Jalan Panjang Swasembada Daging Sapi
Sejak awal dicanangkan tahun 2000, swasembada daging sapi belum kunjung terealisasi. Melalui Program Kecukupan Daging Sapi, pemerintah saat itu menargetkan pada 2005 Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri. Namun, kurangnya anggaran hingga maraknya pemotongan sapi betina membuat harapan tersebut tidak dapat terpenuhi. Program pun dilanjutkan dalam skema Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi dengan target capaian pada tahun 2010. Untuk merealisasikannya, pemerintah menyusun langkah operasional, di antaranya optimalisasi kelahiran, penyediaan bibit bermutu dan pengembangan SDM melalui kelembagaan. Namun, beragam strategi tersebut belum juga membuahkan hasil berupa swasembada daging sapi. Pemenuhan kebutuhan daging sapi dalam negeri masih disokong impor sekitar 30 %. Padahal, suatu negara dikatakan berhasil swasembada jika mampu memenuhi pasokan domestik minimal 90 %.
Meskipun demikian, rencana meraih swasembada daging sapi tetap terus diupayakan. Pemerintah kembali menargetkan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging sapi dalam negeri pada tahun 2022. Namun, lagi-lagi skenario itu belum mampu diwujudkan hingga sekarang. Alih-alih terus meningkat, proporsi produksi daging lokal sebagai syarat swasembada justru kian menyusut. Berdasarkan data Outlook Daging Sapi 2022 Kementan, produksi daging sapi lokal tahun 2017 mencapai 76,6 %, tetapi pada 2022 justru susut menjadi 61 %. Pada periode itu, volume produksi daging sapi berkurang dari 486.300 ton menjadi 440.700 ton. Ironisnya pada saat bersamaan, porsi impor daging kian meningkat dari 25,7 % menjadi 34,4 %. Artinya, kondisinya masih belum berubah dibandingkan satu decade silam. Bahkan, relatif terjadi kemunduran. (Yoga)
Menggugat Rantai Impor Daging Sapi
Mitra dagang yang konsisten memasok daging sapi ke Indonesia ialah Australia, India, AS, dan Selandia Baru. Australia masih menjadi pemasok terbesar. Data BPS tahun 2021 menunjukkan, 45 % daging sapi impor Indonesia didatangkan dari ”Negeri Kanguru” tersebut. Dari total impor 273.532 ton, Australia menyuplai 122.863 ton. Tingginya kebergantungan Indonesia pada Australia tergambar dari banyaknya impor sapi hidup. Merujuk data Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia, setiap tahun lebih dari separuh dari total ekspor sapi hidup Australia dikirim ke Indonesia. Dari seluruh total sapi ekspor Australia sebanyak 600.024 ekor, 338.454 ekor dikirim ke Indonesia pada tahun lalu. Meski masih mendominasi, impor sapi terus menurun sejak 2019 karena pembatasan ekspor sapi oleh Australia. Pada tahun 2022, sapi yang diekspor Australia susut menjadi 600.024 ekor dari sebelumnya 1,3 juta ekor, karena Pemerintah Australia sedang melakukan program restrukturisasi peternakan yang porak poranda akibat gangguan cuaca dan kendala tenaga kerja.
Untuk memenuhi kebutuhan domestik, India kini cukup mendominasi dengan suplai daging sapi dan kerbau bekunya, dari 28 % pada 2017 menjadi 31 % tahun 2021. Ketika pemerintah sudah menemukan alternatif negara impor daging sapi yang lebih murah dari segi harga, justru timbul persoalan pada mata rantai distribusi yang panjang dan berbiaya mahal. Artinya, bola panas kini bergulir ke perusahaan importir (BUMN dan swasta), perusahaan pemasok, dan Kemendag yang saling mengikat perjanjian di atas meja. Analisis di atas perlu dilihat sebagai upaya melihat alternative opsi lain negara asal impor daging sapi, bukan semata-mata untuk merekomendasikan Brasil sebagai negara asal impor. Sembari berupaya terwujudnya swasembada daging sapi secara nasional, perbaikan dan pengawasan di tata niaga impor juga perlu terus diusahakan. Jangan sampai harga daging sapi di pasar yang terus naik tiap tahun semata hanya karena permainan harga di mata rantai distribusi (Yoga)
Di Balik Geliat Ekonomi (Musiman) Mandalika
Pada 13-15 Oktober 2023, Indonesia akan menggelar MotoGP di Sirkuit Internasional Jalan Raya Pertamina Mandalika, Lombok Tengah, NTB, yang dipastikan menggerakkan ekonomi setempat. Namun, di balik ingar bingar ekonomi musiman itu, pengelola sirkuit menanggung beban utang. Pada 18-20 Maret 2022, Indonesia berhasil menggelar seri kedua MotoGP di Sirkuit Mandalika. Pemilik hak komersial MotoGP, Dorna Sports menyebutkan, tiga hari gelaran MotoGP 2022 di Sirkuit Mandalika menyedot 102.801 penonton. Sirkuit senilai Rp 2,49 triliun itu berada di urutan ke-11 dari 19 sirkuit di 11 negara yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan MotoGP 2022. Jumlah penonton di Sirkuit Mandalika itu masih di bawah jumlah penonton Sirkuit Buriram, Thailand, dan Sirkuit Sepang, Malaysia. Jumlah penonton di Sirkuit Buriram 178.463 orang (urutan ke-4) dan Sepang 163.567 orang (urutan ke-7).
Tetapi, di balik sirkuit yang menggerakkan ekonomi musiman NTB dan menggaungkan citra Indonesia di dunia, ada persoalan atau pekerjaan rumah utama yang perlu diselesaikan. Pembangun dan pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), menanggung utang Rp 4,6 triliun. ITDC merupakan salah satu anak usaha BUMN, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney. Direktur Utama InJourney Dony Oskaria mengatakan, waktu itu, total kebutuhan investasi pembangunan dan pengembangan KEK Mandalika Rp 9,22 triliun. Untuk merealisasikan KEK tersebut, ITDC mendapatkan penyertaan modal negara (PMN) Rp 250 miliar pada 2015 dan Rp 500 miliar pada 2020. Lantaran gap pembiayaan semakin besar, sisa dana yang dibutuhkan dibiayai dengan utang ke perbankan.
Saat ini ITDC harus menanggung utang jangka pendek Rp 1,2 triliun dan utang jangka panjang Rp 3,4 triliun. Menurut Dony, fokus utama saat ini menyelesaikan utang jangka pendek sehingga InJourney mengajukan PMN untuk ITDC tahun ini sebesar Rp 1,05 triliun. PMN itu akan digunakan, untuk menyelesaikan kewajiban pembangunan grandstand, VIP villages, serta penyelenggaran Kejuaraan Dunia Superbike (WSBK) dan MotoGP 2022. Ajang WSBK dan MotoGP 2022 digelar oleh pengelola Sirkuit Mandalika, Mandalika Grand Prix Association (MGPA) yang merupakan salah satu unit usaha ITDC. Untuk penyelenggaraan WSBK dan MotoGP 2022, MGPA menanggung beban Rp 200 miliar. ”Untuk memenuhi kewajibannya, ITDC tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari pengelolaan Nusa Dua. Karena sejak awal (mandat pengelolaan) adalah penugasan pemerintah, maka kami membutuhkan PMN,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI Dewan DPR yang digelar secara hibrida di Jakarta, Rabu (14/6). (Yoga)
Pengembangan Blok Rokan Disetujui
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyetujui pengembangan Blok Rokan, Riau, oleh PT Pertamina Hulu Rokan. Dengan persetujuan itu, diperkirakan akan ada tambahan cadangan minyak sebanyak 26 juta barel. ”Kami berkomitmen mendukung optimalisasi produksi Blok Rokan yang menjadi salah satu tulang punggung produksi migas nasional,” ujar Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, Sabtu (17/6/2023). (Yoga)
Subsidi Sasar Sektor Informal
Pemerintah membuka peluang bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan penghasilan tidak tetap atau sektor informal untuk memiliki rumah subsidi. Namun, syarat kepemilikan rumah subsidi diatur semakin ketat. Ketentuan itu diatur melalui Permenkeu (PMK) RI No 60 Tahun 2023 tentang Batasan Rumah Umum, Pondok Boro, Asrama Mahasiswa dan Pelajar, serta Rumah Pekerja yang Dibebaskan dari pengenaan PPN. Regulasi yang diundangkan 12 Juni 2023 itu, antara lain, menaikkan harga rumah bersubsidi, menjadi Rp 162 juta per unit sampai Rp 234 juta per unit, tergantung zonasi. PMK No 60/2023 juga mengatur ketentuan tambahan soal besaran penghasilan masyarakat berpenghasilan rendah yang dapat mengikuti program yang akan dihitung berdasarkan rata-rata penghasilan, baik penghasilan teratur maupun tidak teratur. Selama ini, program rumah bersubsidi mengarah pada masyarakat berpenghasilan rendah dengan pendapatan tetap (sektor formal).
Direktur Pelaksanaan Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR, Haryo Bekti Martoyoedo, saat dihubungi, Minggu (18/6) membenarkan hal itu. Kementerian PUPR akan menindaklanjuti PMK No 60/2023 dengan menerbitkan Kepmen serta menggelar sosialisasi. Sosialisasi dijadwalkan berlangsung pekan ini dengan melibatkan Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu, KementerianbPUPR, dan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera). Ketum Organisasi Lembaga Pengkajian Pengembangan Perumahan dan Perkotaan Indonesia (The HUD Institute) Zulfi Syarif Koto berpendapat, saat ini 70 5 masyarakat berpenghasilan rendah merupakan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak tetap. Mereka kesulitan mendapat pembiayaan rumah karena dinilai tak layak bank (unbankable). Ia menilai, terobosan kepemilikan rumah bersubsidi untuk masyarakat sektor informal itu harus diikuti harmonisasi perundang-undangan terkait. Selain itu, perlu lembaga penjaminan. (Yoga)
Pembangunan PLTN Masih Hadapi Tantangan
Indonesia dinilai mampu untuk mulai membangun pembangkit listrik tenaga nuklir berskala kecil. Namun, pembangunan PLTN belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat lantaran terkendala biaya dan persetujuan masyarakat. Sampai saat ini, pemerintah masih membahas hal itu dalam RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan atau RUU EBET. Djarot Sulistio Wisnubroto, peneliti senior tenaga atom BRIN, mengatakan, saat ini Indonesia belum memiliki PLTN. Namun, pemerintah sudah mulai mencanangkan pembangunan pembangkit listrik yang tergolong sebagai energi baru tersebut.
”Indonesia sudah mampu mendesain dan membangun PLTN meski skalanya kecil. Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) juga sudah mengakuinya. Meski berskala kecil, PLTN itu dapat ditingkatkan dari semula 10 megawatt (MW) menjadi 300 MW, dan 600 MW,” ujarnya dalam webinar bertajuk ”Lebih Dekat dengan Teknologi Nuklir” yang diadakan Tunas Hijau ID, Sabtu (17/6/). Walakin, pembangunan PLTN itu masih belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat, karena besarnya biaya membangun reaktor nuklir dan masih adanya penolakan dari sebagian masyarakat. (Yoga)
Target Empat Juta Penumpang Transjakarta pada 2025
Setelah mengembalikan ridership ke 1 juta pelanggan per hari, Transjakarta mendapat target baru. Pada 2025, layanan jaringan bus milik Pemprov DKI ini diminta memenuhi target 4 juta penumpang per hari. Kepala Badan Pembinaan Badan Usaha Milik Daerah DKI Jakarta Nasruddin Djoko Surjono, Minggu (18/6/2023), menjelaskan, untuk target baru itu, ada dukungan Pemprov DKI Jakarta, mulai dari perencanaan tahunan, koordinasi dengan eksekutif dan legislatif, hingga pelaksanaan dan skema pendanaan pengembangan transportasi publik perkotaan. (Yoga)
Kibasan Vonis Kasus Migor Hingga Korporasi
Bertubi-tubi, pebisnis kelapa sawit nasional mendapatkan pukulan ganda. Pasca tujuh perusahaan terseret dugaan praktik monopoli dalam kasus minyak goreng (migor), kali ini tiga perusahaan terpapar perkara korupsi terkait izin ekspor minyak sawit mentah (CPO).
Kejaksaan Agung, Kamis (15/6) pekan lalu, menetapkan tiga perusahaan sawit sebagai tersangka dalam perkara tersebut.
Ketiga korporasi itu adalah Wilmar Group, Permata Hijau Group dan Musim Mas Group.
Ketiga perusahaan ini sebelumnya memang terpapar kasus korupsi serupa melalui tiga petinggi perusahaan yang saat ini berstatus terpidana.
Kepala Pusat Penerangan dan Hukum Kejagung Ketut Sumedana mengatakan, berdasarkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap
(inkracht)
dalam perkara minyak goreng, penyidik Kejagung menetapkan tiga korporasi sebagai tersangka.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menilai, ihwal kasus yang menimpa produsen minyak goreng, otoritas sebaiknya secara jelas menunjukkan detail kesalahannya. "Jangan sampai menimbulkan kesan ke investor yang sudah ada merasa tak nyaman," kata dia, kemarin.
Pakar Hukum Pidana dari Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menilai sejatinya menjerat korporasi sebagai tersangka kasus kejahatan tidak sederhana. Menurut dia, penyidik mesti membuktikan ada program dari perusahaan tersebut yang merupakan bagian dari kebijakan perusahaan, ada niat atau unsur kesengajaan dalam melakukan kejahatan.
Tahun Politik, Subsidi Energi Mendaki
Badan Anggaran (Banggar) DPR dan pemerintah sepakat mengerek volume subsidi tahun depan. Hal itu terekam dalam pendahuluan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2024. Bukan hanya terdongkrak konsumsi masyarakat, volume BBM naik untuk menghadapi tahun politik.
Dalam kesepakatan itu, volume bahan bakar minyak (BBM) subsidi dipatok sebesar 18,74 juta kiloliter (kl) hingga 19,58 juta kl untuk tahun 2024. Besarannya naik dibanding tahun 2023 yang sebesar 17,50 juta kl.
Sementara volume elpiji 3 kg disepakati 8,20 hingga 8,30 juta metrik ton, naik dibanding tahun 2023 yang sebesar 8 juta metrik ton. Subsidi tetap minyak solar dipatok Rp 1.000 hingga Rp 3.000 per liter dan subsidi listrik sebesar Rp 70,73 triliun hingga Rp 75,70 triliun (lihat tabel).
Ketua Banggar DPR, Said Abdullah mengatakan, kenaikan volume subsidi tahun depan sebagai antisipasi kerawanan gejolak sosial di tahun pelaksanaan pemilu. Selain itu, konsumsi energi, baik itu bahan bakar minyak (BBM), solar, minyak tanah, elpiji tabung 3 kg maupun listrik diperkirakan naik karena pemulihan ekonomi semakin baik.
Artinya, konsumsi masyarakat juga naik ketimbang saat pandemi Covid-19. "Permintaan akan semakin besar karena makin kuatnya ekonomi dan mengantisipasi kerawanan gejolak sosial di tahun pemilu," kata Said dalam Rapat Kerja dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Jumat (16/6) pekan lalu.
Dihubungi terpisah, Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemkeu) Wahyu Utomo enggan menyebutkan besaran anggaran subsidi termasuk kompensasi untuk RAPBN 2024. "Nilai persisnya akan disampaikan dalam Nota Keuangan dan RAPBN 2024," kata dia, kemarin.
Arah Suku Bunga Pelecut Laju Bursa
Pasar saham Indonesia harap-harap cemas menanti keputusan Bank Indonesia (BI) dalam menentukan arah suku bunga acuan ke depan. Pada Rabu (21/6) dan Kamis (22/6) pekan ini, BI bakal menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG).
Pasar akan mencermati hasil RDG BI tersebut. Pasalnya, keputusan BI dalam menentukan arah kebijakan moneter Indonesia itu bakal menjadi sentimen pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih melihat, kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Fed yang menahan suku bunga acauan pada rapat FOMC pekan lalu telah sesuai ekspektasi pasar dan menjadi katalis positif IHSG.
Hanya saja, IHSG belum melaju kencang. Pelaku pasar masih mencerna sinyal The Fed menaikkan kembali suku bunga sebanyak dua kali di sisa tahun ini.
Fund Manager
Syailendra Capital, Rendy Wijay, menimpali, pasar berekspektasi RDG BI akan mempertahankan suku bunga di level saat ini. "Jika sesuai ekspektasi, kami memperkirakan dampaknya akan positif bagi pasar saham," imbuh Rendy.
Secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana melihat, sepekan ke depan IHSG berpotensi sideways cenderung terkoreksi dengan
support
di 6.660 dan
resistance
6.744.
Analis Binaartha Sekuritas, Ivan Rosanova sepakat, IHSG membuka peluang skenario koreksi jangka pendek usai tertahan di bawah MA10 pada
weekly chart.
Area
support
IHSG di 6.660 dan
resistance
6.767.









