Halmahera Utara Harapkan Lisensi Rempah
Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, berharap bisa mendapatkan lisensi pengembangan rempah sebagai sumber pendapatan asli daerah. ”Dengan mengantongi lisensi atau semacam hak paten, barulah kami bisa berharap rempah bisa mendatangkan pendapatan untuk kas daerah,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Halmahera Utara Erasmus J Papilaya saat membuka Festival Kala Hara, Kamis (3/8/2023) petang. (Yoga)
Pesta Laba Besar Emiten Saham Indeks Kompas 100
Mayoritas emiten saham penghuni indeks Kompas 100 sudah merilis laporan kinerja semester I-2023. Dari hasil kinerja emiten Kompas 100, tercatat sekitar 30 emiten berhasil menorehkan hasil berkilau. Mereka bahkan berpesta laba besar karena sukses menorehkan kenaikan laba
triple digit.
Lonjakan paling kencang ditorehkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Meski pendapatan tertekan, laba bersih produsen rokok berlabel Gudang Garam ini mencapai Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Nilai ini melesat 243,9% secara tahunan atau
year on year
(yoy) dari Rp 956,14 miliar di semester I-2022.
Kenaikan laba hingga
triple digit
juga ditorehkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berada di peringkat kedua. Laba emiten saham milik taipan Prajogo Pangestu itu melesat 243,40% menjadi US$ 30,37 juta di paruh pertama tahun ini.
Tak mau ketinggalan, emiten properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga unjuk gigi dengan mencetak laba senilai Rp 1,2 triliun atau melesat 159,02% yoy dari Rp 463,83 triliun.
Terlepas dari faktor pemulihan ekonomi, Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pencapaian para emiten properti juga ditopang upaya pengembang untuk menggaet pembeli.
Emiten bank penghuni indeks ini juga masih bertumbuh. Salah satunya adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 55,18 triliun atau bertumbuh 22,18% secara tahunan.
Senior Research Analyst
Reliance Sekuritas, Lukman Hakim menuturkan, sektor bank masih berpotensi untuk bertumbuh. Meski lambat, tetapi masih ada permintaan kredit di masyarakat.
Secara pergerakan indeks, Kompas100 masih lebih unggul dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Kamis (3/8), indeks Kompas100 sudah naik hingga 1,96% sementara IHSG baru meningkat 0,69%.
Siap-Siap Inflasi Melonjak Seusai Pesta Politik
Laju inflasi di tahun politik 2024 diperkirakan masih akan terjaga pada rentang target 1,5% hingga 3,5%. Namun pemerintah harus tetap waspada. Sebab, ada risiko inflasi melonjak setelah tahun politik.
Pemerintah memang cenderung menahan sejumlah harga agar tidak melonjak di tahun 2024. Terutama, harga bahan bakar minyak (BBM) maupun tarif listrik subsidi. Pemerintah juga menahan sejumlah harga agar tak naik di tahun depan. Misalnya, tarif pajak pertambahan nilai (PPN). Sebab berdasarkan Undang-Undang tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan, tarif PPN harus naik lagi menjadi 12% yang berlaku paling lambat mulai 1 Januari 2025.
Meujuk data Bank Indonesia (BI), laju inflasi meningkat di tahun berikutnya setelah pemilihan umum (pemilu) 2004 dan 2009 silam. Tahun 2004, inflasi tercatat 6,4%
year on year
(yoy) dan melonjak drastis pada tahun 2005 menjadi 17,11 yoy.
Sementara itu, inflasi tahun 2015 tercatat sebesar 3,35% yoy, turun dibandingkan tahun pemilu 2014 yang tercatat sebesar 8,36% yoy. Begitu pula dengan tahun 2020, inflasi menurun menjadi 1,68% yoy, setelah tahun pemilu 2019 inflasi tercatat 2,72% yoy.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (Core) Mohammad Faisal meramal, inflasi nasional tahun 2024 akan melampaui 2,5% yoy. Namun, inflasi tahun depan masih akan di bawah level 3% yoy.
Sementara Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat, laju inflasi 2024 tak akan melonjak tinggi, meski ada pemilu. Sebab, harga komoditas masih dalam tren penurunan. Ini pula yang menyebabkan inflasi negara-negara lain turut melandai.
Yang jelas, pemilu berpotensi mengungkit ekonomi RI, meski hanya sesaat. Kepala Riset Grup DBS Maynard Arif mengungkapkan, dalam kampanye pasti masing-masing kandidat menggelontorkan dana. Bahkan bukan dana dengan nominal kecil.
Emiten Rokok Belum Bebas dari Batuk-Batuk
Kinerja emiten rokok semakin mengepul. Terlihat dari laporan keuangan emiten rokok yang menjadi salah satu penguasa pasar domestik.
Kinerja PT Gudang Garam Tbk misalnya. Laba bersih emiten dengan kode GGRM ini melesat dua kali lipat lebih menjadi Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Itu adalah cuan yang diatribusikan ke pemilik GGRM.
Padahal di semester I-2022, pabrikan rokok berbasis di Kediri, Jawa Timur ini cuma mengantongi laba bersih sebesar Rp 956,14 miliar saja.
Dari sisi pendapatan GGRM di separuh pertama 2023 ini justru turun tipis 9,4% dibandingkan periode sebelumnya menjadi Rp 55,85 triliun.
Sedangkan PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) mengalami lonjakan penjualan di semester I-2023 sebesar 4,95%. Yakni dari sebelumnya Rp 53,5 triliun menjadi Rp 56 triliun.
Head of Research
Phintraco Sekuritas, Valdy Kurniawan melihat emiten rokok masih diuntungkan dari pemulihan konsumsi masyarakat Indonesia di semester I-2023 ini. Terlihat dari data indeks keyakinan konsumen Indonesia yang berada di rata-rata 125 di semester I-2023.
Selain itu, menurut dia, faktor pendorong lain adalah upaya inovasi produk dari emiten rokok. Langkah tersebut perlu dilakukan para produsen rokok dalam negeri untuk meredam dampak masifnya kampanye dengan penempelan label peduli kesehatan di kemasan rokok.
Namun tantangan dari emiten rokok jelas tidak akan berhenti. Yang harus mendapat perhatian adalah kecenderungan kenaikan cukai rokok dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal ini membuat produsen rokok harus mengerek harga jual untuk menjaga margin keuntungan.
Kondisi tersebut menurut Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani sempat membuat pergerakan harga saham GGRM secara
year to date
(ytd) mencatat
return
55,14% pada penutupan perdagangan 31 Juli 2023 yang lalu.
Pemulihan Ekonomi Topang Kinerja Ritel
Meski ekonomi bergulir, emiten ritel membukukan kinerja bervariasi sepanjang semester I-2023.
Misal PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengalami penurunan laba bersih. Keuntungan LPPF merosot 25,53%
year on year
(YoY) menjadi Rp 683,87 miliar. Hasil ini terjadi ketika pendapatan LPPF masih bisa tumbuh 2,39% menjadi Rp 3,85 triliun.
Begitu juga PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Pendapatan MAPI menanjak 27,37% secara tahunan (yoy) ke posisi Rp 15,59 triliun. Tapi laba bersihnya terpangkas 5,45% menjadi Rp 1,04 triliun.
Serupa dengan PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Laba bersih ERAA melorot 9,62% menjadi Rp 458,66 miliar ketika penjualan neto melonjak 23,50% ke level
Rp 28,90 triliun.
Nasib lebih baik dialami Grup Alfamart & Alfamidi, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI). Kinerja mereka tumbuh.
Analis Panin Sekuritas, Andhika Audrey menilai, secara umum kinerja emiten ritel setengah tahun ini sesuai dengan ekspektasi.
Sementara itu, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo menjagokan saham ACES dan MAPI dengan strategi
buy on support.
Menanti Pemulihan Permintaan CPO
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja kurang memuaskan di separuh pertama tahun 2023. Pendapatan dan laba emiten perkebunan kelapa sawit ini negatif karena mengalami penurunan penjualan crude palm oil (CPO). Analis Ciptadana Sekuritas, Yasmin Soulisa mencermati, penghasilan AALI yang mengecewakan karena biaya tinggi dan penjualan yang lebih rendah. Penjualan CPO alias minyak sawit mentah lesu karena harga CPO global tidak mendukung.
Pendapatan AALI secara kumulatif di semester pertama 2023 turun 14,4% YoY menjadi Rp 9,39 triliun. Sementara, laba merosot 54,6% yoy menjadi Rp 368 miliar karena semua segmen mengalami pertumbuhan negatif.
Pendapatan AALI yang melesu terutama karena harga CPO dunia yang lebih rendah dari perkiraan di semester I-2023. Rata-rata, harga CPO dunia turun 4,4% secara kuartalan menjadi RM 3.840 per ton di kuartal kedua 2023. Sehingga, harga rata-rata CPO global menjadi RM 3.929 per ton untuk periode semester I-2023, atau turun 37,8% secara tahunan.
Dari segi produksi, produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO AALI masih relatif sejalan dengan estimasi Ciptadana Sekuritas. Produksi TBS menjadi 2,11 juta ton pada semester I-2023, atau meningkat 7,9% secara tahunan. Sedangkan produksi CPO mencapai 619.000 ton atau sedikit turun 3,1% secara tahunan karena rata-rata utilisasi pabrik yang lebih rendah.
Sisi baiknya, program pencampuran biodiesel yang lebih tinggi sebesar 35% dari 30% di tahun lalu diharapkan mendukung permintaan minyak sawit dalam negeri. Peningkatan kebutuhan biodiosel dari B30 ke B35 tersebut artinya porsi CPO yang dibutuhkan juga turut meningkat. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji menyebutkan, sentimen positif untuk meningkatkan permintaan CPO adalah kehadiran China dan India untuk menyerap ketersediaan minyak sawit mentah. Prospek perekonomian yang lebih baik dari kedua negara importir terbesar CPO tersebut akan membantu penyerapan.
Dari domestik, pemilu bisa menjadi momentum untuk mengangkat permintaan minyak sawit mentah yang memiliki produk turunan salah satunya minyak goreng.
MENANGKAL RISIKO KREDIT MACET
Pembiayaan yang disalurkan industri jasa keuangan sampai dengan paruh pertama tahun ini masih berada dalam tren tumbuh. Namun, pelaku industri jasa keuangan patut waspada dengan potensi naiknya rasio kredit bermasalah. Tiga sektor utama industri jasa keuangan yang menyalurkan pinjaman kepada nasabah yakni perbankan, industri pembiayaan (multifinance), dan teknologi finansial (tekfin) berhasil menjaga performa kredit yang disalurkan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding kredit perbankan hingga Juni 2023 senilai Rp6.656 triliun tumbuh 7,76% year-on-year (YoY). Rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL) gross perbankan tercatat sebesar 2,44% lebih rendah dari posisi Juni 2022 sebesar 2,86%. Meski secara umum NPL turun, kredit ke lapangan usaha seperti konstruksi mencatat kenaikan NPL. Sebaliknya, beberapa lapangan usaha yang saat pandemi mencatat kenaikan NPL hingga di atas 5% seperti usaha pertambangan dan penggalian serta usaha penyediaan akomodasi dan penyediaan makan minuman, saat ini rasio NPL terus membaik. Di industri multifinance, total piutang yang disalurkan mencapai Rp444,52 triliun atau tumbuh 16,37%. Bisnis multifinance kembali ke performa apik dengan laju hingg double digit setelah selama pandemi terkontraksi sangat dalam. Hingga Juni 2023, jumlah penyelenggara tekfin P2P lending sebanyak 102 entitas. Artinya, sebanyak 23% bisnis tekfin memiliki rasio pinjaman bermasalah di atas 5% “OJK terus melakukan pemantauan untuk kualitas pendanaan perusahaan tekfin yang memiliki TWP90 hari di atas 5%. Kami meminta mereka melakukana action plan untuk perbaikan kualitas pendanaan,” ujarnya saat paparan Rapat Dewan Komisioner OJK, Kamis (3/8). Dalam kesempatan yang sama, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan kualitas kredit masih terjaga dengan rasio NPL net perbankan stabil di level 0,77%. Sementara itu, pemulihan yang terus berlanjut di sektor riil, turut mendorong penurunan kredit restrukturisasi Covid-19 sebesar Rp11,03 triliun menjadi Rp361,04 triliun pada Juni 2023 dengan jumlah nasabah turun sebanyak 70.000 nasabah menjadi 1,57 juta debitur.
Mengawal Arah Investasi Hulu Migas
Di tengah derasnya tekanan global untuk menggunakan energi baru terbarukan, ruang gerak sektor minyak dan gas bumi nasional makin menantang. Beragam insentif dan kemudahan yang diberikan pemerintah untuk menarik investor di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) belum dapat menghentikan maraknya kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) menarik diri dari wilayah kerja di Tanah Air. Shell Upstream Overseas Ltd. di Blok Masela, Maluku dan Chevron di Indonesia Deepwater Development (IDD), Kalimantan Timur, misalnya, baru saja merampungkan peralihan kepemilikan. Tidak lama kemudian, Conrad Asia Energy Ltd. berencana melepas sebagian kepemilikannya di Blok Duyung, Riau. Menyusul KKKS Zarubezhneft berencana melego 50% hak partisipasi di Blok Tuna, Lepas Pantai Natuna Timur. Langkah yang diambil perusahaan migas pelat merah Rusia tersebut sebagai respons atas sanksi yang diberikan Uni Eropa atas konflik politik antara Ukraina dan Negeri Beruang Merah. Keputusan beberapa KKKS untuk tidak lagi memperpanjang kontrak migas di Indonesia, sudah barang tentu berisiko mengganggu pencapaian target produksi minyak mentah 1 juta barel pada 2030. Teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang digadang-gadang dapat menahan laju penurunan produksi Emas Hitam tidak dapat diaplikasikan secara seragam oleh semua KKKS. Kontraktor perlu menyuntik dana yang jumlahnya cukup besar untuk menerapkan metode pengurasan minyak tingkat lanjut guna mengoptimalkan produksi di lapangan migas.
Tidak dapat dinafikan bahwa potensi cadangan migas nasional cukup besar. Namun, di tengah situasi geopolitik dunia yang semakin tidak menentu, berkah alam yang luar biasa ini tidak dapat lagi menjadi jaminan untuk menarik KKKS utamanya dari perusahaan migas multinasional. Kreativitas untuk memberikan insentif atau pemanis yang lebih menarik bagi investor, yang diselaraskan dengan kepentingan nasional, menjadi kunci untuk menarik gairah penanaman modal baru di sektor migas.
PROSPEK SEKTORAL : RESEP EMITEN KESEHATAN JAGA STAMINA
Mayoritas emiten sektor kesehatan mengantongi tekanan profitabilitas kendati pendapatannya mampu tumbuh positif pada semester I/2023. Di tengah sentimen itu, para emiten mengatur ulang strategi untuk menjaga performa hingga akhir tahun ini.nBerdasarkan data yang dihimpun Bisnis, 12 dari 18 emiten kesehatan mampu membukukan pertumbuhan pendapatan sepanjang Januari—Juni 2023. Pendapatan dua emiten rumah sakit, PT Sejahteraraja Anugerahjaya Tbk. (SRAJ) dan PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) kompak naik lebih dari 20% secara tahunan.nPendapatan SRAJ tercatat naik 24,94% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,12 triliun, sedangkan SAME meraih pertumbuhan pendapatan 21,13% secara tahunan menjadi Rp772,71 miliar pada paruh pertama tahun ini.nKontras, pendapatan PT Indofarma Tbk. (INAF) merosot paling dalam dengan koreksi 36,42% YoY dari Rp574,05 miliar pada semester I/2022 menjadi Rp364,96 miliar dalam 6 bulan pertama 2023. nSejalan dengan raihan top line itu, emiten-emiten kesehatan mendulang profitabilitas yang bervariasi. Tiga emiten yang mampu mempertebal laba bersih ialah PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) melesat 139,36% YoY menjadi Rp503,37 miliar, PT Tempo Scan Pacific Tbk. (TSPC) meningkat 82,87% YoY menjadi Rp692,84 miliar, dan PT Kedoya Adyaraya Tbk. (RSGK) naik 64,93% YoY menjadi Rp14,25 miliar. (Lihat infografis)nMeski melandai, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) masih menjadi emiten kesehatan yang mendulang laba paling tebal. Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas KLBF pada semester I/2023 terkontraksi 6,59% dari Rp1,63 triliun pada paruh pertama 2022 menjadi Rp1,52 triliun. Profitabilitas itu dikantongi dari penjualan neto yang tumbuh 9,4% YoY dari Rp13,87 triliun menjadi Rp15,17 triliun. nKartika Setiabudy, Chief Financial Officer Kalbe Farma, memaparkan kontribusi penjualan bersih dari divisi obat resep sebesar Rp3,87 triliun, divisi nutrisi Rp3,93 triliun, divisi distribusi dan logistik Rp5,31 triliun, divisi produk kesehatan Rp2,05 triliun.
Terpisah, Presiden Direktur Siloam Benny Haryanto mengatakan SILO akan terus mendorong efisiensi dan profitabilitas di seluruh cabang rumah sakit Siloam. Emiten Grup Lippo itu, lanjutnya, juga berkomitmen untuk membangun 1—2 rumah sakit baru per tahunnya dengan fokus pada pasar premium.nSementara itu, Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty mengatakan capaian kinerja semester I/2023 menjadi bukti bahwa perseroan mampu menghasilkan kinerja yang positif meski status pandemi Covid-19 telah berakhir di Indonesia.
HARGA GAS BUMI MURAH : KEBUTUHAN DOMESTIK PERLU PERHATIAN
Persoalan ‘klasik’ yang masih membayangi implementasi harga gas bumi tertentu atau HGBT memunculkan dilema bagi pemerintah yang mesti sanggup menyeimbangkan kepentingan pelaku industri di hulu hingga hilir. Kementerian Perindustrian meminta penegasan kembali mengenai pemenuhan kebutuhan gas bumi di dalam negeri agar implementasi HGBT bisa berjalan optimal. Alasannya, industri pengguna gas membutuhkan pasokan yang cukup dengan harga kompetitif agar bisa meningkatkan daya saing. Terlebih, kajian yang dilakukan oleh LPEM FEB-UI dan Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa implementasi HGBT sanggup meningkatkan utilisasi produksi hingga 7,3% pada 2021. Pada saat pandemi Covid-19, Kementerian Perindustrian mencatat utilisasi industri mengalami penurunan sekitar 4,2%, sehingga HGBT diperkirakan telah memberikan dampak bersih kenaikan sebesar 11,5%. Berdasarkan kelompok industrinya, kebijakan HGBT secara signifikan mampu meningkatkan utilisasi industri gelas sebesar 32,55%, dan industri keramik hingga 10,26%. Industri oleokimia dan sarung tangan karet juga mengalami kenaikan utilisasi produksi saat puncak Covid-19, karena ditopang oleh HGBT. Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa kinerja ekspor lapangan usaha penerima HGBT juga tercatat terus mengalami peningkatan.
Sayangnya, implementasi HGBT terus dibayangi oleh sejumlah persoalan ‘klasik’, yakni harga yang harus dibayarkan oleh industri penerima HGBT masih melebihi ketentuan, pembatasan pasokan, dan masih banyak industri yang belum mendapatkan alokasi gas bumi. Dalam kesempatan terpisah, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) meminta perbaikan pasokan gas bumi setelah pemerintah menyesuaikan tarifnya. Edy Suyanto, Ketua Umum Asaki, mengatakan bahwa selama ini pelaku industri penerima HGBT dikenai batasan pemakaian sebesar 65% dari total kebutuhan per hari yang sebenarnya tercantum dalam kontrak. Kondisi tersebut membuat pelaku industri harus membayar gas dengan rentang harga US$6,3—US$6,5 per MMbtu. Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk. memastikan komitmennya untuk melaksanakan penugasan terkait dengan penyaluran gas bumi dengan harga khusus sesuai daftar, nominal, dan ketentuan berlaku. Sementara itu, Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute menyarankan pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan harga gas bumi murah. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan bahwa penyesuaian HGBT itu dilakukan untuk mengimbangi biaya produksi dari lapangan-lapangan tua yang ada di dalam negeri. Langkah itu diharapkan dapat menjaga penerimaan dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS sembari memastikan investasi di sisi hulu tetap kompetitif.









