Waskita Suntik Trans Jabar Tol Rp 90,78 Miliar
PT Waskita Karya (Persero) Tbk melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR), menyuntikkan modal Rp 90,78 miliar ke PT Trans Jabar Tol, anak usaha WTR, yang mengelola Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi. ”Transaksi ini merupakan transaksi afiliasi karena WTR sebagai anak usaha perseroan dengan kepemilikan 92,10 %,” demikian penjelasan manajemen Waskita. Kamis (29/9). (Yoga)
Laba BTPN Triwulan II-2022 Tumbuh Tipis
Laba bersih PT BTPN Tbk triwulan II-2022 sebesar Rp 1,67 triliun, tumbuh 2 % dibandingkan periode yang sama pada 2021 yang sebesar Rp 1,64 triliun. Penyaluran kredit BTPN triwulan II-2022 tumbuh 10 % secara tahunan menjadi Rp 149,25 triliun. Direktur Utama BTPN Henoch Munandar, Kamis (29/9/), menjelaskan, seiring pemulihan ekonomi, permintaan kredit turut meningkat. (Yoga)
GIIAS Momentum Pertumbuhan Otomotif
Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) Medan, 5-9 Oktober, di Hotel and Convention Santika Premiere Dyandra, jadi momentum pertumbuhan otomotif di Sumut. Project Director Astra Financial Tan Chian Hok, Kamis (29/9) menyebut industri otomotif nasional pulih dengan penjualan 650.000 mobil hingga Agustus, dan diperkirakan 950.000 unit hingga akhir tahun. (Yoga)
Harga BBM Naik, Jumlah Penumpang Transjakarta Naik 10 Persen
Kenaikan harga BBM mulai menarik warga beralih menggunakan angkutan umum dari kendaraan pribadi. Operator angkutan umum di Jakarta mencatat ada kenaikan jumlah penumpang. Transjakarta mengklaim terjadi kenaikan penumpang 10 % dan MRT Jakarta mencatatkan kenaikan pengguna 3,8 %. Hal ini diungkapkan Kepala Divisi Sekretaris Perusahaan PT Transportasi Jakarta Anang Rizkani Noor serta Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta (Perseroda) Muhammad Effendi, Kamis (29/9). (Yoga)
Strategi Hadapi Pasar yang Kian Berat
Kenaikan inflasi, harga BBM dan keputusan BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,25 %, yang akan diikuti kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR), mulai memicu kegelisahan konsumen. Kegelisahan konsumen, khususnya masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, itu terkait upaya menjangkau rumah. Syahril (33), karyawan swasta di Jakarta, menuturkan, rentetan kenaikan tersebut bakal sangat membebani dirinya yang sedang mengangsur pembelian rumah tapak nonsubsidi di salah satu bank nasional. ”Apabila terjadi kenaikan suku bunga acuan BI, bunga KPR bakal mengikuti. Sementara kesejahteraan profesi saya kurang mengimbangi kenaikan bunga KPR,” tutur Syahril, Rabu (28/9). ”Bank tempat saya mengambil KPR hanya memberikan dua tahun bunga KPR tetap. Setelah itu, bunga KPR floating,” ujarnya.
Vice President Consumer Loans Group PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ayu Pertiwi mengemukakan, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan biasanya akan diikuti oleh perbankan. Pada bulan Oktober 2022, Bank Mandiri berencana melakukan koreksi suku bunga kredit, tetapi tetap akan ada penawaran spesial suku bunga kredit bagi nasabah. ”(Suku bunga) KPR itu ada hitungan bisnis, tetapi kami juga berkomitmen membantu masyarakat untuk bisa memiliki rumah sendiri,” katanya dalam diskusi ”Kelola Rencana Keuangan ala Milenial untuk Miliki Properti”, Kamis (29/9). Ayu menambahkan, mayoritas transaksi rumah saat ini adalah untuk rumah tinggal (end user) dengan harga unit rata-rata di bawah Rp 1 miliar. Konsumen tidak perlu menahan diri untuk membeli properti sesuai kebutuhan, mengingat harga pasar cenderung terus naik.
Managing Director Synthesis Huis Aldo Daniel mengemukakan, generasi milenial kini mendominasi pasar perumahan sehingga produk hunian yang ditawarkan kini menyasar kebutuhan dan gaya hidup milenial yang praktis. Proyek Synthesis Huis di Jakarta Timur, di antaranya mengusung desain rumah kecil tiga lantai pada luas lahan 60-70 meter, konsep lingkungan hijau, dan daur ulang air hujan. ”Rumah compact lebih mudah diurus dan dibersihkan,” katanya. Aldo menambahkan, fleksibilitas pembayaran dan diskon harga rumah masih menjadi jurus pengembang untuk menarik minat pasar, baik untuk rumah tinggal maupun investasi. Meskipun generasi milenial memiliki banyak pilihan investasi, pemenuhan rumah merupakan kebutuhan dasar. (Yoga)
Lampu Kuning Risiko Kreditor
Soal rencana penyaluran kredit, bank dan multifinance perlu waspada. Sebab, kenaikan suku bunga acuan yang merembet ke bunga kredit, bakal memengaruhi profil risiko kredit para debitur. Potensi kenaikan risiko kredit di perbankan dan multifinance itu tergambar dari kajian PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) yang dirilis, Kamis (29/9). Kendati jumlah debitur berisiko tinggi menurun beberapa bulan belakangan, kehati-hatian dalam pemberian kredit tetap harus ditingkatkan karena indikasi kenaikan risiko mulai terlihat. Dirut IdScore Yoha-nes Arts Abimanyu mengatakan, secara umum tren penurunan debitur berisiko tinggi (high risk) dan berisiko sangat tinggi (very high risk) sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19. “Berdasarkan data kami, ada perbaikan profil risiko di semua segmen sejak Maret 2022. Artinya, banyak debitur yang pulih setelah pandemi mereda. Namun, lembaga keuangan tetap perlu berhati-hati, karena ada indikasi kenaikan kembali pada Juli 2022,” ujarnya, Kamis (29/9). (Yoga)
Menelusuri Jejak INA di Traveloka
Indonesia Investment Authority (INA) akhirnya merealisasikan rencananya untuk ikut memberikan pendanaan kepada Traveloka bersama Black-rock, Allianz Global Investors, Orion Capital Asia, dan lembaga keuangan terkemuka lainnya. Pengumuman INA, Kamis (29/9) menjawab kabar yang telah berhembus lama terkait aksi investasi itu. Traveloka mengantongi pendanaan US$ 300 juta atau Rp 4,5 triliun. Langkah INA memberikan pendanaan pada Traveloka cukup mengejutkan karena dilakukan di tengah seretnya pendanaan terhadap perusahaan rintisan atau startup di seluruh dunia. CEO INA Ridha Wirakusumah mengatakan bahwa pandemi telah mempercepat transformasi digital. Perubahan perilaku pelanggan ditambah dengan layanan teknologi inovatif, mencerminkan bagaimana digitalisasi dapat membantu mendorong pemulihan ekonomi. “Mendukung sektor perjalanan dengan kemudahan dan akses yang tak tertandingi, agen perjalanan online (OTA) pun mengubah lanskap industri selama pandemi Covid-19,” katanya, Kamis (29/9). OTA berperan dalam pemesanan bruto pariwisata Indonesia yang meningkat 24 % sebelum pandemi Covid-19 menjadi 33% tahun lalu. (Yoga)
Ekonomi RI Masih Tangguh Untuk Hadapi Resesi Global
Ekonomi Indonesia masih tangguh menghadapi ancaman resesi global. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini merupakan yang terkuat di antara negara-negara G20. Agar perekonomian nasional tetap elastis (resilient) dan tumbuh di atas 5%, pemerintah akan mengawal daya beli masyarakat dengan menjaga inflasi tetap rendah, sehingga konsumsi rumah tangga tumbuh berkelanjutan. Di sisi lain, pemerintah akan terus mendorong investasi, meningkatkan ekspor, dan menggenjot belanja modal APBN. Hal itu diungkapkan Presiden Jokowi pada acara UOB Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Kamis (29/9). Jokowi merespons proyeksi sejumlah lembaga internasional bahwa perekonomian global pada 2023 akan terjebak dalam jurang resesi, terutama akibat lonjakan inflasi, tren kenaikan suku bunga, serta perang Rusia-Ukraina yang memicu gejolak harga minyak dan komoditas. Menkeu Sri Mulyani mengatakan, Indonesia termasuk sedikit negara di dunia yang PDB riilnya sudah mencapai level prapandemi, bahkan kini di atas 7%. “Itu merupakan pencapaian yang luar biasa di tengah pandemi yang belum berakhir. Malah, banyak negara di dunia belum sepenuhnya pulih,” tutur Menkeu.
Kalangan dunia usaha merespons positif sikap optimisme Presiden Jokowi dan Menkeu Sri Mulyani. “Yang penting pemerintah bisa menjaga betul konsumsi domestik. Asalkan konsumsi domestik terjaga, ekonomi kita siap menghadapi ancaman resesi global,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Hariyadi Sukamdani kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (29/9) malam. Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Sarman Simanjorang. “Agar ekonomi kita tetap resilient, pemerintah juga harus proaktif merespons dinamika ekonomi global dan membuat kenijakan-kebijakan yang probisnis dan produnia usaha,” ujar Sarman yang dihubungi Investor Daily Jakarta, Kamis (29/9) malam. Ketua Umum Kadin Indonesia, Arsjad Rasjid mengatakan, ekonomi Indonesia tetap tangguh karena ditopang usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mencapai 64,2 juta, dengan kontribusi 61,07% terhadap produk domestic bruto (PDB) dan menyerap 97% dari total tenaga kerja atau sekitar 117 juta pekerja. (Yoga)
Right Issue 3.5 Miliar Saham, Bank Raya Siap Lebih Ekspansif
RUPS Luar Biasa (RUPSLB) Tahun 2022 PT Bank Raya Indonesia Tbk (Bank Raya), Kamis (29/9), menyetujui rencana penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 3,5 miliar saham. Dana yang diperoleh dari aksi korporasi itu dipercaya mampu memacu Bank Raya lebih ekspansif di masa mendatang. Direktur Keuangan Bank Raya Akhmad Fazri menjelaskan, RUPSLB perseroan menyetujui penerbitan sebanyak-banyaknya 3,5 miliar dengan nilai Rp 100 per saham melalui PMHMETD. Jumlah itu setara 15,39% modal yang ditempatkan dan disetor penuh perseroan pada tanggal 31 Juli 2022. “Dana yang terhimpun pada PMHMETD akan digunakan untuk ekspansi bisnis perseroan melalui penyaluran kredit serta untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum berdasarkan POJK No. 12/2020,” kata Fazri dalam konferensi pers daring, Kamis (29/9). Dia menerangkan, prospek bisnis Bank Raya ke depan diharapkan bisa lebih baik seiring transformasi menjadi bank digital. Perseroan terus berupaya mengakomodasi layanan di samping perkembangan perilaku konsumen dan teknologi yang semakin cepat.
“Meskipun baru dalam beberapa
bulan kita me-launching produk digital saving, pertumbuhan penghimpunan dana customer yang diperoleh
menunjukkan hal-hal positif. Tentunya dalam proses transformasi
ini secara fundamental Bank Raya
akan semakin baik dan bisnis-bisnis
digital lending-nya juga sudah mulai
menunjukkan perkembangan yang
cukup positif,” jelas Fazri.
Lebih lanjut, Direktur Digital
dan Operasional Bank Raya Bhimo
Wikan Hantoro menambahkan,
realisasi kredit digital telah tumbuh
positif dan dalam tren yang masih
berlanjut. “Performa (outstanding)
digital lending yang tercatat tumbuh
300% year on year menjadi sebesar
Rp 652 miliar,” kata dia.
Selain dari sisi kredit, emiten
berkode AGRO ini pun berhasil
mengakuisisi banyak nasabah baru.
Hal ini tidak terlepas dari dukungan
jaringan PT Bank Rakyat Indonesia
Tbk (BRI) sebagai induk perseroan.
“Akuisisi numbers of account
(NoA) yang dilakukan secara digital
dan online to offline, dimana kita
memang memanfaatkan jaringan
yang sudah kita punya untuk melakukan literasi. Serta melakukan
akuisisi untuk customer-customer
kita, yang saat ini sudah mencapai
angka sekitar 350 ribu new accounts
dalam beberapa bulan terakhir,”
ungkap Bhimo. (Yoga)
Presiden: Islam, Nasionalis, dan Jawa
Kontroversi atas dominasi Presiden Indonesia yang berasal dari suku Jawa menyegarkan kembali memori lama pada dominasi Presiden AS yang berasal dari orang kulit putih, ras AngloSaxon, dan agama White Anglo-Saxon Protestant (WASP). Sebagai negara demokrasi yang tua dan mapan, AS perlu ratusan tahun lamanya untuk mendobrak dominasi kekuasaan politik WASP ini. Pada tahun 2012, AS mengukir sejarah baru bahwa, baik presiden maupun wakil presiden, bukan berasal dari WASP. Barack Obama menjadi presiden kulit hitam untuk pertama kalinya dengan wakil presiden Joe biden yang beragama Katolik. Sebagai agama minoritas, Katolik masih menjadi sumber kontroversi dan kebencian ketika John F Kennedy mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1960. Namun, keimanan Biden tak lagi menjadi masalah utama ketika dia mencalonkan diri dan akhirnya terpilih sebagai Presiden AS yang beragama Katolik setelah Kennedy.
Sejarah politik membuktikan, Agama Islam, paham nasionalis, dan suku Jawa menjadi tiga variabel penting untuk menjadi presiden Indonesia. Dan terbukti, semua presiden Indonesia beragama Islam. Seperti ”kultur Anglo Protestan sudah bertahan selama tiga ratus tahun sebagai elemen terpenting dari identitas AS sesuai analisis politik Samuel P Huntington (2004), Islam juga telah menjadi salah satu elemen terpenting dari identitas politik presiden Indonesia. Agama Islam dan paham nasionalis itu ternyata harus ditopang dengan kenyataan sejarah bahwa presiden berasal dari Jawa, suku yang paling besar dan dominan dalam kekuasaan politik Indonesia. Reformasi yang menghasilkan pemilihan langsung satu orang satu suara semakin memperkukuh dominasi kekuasaan politik Jawa. Demokrasi kita tampaknya butuh waktu yang sangat lama untuk mampu keluar dari dominasi presiden yang beragama Islam, berpaham nasionalis, dan berasal dari suku Jawa. (Yoga)









