pelumas dalam biaya produksi maskapai bisa mencapai 40%. Porsi jauh diatas pengeluaran untuk sewa pesawat yang berkisar 17-20%, maupun ongkos pemeliharaan dan perawatan sebesar 25%. (Yetede)
Mitratel Tambah Capex Jadi Rp 14 Triliun
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel menambah alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini menjadi Rp 14 triliun, dari rencana awal sekitar Rp 10 triliun. Peningkatan capex dilakukan seiring realisasi ekspansi yang berjalan lebih cepat, terutama terkait akuisisi 6.000 menara telekomunikasi (tower) Telkomsel. Capex bertambah karena akuisisi tower yang tadinya ditargetkan 3.000 menjadi 6.000. Jadi capex meningkat dari sekitar Rp 10 triliun menjadi Rp 14 triliun,” kata Direktur Investasi sekaligus Sekretaris Perusahaan Mitratel Hendra Purnama dalam media gathering di Jakarta, Selasa (8/2). Sementara itu dari sisi kolokasi, lanjut Hendra, ada penurunan dari 3.000 ke 2.500 karena kondisi mobile network operator (MNO) yang sedang melakukan
konsolidasi bisnis. Konsolidasi yang dilakukan PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) berdampak pada adanya perlambatan order ke perseroan. Revisi tersebut dilakukan seiring dengan keberhasilan perseroan order serat optik sepanjang 8.000 km. “Jadi, akhir tahun ini kami yakin bisa menyelesaikan serat optik sepanjang 9.000 km. Kami bukan hanya mendapatkan order, tetapi juga
menyelesaikan pembangunan serat optik,” tutur Hendra. (Yetede)
Banggar DPR: Inflasi 2022 Bisa Sentuh 6,5%
Badan Anggaran (Banggar) DPR memprediksi inflasi sepanjang 2022 bisa menyentuh 6-6,5%, dibandingkan 2021 sebesar 1,87%. Pada Juli 2022, inflasi mencapai 4,9% secara tahunan (year on year/yoy), di atas target sasaran Bank Indonesia (BI) 3% plus minus 1%. Ketua Banggar DPR Said Abdullah menegaskan, pemerintah sudah berupaya menjaga lonjakan inflasi, dengan menjalankan kebijakan subsidi terhadap barang yang masuk komponen harga diatur pemerintah (administered prices). Sementara itu, BI menjalankan sejumlah kebijakan moneter untuk menahan laju inflasi. “Tetapi, inflasi masih bisa naik, paling tinggi berkisar 6-6,5% tahun 2022, dengan mempertimbangkan sejumlah langkah pemerintah. Sesungguhnya, saya berharap BI bulan depan bisa menaikkan suku bunga acuan berkisar 75-100 basis poin (bps) supaya inflasi tidak sampai 7%. Karena kalau sampai 7%, ini akan mengkhawatirkan bagi kita semua,” ucap Said saat dihubungi Investor Daily pada Rabu (3/8). “Akan tetapi, pagu subsidi yang disiapkan dalam APBN nampaknya perlu ditambah. Hitungan saya, penambahannya tidak besar,” ucap Said. (Yetede)
Komitmen Kerja Sama Ekonomi dan Ketahanan Rantai Pasokan
Pertemuan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi bertemu Presiden Taiwan Tsai Ing-wen pada Rabu (3/8) di Kantor Presiden di Taipei. Tsai berterima kasih kepada Pelosi atas dukungannya terhadap nilai-nilai demokrasi. Tsai juga menegaskan komitmen untuk bekerja sama dengan AS terkait keamanan di Selat Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik, serta memperkuat kerja sama ekonomi dan ketahanan rantai pasokan. Ketua DPR Pelosi benar- benar salah satu teman Taiwan yang paling setia. Kami benar-benar berterima kasih kepada Anda karena telah melakukan kunjungan ke Taiwan ini untuk menunjukkan dukungan setia Kongres AS untuk Taiwan,” kata Tsai pada upacara pemberian medali “Order of Propitious Clouds with special Grand Cordon” kepada Pelosi, yang dilansir CNBC. Ketua DPR Pelosi benar- benar salah satu teman Taiwan yang paling setia. Kami
benar-benar berterima kasih kepada Anda karena telah melakukan kunjungan ke Taiwan ini untuk menunjukkan dukungan setia
Kongres AS untuk Taiwan,” kata Tsai pada upacara pemberian medali “Order of Propitious Clouds with special Grand Cordon” kepada Pelosi, yang dilansir CNBC. (Yetede)
Warga Berpenghasilan Rendah Paling Terdampak Inflasi
Kelompok masyarakat Singapura berpenghasilan rendah akan menghadapi pertumbuhan upah terendah dan lonjakan terbesar dalam hal pengeluaran rumah tangga mengingat laju inflasi yang meningkat. Demikian hasil penelitian baru yang disampaikan DBS, lembaga kreditur terbesar di negara itu. Studi DBS menunjukkan, upah kelompok berpenghasilan yang kurang dari Sin$ 2.500 (US$ 1.815) per bulan hanya naik 2,5% antara Mei tahun lalu dan tahun ini. Menurut laporan, angka itu lebih rendah dari rata-rata inflasi indeks harga konsumen (IHK) Singapura yang mencapai 5,2% pada semester pertama 2022. Sebaliknya, kelompok masyarakat berpenghasilan antara Sing$ 5.000 hingga Sing$ 7.499 mengalami kenaikan upah sebesar 11,1% sedangkan bagi yang mendapat upah Sing$10.000 ke atas menerima kenaikan 13,6% pada periode yang sama. “Orang-orang yang berpenghasilan di bawah Sing$ 2.500 biasanya adalah penduduk lanjut usia yang memiliki kemampuan penghasilan lebih rendah atau profesi pekerjaan dengan keterampilan lebih rendah,” ujar Irvin Seah, ekonom senior di DBS Group Research, yang dilansir CNBC. (Yetede)
Bunga Tipis, Deposito Valas Bank Lokal Kalah Saing
Tawaran imbal hasil produk simpanan deposito valuta asing (valas) perbankan di Indonesia kini lebih rendah dibandingkan negara lain. Produk deposito dengan bunga tertinggi di perbankan Indonesia hanya sebesar 0,25%. Ini sesuai dengan bunga penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk simpanan valas.
Sementara beberapa bank di luar negeri seperti di Singapura misalnya. Mereka berani menawarkan bunga deposito antara 1% hingga 3% per tahun.
Ditopang PPnBM dan Bunga, Kinerja Emiten Otomotif Ciamik
Sejumlah emiten otomotif berhasil mencetak kinerja menggembirakan di semester pertama tahun ini. PT Astra International Tbk (ASII) misalnya, meraup pendapatan bersih Rp 143,69 triliun. Pendapatan tersebut meningkat 33,80% dari perolehan senilai Rp 107,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pandhu Dewanto, Analis Investindo Nusantara Sekuritas, berpendapat, emiten otomotif bisa mencetak kinerja apik karena konsumen memanfaatkan peluang membeli kendaraan baru sebelum masa insentif PPnBM berakhir. Selain itu, proyeksi kenaikan suku bunga pinjaman juga jadi pertimbangan konsumen mempercepat pembelian kendaraan.
Jenius Menyalurkan Kredit Rp 600 Miliar
PT Bank BTPN Tbk memacu bisnis melalui kanal digital banking di separuh pertama tahun 2022. Salah satunya dengan menyalurkan kredit secara digital (digital lending) lewat jenius. Head of Digital Banking Bank BTPN, Irwan Tisnabudi menyatakan, guna kualitas aset, jenius sempat mengerem penyaluran kredit ini saat awal pandemi di tahun 2020 hingga 2021. "Dalam satu tahun terakhir, pertumbuhan kredit jenius itu tumbuh 148% year on year menjadi lebih dari Rp 600 miliar. Memang masih kecil dibandingkan total portofolio kredit yang sudah disalurkan BTPN," ujarnya secara virtual Selasa (2/8).
SEMARAK AKUISISI EMITEN
Prospek pemulihan ekonomi yang positif rupanya membuat emiten tak ragu menggenjot ekspansi anorganik melalui aksi akuisisi. Portofolio yang makin gemuk menjadi amunisi untuk mendongkrak kinerja di masa depan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sedikitnya ada 23 aksi akuisisi yang dilakukan oleh 21 emiten sepanjang tahun berjalan 2022. Emiten di sektor pertambangan, telekomunikasi, dan farmasi tampak mendominasi aksi korporasi tersebut. Teranyar, emiten menara Grup Telkom, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel mengumumkan akuisisi 6.000 menara milik PT Telekomunikasi Selular. Bersamaan dengan itu, MTEL juga akan menyewakan kembali 6.000 menara tersebut ke Telkomsel. MTEL juga menggenggam janji serta komitmen dari Telkomsel untuk memesan 1.000 menara BTS dari perseroan dalam waktu 3 tahun mendatang. Ditambah lagi dengan sewa menyewa atas 712 lahan milik Telkomsel oleh perseroan di mana menara didirikan. Total nilai sederet aksi korporasi itu mencapai Rp10,28 triliun. Berbarengan dengan MTEL, PT Astrindo Nusantara Infrastuktur Tbk. (BIPI) yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas baru saja mengakuisisi PTT Mining Ltd Hongkong senilai US$471 juta dari PT Sintesa Bara Gemilang dan PTT International Holdings Limited. Perusahaan yang dicaplok BIPI memiliki konsesi tambang batu bara di Brunei Darussalam, Madagaskar, dan tiga konsesi di Kalimantan. Menurut Direktur Utama Astrindo Ray Anthony Gerungan, akuisisi PTTML membuka peluang baik karena harga batu bara sedang bagus.
Agresivitas untuk menggulirkan akuisisi juga ditempuh oleh emiten sektor farmasi. PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF), misalnya, sedang mematangkan pengambilalihan 80% saham mayoritas PT Aventis Pharma dari Sanofi Aventis Participations dan Hoechst GMBH (Sanofi). Langkah serupa ditempuh oleh PT Pyridam Farma Tbk. (PYFA) yang akan mengakuisisi PT Ethica Industri Farmasi dengan estimasi nilai objek transaksi sebesar Rp163,4 miliar. Aksi lincah emiten menambah portofolio asetnya lewat akuisisi dinilai sebagai strategi taktis untuk mendorong kinerja di kemudian hari. Kendati begitu, risiko pendanaan perlu diperhatikan agar tidak membebani neraca keuangan. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menerangkan para emiten benar-benar memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi melalui aksi akuisisi tersebut.









