;

Presiden: Islam, Nasionalis, dan Jawa

Presiden: Islam,
Nasionalis, dan Jawa

Kontroversi atas dominasi Presiden Indonesia yang berasal dari suku Jawa menyegarkan kembali memori lama pada dominasi Presiden AS yang berasal dari orang kulit putih, ras AngloSaxon, dan agama White Anglo-Saxon Protestant (WASP). Sebagai negara demokrasi yang tua dan mapan, AS  perlu ratusan tahun lamanya untuk mendobrak dominasi kekuasaan politik WASP ini. Pada tahun 2012, AS mengukir sejarah baru bahwa, baik presiden maupun wakil presiden, bukan berasal dari WASP. Barack Obama menjadi presiden kulit hitam untuk pertama kalinya dengan wakil presiden Joe  biden yang beragama Katolik. Sebagai agama minoritas, Katolik masih menjadi sumber kontroversi dan kebencian ketika John F Kennedy mencalonkan diri sebagai presiden tahun 1960. Namun, keimanan Biden tak lagi menjadi masalah utama ketika dia mencalonkan diri dan akhirnya terpilih sebagai Presiden AS yang beragama Katolik setelah Kennedy.

Sejarah politik membuktikan, Agama Islam, paham nasionalis, dan suku Jawa menjadi tiga variabel penting untuk menjadi presiden Indonesia. Dan terbukti, semua presiden Indonesia beragama Islam. Seperti ”kultur Anglo Protestan sudah bertahan selama tiga ratus tahun sebagai elemen terpenting dari identitas AS sesuai analisis politik Samuel P Huntington (2004), Islam juga telah menjadi salah satu elemen terpenting dari identitas politik presiden Indonesia. Agama Islam dan paham nasionalis itu ternyata harus ditopang dengan kenyataan sejarah bahwa presiden berasal dari Jawa, suku yang paling besar dan dominan dalam kekuasaan politik Indonesia. Reformasi yang menghasilkan pemilihan langsung satu orang satu suara semakin memperkukuh dominasi kekuasaan politik Jawa. Demokrasi kita tampaknya butuh waktu yang sangat lama untuk mampu keluar dari dominasi presiden yang beragama Islam, berpaham nasionalis, dan berasal dari suku Jawa. (Yoga)


Tags :
#Isu Lokal
Download Aplikasi Labirin :