FORUM B20 Pesan untuk Perhatikan Negara Berkembang
Sejumlah panelis, pelaku bisnis, dan petinggi negara menyerukan pentingnya meningkatkan perhatian khusus kepada negara-negara selatan. Pascapandemi Covid-19, kebutuhan untuk fokus pada negara-negara berkembang dinilai semakin mendesak guna membangun dan menumbuhkan perekonomian. Pesan itu disampaikan dalam sejumlah sesi dialog dan pleno dalam rangkaian Sustainability Summit Ke-18, forum Bloomberg New Energy Finance (BNEF) Summit 2023, dan KTT Business 20 (B20) di New Delhi, India, 23-27 Agustus 2023. Saat berpidato di KTT B20, Minggu (27/8) pagi, Menlu India S Jaishankar mengatakan bahwa mandat inti G20 adalah untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Hal itu tidak akan tercapai jika permasalahan krusial di wilayah selatan tidak diatasi.
B20 merupakan salah satu kelompok G20 yang paling penting dengan fokus pada peningkatan pertumbuhan ekonomi. B20 menjadi forum dialog resmi G20 dengan komunitas bisnis global. Tahun ini KTT B20 India 2023 digelar pada 25-27 Agustus 2023 dengan mengusung tema Responsible, Accelerated, Innovative, Sustainable, and Equitable (RAISE) atau Bisnis yang Bertanggung Jawab, Dipercepat, Inovatif, Berkelanjutan, dan Adil. Negara-negara selatan mengacu pada negara berkembang di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin. ”Setelah pandemi ini, kebutuhan untuk fokus pada negara-negara berkembang menjadi semakin mendesak. Fokus saat ini terhadap negara-negara selatan berasal dari keyakinan bahwa negara-negara ini benar-benar layak mendapat perhatian khusus,” kata Jaishankar pada sesi bertajuk ”Role of Global South in Emerging World 2.0”. (Yoga)
Tantangan Pembiayaan Transisi Energi
Realisasi komitmen pendanaan dari negara maju yang terbatas dan minimnya porsi hibah jadi salah satu ganjalan terbesar percepatan transisi energi di Indonesia. Masalah pendanaan ini pula, antara lain, yang membuat pemerintah menunda peluncuran Dokumen Perencanaan dan Kebijakan Investasi Komprehensif Kerja Sama Transisi Energi yang Adil (JETP). Menurut Wakil Ketua Sekretariat JETP Paul Butar-butar, pemerintah masih butuh waktu untuk menegosiasikan isi dokumen dan mematangkan berbagai aspek dalam program JETP, termasuk pendanaan (Kompas, 24/8). Di satu sisi, kita melihat dukungan setengah hati negara maju, yang pada KTT G20 di Bali menjanjikan komitmen pendanaan 20 miliar USD untuk mendukung transisi energi di Indonesia.
Faktanya, jumlah itu, hanya bagian kecil yang berupa hibah, yakni 300 juta USD. Komponen terbesar tetap utang, yang jika tak hati-hati bisa jadi jebakan baru bagi negara berkembang. Hal ini membuat kalangan masyarakat sipil mendesak pemerintah lebih terbuka terkait komposisi pendanaan negara maju ini. Komitmen setengah hati negara maju ini memunculkan ketidakpastian baru terkait upaya percepatan pemensiunan pembangkit-pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) kita. Dalam kaitan Perjanjian Paris, Indonesia menyampaikan target kontribusi penurunan emisi (NDC) pada 2030 sebesar 31,89 % dengan upaya sendiri dan 43,2 % dengan dukungan internasional. Butuh 281 miliar USD untuk mencapai target ini. Artinya, jika terealisasi sepenuhnya pun, komitmen dukungan negara maju di JETP tak sampai menutup 10 % dari kebutuhan. (Yoga)
Penegakan Hukum Sektor Keuangan Diperkuat
Otoritas Jasa Keuangan menerbitkan POJK No 16/2023 tentang Penyidikan Tindak Pidana Sektor Jasa Keuangan. Dalam keterangannya, akhir pekan lalu, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aman Santosa mengatakan, POJK tersebut menjelaskan secara lengkap soal cakupan tindak pidana sektor jasa keuangan. Ini bertujuan untuk memperkuat penegakan hukum di sektor keuangan. (Yoga)
Masyarakat Adat Minta Tanah Dikembalikan
Koordinator Masyarakat Adat Pubabu-Besipae, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nikodemus Manao, Minggu (27/8/2023), menuntut agar tanah adat seluas 6.000 hektar dikembalikan. Sejak tahun 2000, Pemerintah Provinsi NTT mengambil alih lahan itu untuk sentra peternakan sapi, perkebunan kelor, porang, dan destinasi wisata unggulan. Namun sampai saat ini masyarakat adat belum mendapatkan rumah pengganti yang layak. (Yoga)
Menyelamatkan Industri Sawit Nasional
Industri sawit nasional tidak sedang baik-baik saja. Produksi minyak sawit terus menurun dalam empat tahun terakhir, hingga pada 2022 hanya 46,72 juta ton. Target produksi 90 juta ton per tahun pada 2045 jauh panggang dari api. Biang keroknya adalah produktivitas yang menurun akibat tanaman yang menua, serta peremajaan tanaman yang mandek. Hambatan dagang di luar negeri dan kebijakan dalam negeri juga menjadi tantangan. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Hartono dalam diskusi bersama media di Kabupaten Bandung Barat, Jabar, Rabu (23/8) mengatakan, Indonesia hingga kini masih menjadi produsen CPO terbesar di dunia. Pada 2022, industri sawit menyumbang devisa 39,07 miliar USD atau Rp 600 triliun. Namun, berbagai tantangan menghadang di tengah penurunan produksi.
”Produksi sawit nasional sudah mencapai puncak dan sedang berada dalam tren menurun. Jangan sampai seperti industri gula nasional yang dulu pernah terbesar kedua di dunia, lalu terpuruk karena kebijakan enggak pas dan enggak kondusif,” kata Eddy. Penyebab utama menurunnya produksi sawit nasional adalah komposisi tanaman tua di perkebunan sawit rakyat yang semakin besar. Sementara, program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang dicanangkan pemerintah melalui pembiayaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pemerintah menargetkan PSR seluas 185.000 hektar per tahun. Namun, realisasinya hanya 25.000 hingga 30.000 hektar per tahun, hanya 16 % dari target. (Yoga)
Pembahasan DIM Baru Separuh, Rancangan UU EBET Terancam Molor
Pengesahan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan terancam molor mengingat pembahasan daftar inventarisasi masalah atau DIM baru separuhnya. Pemerintah dan DPR didorong lebih cepat dan serius menuntaskannya tanpa mengesampingkan pendalaman isu-isu krusial di dalamnya. Menurut data Kementerian ESDM, pembahasan DIM Rancangan RUU EBET oleh forum panitia kerja yang terdiri dari wakil pemerintah dan DPR baru 259 dari total 574 masalah dalam DIM. Setidaknya hingga pekan lalu, pembahasan RUU tersebut belum juga dimulai kembali.
Peneliti Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Akmaluddin Rachim, yang dihubungi di Jakarta, Minggu (27/8) mengatakan, pembahasan RUU di sektor energi, termasuk energi terbarukan, amat membutuhkan waktu. Pasalnya, ada banyak kepentingan yang diatur sebelum kemudian disepakati dan diputuskan. ”Kami harap pemerintah dan DPR betul-betul serius karena isu di sektor energi ini akan terus berkembang. Ini berkait dengan capaian bauran energi terbarukan, transisi energi, dan perubahan iklim. Bidang energi membutuhkan kepastian hukum yang kuat. Jika tidak, investasi terkait energi terbarukan akan sulit masuk,” katanya. (Yoga)
Perkuat Rantai Pasok Intra-ASEAN
Hubungan AS-China yang terus memburuk dapat menguntungkan negara-negara ASEAN lewat peluang realokasi investasi yang terbuka lebar. Diperlukan penguatan kerja sama untuk memperkokoh rantai pasok dan perdagangan intra-ASEAN agar peluang itu tidak hanya berujung menguntungkan satu atau dua negara di kawasan. Situasi geopolitik yang runyam akibat rivalitas AS-China menjadi sorotan utama dalam Pertemuan Menkeu dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) Ke-2 yang digelar di Jakarta, 22-25 Agustus 2023 lalu. Untuk menghadapi risiko geopolitik, otoritas fiskal dan moneter se ASEAN pun sepakat memperkuat resiliensi ekonomi kawasan lewat penguatan kerja sama di berbagai bidang.
Dalam konferensi pers penutupan AFMGM akhir pekan lalu, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, meskipun tensi geopolitik itu berpotensi membawa risiko bagi Indonesia dan ASEAN, ada peluang yang bisa dipetik negara-negara kawasan. Kompetisi yang semakin tajam antara Beijing dan Washington mendorong keluarnya aliran modal dari China ke negara-negara lain di Asia. ASEAN, bersama dengan India, menjadi dua kawasan yang tengah dilirik sebagai destinasi investasi baru untuk realokasi industri, di sektor manufaktur dan industri padat teknologi. Hal tersebut menjadi angin segar di tengah tren melambatnya perdagangan dan investasi internasional yang mengancam ketahanan makroekonomi negara. Karena itu, jajaran Menkeu dan Gubernur Bank Sentral di ASEAN harus memastikan instrumen kebijakan fiskal dan moneter-nya bisa menciptakan ekosistem yang kuat untuk memaksimalkan peluang perdagangan dan investasi itu. (Yoga)
Warga Kembali Gugat Pemerintah dan Industri
Kelompok masyarakat sipil akan mengajukan gugatan perwakilan kelompok (class action) terkait polusi udara Jakarta. Kerugian warga akibat polusi udara ditaksir mencapai Rp 51,2 triliun tiap tahun. Ketua Forum Udara Bersih Indonesia Ahmad Safrudin mengatakan, polusi udara menyandera Jakarta sejak 1992. Dari riset Program Lingkungan PBB (UNEP) pada 1992 diketahui Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor di dunia setelah Mexico City (Meksiko) dan Bangkok (Thailand). ”Jakarta dan kota-kota sekitarnya tidak pernah absen sebagai kota dengan polusi udara yang sudah parah dan kronis dalam tiga dekade terakhir. Sejak saat itu, dampak kesehatan telah membebani warganya,” kata Ahmad, saat diskusi bertajuk Menggugat Kerugian Krisis Polusi Udara Jakarta”, Minggu (27/8) di Jalan MH Thamrin, Jakpus.
Nilai kerugian yang diderita warga akibat polusi udara Jakarta sejak tiga dekade silam bertambah setiap tahun. Berdasarkan kajian Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2010, kerugian ekonomi warga untuk perawatan kesehatan akibat polusi udara mencapai Rp 38,5 triliun. Nilai kerugian warga untuk perawatan kesehatan kembali meningkat menjadi Rp 51,2 triliun pada 2016. ”Ini biaya yang dihabiskan warga Jakarta hanya untuk berobat. Belum lagi beban sosial, misalnya karena sakit, warga menjadi tidak nyaman, atau karena sakit, warga tidak bisa bekerja,” kata Ahmad. Gugatan class action yang bakal diajukan ke pengadilan itu, kata Ahmad, didasarkan pada UU No 32 Tahun 2009 tentang Perlindunganan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam UU itu, warga bisa mengajukan gugatan ganti rugi jika pencemaran lingkungan merugikannya. (Yoga)
NESTAPA ANAK NELAYAN KUPANG SETELAH BADAI SEROJA BERLALU
Vantriks Mandala (13) mengunyah makanan sambil menggerutu. Dia berulang kali mengaduk nasi, sayur, dan potongan tempe goreng dalam piring. Dipelototi ayahnya dari seberang meja makan,Vantriks menghabiskan makanan itu dengan berat hati. ”Kapan makan ikan segar lagi?” tanya Vantriks kepada sang ayah. Dia lalu meraih tas dan berangkat ke sekolah dari rumahnya di perkampungan nelayan Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang, NTT, Sabtu (19/8) pagi. Pertanyaan serupa sering dilontarkan Vantriks selama dua tahun terakhir, ketika ikan yang ia konsumsi semakin sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kalaupun ada ikan yang tersaji di meja makan, itu bukan ikan kesukaannya yang dulu selalu ada. Vantriks gemar makan ikan kuwe, yang direbus dan dibakar. ”Saya suka makan mata ikan yang agak berlendir seperti jeli. Itu enak sekali. Saya rasa badan saya kuat,” ujar bocah yang gemar main sepeda dan sepak bola itu.
Berkurangnya konsumsi ikan di keluarga Vantriks itu tak lepas dari masalah yang dihadapi sang ayah, Romi Mandala (43). Dulu, Romi bekerja sebagai nelayan. Namun, pada 4 April 2021, kapal motor miliknya hancur diterjang ombak akibat badai Seroja saat sedang ditambatkan di pesisir Pantai Oesapa. Kala itu, hampir semua wilayah di NTT terdampak. Kerusakan kapal melumpuhkan aktivitas nelayan yang berjumlah 41 keluarga di kampong tersebut. Sebagian besar nelayan yang terdampak itu kini tak lagi melaut. Mereka beralih menjadi pekerja serabutan dan pengojek. Ada pula yang merantau ke daerah lain. Akibat kondisi itu, konsumsi ikan di keluarga nelayan pun berkurang drastis. Saat ini, Romi yang merupakan generasi ke-8 keluarga nelayan itu sedang menabung untuk membeli kapal baru. Untuk membeli satu kapal lengkap dengan mesin dan alat tangkap, butuh uang sekitar Rp 50 juta. ”Targetnya paling cepat dua tahun ke depan,” ujarnya. (Yoga)
Berkah Hengkangnya Dana Asing dari China
Para pemodal asing mulai mengurangi eksposur di saham-saham China. Keluarnya dana asing dari negeri Tirai Bambu ini kemungkinan bisa menguntungkan sejumlah negara di pasar ASEAN, termasuk Indonesia. Krisis properti di China dinilai berpotensi menular ke ekonomi negara itu. Para pemodal asing seperti Morgan Stanley dan Goldman Sachs pun turut memangkas target indeks saham utama China.
Goldman Sachs misalnya, memangkas indeks saham China sebesar 4%. Goldman juga mengurangi eksposur saham teknologi informasi.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, krisis properti di China bisa menyeret dana investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. CEO CTA Saham Andri Zakarias turut mengamini, peluang
hot money
masuk ke pasar saham Indonesia masih terbuka. Namun dia memproyeksikan penguatan aliran dana asing masih akan terbatas. Memang, sejak awal tahun ini asing masih mencatatkan
net buy
di bursa saham Indonesia.
Secara valuasi pun, IHSG masih punya daya tarik bagi asing. Praska Putrantyo, CEO Edvisor Profina Visindo bilang, jika dibanding
emerging market
lain seperti India, Korea hingga Taiwan, valuasi pasar saham Indonesia berada di level rata-rata.
Dengan potensi aliran
capital inflow
ke pasar saham Indonesia, ada beberapa sektor yang diperkirakan menarik minat asing. Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai, sektor energi berpotensi bangkit karena cuaca ekstrim akan mendorong permintaan.
Di sektor barang konsumsi primer, saham jagoan Hans jatuh pada MYOR, INDF, ICBP. Sedangkan Praska menilai sektor bahan baku, batubara, transportasi dan logistik serta konsumer menarik bagi investor asing. Hal ini juga terlihat dari daftar saham yang jadi sasaran beli asing sepekan ke belakang. Tapi, Praska mengingatkan untuk selalu mencermati valuasi harga saham.









