Aturan Baru DBH Diterapkan Tahun Ini
Menurut Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu Luky Alfirman, Rabu (8/2) ada beberapa perubahan mendasar terkait pemberian dana bagi hasil (DBH) yang akan diterapkan mulai tahun ini. Perubahan itu mencakup ketentuan penerimaan negara yang dibagihasilkan, cakupan daerah penerima DBH, serta formula penetapan alokasi DBH. Mulai tahun ini, pemerintah pusat juga akan mengucurkan DBH ke daerah penghasil minyak kelapa sawit mentah atau CPO. (Yoga)
Penjualan Listrik PLN di 2022 Meningkat
PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mencatatkan penjualan tenaga listrik di 2022 sebanyak 270,82 terrawatt jam (TWh) atau meningkat 6,17 persen dari 2021. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Rabu (8/2) mengatakan, PLN akan terus memperbaiki kinerja dan memperkuat pasokan listrik untuk kebutuhan industri; bisnis; UMKM; serta masyarakat umum. Pelanggan rumah tangga menyumbang kenaikan penjualan tenaga listrik sebesar 42,5 %. PLN hingga saat ini melayani 85,28 juta pelanggan. (Yoga)
Aset Perbankan Melejit, Tapi Masih Keok di Kawasan
Seiring kenaikan laba yang mencetak rekor sepanjang sejarah, perbankan Indonesia juga mampu mendongkrak jumlah aset di sepanjang 2022.
PT Bank Mandiri, Tbk (BMRI) berhasil mempertahankan status sebagai bank terbesar berdasarkan aset. Bank Mandiri membukukan pertumbuhan aset 15,5% secara tahunan atau
year on year (yoy), hampir menyentuh Rp 2.000 triliun, tepatnya Rp 1.992,6 triliun di 2022.
Kendati begitu, aset bank-bank di Tanah Air masih tertinggal jauh. Jika dikonversi dalam dollar, aset Bank Mandiri cuma US$ 131,86 miliar, dengan patokan Rp 15.110 per dollar Amerika Serikat (AS).
Bandingkan dengan jawara aset di Asia Tenggara, DBS Group yang memiliki aset US$ 579,08 miliar. Itupun di kuartal III 2022. Yang paling dekat dengan Bank Mandiri adalah aset CIMB, sebesar US$ 156,41 miliar. Ini juga catatan aset per kuartal III 2022. Perbankan Tanah Air harus lebih giat lagi memacu bisnis untuk mengejar ketertinggalan dari rekan-rekan mereka di kawasan.
Ketertinggalan itu lantaran ekspansi kredit Bank Mandiri tumbuh lebih tinggi. Penyaluran kredit Bank Mandiri Group tumbuh 14,48% yoy menjadi Rp 1.202,23 triliun. Sedangkan BRI Group hanya naik 9,2% yoy menjadi Rp 1.029,80 triliun. "Total aset BRI Group tumbuh dua digit 11,18% yoy menjadi Rp 1.865,64 triliun," ujar Direktur Utama BRI. Sunarso pada Rabu (8/1).
Proyek Hilirisasi Tambang Terganjal Banyak Masalah
Harapan Indonesia untuk mengibarkan proyek hilir pertambangan, termasuk ekosistem kendaraan listrik, masih terbentur kendala. Selain masalah teknologi dan mitra bisnis, proyek hilirisasi di Tanah Air masih minim dukungan pendanaan. Presiden Joko Widodo buka suara terkait dukungan pendanaan untuk hilirisasi pertambangan.
Dia kerap menerima keluhan dari pengembang smelter yang merasa kesulitan meraih pendanaan. Padahal, pemerintah sedang gencar menggelar hilirisasi berbagai sumber daya alam mineral dan batubara. Itulah sebabnya, Presiden Jokowi menekankan pentingnya dukungan terhadap proyek hilirisasi.
Kendala pendanaan dalam pengembangan smelter diamini Sekretaris Jenderal Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey. "Iya, pendanaan eksternal untuk proyek smelter nikel lebih sulit didapat belakangan ini," kata dia, Rabu (8/2), tanpa memerinci proyek yang kesulitan pendanaan.
Ada pula proyek smelter Mempawah yang masih mandek. Proyek ini dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), anak usaha PT Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). "Progres proyek smelter ini mencapai 22%," kata Direktur Utama Mind Id, Hendi Prio Santoso.
Isu terkendalanya proyek smelter Mempawah terkait hal teknis. Misalnya, ada
dispute
mengenai pembagian kerja di antara anggota konsorsium kontraktor yakni sisa pekerjaan dari porsi PTPP di Inalum
plant
yang akan dimasukkan ke dalam
scope
China Almunium International Engineering Co Ltd (Chalieco). Proyek smelter ini telah tertunda selama 16 bulan dan berpotensi rugi sekitar US$ 450 juta atau rata-rata US$ 28 juta per bulan.
Margin Jumbo Bank Besar
Bank papan atas masih menunjukkan performa gemilang sepanjang 2022. Keberhasilan bank besar mempertahankan kinerja ditopang oleh kemampuan menjaga selisih bunga bersih atau net interest margin (NIM). Kendati demikian, sejumlah bank juga siap memacu sumber pendapatan nonbunga demi mendongkrak kinerja. Jika dikalkulasi, total laba yang dibukukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Central Asia Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencapai Rp151,63 triliun atau naik hampir 50% dibandingkan dengan periode yang sama 2021 sebesar Rp101,11 triliun.
Seluruh bank Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 itu mencatat kenaikan NIM.
Direktur Utama BBRI Sunarso mengatakan bahwa pertumbuhan volume kredit dan peningkatan jumlah nasabah, menjadi faktor yang mendorong kinerja bisnis perseroan sehingga mampu mendulang kenaikan laba.
Sunarso menyatakan keberhasilan perseroan menjaga kinerja utamanya didorong oleh efisiensi dengan menekan biaya dana atau cost of fund lewat perbaikan struktur pendanaan.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rudi As Aturridha menuturkan peningkatan NIM sejalan dengan upaya perseroan dalam mengevaluasi kondisi likuiditas, dan pada saat yang sama melakukan optimalisasi bisnis untuk mendorong penyaluran kredit maupun penghimpunan dana.
Kinerja Tahun Buku 2022 Melayani 34 Juta Usaha Mikro, BRI Cetak Laba Rp51,4 Triliun
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berhasil menutup tahun buku 2022 dengan kinerja gemilang. Pada pemaparan kinerja BRI kuartal IV/2022 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (8/2), BRI Group berhasil mencatatkan kinerja positif dengan pencapaian rekor laba senilai Rp51,4 triliun melalui strategic response yang tepat. “Alhamdulillah, kami selalu didampingi kawan setia, Si Untung dan Si Slamet sepanjang Januari hingga Desember 2022. BRI Group berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp51,4 triliun atau tumbuh 67,15% secara year on year/yoy dengan total aset tumbuh double digit sebesar 11,18% yoy menjadi Rp1.865,64 triliun,” ujar Direktur Utama BRI Sunarso.
Sunarso pun mengungkapkan kunci keberhasilan BRI dalam menjaga bottom line kinerja perusahaan. Pertama, BRI berhasil melakukan efisiensi utamanya dalam menekan biaya dana (Cost of Fund) melalui perbaikan funding structure peningkatan dana murah (CASA).
Faktor kedua yang memberikan kontribusi besar terhadap kinerja perseroan yakni pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang tumbuh double digit yang merupakan buah dari transformasi digital.
Ketiga, Sunarso menjelaskan bahwa BRI terus mengoptimalkan upaya recovery.
Secara umum saat ini proporsi CASA BRI tercatat 66,70%, meningkat signifikan dibandingkan dengan CASA pada periode yang sama tahun lalu yakni sebesar 63,08%. “Kemampuan BRI dalam meningkatkan proporsi CASA berdampak positif terhadap efisiensi yang dilakukan perseroan. Hal tersebut tecermin dari biaya dana atau Cost of Fund (Bank) yang terus turun, dari 2,05% pada akhir 2021 menjadi 1,87% di akhir tahun 2022,” imbuh Sunarso.
Sudah 16 Proyek PPI Diminati Investor
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) telah meluncurkan 69 proyek investasi yang masuk dalam Peta Peluang Investasi (PPI) 2022. Adapun 69 proyek investasi tersebut tersebar di 20 kabupaten/kota di 13 provinsi.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia melaporkan, dari 69 proyek investasi yang telah diluncurkan, 16 proyek berhasil laku dan diminati oleh investor dengan total nilai investasi mencapai Rp 53,18 triliun. Namun dirinya tidak memerinci identitas investor tersebut.
"Dari 69 proyek ini yang sudah laku kurang lebih sekitar 16 proyek berkat adanya promosi dan eksekusi," ujar Bahlil di Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, Senin (6/2).
Salah satu proyek dengan nilai terbesar adalah industri
mono ethylene glycol
(MEG) di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatra Selatan dengan nilai investasi mencapai Rp 19,51 triliun.
Tidak hanya itu, faktor lain yang juga menjadi daya tarik investasi di Indonesia adalah jumlah penduduk Indonesia yang mencapai sebesar 43% dari total populasi penduduk Asia Tenggara.
Ekspansi Kredit Jangan Kendur
Empat bank papan atas di Indonesia kompak mencatatkan pertumbuhan kinerja yang impresif sepanjang tahun lalu. Hal ini mencerminkan keberhasilan bank-bank jumbo dalam memaksimalkan peluang selama periode pemulihan ekonomi nasional. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), salah satunya, membukukan laba bersih senilai Rp40,7 triliun sepanjang 2022. Capaian laba perusahaan itu tumbuh 29,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. BBCA sungguh piawai memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi. Tahun lalu, mereka menggelar sejumlah event dan ekshibisi strategis seperti BCA UMKM Fest 2022 dan BCA Wealth Summit 2022. Kinerja ciamik BBCA juga diikuti oleh tiga bank besar pelat merah yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). BBRI mencetak laba bersih paling tinggi di antara bank-bank besar lainnya, yaitu sebesar Rp51,5 triliun sepanjang 2022. Laba itu melompat 67,1% jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun sebelumnya. Di samping BBRI, BMRI dan BBNI juga mencatatkan kinerja impresif dengan catatan laba bersih pada tahun lalu sebesar Rp41,2 triliun dan Rp18,3 triliun, atau masing-masing melesat hingga 46,9% dan 68%. BMRI membukukan penyaluran kredit secara konsolidasi sebesar Rp1.202,2 triliun sepanjang 2022 atau naik 14,5% secara tahunan. Adapun, BBNI juga sukses mengerek penyaluran kredit tahun lalu sebanyak 10,9% menjadi Rp646,2 triliun. Kita berharap bank-bank papan atas di Indonesia terus menjaga level pertumbuhan ekspansi kredit pada 2023, sembari tetap menjaga kualitas pembiayaan yang sehat.
Indeks Keyakinan Konsumen: Efek Kenaikan Harga BBM Memudar
Setelah sempat tertekan akibat kenaikan harga bahan bakar minyak pada September tahun lalu, seluruh indikator konsumen mencatatkan pemulihan pada bulan pertama tahun ini. Data ini mencerminkan bahwa kecemasan konsumen soal impak jangka panjang kenaikan harga BBM telah memudar. Berdasarkan laporan hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), seluruh indikator konsumsi berhasil mencatatkan pemulihan. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), misalnya, yang pada Januari 2023 tercatat sebesar 123 dan relatif menyamai level pada Agustus tahun lalu atau sebelum kenaikan bahan bakar minyak (BBM) diumumkan. Pun dengan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) atau Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan menguatnya keyakinan konsumen pada bulan pertama tahun ini didorong oleh IEK yang tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya, terutama Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha dan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja. Kenaikan harga BBM memang cukup memberikan hentakan yang amat keras terhadap keyakinan konsumen. Alasannya, kebijakan tak populis ini sontak mengatrol harga barang dan tarif jasa di seluruh golongan.
Bank IBK Akan Right Issue dengan Target Rp 1,2 Triliun
PT Bank IBK Indonesia Tbk (AGRS) akan menggelar
rights issue
pada pertengahan tahun ini dengan target dana Rp 1,2 triliun.
Perusahaan ini akan menerbitkan saham sebanyak-banyaknya 13.81 miliar saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. "
Rights issue
saat ini sedang dalam persiapan. Kami menargetkan semester I ini dapat pernyataan efektif dari OJK," ujar Direktur Kepatuhan Bank IBK Indonesia Alexander F. Rori, Rabu (8/1).
Direktur Utama Bank IBK Indonesia Tbk Chae Jae Young mengatakan, dana itu akan dipakai untuk keperluan modal kerja. Dengan peningkatan modal ini, IBK optimistis struktur permodalan menjadi lebih baik sehingga perseroan bisa leluasa menjalankan strategi usaha ke depannya.









