Hasil KTT G20 BALI : RI Raup Investasi Jumbo
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut Indonesia berhasil mengumpulkan komitmen investasi sekitar US$8 miliar atau setara dengan Rp125 triliun (kurs Rp15.680 per dolar AS) sepanjang gelaran Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 Bali. Menurut Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, komitmen investasi sebesar US$8 miliar tersebut sudah ditandatangani. Komitmen investasi tersebut berasal dari Korea Selatan, China, dan beberapa negara Eropa. “ US$7 miliar—US$8 miliar sudah diteken kemudian negaranya ada macam-macam. Ada Korea, China, ada beberapa Eropa. Detailnya nanti pada saat kita tanda tangan HOA ,” kata Bahlil dalam keterangan resmi, Kamis (17/11). Selain komitmen investasi tersebut, Bahlil mengatakan masih ada sekitar US$10 miliar atau Rp156,8 triliun komitmen investasi yang belum bisa ditandatangani sehingga dia masih enggan untuk mengumumkan komitmen investasi tersebut.
Rantai Pasok Komponen Kendaraan: IKM Sektor Otomotif Diperkuat
Penjualan kendaraan roda empat (mobil) dan roda dua (sepeda motor) di Indonesia diproyeksi sama-sama bakal mengalami kenaikan sesuai dengan target tahun ini. Untuk itu, dukungan terhadap industri kecil menengah yang menjadi pemasok bagi industri otomotif nasional perlu diperkuat agar rantai produksi berjalan maksimal. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperkirakan penjualan kendaraan roda empat mencapai 950.000 unit pada 2022 naik 8,4% dari 2021. Sementara Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) mematok target penjualan kendaraan roda dua mencapai angka 5,1 juta-5,4 juta unit pada tahun ini. Apabila sesuai dengan target, penjualan motor akan tumbuh 6,7% secara tahunan. Untuk mencapai target tersebut, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menilai IKM komponen otomotif sebagai bagian dari rantai pasok industri nasional perlu diperkuat. “Tidak hanya dari sisi kompetensi SDM, teknologi mesin dan peralatan, promosi dan kemitraan, tetapi juga dari sisi kemudahan untuk mengakses bahan baku, sehingga produktivitas IKM dapat meningkat,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (18/11).
Bank Pelat Merah Dominan
Aset perbankan di Indonesia kian besar. Namun, dari total 107 bank di Tanah Air, penguasa aset perbankan dalam negeri masih dikuasai oleh segelintir bank besar.
Sebagai gambaran, sebanyak 10 bank terbesar di dalam negeri memiliki total aset Rp 7.152,28 triliun hingga akhir September 2022. Nilai itu meningkat 3,79% dari periode sama tahun 2021 yang tercatat Rp 6.891,04 triliun.
Saat ini memang belum ada data total aset perbankan nasional hingga September 2022. Laporan terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru per Juli 2022 dengan total aset perbankan Rp 10.325,5 triliun. Sebagai perbandingan, per September 2021, 10 bank terbesar itu menguasai 70,82% total aset bank dalam negeri.
Di antara para jawara aset tersebut, dua bank BUMN tampak dominan. Lihat saja, Bank Mandiri Tbk (BMRI) tercatat menjadi bank dengan aset terbesar di Indonesia berdasar aset konsolidasi, dengan nilai sekitar Rp 1.839,34 triliun. Sementara Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di tempat kedua dengan nilai aset konsolidasi sekitar Rp 1.684,60 triliun.
Sementara, bergabungnya PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) ke dalam BBRI berandil menopang pertumbuhan aset bank ini. Total gabungan aset Pegadaian dan PNM mencapai sekitar Rp 112 triliun. Pertumbuhan kredit BBRI yang sebesar 7,9% secara tahunan juga mempertebal aset BBRI.
Wajib Pajak Butuh Dana Segar, Retribusi Pajak Mekar
Kebutuhan kas menjelang akhir tahun membuat pengembalian pajak alias restitusi pajak meningkat. Pemerintah harus waspada karena kenaikan restitusi pajak yang signifikan juga bisa mempengaruhi penerimaan pajak.
Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Neilmaldrin Noor mengatakan, realisasi restitusi pajak hingga akhir Oktober 2022 mencapai Rp 190,14 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,9% year on year (yoy).
Padahal, selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2022, restitusi pajak berada dalam tren penurunan. Restitusi mulai meningkat di periode Januari hingga September 2022. Tapi, pertumbuhan restitusi hingga akhir Oktober tetap lebih tinggi dari realisasi Januari-September yang tumbuh 3,84% yoy.
Dari data Ditjen Pajak, realisasi restitusi pada periode laporan didominasi oleh restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri sebesar Rp 145,07 triliun, tumbuh signifikan mencapai 24,83% yoy. Sementara restitusi pajak penghasilan (PPh) Pasal 25/29 tercatat sebesar Rp 38,06 triliun, turun 25,05% yoy.
Pengamat Perpajakan Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar mengatakan, restitusi pajak yang didominasi oleh restitusi dipercepat menandakan adanya permintaan dari sisi wajib pajak. "Kemungkinannya, ada peningkatan kebutuhan dana dari wajib pajak," kata Fajry.
Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute (TRI) Prianto Budi Saptono mengatakan, realisasi restitusi yang didominasi oleh restitusi PPN dalam negeri dipercepat sejalan dengan upaya pemerintah membantu likuiditas pengusaha kena pajak (PKP) di masa pandemi.
Fokus Dorong Pemulihan Ekonomi dalam KTT APEC
Indonesia akan fokus mendorong pemulihan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik atau Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) tahun 2022. Hal tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebelum bertolak menuju Bangkok, Thailand untuk menghadiri perhelatan tersebut, kemarin.
"Prinsipnya,
leave no one behind. Transformasi digital, ekonomi hijau, dan hilirisasi menjadi prioritas Indonesia di APEC tahun ini," kata Presiden Jokowi dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/11).
2023, Produksi Migas ENRG Naik 15%
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membidik produksi minyak dan gas (migas) bisa mencapai 40.000
barrel of oil equivalent
di tahun ini. Untuk tahun depan, ENRG berharap akan ada kenaikan produksi migas sebesar 10% hingga 15%.
"Dari kenaikan produksi tersebut, kami berharap bisa menaikkan penjualan dan laba bersih di tahun depan," ujar Direktur ENRG Edoardus Ardianto dalam paparan publik, Kamis (17/11).
Selama sembilan bulan pertama 2022, perusahaan milik Grup Bakrie ini telah memproduksi 5.148
barrel of oil per day
(bopd) minyak, naik 9,64% secara tahunan. Bersama dengan itu, produksi gas juga naik 1.860% menjadi 204
million standard cubic feet per day
(mmscfd).
Sebanyak tiga blok ENRG memberi kontribusi besar terhadap produksi ENRG sepanjang periode ini, yakni Blok Malacca, Blok Bentu, dan Blok Kangean. Bersamaan dengan kenaikan tingkat produksi, harga rata-rata minyak dan gas yang direalisasikan ENRG juga turut naik.
Mewaspadai Potensi Bitcoin Merosot Hingga US$ 10.000
Jelang
halving day
bitcoin pada 2020 silam, banyak pengamat memprediksi harga mata uang kripto ini berpotensi akan mencapai US$ 100.000 per BTC. Tapi alih-alih menuju US$ 100.000, saat ini harga bitcoin justru
nyungsep
ke bawah level US$ 20.000 per BTC.
Per pukul 21.15 WIB kemarin, harga bitcoin ada di level US$ 16.505,47 per BTC. Harga bitcoin mulai terus turun menjauhi US$ 20.000 sejak 9 November lalu. Robert T. Kiyosaki bahkan memprediksi harga bitcoin dapat mencapai US$ 10.000 per BTC.
Kendati begitu, para analis menilai harga kripto tidak akan jatuh hingga menyentuh level US$ 10.000.
Multifinance Memperkuat Kanal Digital
Di saat kinerja pembiayaan belum kembali ke era sebelum pandemi covid-19, beberapa perusahaan multifinance bersiap untuk meningkatkan biaya belanja modal (capex)
di tahun 2023. Salah satu tujuannya adalah memperkuat digitalisasi.
Memang, saat ini beberapa multifinance masih terus berlomba untuk memperkuat ekosistem digital mereka. Tentu, untuk memperluas segmen pasar yang terutama didominasi generasi muda.
Salah satu multifinance, Adira Finance, telah menyiapkan capex 2023. Perusahaan ini memperkirakan capex bakal naik hingga 25%. Tahun ini, belanja modal anak usaha Bank Danamon ini ialah Rp 150 milar yang berarti tahun depan ada sekitar Rp 187 miliar dana yang disiapkan.
Kontribusi adanya digitalisasi yang dilakukan Adira Finance selama ini terhadap penyaluran pembiayaan sekitar 10%. Adapun, sepanjang tahun ini hingga September 2022 total penyaluran pembiayaan Rp 21,9 triliun.
Tak hanya Adira Finance, WOM Finance juga berencana bakal menaikkan capex untuk tahun depan dengan tujuan yang sama yaitu digitalisasi. Hingga September 2022 kemarin, WOM Finance sudah merealisasikan capex sebesar Rp 27 miliar.
Sayonara Rezim Bunga Murah
Bank Indonesia (BI) belum berhenti bermanuver demi mengimbangi laju inflasi. Kemarin, Kamis (17/11), Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan kembali mengerek suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) menjadi 5,25%. Artinya, penaikan suku bunga acuan sudah dilakukan empat kali berturut-turut sejak Agustus lalu. Total BI mengerek suku bunga acuan hingga 175 bps sejauh ini. Agresifitas kebijakan moneter BI itu dilakukan demi merespons aksi bank sentral sejumlah negara utama, termasuk Federal Reserve, yang gencar mengetatkan kebijakan moneter demi mengendalikan gerak liar indeks harga konsumen (IHK). Alhasil, keputusan tersebut mengindikasikan bahwa BI bersikap lebih realistis dengan memprioritaskan penanganan inflasi meskipun ada risiko laju ekonomi tersendat, baik pada kuartal IV/2022 maupun 2023. Apalagi, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ekspektasi inflasi di dalam negeri masih cukup tinggi kendati IHK pada Oktober 2022 melandai dibandingkan dengan sebelumnya.
Biaya Kereta Cepat Bengkak: China Dibujuk Ikut Perhitungan RI
Pemerintah Indonesia berharap Pemerintah China menyetujui biaya pembengkakan proyek kereta cepat Jakarta—Bandung sebesar US$1,45 miliar sesuai hasil reviu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia bakal mengikuti regulasi yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) No.93/2021. Pada beleid itu, angka biaya pembengkakan atau cost overrun mengikuti hasil revieu dari BPKP. “Pemerintah China diharapkan bisa mengikuti juga angka hasil reviu BPKP,” ujarnya, Kamis (17/11). Sampai saat ini, negosiasi untuk menyamakan perbedaan angka cost overrun masih dilakukan antara Indonesia dan China. Temuan pihak China terkait dengan cost overrun justru lebih rendah yakni US$980 juta. Sebelumnya, KCIC melaporkan bahwa nilai proyek kereta cepat Jakarta—Bandung (KCJB) bengkak menjadi US$7,5 miliar (setara Rp117 triliun) akibat cost overrun senilai US$1,45 miliar. Awalnya, nilai proyek tersebut sebesar US$6,07 miliar. Menurut Dwiyana, ada beberapa perbedaan asumsi perhitungan biaya bengkak proyek. Misalnya, terkait dengan penyediaan sistem persinyalan kereta GSM-R yang gratis di China, tetapi harus berbayar di Indonesia kepada Telkomsel.









