OJK Atur Bunga Pinjaman Industri Teknologi Finansial
OJK mengatur penerapan pemberian bunga pada industri teknologi finansial pinjaman antar pihak. Pemberian bunga maksimal 0,4 % per hari hanya diberikan pada pinjaman multiguna atau konsumtif dengan jangka waktu pendek, sedangkan bunga pinjaman produktif dibatasi 12-24 % per tahun. Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Ogi Prastomiyono mengatakan, saat ini memang ada kesepakatan dengan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) mengenai batas maksimal pemberian bunga pinjaman 0,4 % per hari. Namun, OJK menilai pemberian besaran bunga itu harus disesuaikan dengan peruntukan pinjamannya. Menurut Ogi, besaran bunga pinjaman 0,4 % per hari itu hanya untuk pinjaman multiguna atau konsumtif dengan tenor pengembalian jangka waktu pendek, yakni di bawah 30 hari. ”Tidak ada pinjaman multiguna atau konsumtif dengan tenor panjang, misalnya 1 tahun, yang kemudian dikenakan bunga 0,4 % per hari atau menjadi 146 % per tahun,” ujarnya, Rabu (28/9) di Jakarta. (Yoga)
Pariwisata Berkelanjutan Jangan Sekadar Tren Sesaat
Manajemen pariwisata berkelanjutan dapat diterapkan untuk Indonesia yang mayoritas destinasi wisatanya mengandalkan alam sebagai daya tarik utama. Namun, penerapan konsep pengelolaan seperti itu sering kali terjebak dalam tren semata. Pariwisata berkelanjutan adalah pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan. Pemerintah harus tegas mendorong pelaku industri menerapkan manajemen pariwisata berkelanjutan. Kalau dari sisi konsumen, riset dari Booking.com menunjukkan sudah banyak wisatawan peduli kelestarian lingkungan,” kata pendiri dan CEO Wise Steps Consulting Mochamad Nalendra dalam webinar ”Rethinking Tourism: Transitioning Into a Greener Tourism”, Rabu (28/9) di Jakarta. Nalendra menuturkan, di Indonesia, pengembangan industri pariwisata dilakukan oleh multisektor pemerintahan dari pusat sampai daerah. Ini menjadi tantangan utama penerapan pariwisata berkelanjutan. Sebab, ada potensi tiap instansi pemerintahan memiliki cara pandang berbeda.
Solusi mengatasi tantangan itu, lanjut Nalendra, adalah membuat organisasi khusus di daerah destinasi yang khusus menangani implementasi pariwisata berkelanjutan. Ia mencontohkan Kabupaten Wakatobi, Sulteng. Pemerintah kabupaten ini membuat organisasi atau satuan tugas manajemen pariwisata berkelanjutan yang bertugas mengorganisasi peran antar dinas. Di kabupaten itu juga telah mengeluarkan kebijakan pelarangan penggunaan plastik. Satuan tugas mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut. Menurut Co-Founder dan CEO Bobobox Indra Gunawan, tantangan utama penerapan pariwisata berkelanjutan, yaitu kesadaran masyarakat. Edukasi pentingnya pariwisata berkelanjutan perlu ditingkatkan, meskipun sudah banyak kelompok pelaku pariwisata dan organisasi masyarakat sipil turut menyuarakan. (Yoga)
Pabrik Biogas Terkompresi Dibangun di Sumut
Pabrik biogas terkompresi terbesar di Asia dibangun di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Menurut Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo, saat peletakan batu pertama pabrik biogas terkompresi PT United Kingdom Indonesia Plantations, di Langkat, Rabu (28/9) pabrik itu merupakan satu dari 25 pabrik yang akan dibangun di Sumut hingga 2024. ( Yoga)
Bantuan Banyak, tetapi Sarana Sanitasi Minim
Sampai Rabu (28/9) bantuan materi dan non materi terus berdatangan ke posko sekitar lokasi kebakaran di belakang Pasar Kembang Cikini di Jalan Cikini Kramat RW 001, Pegangsaan, Menteng, Jakpus, Irawan Prasetyo, Ketua RW 001, mengungkapkan, ada yang menyalurkan bahan pokok, makanan siap santap, dan pakaian. Namun, ketersediaan air bersih serta fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) masih terbatas. Hal ini dikeluhkan Aida (48), salah satu korban kebakaran yang mengungsi di posko bersama dua anaknya. ”Kebetulan air di tempat MCK kecil. Jadi, kami yang di posko menumpang dulu ke warga yang air dan listriknya hidup,” ujarnya. Ia juga mengharapkan ada fasilitas MCK untuk perempuan. (Yoga)
Rem Inflasi & Hadapi Resesi: Turunkan Harga BBM
Harga bahan bakar minyak (BBM) berpeluang turun seiring penurunan harga minyak mentah. Pemerintah sebaiknya memanfaatkan peluang ini untuk menahan potensi lonjakan inflasi dan menghadapi resesi, bukan sekadar menghemat anggaran.
Hingga pukul 23.00 WIB, kemarin (28/9), harga minyak WTI berada di posisi US$ 81, 89 per barel. Harga ini sudah turun sekitar 33% dari posisi US$ 122,42 per barel yang tercapai pada 8 Juni 2022.
Nah, penurunan harga BBM ini bisa menjadi cara mujarab meredam inflasi yang diproyeksikan tembus di atas 6% . Maklum, rata-rata biaya energi warga Indonesia, termasuk belanja BBM, mencapai 15% dari total pengeluaran per bulan. Oleh karena itu, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, seharusnya pemerintah bisa menurunkan harga BBM, bahkan ke level sebelum kenaikan 3 September 2022.
Penurunan harga BBM ini bisa menjadi penahan laju inflasi serta menjaga daya beli masyarakat, terutama saat menghadapi resesi ekonomi global.
Lonjakan Komoditas Bikin PNBP Moncer
Kinerja penerimaan negara bukan pajak (PNBP) makin moncer. Hasil tersebut tak lepas dari kinerja PNBP sektor sumber daya alam.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, negara telah mengantongi Rp 386,0 triliun PNBP pada periode laporan hingga Agustus 2022. Ini setara 80,1% dari target PNBP tahun ini.
"Kinerja PNBP yang baik ini didukung oleh meningkatnya pendapatan semua komponen PNBP, kecuali pendapatan badan layanan umum (BLU)," terang Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Agustus 2022, Senin (26/9).
Rupiah Jatuh, Beban Utang Bisa Membengkak
Nilai tukar rupiah yang masih loyo harus menjadi perhatian pemerintah.
Sebab, utang pemerintah masih ada yang berbentuk valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat (AS). Jumlahnya pun tergolong besar.
Apalagi kurs rupiah makin payah belakangan ini.
Pada perdagangan Rabu (28/9), kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spor Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp 15.243 per dolar. Artinya kurs versi Jisdor tersebut melemah 0,58% dari posisi per Selasa (27/8).
Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengklaim bahwa kondisi rupiah yang loyo belum terasa memberatkan beban pembayaran utang pemerintah.
Prospek Kinerja PGAS Masih Akan Ngegas
Kenaikan harga jual rata-rata dan pertumbuhan volume distribusi gas akan menjadi pendorong kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) hingga akhir tahun ini. Saham PGAS pun masih punya peluang penguatan jangka panjang. Analis Panin Sekuritas Christian Anderson Yuwono mengatakan, saham-saham berbasis komoditas pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bergerak positif sejalan harga komoditas dasarnya. Direktur Utama Perusahaan Gas Negara M. Haryo Yunianto mengatakan, kinerja operasional tumbuh positif. Volume niaga gas mencapai 930 billion british thermal unit per day (bbtud) di semester pertama 2022. Realisasi ini naik 4,1% secara tahunan.
Gandeng Hyundai Engineering, ADCP Pacu Hunian Terintegrasi
Emiten properti PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP) terus menggeber ekspansi bisnis di sisa tahun ini. Yang terbaru, ADCP menjalin kerjasama pengembangan lahan dengan perusahaan asal Korea Selatan, yakni Hyundai Engineering Co Ltd.
Dalam keterbukaan informasinya ke Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/9), manajemen ADCP menjelaskan, pihaknya telah menerima kunjungan Hyundai untuk melihat beberapa lokasi pengembangan lahan proyek yang dimiliki.
"Kunjungan ini dapat memberikan gambaran lebih nyata dan mendorong percepatan rencana kerjasama ADCP dan Hyundai Engineering," ungkap R Adi Sampurno,
Corporate Secretary
Adhi Commuter Properti.
Tarif Cukai Bikin Pudar Emiten Rokok
Kinerja PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) masih akan tertekan di sepanjang tahun ini. Analis melihat kenaikan cukai rokok menjadi katalis pelemah kinerja HMSP.
Analis Kanaka Hita Solvera Andhika Cipta Labora memperkirakan, prospek kinerja HMSP di tahun ini masih berat. Sebab, pemerintah memang berkomitmen untuk mengontrol produksi rokok. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, produksi rokok nasional selama delapan bulan turun 3,3%.
Sejatinya HMSP juga memiliki produk tembakau elektrik IQOS yang bermerek HEETS. Jumlah pengguna IQOS hingga akhir 2021 meningkat menjadi 65.000 anggota dari tahun 2020 sebanyak 30.000.
Gerai IQOS pun meningkat menjadi 78 gerai di akhir 2021 dari 14 gerai di tahun 2020. Sayangnya, kontribusi pendapatan tidak nampak dalam laporan keuangan HMSP.









