Pembiayaan Rumah Belum Optimal
Penyaluran bantuan pembiayaan perumahan bersubsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah masih perlu didorong. Skema pembiayaan yang diselenggarakan pemerintah belum terserap optimal. Bantuan pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) terdiri atas tiga jenis, yakni fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) dan subsidi bantuan uang muka, bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT), serta Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera). Dari data Badan Pengelola Tapera, per 29 Juli 2022, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) FLPP sejumlah 116.155 unit atau 51,4 % target, sedangkan penyaluran Tapera tercatat baru 2.000 unit. Adapun penyaluran BP2BT, seperti dirilis Kementerian PUPR, berjumlah 3.024 unit atau 13,4 % target.
Mulai tahun 2022, Kementerian PUPR membagi segmentasi layanan FLPP untuk MBR berpenghasilan tetap, BP2BT untuk MBR berpenghasilan tidak tetap, dan Tapera untuk melayani peserta Tapera. Saat ini, peserta Tapera baru sebatas pegawai negeri sipil. Kriteria MBR antara lain berpenghasilan maksimal Rp 8 juta per bulan. Deputi Komisioner Bidang Pemanfaatan Dana Badan Pengelola Tapera Ariev Baginda mengakui, penyaluran pembiayaan Tapera masih sedikit. Penyebabnya, keterbatasan kemampuan mencicil karena terikat banyak pinjaman lain sehingga pengajuan KPR melalui skema Tapera ditolak bank. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023