Gen Z, Kecil-kecil Jadi Bos
Generasi Z, angkatan yang lahir pada periode pertengahan 1990-an hingga pertengahan 2010-an, menempati 26 % populasi masyarakat global. Sebagian di antaranya sudah lulus sekolah dan memasuki dunia kerja. Bahkan, sebagian telah menjadi pemimpin di perusahaannya sendiri atau menduduki posisi puncak di perusahaan orang lain. Mc Kinsey, pada Juni 2023, menerbitkan laporan, sepertiga dari 500 perusahaan terbesar di AS memiliki direktur utama berusia di bawah 50 tahun. Bahkan, sejumlah perusahaan memiliki direktur berusia di bawah 30 tahun yang bukan anak ataupun cucu dari pendiri perusahaan.
Celia Huber, mitra senior di McKinsey, menjelaskan, fenomena ini menunjukkan bahwa kepercayaan perusahaan yang sudah mapan terhadap Generasi Z besar, selama individu tersebut menunjukkan kualitas kepemimpinan yang diperlukan untuk mengelola korporasi itu. ”Memang Gen Z ini kurang berpengalaman dalam menghadapi siklus ekonomi. Tetapi, di sisi lain, banyak perusahaan justru melihat ini sebagai kelebihan karena menghadirkan sudut pandang yang segar,” ujarnya. Menurut Huber, 300 pemimpin perusahaan yang diwawancara McKinsey mengatakan, hal terpenting dari karakteristik pemimpin ialah mampu beradaptasi dengan segala ketidakpastian, mampu mengelola lingkungan dan emosi pekerja, juga penguasaan atau setidaknya pemahaman perkembangan teknologi digital. (Yoga)
Mengatasi Kelangkaan Elpiji 3 Kg
Beberapa pekan terakhir, kelangkaan elpiji 3 kg kembali terjadi di sejumlah daerah. Tak kurang, Presiden kembali mengingatkan, gas melon hanya untuk warga miskin. Penyebab kelangkaan masih sama, yakni persoalan harga, tata niaga, dan distribusi. Disparitas harga yang sangat tajam antara elpiji 3 kg yang bersubsidi dan elpiji 12 kg yang nonsubsidi membuat sebagian masyarakat yang tidak berhak mendapat subsidi beralih menggunakan elpiji 3 kg. Akibatnya, subsidi menjadi tidak tepat sasaran karena tidak hanya dinikmati oleh kelompok miskin. Konsumsi elpiji 3 kg menjadi melonjak dan beban subsidi juga membengkak.
Peningkatan penggunaan elpiji 3 kg ini juga membuat stoknya di pasar menjadi langka dan memicu panic buying di masyarakat. Konsumen yang berhak menjadi dirugikan karena sulit mendapatkan dan, kalaupun ada, harganya melambung. Dari sisi Pertamina, pasokan dilaporkan tidak bermasalah. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam beberapa kasus juga mengendus adanya persaingan tidak sehat dalam tata niaga dan distribusi elpiji 3 kg. Terus berulangnya kelangkaan elpiji 3 kg dengan pola yang sama memunculkan desakan untuk pembenahan, baik dari sisi harga, distribusi, maupun kebijakan subsidi. Termasuk dengan memperketat pengawasan terhadap potensi penyimpangan dalam distribusinya.Pertamina juga diminta menertibkan dan mengawal distribusi sampai konsumen untuk memastikan ketersediaan pasokan serta penyaluran elpiji 3 kg tepat sasaran. (Yoga)
HILIRISASI MINERAL, Peningkatan Mutu SDM Mendesak
Hilirisasi yang digaungkan pemerintah beberapa tahun terakhir perlu diimbangi percepatan peningkatan mutu sumber daya manusia atau SDM. Langkah ini untuk menopang percepatan hilirisasi di berbagai sektor. Dengan demikian, hilirisasi diharapkan bisa beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sentra industri. Poin itu menjadi salah satu catatan dalam diskusi yang digelar Keluarga Alumni UGM (Kagama) dan Universitas Halu Oleo di Kendari, Sultra, Jumat (4/8).
Menurut Sekjen Kemenaker Anwar Sanusi, hilirisasi industri yang telah berjalan telah menyerap banyak tenaga kerja lokal. Di hilirisasi nikel, misalnya, tenaga kerja lokal lebih banyak terserap dibandingkan tenaga kerja asing. Namun, ia mengakui para pekerja ini mayoritas sebagai buruh, belum pada level menengah ke atas, karena keahlian yang dimiliki memang harus ditingkatkan secara maksimal. Beberapa upaya yang dilakukan, adalah mendorong industri terkait menyediakan fasilitas pendidikan dan pelatihan, agar peran penyediaan tenaga kerja terampil makin masif. Di sisi lain, pemerintah mengintensifkan pelatihan melalui fasilitas dan infrastruktur yang ada. (Yoga)AS Berencana Relokasi Pabrik ke Indonesia
Industri alas kaki Tanah Air mendapat peluang pemulihan dari imbas perang dagang AS dan China. AS berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu di China dan Vietnam ke Indonesia. Indonesia menjadi pilihan karena pemilik merek dari AS melihat kinerja produksi sejumlah jenama besar sepatu di Indonesia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) sekaligus Ketua Confederation of International Footwear Association (CIFA) Eddy Widjanarko, AS menyoroti China yang dinilai cenderung mendukung Rusia. Imbasnya, di tengah perang dagang di antara kedua negara itu, AS mengurangi permintaan dari China, termasuk sepatu.
”AS mencari negara baru untuk relokasi dan investasi (alas kaki). Indonesia menjadi salah satu pilihan. Di saat yang sama, sejumlah pabrik sepatu di China tutup akibat resesi,” ujar Eddy di sela International Footwear Conference ke-40 di Jakarta, Jumat (4/8). Indonesia menjadi pilihan karena AS menilai kinerja jenama besar sepatu di Tanah Air sangat kuat, seperti Nike, Adidas, dan Reebok.
Di Indonesia, terdapat 44 pabrik Nike dan 20-30 pabrik Adidas. AS juga berencana merelokasi sejumlah pabrik sepatu dari Vietnam ke Indonesia, disebab kan kebijakan karantina wilayah (lockdown) saat pandemic Covid-19 di Vietnam yang membuat industri negara itu tidak mampu memenuhi per-mintaan pembeli. Sebaliknya, Indonesia dinilai dapat mengelola produksinya di tengah pandemi sehingga dapat memenuhi permintaan pembeli. (Yoga)
UMKM Naik Kelas Kunci RI Jadi Negara Maju
Peningkatan kelas dan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diyakini menjadi salah satu cara agar Indonesia menjadi negara maju dengan perekonomian masuk dalam jajaran terbesar dunia pada 2045. Dengan UMKM yang naik kelas, kesejahteraan masyarakat juga meningkat dan tecermin dalam perekonomian nasional yang maju. Demikian dikatakan Direktur Bisnis Kecil dan Menengah BRI Amam Sukriyanto dalam jumpa pers Pengusaha Muda Brilian 2023 di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Jumat (4/8/2023). (Yoga)
Pabrik Gliserol LDC Rampung Dua Tahun
Perusahaan perdagangan dan pemroses produk pertanian multinasional, Louis Dreyfus Company (LDC), menargetkan pembangunan pabrik pemurnian gliserol di Lampung selesai dalam kurun dua tahun ke depan. Aksi korporasi ini merupakan bagian upaya LDC untuk memperluas bisnis hilirisasi kelapa sawit. Country Head LDC Indonesia Rajat Dutt, Kamis (3/8/2023), mengatakan, di Indonesia, bisnis komoditas minyak kelapa sawit termasuk penyumbang terbesar dalam pendapatan perusahaan. Bisnis minyak kelapa sawit yang dia maksud juga telah mencakup biodiesel. (Yoga)
Australia Investasi Pabrik Rumput Laut di Jatim
Sebuah perusahaan rintisan asal Australia bakal membangun industri pengolahan rumput laut di Jatim pada 2024. Rencana itu diprediksi bisa memberikan nilai tambah signifikan bagi petambak serta turut mendorong hilirisasi perikanan nasional. Pendiri (Co Founder) ULUU, perusahaan rintisan asal Australia, Julia Reisser, mengatakan perusahaannya mengolah rumput laut menjadi material untuk menggantikan plastik. Hal itu sejalan dengan upaya menanggulangi dampak perubahan iklim global. ”Kami sedang bekerja sama untuk mendirikan pabrik di Jatim. Kami juga bersyukur dapat mempererat kerja sama dengan Koperasi Agar Makmur Sentosa, ”ujar Julia saat Pengiriman Perdana Rumput Laut Gracilaria dari Koperasi Agar Makmur Sentosa ke Australia, Jumat (4/8).
Pembangunan pabrik yang diprediksi terealisasi pada 2024 itu digadang-gadang dapat memberdayakan masyarakat, terutama petani rumput laut. Dirjen Budidaya KKP Tubagus Haeru Rahayu, yang hadir dalam acara itu, mengatakan, komoditas rumput laut Indonesia saat ini masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. KKP menghendaki hilirisasi industri pengolah rumput laut untuk memberikan nilai tambah bagi petani. ”Dengan dukungan ULUU yang akan membangun pabrik di Indonesia, harapannya konsep hilirisasi tersebut bisa diimplementasikan,” katanya. Menurut Tubagus, konsep industri yang ditawarkan oleh ULUU sejalan dengan program ekonomi biru yang diinisiasi KKP. Adapun konsepnya adalah menjaga lingkungan laut dengan melakukan konservasi yang baik. Caranya, dengan memperluas wilayah konservasi dengan target pada tahun 2025 sebesar 30 % dari total area laut. (Yoga)
Sulut Kembangkan Pariwisata Kesehatan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara membuka lebar pintu investasi di bidang kesehatan demi mewujudkan tekad menjadi destinasi pariwisata kesehatan bagi warga Indonesia bagian timur. Tekad ini disampaikan Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw, Jumat (4/8/2023), dalam pembukaan Pameran Medis dan Pariwisata Kesehatan (Indonesia Medical Expo and Health Tourism) 2023 di atrium mal Manado Town Square 3, Manado. Sebanyak 30 badan usaha, seperti rumah sakit dan produsen alat kesehatan, membuka gerai dalam acara itu. (Yoga)
Halmahera Utara Harapkan Lisensi Rempah
Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, berharap bisa mendapatkan lisensi pengembangan rempah sebagai sumber pendapatan asli daerah. ”Dengan mengantongi lisensi atau semacam hak paten, barulah kami bisa berharap rempah bisa mendatangkan pendapatan untuk kas daerah,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Halmahera Utara Erasmus J Papilaya saat membuka Festival Kala Hara, Kamis (3/8/2023) petang. (Yoga)
Pesta Laba Besar Emiten Saham Indeks Kompas 100
Mayoritas emiten saham penghuni indeks Kompas 100 sudah merilis laporan kinerja semester I-2023. Dari hasil kinerja emiten Kompas 100, tercatat sekitar 30 emiten berhasil menorehkan hasil berkilau. Mereka bahkan berpesta laba besar karena sukses menorehkan kenaikan laba
triple digit.
Lonjakan paling kencang ditorehkan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Meski pendapatan tertekan, laba bersih produsen rokok berlabel Gudang Garam ini mencapai Rp 3,28 triliun di semester I-2023. Nilai ini melesat 243,9% secara tahunan atau
year on year
(yoy) dari Rp 956,14 miliar di semester I-2022.
Kenaikan laba hingga
triple digit
juga ditorehkan oleh PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang berada di peringkat kedua. Laba emiten saham milik taipan Prajogo Pangestu itu melesat 243,40% menjadi US$ 30,37 juta di paruh pertama tahun ini.
Tak mau ketinggalan, emiten properti Grup Sinarmas, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga unjuk gigi dengan mencetak laba senilai Rp 1,2 triliun atau melesat 159,02% yoy dari Rp 463,83 triliun.
Terlepas dari faktor pemulihan ekonomi, Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pencapaian para emiten properti juga ditopang upaya pengembang untuk menggaet pembeli.
Emiten bank penghuni indeks ini juga masih bertumbuh. Salah satunya adalah Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 55,18 triliun atau bertumbuh 22,18% secara tahunan.
Senior Research Analyst
Reliance Sekuritas, Lukman Hakim menuturkan, sektor bank masih berpotensi untuk bertumbuh. Meski lambat, tetapi masih ada permintaan kredit di masyarakat.
Secara pergerakan indeks, Kompas100 masih lebih unggul dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per Kamis (3/8), indeks Kompas100 sudah naik hingga 1,96% sementara IHSG baru meningkat 0,69%.









