;

Aturan Baru Jadi Tantangan Industri

Hairul Rizal 25 Jun 2025 Kontan
PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) sedang agresif melakukan ekspansi untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang, dengan alokasi belanja modal (capex) meningkat menjadi Rp 1 triliun pada 2025, naik dari Rp 704 miliar tahun sebelumnya. Ekspansi ini meliputi pembangunan RS Kasih di Cirebon (kuartal II-2025), RS Mitra Keluarga di Sidoarjo (kuartal III-2025), serta dua RS tambahan pada 2026. MIKA juga menargetkan penambahan 150–240 tempat tidur di rumah sakit baru dan yang sudah ada.

Sarkia Adelia, analis Panin Sekuritas, menilai kontribusi dua rumah sakit baru di 2025 masih akan minim, karena waktu yang dibutuhkan untuk mengisi kapasitas baru. Ia memproyeksikan tingkat keterisian tempat tidur MIKA bakal turun ke 50–57% pada 2025 dari 57,8% pada 2024. Namun, Sarkia menilai tekanan dari skema asuransi baru bisa diredam melalui implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dan Coordinator of Benefits (COB) mulai semester II-2025, sehingga siklus kas tetap terkendali. Ia merekomendasikan beli MIKA dengan target harga Rp 3.000 per saham.

Sabrina, analis Trimegah Sekuritas, menilai kondisi fundamental keuangan MIKA sangat kuat—kas Rp 1,7 triliun per kuartal I-2025—sehingga kenaikan capex tidak akan membebani kinerja. Namun, ia mencatat tantangan ke depan berupa skema co-payment sesuai SEOJK Nomor 7/2025 yang berlaku mulai 2026. Skema ini mewajibkan pasien menanggung sebagian biaya rawat jalan/inap, yang dapat memengaruhi volume pasien, terutama karena pendapatan MIKA masih sangat bergantung pada pasien dengan asuransi swasta. Sabrina mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 3.050 per saham.

Kenzie Keane dan Jonathan Guyadi dari Samuel Sekuritas memproyeksikan pendapatan MIKA naik 13% ke Rp 5,54 triliun dan laba bersih naik 11% ke Rp 1,27 triliun pada 2025. Namun, mereka menurunkan target harga dari Rp 3.300 ke Rp 3.100 per saham.

Analis menilai ekspansi MIKA—termasuk pembangunan RS baru, penambahan tempat tidur, dan investasi teknologi untuk layanan khusus (Center of Excellence)—menjadi strategi untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. Namun, realisasi kontribusi ke kinerja akan bertahap, dengan tantangan dari implementasi regulasi baru yang bisa memengaruhi volume pasien berasuransi.

Perbankan Fokus Kucurkan Kredit ke Sektor Prioritas

Hairul Rizal 25 Jun 2025 Kontan
Bank Indonesia (BI) terus menggulirkan kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas, termasuk UMKM, perdagangan, dan ekonomi kreatif. Insentif KLM, seperti diskon giro wajib minimum, diberikan kepada bank yang memenuhi target rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM).

Raden Agus Trimurjanto, Direktur Pemasaran dan Usaha Syariah BPD DIY, menjelaskan banknya aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Per Mei 2025, BPD DIY mencatat kredit sektor prioritas mencapai Rp 1,42 triliun untuk perdagangan, serta sektor lain seperti perantara keuangan, akomodasi, jasa, dan konstruksi. Rasio RPIM bank ini tercatat 45,3%, jauh di atas syarat BI minimal 30%, sehingga BI memberikan insentif berupa diskon giro wajib minimum 5% dari DPK. Agus menegaskan komitmennya mendukung UMKM melalui pembiayaan langsung.

Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, menyatakan BCA juga menyalurkan kredit ke sektor prioritas dan mendapat insentif KLM berupa pembebasan giro wajib minimum. Kredit BCA sendiri tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 924,2 triliun pada Mei 2025.

Meski insentif KLM sudah disalurkan signifikan—Rp 372 triliun per minggu kedua Juni 2025—penyaluran kredit perbankan nasional tumbuh lebih lambat, hanya 8,1% yoy pada Mei 2025, turun dari 9,6% pada Januari.

Trioksa Siahaan, Senior Vice President LPPI, menilai kebijakan insentif KLM memang baik, tetapi belum cukup mampu mendongkrak kredit ke sektor prioritas karena risiko sektor-sektor ini relatif tinggi. Selain itu, ia menekankan pentingnya perbaikan ekonomi makro dan daya beli masyarakat agar bank lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor prioritas.

Kebijakan BI mendorong kredit ke sektor prioritas mendapat sambutan dari bank seperti BPD DIY dan BCA, tapi realisasi penyaluran kredit nasional masih melambat, memerlukan dukungan lebih luas dari sisi perbaikan ekonomi.

Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Bisnis Indonesia (H)

Di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran, harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) menunjukkan tren kenaikan signifikan. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara di ICE Newcastle naik 6,42% menjadi US$106,85/ton, sedangkan CPO meningkat 8,06% menjadi 4.129 ringgit/ton.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa fluktuasi harga kedua komoditas ini berdampak besar pada stabilitas makroekonomi dan fiskal negara, mengingat kontribusinya yang mencapai 20–25% dari total ekspor nasional. Kenaikan 10% harga komoditas bahkan bisa mengurangi defisit transaksi berjalan hingga 0,13% dari PDB. Namun, ketergantungan ekspor terhadap batu bara dan CPO juga berisiko jika terjadi penurunan harga. Oleh karena itu, Josua mendorong diversifikasi ekspor dan penguatan industri manufaktur bernilai tambah.

Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperingatkan bahwa lonjakan harga ini bisa bersifat sementara. Jika perang terus berlanjut, ekonomi global bisa melambat, yang justru menurunkan permintaan terhadap komoditas. Untuk mengantisipasi hal ini, ia mendorong hilirisasi industri berbasis prinsip ESG agar menciptakan nilai tambah ekonomi jangka panjang.

Dari sisi pelaku industri, Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengonfirmasi bahwa kenaikan harga batu bara didorong oleh permintaan dari Vietnam dan gangguan pengiriman dari Australia, bukan semata dampak konflik. Namun, ia mewaspadai tekanan harga di masa depan akibat naiknya biaya logistik seiring lonjakan harga minyak.

Senada, Ketua Umum Gapki Eddy Martono juga mengkhawatirkan penurunan permintaan CPO jika konflik berkepanjangan. Ia menekankan pentingnya efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas untuk mempertahankan daya saing industri sawit nasional.

Dengan demikian, meskipun kondisi geopolitik saat ini memberikan peluang sementara bagi ekspor, berbagai tokoh dan pelaku industri menegaskan perlunya strategi jangka panjang yang adaptif, khususnya melalui diversifikasi, hilirisasi, dan efisiensi operasional.



Ancaman Deindustrialisasi & Nasib Buruh

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Fenomena kericuhan dalam job fair yang diselenggarakan Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi mencerminkan kerapuhan struktur ketenagakerjaan nasional dan menunjukkan bahwa kelas pekerja Indonesia tengah mengalami kejatuhan. Penyebab utamanya adalah deindustrialisasi prematur sejak dua dekade terakhir, yang ditandai dengan penurunan kontribusi sektor industri terhadap PDB dari 48% pada 2001 menjadi 38% pada 2022, meskipun penyerapan tenaga kerja justru meningkat.

Ironisnya, peningkatan tenaga kerja di sektor industri tidak menghasilkan nilai tambah yang tinggi karena sebagian besar industri Indonesia masih berorientasi pada padat karya berupah rendah, bukan pada inovasi dan teknologi. Kebijakan insentif pemerintah pun lebih banyak menyasar sektor berbiaya murah tanpa menjamin kesejahteraan pekerja, seperti melalui PPh 21 untuk pekerja bergaji menengah, yang tidak menyentuh mayoritas buruh di luar Jakarta dengan upah minimum rata-rata hanya sekitar Rp2,9 juta.

Ketimpangan ini dikritisi secara sistemik dan disebut hanya bisa diperbaiki melalui reformasi struktural, antara lain:

  • Peralihan industrialisasi ke sektor berbasis riset dan teknologi,

  • Penghapusan sistem kontrak jangka pendek dan outsourcing,

  • Reformasi pelatihan tenaga kerja berbasis era digital,

  • Redistribusi nilai tambah melalui pajak progresif, dan

  • Pembentukan aliansi sosial-politik pekerja lintas sektor untuk memperkuat posisi tawar dalam kebijakan publik.

Artikel ini dengan lugas menyoroti bahwa kejatuhan kelas pekerja bukan semata tentang sulitnya mencari pekerjaan, melainkan hilangnya keyakinan bahwa kerja keras mampu membawa kehidupan yang layak. Tanpa reformasi mendasar, para pekerja hanya akan terus bergelut dalam upah murah, minim perlindungan, dan masa depan yang kabur, tanpa keberpihakan negara yang nyata.


Arus Modal Asing Bersiap Masuk

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah mendorong pembangunan 3 juta unit rumah per tahun sebagai bagian dari strategi memperkuat fundamental ekonomi dan membuka lapangan kerja. Menurut Country Director World Bank untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk, program ini berpotensi mendatangkan investasi publik sebesar US$3,8 miliar (Rp62,64 triliun) serta memobilisasi investasi swasta hingga US$2,8 miliar (Rp46,15 triliun), sekaligus menciptakan lebih dari 2,3 juta lapangan kerja. World Bank juga menyoroti bahwa sektor perumahan dan konstruksi memiliki kontribusi signifikan terhadap 10% PDB nasional dan 7% lapangan kerja.

Namun, Turk juga memperingatkan pentingnya reformasi struktural dan deregulasi untuk menjaga daya saing dan menarik investor, terutama di tengah risiko dari fluktuasi harga komoditas dan ketidakpastian global. World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di kisaran 4,8%, di atas rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik.

Sementara itu, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah, mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan renovasi 1.300 rumah di wilayah pesisir pada tahun pertama pemerintahannya sebagai bagian dari target besar tersebut. Proyek renovasi ini dilakukan melalui kerja sama antara Kementerian PKP dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan skema BSPS (Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya), yang mengalokasikan anggaran sebesar Rp21,8 juta per unit.

Di sisi lain, Ketua Umum REI Joko Suranto menekankan pentingnya keselarasan regulasi dan iklim investasi yang kondusif. Menurutnya, realisasi target 3 juta rumah tidak akan tercapai tanpa kolaborasi aktif dengan sektor swasta. Hingga kini, belum ada komitmen investasi yang benar-benar terealisasi karena hambatan seperti akses pembiayaan dan tumpang tindih regulasi.

Dengan demikian, keberhasilan program ambisius ini sangat bergantung pada koordinasi antar-kementerian, reformasi kebijakan, serta sinergi kuat antara pemerintah dan pelaku industri properti.


KPK Dalami Kasus Gratifikasi di Lembaga Negara

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Bisnis Indonesia

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) resmi mengusut kasus baru dugaan gratifikasi terkait pengadaan barang dan jasa di lingkungan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), yang terjadi dalam rentang waktu 2019–2021. Menurut Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, penyidik telah menetapkan satu orang tersangka dan terus melakukan pendalaman dengan memeriksa sejumlah saksi.

Dua saksi yang telah diperiksa yakni Cucu Riwayati, Pejabat Pengadaan Barang/Jasa Setjen MPR 2020–2021, dan Fahmi Idris, anggota Kelompok Kerja Pengadaan Setjen MPR tahun 2020. Kasus ini merupakan kelanjutan dari proses penyelidikan sebelumnya yang kini telah naik ke tahap penyidikan.

Sekretaris Jenderal MPR saat ini, Siti Fauziah, menegaskan bahwa perkara tersebut tidak melibatkan unsur pimpinan MPR, baik yang lama maupun yang menjabat saat ini. Ia menekankan bahwa tanggung jawab atas kasus ini berada pada ranah administratif dan teknis Sekretariat Jenderal MPR, khususnya pada masa kepemimpinan Dr. Ma’ruf Cahyono, SH, MH sebagai Sekjen saat itu.

Kasus ini mencerminkan upaya berkelanjutan KPK dalam menindak praktik korupsi di lembaga negara, sekaligus menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengadaan barang dan jasa di lingkungan legislatif.


Akseleran Cari Cara Pulihkan Pinjaman

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Kontan (H)
Kasus gagal bayar di platform fintech lending PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia mencuat ke publik setelah macetnya pinjaman senilai Rp 178,2 miliar yang berasal dari enam peminjam. Hingga 23 Juni, pengembalian baru mencapai Rp 647 juta, dan hanya dua peminjam yang sempat membayar.

Ivan Nikolas Tambunan, Komisaris Utama sekaligus Co-Founder Akseleran, mengakui kondisi ini serius. Ivan menyebut dua jurus yang disiapkan untuk memulihkan dana lender: pertama, memaksimalkan penagihan termasuk penjualan aset agunan milik borrower seperti tanah di Karawang dan Bekasi; kedua, menggandeng mitra baru untuk menyalurkan pembiayaan ke borrower sehat, lalu menggunakan referral fee dari kerja sama itu untuk mencicil dana talangan ke lender.

Selain upaya penagihan, Akseleran juga telah menempuh jalur hukum. Ivan mengungkapkan pihaknya melaporkan dua peminjam bermasalah ke polisi karena proyek yang tidak jelas, dan mengancam langkah serupa kepada dua peminjam lain jika tidak ada kejelasan pembayaran.

Menanggapi dugaan fraud internal, Ivan menegaskan belum menemukan indikasi aliran dana ke Direksi atau Chief Risk Officer, meski refinancing sempat diberikan ke enam borrower itu demi mencoba menyelamatkan pinjaman sebelumnya. Sayangnya, keputusan itu justru membuat pinjaman bermasalah meledak bersamaan.

Anita Carolina, salah satu lender yang dananya ratusan juta tersangkut, mengaku masih menunggu kepastian dan berharap Akseleran serius melakukan penagihan.

Kasus ini menambah panjang daftar masalah gagal bayar di industri fintech lending Indonesia, menunjukkan pentingnya mitigasi risiko, tata kelola yang baik, dan pengawasan ketat dalam menjaga kepercayaan publik. 

Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Kontan
Memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) memicu lonjakan harga minyak global yang berpotensi menekan fiskal Indonesia. Sepanjang Juni, harga minyak WTI sudah melonjak 22,28% dan Brent 21,60%, meski masih di bawah asumsi Indonesia Crude Price (ICP) sebesar US$ 82 per barel.

M. Rizal Taufiqurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, menilai kenaikan harga minyak menjadi risiko terbesar bagi APBN karena struktur energi Indonesia yang masih sangat bergantung pada impor minyak mentah dan elpiji. Jika harga terus naik, anggaran subsidi energi yang sudah dialokasikan Rp 203,4 triliun untuk 2025 berpotensi membengkak lebih jauh, menekan ruang fiskal, meningkatkan inflasi, dan melemahkan daya beli masyarakat kelas bawah.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menekankan bahwa ketegangan geopolitik juga menimbulkan tekanan pada nilai tukar rupiah. Jika konflik berlarut, rupiah bisa semakin melemah, memicu capital outflow dari pasar obligasi, serta meningkatkan volatilitas pasar valas. Perhitungannya, setiap kenaikan ICP US$ 1 per barel menambah defisit APBN Rp 6,9 triliun, dan pelemahan rupiah Rp 100 per dolar AS menambah defisit Rp 3,4 triliun.

Bertu Merlas, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, menegaskan bahwa kenaikan harga minyak bisa membebani anggaran subsidi BBM sehingga ruang belanja produktif semakin sempit. Efek berantai lainnya adalah kenaikan harga bahan baku dan biaya distribusi industri yang bisa menekan daya beli masyarakat.

Namun, Deni Surjantoro, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, menilai tekanan pasar keuangan domestik sejauh ini masih dalam batas wajar. Pemerintah mengandalkan APBN sebagai shock absorber melalui subsidi dan kompensasi untuk menahan tekanan inflasi dari harga BBM. Meski demikian, pemerintah tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi dengan sinergi kebijakan pusat-daerah serta koordinasi fiskal, moneter, dan sektor keuangan untuk menghadapi risiko berkelanjutan dari konflik Timur Tengah.

Langkah Ekspansi dan Divestasi Perusahaan

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Kontan
PT Midi Utama Indonesia Tbk. (MIDI) terus melakukan ekspansi agresif untuk mendorong kinerja, terutama dengan menambah toko di luar Pulau Jawa dan meluncurkan konsep bisnis baru bernama Ja-Di (Jajan di Alfamidi), yaitu kios kopi dan makanan ringan.

Rifdah Fatin Hasanah, analis Ina Sekuritas, menilai dominasi 52,4% toko MIDI di luar Jawa adalah strategi yang tepat karena kawasan ini memiliki pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi lebih cepat. Hal ini tercermin dari kontribusi toko-toko luar Jawa yang menyumbang 44% pendapatan kuartal I-2025, dengan pertumbuhan penjualan 26% yoy. Rifdah juga menyoroti efisiensi Ja-Di, yang hanya membutuhkan belanja modal Rp 100 juta per kios, jauh lebih murah dibanding format lain seperti Lawson. Ia memproyeksi pendapatan MIDI tahun ini naik 6,48% menjadi Rp 21,17 triliun dengan laba bersih Rp 672,2 miliar, sehingga merekomendasikan buy dengan target harga Rp 490 per saham.

Jessica Leonardy, analis OCBC Sekuritas, mendukung strategi MIDI yang menargetkan kontribusi toko luar Jawa mencapai 60% dalam jangka panjang. Selain membuka toko baru, MIDI juga menutup secara selektif toko yang kurang optimal, seperti beberapa gerai Midi Fresh, menyesuaikan perubahan perilaku konsumen. Jessica menilai konsep Ja-Di juga membantu MIDI memperluas kategori makanan segar yang diminati pasar.

Abdul Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai pelepasan bisnis Lawson ke induk usaha AMRT adalah langkah tepat yang akan membuat MIDI lebih fokus pada perdagangan eceran inti. Divestasi Lawson, kata Azis, tidak akan berdampak negatif pada margin perseroan, malah menjadi peluang untuk meningkatkan penjualan antar toko. Azis juga menilai konsep Ja-Di akan mendukung pertumbuhan penjualan MIDI ke depan dan merekomendasikan buy dengan target harga Rp 458 per saham.

Sementara itu, Gerry Harlan, analis Mandiri Sekuritas, optimistis terhadap prospek pertumbuhan MIDI yang berfokus pada perluasan jaringan toko di luar Jawa dan inovasi bisnis Ja-Di. Ia merekomendasikan buy dengan target harga Rp 640 per saham pada akhir tahun.

NPL Perbankan RI Kalah Saing dengan Negara Tetangga

Hairul Rizal 24 Jun 2025 Kontan
Industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan ganda berupa masalah likuiditas dan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) di tengah tekanan ekonomi makro domestik dan global. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NPL gross perbankan nasional naik ke 2,24% per April 2025, dari 2,08% pada Desember 2024. Angka ini lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Singapura (1,22%) dan Malaysia (1,4%), meski masih lebih baik daripada Filipina (3,3%) dan Thailand (2,9%).

Steffano Ridwan, Direktur Utama Maybank Indonesia, mengakui NPL Indonesia lebih tinggi, bahkan rasio gross impaired loans (GIL) Maybank Indonesia mencapai 4,02%, jauh di atas Maybank Malaysia (1,15%) dan Maybank Singapura (0,49%). Namun ia menjelaskan, ini terkait struktur pasar domestik yang sangat besar di segmen ritel dan mikro, yang secara alamiah lebih berisiko. “Di Indonesia karena kita memiliki jumlah populasi yang besar (ritel) dan juga besarnya bisnis mikro, tentunya NPL bank di Indonesia secara umum akan lebih tinggi,” jelas Steffano.

Rusli, Wakil Direktur Utama Bank Victoria International, berpendapat kualitas aset perbankan Indonesia sebenarnya bisa bersaing secara global jika ekonomi domestik lebih kompetitif. Ia menyoroti dominasi pemerintah dan isu korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang mengekang sektor swasta. “Kalau isu KKN hilang, nanti otomatis NPL daripada industri perbankan itu bisa bersaing di kancah global,” tegas Rusli.

Brian Indradjaja, Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, menilai kondisi NPL sektor ritel di Indonesia sudah sulit dikendalikan, bahkan beberapa bank dalam situasi yang parah. Ia menekankan perlunya langkah perbaikan untuk memulihkan kesehatan NPL. Brian juga mencatat, sejumlah bank kini mulai menahan ekspansi kredit ritel demi menjaga kualitas kredit, terutama karena daya beli masyarakat yang sedang melemah.

Struktur kredit perbankan Indonesia yang padat segmen ritel dan mikro membuat risiko NPL lebih tinggi. Namun dengan reformasi tata kelola, penguatan sektor swasta, dan penyesuaian strategi penyaluran kredit, industri perbankan nasional tetap berpotensi meningkatkan kualitas aset dan bersaing secara regional.