Peluang Pasar ASEAN untuk Industri Keramik, hingga Suplai untuk Program 3 Juta Rumah
Tarif impor resiprokal yang diterapkan AS resmi berlaku pada Rabu (9/4). Sejumlah langkah tengah disiapkan pemerintah dan pelaku industri untuk menyikapi dampak tarif yang berpotensi memperluas perang dagang, pelambatan industri, hingga gejolak ekonomi dunia, antara lain, menggarap diversifikasi atau perluasan pasar. Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengungkap, dampak pemberlakuan tarif impor resiprokal terhadap penjualan keramik Indonesia ke AS sangat minim karena AS bukan negara tujuan utama ekspor keramik. Selama ini, AS mengimpor keramik terbesar dari India dan China. Namun, Indonesia perlu mewaspadai ancaman lonjakan impor keramik dari China dan India akibat pengalihan ekspor keramik ke AS sebagai dampak tarif impor resiprokal.
Di sisi lain, ada peluang besar yang dapat digarap Indonesia di tengah tantangan pasar dunia, yakni perluasan pasar ke negara-negara anggota ASEAN. Peluang terbuka bagi industri keramik Indonesia yang cukup berdaya saing di Asia Tenggara. Negara-negara anggota ASEAN selama ini menjadi tujuan utama ekspor keramik Indonesia. Ekspor produk keramik Indonesia saat ini menguasai pasar di Filipina, Thailand, dan Malaysia. Ia menilai, pasar potensial ASEAN tak hanya ditiga negara itu,tetapi juga Vietnam, Brunei Darussalam, Kamboja, dan Singapura. ASEAN dengan 680 juta jiwa dinilai merupakan pasar ekspor yang strategis dengan tren permintaan keramik yang besar. Permintaan keramik di 11 negara anggota ASEAN sudah melampaui 1,2 miliar meter persegi per tahun. Hal itu memberikan peluang pasar bagi industri keramik Indonesia yang berkapasitas 625 juta meter persegi per tahun.
Salah satu upaya meningkatkan permintaan keramik dalam negeri adalah program strategis pembangunan 3 juta rumah per tahun. Dengan asumsi luas hunian 36 meter persegi, kebutuhan keramik untuk program 3 juta rumah mencapai 110 juta meter persegi per tahun. ”Program 3 juta rumah mampu meningkatkan utilisasi industri keramik nasional hingga sebesar 17 % jika dikelola dengan baik,” kata Edy. Perusahaan industri keramik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) melihat program 3 juta rumah berpotensi sebagai pendorong pasar industri keramik dalam negeri. Arwana saat ini menggarap pasar keramik untuk segmen menengah ke bawah sebesar 37 % dari total portofolio, segmen menengah 50 %, dan segmen atas sejumlah 13 %. Kapasitas perseroan untuk mendukung program 3 juta rumah mencapai 87 % dari total portofolio produk. (Yoga)
Jangan Ceroboh untuk Relaksasi Import
Relaksasi kebijakan impor sebagai bahan negosiasi tarif dengan AS jangan sampai merugikan industri dalam negeri yang masih membutuhkan proteksi. Apalagi, ada rencana untuk menghapus kuota impor dalam rangka negosiasi tarif. Pada prinsipnya, kebijakan itu tidak bisa diterapkan untuk semua komoditas karena harga disesuaikan kondisi dalam negeri. Impor yang serampangan akan memukul industri nasional, yang akan berujung pada penurunan PHK. Atas dasar itu, pemerintah perlu hati-hati dan jangan gegabah dalam menerapkan relaksasi impor.
Sementara itu, perang dagang diprediksi menjadi pukulan keras bagi ekonomi internasional. Sebab, hal itu membahayakan kinerja ekspor Indonesia, mengingat kontribusi pengapalan barang ke Paman Sam mencapai 10%. Perang dagang juga merontokkan harga komoditas andalan, mulai dari sawit, batu bara yang dibarengi penurunan tajam harga ritel akibat perlambatan ekonomi China. Berdasarkan data Trading Ekonomics, harga minyak WTI melorot 19% dari US$ 71,8 per barel menjadi US$ 57,9 per barel sejak Presiden AS Donald Trump menyulut perang dagang pada 2 April 2025. Harga batu bara juga tergelincir menjadi dibawah US$ 100 per ton, tepatnya US$ 98 per ton. Harga sawit mentah merosot 6% dari 4.520 ringgit per ton menjadi 4.244 ringgit per ton. Adapun harga nikel terjun bebas 1,8% dari US$ 16.115 per ton menjadi US$ 14.200 per ton. (Yetede)
Tarif Trump Seberapa Kuat Dampaknya
Pelonggaran Syarat Tumbuhkan Permintaan KPR Subsidi
Kondisi Inflasi hingga Maret 2025 Masih Terkendali Sebesar 1,03%
Kondisi inflasi hingga Maret 2025 masih terkendali sebesar 1,03% secara year on year (yoy), setelah bulan sebelumnya mencatatkan deflasi. Pemerintah optimistis inflasi pada tahun ini berada di kisaran 2,5%, kurang lebih 1% dengan terus menjaga stabilitas harga bahan pangan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu mengatakan, inflasi Maret 2025 terus dijaga agar terkendali, khususnya untuk harga pangan agar tetap stabil di masa Ramadan dan Idul Fitri. Langkah pemerintah menjalankan paket kebijakan pada Ramadan turut berkontribusi untuk menjaga stabilitas inflasi.
"Berbagai insentif yang diberikan seperti diskon tarif tol dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah DTP tiket pesawat di masa HBKN Ramadan dan Idul Fitri berkontribusi menahan kenaikan inflasi, sehingga diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal 1-2025," ucap Febrio. Berdasarkan komponen, inflasi inti tercatat pada level 2,48% (yoy). Sebagian besar kelompok pengeluaran meningkat, terutama kelompok pakaian dan alas kaki seiring meningkatnya permintaan jelang Idul Fitri. Komponen inflasi pangan bergejolak tercatat sebesar 0,37% yang didorong oleh penurunan harga beras dan produk unggas. Meskipun demikian, beberapa komoditas pangan tercatat meningkat secara bulan ke bulan karena peningkatan permintaan menjelang Idul Fitri. (Yetede)
Menaksir Dividen Emiten MIND ID
Sinyal Tren Positif dari Manufaktur Indonesia
Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan aktivitas manufaktur Indonesia terus berada pada tren positif. Pada Maret 2025, PMI Manufaktur Indonesia berada pada level 52,4, melanjutkan tren ekspansif sejak Desember 2024. Kepala BKF Febrio Kacaribu menerangkan aktivitas menufaktur yang terus ekspansif didorong pertumbuhan produksi yang berlanjut dalam beberapa bulan terakhir, baik akibat peningkatan permintaan domestik selama bulan Ramadan dan Idul Fitri maupun permintaan ekspor. Selain itu, optimisme terhadao prospek ekonomi ke depan juga menjadi pendorong," ujar dia. Febrio mengatakan beberapa mitra dagang utama Indonesia seperti Tiongkok (51,2), India (58,1), dan Amerika Serikat (50,2) juga mencatatkan ekspansi menufaktur.
Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia yang tetap stabil dan kompeititif di kawasan, di samping memperkuat permintaan ekspor dari negara-negara mitra utama tersebut. "Kinerja ini memberikan sinyak positif bagi prospek sektor manufaktur nasional ke depan dalam menghadapi dinamika perdagangan global yang diwarnai perang tarif," kata dia. dari sisi konsumen, ketahanan ekonomi tercermin dari indikator konsumsi yang masih berada pada level optimis. Indeks Kepuasan Konsumen pada Februari 2025 tercatat sekitar 126,4, menunjukkan peningkatan keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi baik saat ini maupun prospeknya ke depan. (Yetede)









