BI : Neraca Pembayaran Masih Mungkin Surplus
Bank Indonesia (BI) memprediksi, neraca pembayaran Indonesia masih bisa membaik di tahun ini. Proyeksi tersebut didasarkan atas kemungkinan transaksi berjalan di tahun ini tetap terjaga.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memproyeksi, transaksi berjalan berada dalam kisaran surplus 0,4% sampai defisit 0,4% dari produk domestik bruto (PDB). Proyeksi tersebut didasarkan atas transaksi berjalan sepanjang tahun 2022 yang diperkirakan surplus sebesar 0,4% hingga 1,2% dari PDB.
Proyeksi itu terindikasi dari aliran modal asing yang masuk kembali ke pasar keuangan domestik di awal tahun 2023. Perry menyebut, hingga 17 Januari 2023, investasi portofolio mencapai net inflow sebesar US$ 4,6 miliar.
Racikan APBN 2023 untuk Lawan Resesi
Setelah banyak lembaga internasional memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini tidak akan sebaik tahun lalu, kini Bank Indonesia (BI) yang merilis proyeksi senada.
BI memprediksi, laju ekonomi Indonesia di tahun ini bakal melambat dibanding tahun lalu. Gubernur BI Perry Warjiyo memprediksi, pertumbuhan ekonomi 2023 akan melambat ke titik tengah kisaran 4,5% sampai 5,3%.
"Hal ini sejalan dengan menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi global," ucap Perry di Bank Indonesia, Kamis (19/1). Sementara salah satu tantangan ekonomi Indonesia di tahun ini berasal dari suramnya prospek ekonomi global. BI telah memangkas proyeksi ekonomi global tahun ini.
Salah satu pemicunya adalah otoritas moneter di negara-negara diprediksi masih melakukan pengetatan secara agresif. Pengetatan moneter ini diprediksi bakal menuju puncaknya tidak lama lagi. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku, masih optimistis perekonomian Indonesia akan mampu bergerak semakin cepat di tahun 2023. Ini setelah melihat ekonomi 2022 yang mampu menghadapi pandemi dan turbulensi yang tak kalah hebatnya.
Bunga BI Naik. Asing Memborong SBN
Bank Indonesia (BI) kembali mengerek bunga acuan. Keputusan itu berpotensi mendorong masuknya dana asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN).
Kemarin, Kamis (19/1), Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI memutuskan menaikkan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Menurut Presiden dan CEO PT Pinnacle Persada Investama Guntur Putra, kenaikan suku bunga akan menguntungkan investor asing. Sebab, selisih bunga acuan BI menjadi lebih lebar dibandingkan suku bunga The Fed. Saat ini, Fed Fund Rate berada di kisaran 4,5%.
Setelah mempertahankan suku bunga acuan sebesar 3,5% sejak Februari 2021 lalu, BI untuk pertama kalinya mengerek suku bunga acuan pada Agustus 2022 lalu. Per September 2022, posisi dana asing di pasar SBN sebesar Rp 730,26 triliun. Per 18 Januari 2023, asing memegang Rp 795,02 triliun. Ini artinya, kepemilikan asing di SBN bertambah Rp 64,76 triliun.
Direktur Surat Utang Negara DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan juga melihat aliran dana masuk ke pasar surat utang domestik seiring dengan langkah The Fed mengurangi agresivitas dalam kebijakan moneternya.
Respons Dini Redam Inflasi
Bank Indonesia tak lagi agresif dalam menggunakan kebijakan suku bunga untuk menjangkar inflasi. Tahun memang telah berganti, tetapi lonjakan inflasi masih menjadi ancaman nyata ekonomi dunia, tak terkecuali bagi Indonesia. Kendati demikian, Bank Indonesia (BI) rupanya mulai menunjukkan gelagat tak lagi agresif dalam menggunakan kebijakan suku bunga untuk menjangkar inflasi. Kendati tetap dilakukan, penaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) belakangan ini diklaim masih dalam takaran yang memadai. Hal itu dinilai tak lepas dari kebijakan suku bunga sebelumnya yang cukup agresif sehingga dapat meredam inflasi. Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan kenaikan suku bunga itu telah terukur dan diyakini efektif menjangkar gerak inflasi pada tahun ini. “BI memandang kenaikan ini memadai untuk memastikan inflasi inti akan tetap berada dalam kisaran 2%—4%, di bawah 4% pada semester I/2023,” katanya, Kamis (19/1). Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tak membantah bahwa ekonomi pada tahun ini menghadapi tekanan yang cukup berat. Hal itu dipicu oleh peningkatan inflasi, kenaikan suku bunga, dan konsekuensinya terhadap pelemahan ekonomi. Guna merespons tantangan itu, APBN 2023 pun disusun dengan mitigasi dan keleluasaan yang tinggi, terutama untuk sektor yang cukup rentan.
Mewaspadai Dampak Kenaikan Bunga
Bank Indonesia tancap gas mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%, kemarin. Kenaikan tiada henti dalam 6 bulan terakhir sejak terjadi gonjang-ganjing ekonomi dunia dan lonjakan inflasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Sejak Agustus 2022, Bank Indonesia (BI) menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 225 basis poin (bps) secara kumulatif. Ada kalanya bunga naik 25 bps atau 50 bps dalam sebulan. Dalih utama kenaikan BI7DRR itu karena kenaikan harga BBM. Akibat lonjakan harga energi dunia tersengat perang Ukraina-Rusia. Faktor lainnya, sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat—The Federal Reserve—dalam menaikkan suku bunga. The Fed, begitu biasa disebut, lebih agresif dalam menaikkan suku bunga acuan. Terakhir, pada Desember 2022, bank sentral AS itu menaikkan Fed Fund Rate sebesar 50 bps ke kisaran 4,25%-4,5%. Berbanding terbalik dengan Indonesia. Dampak kenaikan harga BBM ‘masih ramah’ terhadap lonjakan inflasi di Tanah Air. Saat bahan bakar subsidi naik pada awal September 2022, dampak terhadap kenaikan inflasi tidak sebesar perkiraan. Ramalan ekonom dan Perry Warjiyo, Gubernur BI, meleset. Mereka heran angka inflasi turun lebih cepat dari proyeksinya. Konsensus ekonom memprediksi inflasi sebesar 6,5% pada tahun lalu. Angka inflasi inti pun tercatat lebih rendah dari ramalan BI. Bank sentral memperkirakan inflasi inti dalam setahun penuh sekitar 4,61%, tetapi realisasinya pada akhir 2022 sebesar 3,36%.
LAPORAN DARI SWISS : Pemerintah Promosikan 5 Destinasi di WEF 2023
Pemerintah mengkampanyekan lima destinasi pariwisata dalam jamuan makan malam pada rangkaian World Economic Forum (WEF) 2023 yang digelar di Davos, Swiss, pada 16—20 Januari 2023. Kelima destinasi yang ‘dijual’ ke para tamu dalam ajang tersebut adalah Borobudur, Danau Toba, Labuan Bajo, Mandalika, dan Likupang. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B. Pandjaitan, mengatakan jamuan yang digelar di Hotel Morosani Schweierhof, Promenade 50, Davos itu diikuti oleh sedikitnya 700 orang dari berbagai negara.
EKOSISTEM KENDARAAN LISTRIK : Bisnis SPKLU Makin Diminati
Tren kendaraan listrik yang berkembang di dalam negeri membuat banyak pihak melirik bisnis stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau SPKLU di sejumlah lokasi strategis Ibu Kota. Salah satu badan usaha penyalur bahan bakar minyak (BBM) yang aktif merambah bisnis SPKLU adalah Shell Indonesia dengan nama Shell Recharge. Tingginya daya tarik SPKLU di Tanah Air membuat Shell membangun Shell Recharge di luar stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dikelolanya.Vice President Marketing Mobility Shell Indonesia Dian Kusumadewi mengatakan pihaknya mulai melakukan ekspansi SPKLU dengan membanguna Shell Recharge di Pacific Place, Jakarta. Di pusat perbelanjaan itu, Shell menyediakan tiga fasilitas pengisian yang mampu mengisi kendaraan listrik dengan daya hingga 11 kilowatt hour (kWh).
“Shell Recharge di Mal Pacific Place merupakan wujud upaya kami dalam merespons perkembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia,” kata Dian, Kamis (19/1).
Di sisi lain, PT PLN (Persero) juga agresif menjalin kerja sama untuk memasif-kan kehadiran SPKLU. Hingga kini, setidaknya sudah ada 570 SPKLU PLN di 240 lokasi yang telah beroperasi.
BI: Suku Bunga Acuan Tak Akan Dinaikkan Lagi
JAKARTA, ID - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo memberikan sinyal tak akan menaikkan lagi suku bunga acuan. Sinyal itu diberikan setelah Bank Sentral menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), Kamis (19/01/2023). Level bunga acuan 5,75% dinilai Perry sudah cukup memadai untuk meredam inflasi inti. Pada Desember 2022 terjadi inflasi tahunan (year on year/ yoy) sebesar 5,51%, dengan tingkat inflasi bulanan (month to month/ mtm) sebesar 0,66%. Sedangkan inflasi komponen inti mencapai 3,36% (yoy) dan 0,22% (mtm). “Kenaikan 225 bps secara akumulatif sejak Agustus sampai Januari cukup terukur dan memadai,” ujar Perry dalam konferensi pers usai RDG BI di Jakarta, Kamis (19/01/2023). Pada hari yang sama, perdagangan valuta asing ditutup pada kurs Rp 15.212 dan Rp 15.061 per dolar AS (jual/beli). (Yetede)
Rusia Diprediksi Kalah Perang
DAVOS, ID – Rusia diyakini bakal kalah dalam perang energi dengan Barat. Bahkan pembelian minyak mentah Negeri Beruang Merah itu oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan India kemungkinan gagal mengimbangi penurunan jumlah pengiriman ke Eropa. “Eropa mengalami masalah ekonomi yang besar. Tetapi bagi Rusia, Eropa adalah klien yang sangat, sangat penting,” ujar Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol kepada CNBC dalam pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Rabu (18/01/2023). Pekan lalu, hasil analisis independen dari Center for Research on Energy and Clean Air menunjukkan, pendapatan dari ekspor bahan bakar fosil Rusia anjlok pada Desember tahun lalu. Hal ini secara signifikan menghambat kemampuan Presiden Vladimir Putin untuk membiayai perang di Ukraina. (Yetede)
2023, BNI Targetkan Transaksi Cash Management Melesat 55%
JAKARTA, ID – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) sepanjang 2022 mencatat bisnis cash management berhasil meningkatkan volume transaksi sebesar 47% secara tahunan (year on year/yoy). Adapun tahun ini, perseroan memasang target lebih tinggi lagi yakni mencapai 55%. Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, untuk jumlah transaksi cash management BNI sepanjang tahun lalu meningkat sebesar 25% (yoy). “Untuk tahun ini, sejalan dengan kondisi perekonomian yang semakin baik dan stabil, serta proyeksi transaksi digital yang tumbuh pesat, BNI menargetkan peningkatan volume transaksi cash management sebesar 55%,” ujar Okki kepada Investor Daily, dikutip Kamis (19/1/2023). Sebagai salah satu pionir digital banking, BNI telah mempersiapkan berbagai solusi transaksional digital untuk seluruh nasabah korporasi dan komersilnya. Beberapa solusi andalan yang telah live di tahun 2022 dan akan live di tahun 2023 mencakup Giro Multi Currency yaitu satu rekening yang dapat memudahkan transaksional dalam berbagai mata uang asing dengan cukup membuka satu rekening giro. (Yetede))









