Prospek Landai Emiten Rokok
Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau rata-rata 10% pada 2023 dan 2024 bakal kian menekan kinerja laba emiten rokok. Tahun ini saja, laba sejumlah produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah anjlok lebih dari 30% secara agregat. Seperti diketahui, usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan keputusan presiden untuk menaikkan tarif rata-rata tertimbang cukai hasil tembakau. Penaikan tarif cukai pun ditetapkan berbeda untuk setiap golongan rokok. Tarif cukai untuk sigaret kretek mesin I dan II naik rata-rata antara 11,5%—11,75%. Adapun, tarif cukai untuk sigaret putih mesin I dan II naik sekitar 11%, serta sigaret kretek tangan rata-rata naik hingga 5%. Terlebih, kinerja emiten rokok tahun ini pun tengah melesu. Hingga kuartal III/2022, dua raksasa emiten rokok yakni PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. mencatatkan penurunan laba yang relatif tajam. Dalam laporan keuangan perusahaan, laba bersih HMSP tercatat senilai Rp4,9 triliun per 30 September 2022 atau anjlok 11,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,5 triliun. Sementara itu, nasib yang lebih buruk melanda GGRM. Produsen rokok yang berbasis di Kediri Jawa Timur itu membukukan penurunan laba bersih sampai dengan 63,77% hingga kuartal ketiga tahun ini. Laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp1,49 triliun, padahal tahun lalu di periode yang sama mampu menghimpun Rp4,13 triliun.
ULASAN SEKTORAL : EMITEN KESEHATAN JAGA ‘KEBUGARAN’
Sejumlah emiten sektor kesehatan mampu mengamankan laba bersih lebih tinggi pada 9 bulan 2022 dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi Covid-19. Inovasi produk, perluasan jaringan distribusi, pengendalian biaya, dan ruang penyesuaian harga menjadi siasat untuk menjaga tingkat margin keuntungan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan dari 12 emiten kesehatan yang telah menyampaikan laporan keuangan per September 2022 mengalami penurunan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Bahkan, dua emiten tercatat berbalik rugi. Meski begitu, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) menjadi dua perusahaan sektor kesehatan yang masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba dalam 9 bulan 2022. Bahkan, laba bersih KLBF konsisten bertumbuh sejak periode yang sama 2019. Chief Financial Officer Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata memaparkan pertumbuhan pendapatan dan laba tak terlepas dari langkah perseroan terus memperhatikan pentingnya pengelolaan atas peningkatan biaya bahan baku melalui kebijakan kenaikan harga, pengelolaan portofolio, dan pengelolaan efisiensi biaya operasional. Pada 2022, KLBF mempertahankan target penjualan dan laba bersih tumbuh sekitar 11% hingga 15%.
Kendati mayoritas emiten mengalami koreksi secara tahunan, sebagian besar masih mampu mencetak keuntungan yang lebih tinggi dari 9 bulan 2019 atau prapandemi. Beberapa di antaranya, ialah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) Rp245,52 miliar pada 9 bulan 2022 dari Rp210,05 miliar pada 9 bulan 2019. Selain HEAL, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga mengelola rumah sakit membukukan laba bersih Rp744,18 miliar pada 9 bulan 2022 atau lebih tinggi dari realisasi laba bersih Rp531,79 miliar pada 9 bulan 2019. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan saat ini pergerakan saham sektor rumah sakit memang terkoreksi. Hal ini berbanding terbalik dari tahun lalu saat lonjakan pandemi dengan kapasitas rumah sakit yang masih lebih terbatas dibanding sekarang.
CAPAIAN LIFTING NASIONAL : HULU MIGAS MASIH MENANTANG
Tahun ini menjadi periode yang cukup menantang bagi industri hulu minyak dan gas bumi setelah produksi dan lifting nasional sepanjang 2022 diproyeksi tidak dapat mencapai target yang telah ditentukan, meski harga komoditas tersebut terus bertengger di level tinggi. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan produksi minyak bumi pada akhir tahun ini mencapai 626.000 barel per hari (bph), lebih rendah 10,95% dibandingkan dengan target yang ditetapkan sebesar 703.000 bph. Hal serupa terjadi pada proyeksi salur gas bumi yang diproyeksi mencapai 5.527 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada akhir tahun ini. Angka tersebut juga lebih rendah 4,70% dari target yang dipatok 5.800 MMSCFD. Plt. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Mohammad Kemal mengatakan bahwa terdapat beberapa hal yang menyebabkan produksi hulu migas tahun ini diperkirakan tidak akan mencapai target. Salah satunya adalah capaian produksi tahun lalu yang lebih rendah dari perkiraan. Tahun lalu, produksi minyak bumi tercatat 660.300 bph, sedangkan target yang harus dicapai adalah 705.000 bph. Adapun realisasi salur gas tahun lalu 5.501 MMSCFD dari target 5.638 MMSCFD. Berdasarkan catatan SKK Migas, unplanned shutdown yang terjadi karena persoalan kabel di Banyu Urip pada Januari tahun ini menyebabkan penurunan produksi minyak yang cukup dalam. Selain itu, kebocoran selang offloading milik ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) pada September juga mengoreksi angka produksi cukup banyak. Adapun, Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan bahwa perusahaan hulu migas belakangan justru mengoptimalkan kegiatan eksploitasi sumur migas di tengah momentum harga yang masih tertahan tinggi pada kuartal keempat tahun ini.
PHK Massal Dipertanyakan
Kabar mengenai PHK massal di industry padat karya akhir-akhir ini kencang berembus. Kendati tetap mewaspadai potensi tekanan yang muncul di sektor riil, pemerintah mempertanyakan keputusan perusahaan melakukan PHK di tengah kondisi industri yang sebenarnya sedang tumbuh pesat. Pantauan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu (BKF Kemenkeu) terhadap kinerja ekspor dan keuangan sejumlah perusahaan yang melantai di bursa saham menunjukkan, kondisi industri baik-baik saja, bahkan masih bisa tumbuh pesat di tengah gejolak ekonomi global. Selama Januari-Agustus 2022, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) secara tahunan masih tumbuh 20,21 persen. Laju ekspor memang menurun untuk dua produk TPT, yaitu kain (-2,5 %) dan berbagai produk tekstil (-5,76 %). Namun, produk TPT lainnya meningkat, bahkan tumbuh hingga dua digit. Dari kinerja keuangan, pendapatan penjualan industri tekstil terpantau tumbuh di atas 10 %, lebih tinggi dibandingkan dengan industri manufaktur yang pertumbuhan penjualannya 5 %.
”Jadi, ini sebenarnya agak membingungkan kalau sampai terjadi PHK,” kata Plt Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro (PKEM) BKF Kemenkeu Abdurohman akhir pekan lalu di Bogor, Jabar. Ia mengatakan, selain industri tekstil, kondisi sektor manufaktur secara umum juga masih baik-baik saja. Ada dua indikator yang dipakai untuk menakar kondisi perusahaan. Pertama, pendapatan perusahaan. Kedua, interest coverage ratio (ICR) atau kemampuan perusahaan membayar suku bunga pinjaman dengan menggunakan laba yang dihasilkan. Pemerintah tetap akan mengantisipasi dan mencermati potensi rambatan risiko global yang mulai berdampak pada PHK di sejumlah sector padat karya, seperti disampaikan Menkeu Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) IV, Kamis (3/11). (Yoga)
Selamat Datang Generasi Alfa
Belum selesai membahas generasi Y dan Z, kita sudah harus mengamati kehadiran generasi Alfa. Mereka tentu belum masuk ke dunia kerja karena lahir antara 2011 dan 2025. Namun, sudah mulai masuk ke pasar sebagai konsumen. Mark McCrindle, pendiri perusahaan konsultasi tentang generasi di Australia bernama McCrindle, mendefinisikan generasi Alfa sebagai generasi yang paling berlimpah materi, paling paham teknologi yang pernah ada, dan menikmati usia hidup yang lebih lama daripada generasi sebelumnya. Tambahan lain, mereka akan mengenyam pendidikan lebih lama, mulai mendapatkan penghasilan bertahun-tahun kemudian, dan tinggal di rumah bersama orangtua lebih lama daripada generasi Y dan Z. Kemungkinan besar generasi ini akan tinggal di rumah hingga akhir usia 20-an.
Meski ada perdebatan soal kriteria itu, kita melihat kenyataan bahwa generasi ini sejak lahir sudah mengenal perangkat teknologi digital, terbiasa mengakses internet serta terpapar berbagai kultur, nilai, dan budaya. Mereka merupakan pasar masa depan dunia bisnis. Menurut Direktur Pemasaran MarketerHire Tracey Wallace dalam salah satu tulisannya, jutaan anggota generasi Alfa akan lahir, sementara generasi mereka sudah berjumlah 2,2 miliar pada 2024. Saat ini mereka adalah kelompok di bawah usia 12 tahun yang pada 2030 akan menjadi 11 % angkatan kerja. Untuk itu, pemilik merek perlu paham siapa generasi Alfa. Semua ciri yang melekat jadi bahan prediksi tentang bagaimana kelompok ini akan berbelanja, bekerja, dan lain- lain. Pengeluaran orangtua tak sedikit didorong oleh keinginan anak. Dalam konteks ini, generasi Alfa akan menjadi salah satu faktor penentu pengeluaran rumah tangga. Merek perlu kreatif membuat dan memasarkan produk dengan mengingat karakter mereka. (Yoga)
Ironi Swasembada Gula
Berharap dapat meniru cara Brasil mengolah tebu menjadi gula dan bioetanol, pemerintah menyiapkan regulasi tentang percepatan swasembada gula dan penyediaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati. Namun, urgensinya menuai diskusi publik. Sebab, selama ini Indonesia kepayahan mengejar target swasembada dan menjadi pengimpor gula dalam jumlah yang tidak sedikit. Regulasi itu akan dituangkan dalam Perpres tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati. Selain menjamin ketahanan pangan, target swasembada gula itu untuk menjamin ketersediaan bahan baku dan bahan penolong industri, mendorong perbaikan kesejahteraan petani tebu, dan meningkatkan ketahanan energi. Kendati telah berulang menjadi ambisi pemerintah, bahkan sejak tahun 1970-an, target swasembada gula belum benar-benar terwujud. Pada 2002, misalnya, pemerintah mencanangkan swasembada gula pada tahun 2007, lalu diundur jadi 2008, kemudian direvisi jadi 2009 dan hanya untuk gula konsumsi masyarakat, tak termasuk gula untuk industri. Selama kurun 2010-2020, target mengejar swasembada gula belum reda. Namun, upaya mewujudkannya tidak semudah mengalkulasi produksi di atas kertas. Kini, mimpi itu muncul lagi.
Menurut pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, Brasil dapat menerapkan kebijakan itu karena penentuan porsi untuk bioetanol dan gula bergantung pada harga kedua komoditas tersebut di pasar internasional. ”Dampaknya, nilai ekonominya dapat optimal,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (4/11). Artikel Layanan Riset Ekonomi Departemen Pertanian AS (USDA) mencatat, pada periode 2017/2018, harga gula di pasar dunia anjlok. Guna menyiasati pendapatan yang turun dari produksi dan ekspor gula, Brasil meningkatkan produksi etanol dari tebu. Pada periode berikutnya, Brasil hanya mengolah sepertiga tebu di wilayah tengah-selatan untuk gula, sedangkan sisanya untuk etanol. Di Indonesia, Khudori mempertanyakan minat masyarakat dalam menggunakan bioetanol. Agar kontinuitas penggunaannya terjaga, pemerintah mesti menjaga harganya agar kompetitif atau lebih murah jika dibandingkan bahan bakar konvensional yang fluktuaktif di pasar global. Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mencurigai rancangan perpres tersebut memberikan keleluasaan untuk mengimpor gula. ”Prosesnya (penyusunan rancangan perpres) yang terburu-buru menimbulkan dugaan adanya kepentingan yang tidak ditampakkan,” katanya. (Yoga)
Semarak Malam yang Mengungkit Perekonomian Borobudur
Di Jalan Medang Kamulan, tak jauh dari Candi Borobudur, belasan orang duduk berdekatan di atas tikar-tikar dekat gerobak angkringan. Sambil bercengkerama dengan teman atau keluarga, mereka meneguk minuman hangat serta menyantap camilan. ”Sedang gerimis dan dingin begini, enak makan sate usus dan minum jahe hangat,” kata Tika (34), warga Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Jateng. Malam itu, Tika datang bersama suami dan anaknya. Kawasan Borobudur menjadi tempat yang belakangan kerap dipilih keluarga Tika untuk menghabiskan malam. Sekitar pukul 20.00, gerimis mulai berhenti. Lalu lalang orang dan kendaraan makin ramai. Pembeli angkringan yang tadinya hanya belasan bertambah menjadi puluhan orang sehingga tikar-tikar penuh. Suasana semarak di kawasan Borobudur malam itu berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu. Pada bulan yang sama tahun 2019, misalnya, hampir tidak ada warung makan yang buka di atas pukul 20.00 karena jarang ada warga yang beraktivitas di luar rumah saat malam hari.
Helmi (23), warga Kabupaten Temanggung, Jateng, yang kerap berkunjung ke kawasan Borobudur, mengakui ada perubahan itu. ”Dulu, kalau malam itu sepi. Saya dan teman-teman kalua mau kumpul-kumpul sambal makan dan minum paling di angkringan. Sekarang jauh lebih enak, sudah ramai, banyak kafe baru. Kumpul-kumpul lebih nyaman,” tutur Helmi yang beberapa kali berkunjung ke Borobudur bersama komunitas motor trail. Perubahan yang terjadi di kawasan Borobudur disyukuri masyarakat setempat, termasuk pelaku usaha kecil, seperti Mimin (52). Warga Desa Borobudur yang juga pemilik usaha angkringan itu kecipratan untung dari keramaian malam hari di kawasan Borobudur. Mimin baru satu setengah tahun terakhir membuka usaha angkringan yang beroperasi mulai pukul 17.00 hingga pukul 04.00. Pada hari biasa, ia mendapat keuntungan Rp 100.000 per malam. Pada akhir pekan, keuntungan mencapai Rp 500.000 per malam. (Yoga)
G20 Fokus pada Aksi Konkret Bersama
Ketegangan geopolitik dunia membayangi kemungkinan dicapainya konsensus bersama dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Nusa Dua, Bali. Meski demikian, sejumlah pihak tetap optimistis pertemuan itu menghasilkan langkah positif. Indonesia sebagai pemangku Presidensi G20 akan mengupayakan titik temu guna mencapai program-program konkret. Sejauh ini, setelah hampir satu tahun berdialog, para pemangku kepentingan di G20 berhasil mencatatkan sejumlah pencapaian. Jubi r Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, saat dihubungi di Jakarta, Minggu (6/11) mengatakan, ada berbagai program konkret bidang kesehatan yang diusulkan untuk diresmikan dalam KTT G20, 15-16 November, antara lain, pembentukan penanaan pandemi dengan komitmen 1,4 miliar dollar AS dari 20 donor dan 3 filantrop. Usulan berikutnya, formalisasi mekanisme penggunaan dana pandemi. Pada pandemic Covid-19, distribusi dana-dana yang tersedia di tingkat global belum merata. Hal itu tampak dari kesenjangan akses vaksin Covid-19. Mekanisme yang digunakan akan merujuk pada mekanisme akselerator akses peralatan untuk Covid-19 (ACT-A).
Pendanaan dibentuk untuk menghilangkan kesenjangan antar negara sehingga bisa diakses setiap negara yang membutuhkan. Selama ini kesenjangan dalam kesiapsiagaan pandemi terhitung sebesar 10 miliar dollar AS. ”Kami berharap pendanaan ini dibentuk pada akhir masa presidensi G20 Indonesia dan dapat dioperasikan dibawah struktur tata kelola dengan pengawasan ketat. Pendanaan bermanfaat guna meningkatkan kapasitas global dalam pencegahan, persiapan, dan respons terhadap pandemi di masa mendatang,” ujar Nadia. Usulan lain ialah pembentukan jejaring penelitian dan manufaktur untuk vaksin, obat-obatan, dan alat diagnostik. Setidaknya tujuh negara sepakat membentuk jejaring itu. Usulan-usulan itu, menurut Nadia, terdokumentasi dalam chair summary. Selanjutnya, materi itu akan diperdalam melalui pertemuan G20 Joint Finance-Health Ministers Meeting sebelum KTT G20 berlangsung.
Dalam bidang ekonomi, Presidensi G20 Indonesia mencatat langkah positif. Jumat pekan lalu, dalam pertemuan di Bogor, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan, berbagai kesepakatan dapat dicapai di level teknis kerja sama. Terkait isu krisis pangan, misalnya, anggota G20 mengumpulkan total dana komitmen 60,5 miliar dollar AS atau Rp 944,6 triliun. Dana ditujukan bagi program tanggap ketahanan pangan yang akan disalurkan melalui inisiatif kolaborasi global dan regional lewat bank pembangunan multilateral. Inisiatif itu, antara lain, program Food Security Response lewat Bank Dunia (30 miliar dollar AS), program Addressing Food Security lewat Bank Pembangunan Asia atau ADB (14 miliar dollar AS), dan Food Security Response lewat Bank Pembangunan Islam atau IsDB (10,5 miliar dollar AS). (Yoga)
Jepang Tingkatkan Anggaran Pertahanan
Jepang akan meningkatkan anggaran pertahanan menjadi dua kali lipat, yakni dua % PDB negara tersebut. Jepang melakukannya dengan alasan dikelilingi pihak-pihak yang tak mau mematuhiaturan internasional mengenai perdamaian dan kestabilan internasional. Hal itu diungkapkan PM Jepang Fumio Kishida saat membuka pertemuan angkatan laut dari 12 negara, Minggu (6/11) di Teluk Sagami, Yokohama. Acara diikuti oleh AL AS, Inggris, Perancis, Australia, Korsel, dan India. ”Jepang tetap berpegang pada prinsip negara pasifis seperti yang kita jalani sejak berakhirnya Perang Dunia II. Namun, kita harus siap mempertahankan diri karena ada banyak pihak yang agresif yang tidak mengikuti prinsip perdamaian dunia, terutama di Laut China Selatan dan Laut China Timur,” kata Kishida, seperti dikutip Nikkei.
Kishida tak secara gamblang menyebut China dan Rusia, tetapi jelas pidatonya mengacu pada kedua negara tersebut. Presiden China Xi Jinping berkali-kali mengatakan hendak menyatukan kembali Taiwan dengan China. Mereka semakin rajin melakukan kegiatan militer di Selat Taiwan, Laut China Selatan, dan Laut China Timur. Pada Agustus lalu, China melakukan latihan militer dan menembakkan rudal. Ada lima yang jatuh di perairan Pulau Nansei milik Jepang. Pada Februari, Rusia menginvasi Ukraina. Merebak kekhawatiran, ini akan memicu China melakukan hal serupa atas Taiwan. Salah satu negarawan yang terus mengungkit kekhawatiran ini adalah almarhum PM Jepang Shinzo Abe. ”Ancaman kepada Taiwan adalah ancaman kepada Jepang. Negara kita berdekatan dan terlepas perkataan China, Jepang akan terkena dampak yang merugikan,” kata Abe semasa hidupnya. (Yoga)
Sentimen Positif Mengerek Indeks Hingga Akhir Tahun
Di tengah bayangan resesi ekonomi dunia dan akselerasi kenaikan suku bunga acuan sejumlah bank sentral, ekonomi Indonesia diyakini tetap bertumbuh inklusif. Bagusnya laporan keuangan emiten kuartal ketiga menambah kuat sentimen positif para pelaku pasar. IHSG di Bursa Efek Indonesia BEI bakal terkerek menembus level 7.500 di akhir Desember 2022, naik 6% dari posisi Jumat (4/11). Seperti tahun sebelumnya, window dressing yang dilakukan para manajer investasi ikut mengerek indeks. Namun, capital outflow akibat kenaikan fed funds rate (FFR), suku bunga acuan Bank Sentral AS, bisa menjadi faktor penghambat yang harus diwaspadai.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta memproyeksikan, IHSG pada akhir November ini berada di rentang 6.927-7.157, sebelum akhirnya menguat lagi hingga akhir 2022. IHSG ditutup naik 0,16% pada perdagangan Jumat (4/11) ke 7.045,5. “Dari domestik, yang paling dinantikan adalah data PDB Indonesia kuartal III-2022, yang kami perkirakan naik ke 5,6% dari 5,44% di kuartal II dan 5,01% triwulan I. Jadi, otomatis, jika hasilnya sesuai atau di atas ekspektasi, hal ini bisa memberikan katalis positif mengangkat IHSG,” kata Nafan kepada Investor Daily, Sabtu (5/11). Menkeu Sri Mulyani yakin pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2022 di atas 5,5% (yoy). Pada kuartal IV, pertumbuhan diperkirakan di atas 5% sehingga sepanjang tahun ini mencapai 5,2%, dan tahun depan bisa 5,3%. (Yoga)









