Olahraga Malam, antara Cuan dan Kesehatan
Tiga lapangan bulu tangkis di kompleks GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta, penuh terisi, Senin (4/9) malam. Malam itu, mayoritas pengguna lapangan adalah karyawan yang berkantor di Kuningan dan sekitarnya. Selepas jam kerja, mereka tak bergegas pulang untuk beristirahat. ”Tidak capek ke sini sehabis pulang kerja. Justru ke sini (olahraga) supaya sehat dan bisa rehat sejenak dari kerja,” ujar Aidil Azmi (43), karyawan swasta yang bermain bulu tangkis bersama rekan-rekannya. Waktu Aidil, seperti kebanyakan karyawan kantoran di Jakarta lainnya, untuk berolahraga amat terbatas. Di kantor, dari Senin hingga Jumat, ia bertugas sejak pukul 07.00 hingga pukul 16.00. Tak jarang, karena banyaknya tugas kantor, Aidil terpaksa bekerja hingga beberapa jam setelahnya.
Di tengah tumpukan pekerjaan itu, Aidil merasa waktunya untuk menjaga kesehatan dengan berolahraga nyaris musnah. Aidil beruntung, pihak kantor memfasilitasi para karyawan untuk berolahraga. Tidak semua perusahaan di Jakarta bersedia membiayai sewa lapangan bagi karyawannya. Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan bermain bulu tangkis dengan rekan-rekannya setiap Senin malam setiap pekan. Dengan berolahraga aidil berharap tidak lekas terserang penyakit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 merilis data penyakit yang terbanyak mengakibatkan kematian di Indonesia. Peringkat pertama adalah stroke dengan 131,8 kasus kematian per 100.000 penduduk. Stroke, penyebab kematian tertinggi, bisa dicegah jika warga rutin berolahraga. Rutin berolahraga dapat membantu menjaga tekanan darah agar tetap stabil. Ini karena kenaikan tekanan darah menjadi salah satu pemicu terjadinya stroke. (Yoga)
Kelas Bawah Tanggung Kenaikan Harga Beras Terbesar
Harga beras terus melambung. Masyarakat berpenghasilan rendah atau kelas bawah menanggung kenaikan harga beras terbesar. Untuk itu, pemerintah diharapkan fokus mendistribusikan beras bagi masyarakat kelas bawah dan memastikan kelancaran distribusi ke daerah-daerah yang harga berasnya tinggi. Berdasarkan data Panel Harga Pangan BPN (NFA), per 10 September 2023, harga rata-rata Nasional beras medium di tingkat eceran Rp 12.700 per kg. Harga beras tersebut naik 6,09 % secara bulanan dan 15,98 % secara tahunan. Harga komoditas itu juga sudah di atas harga eceran tertinggi Rp 10.900 per kg. Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah, Minggu (10/9) mengatakan, selama 21 bulan terakhir, awal Januari 2022-8 September 2023, harga beras medium di pasar tradisional atau rakyat lebih rendah dibandingkan di pasar ritel modern. Namun, kenaikan harga beras di pasar rakyat justru lebih tinggi dibandingkan di pasar modern.
Dalam periode itu, kenaikan harga beras di pasar rakyat sebesar Rp 2.250 per kg atau sekitar 19,15 %, sedangkan di pasar modern Rp 1.150 per kg atau 9,55 %. Kenaikan harga beras yang lebih tinggi di pasar rakyat itu membuat perbedaan atau selisih harga beras di kedua jenis pasar tersebut mengecil, yakni dari Rp 1.700 per kg pada 3 Januari 2022 menjadi Rp 600 per kg pada 8 September 2023. ”Hal itu menunjukkan kelas menengah bawah menanggung dampak lebih besar dari kenaikan harga beras dibandingkan kelas menengah atas. Kelas bawah yang biasa membeli beras medium di pasar rakyat menanggung kenaikan harga beras lebih tinggi dari kelas menengah atas yang membeli beras di pasar modern,” ujarnya ketika dihubungi di Jakarta. (Yoga)
Awas soal Potensi Gejolak Beras
Harga rata-rata bulanan gabah dan beras nasional menggapai rekor tertinggi baru dalam kurun 15 tahun terakhir. Indeks harga beras dunia pada Agustus 2023 juga menyentuh titik tertinggi dalam kurun yang sama. Selain faktor iklim, dinamika perdagangan di tingkat global dinilai berperan mendongkrak harga. Kini, negara-negara importir berebut sisa beras yang dapat dikapalkan melintasi negara. Harga beras di negara-negara pengekspor utama, termasuk Thailand dan Vietnam, menurut laporan Reuters, telah naik 20 % sejak India mengumumkan larangan ekspor beberapa jenis beras produksinya pada 20 Juli 2023. Kebijakan dari negara pengekspor beras terbesar dunia itu memperketat pasokan beras global.
Departemen Pertanian AS (USDA) pada Proyeksi Beras edisi Agustus 2023 memperkirakan, perdagangan beras global untuk tahun kaender 2023 dan 2024 turun secara tajam pada bulan lalu. Hal itu merupakan respons atas larangan ekspor beras non-basmati dan non-pratanak (parboiled) oleh India. Akibatnya, ada pembelian yang mendesak oleh beberapa importir dan peningkatan harga beras dengan cepat di Asia. Laporan itu menyebut harga perdagangan di Asia naik tajam sebulan terakhir. Tahun depan, ekspor beras global diperkirakan turun 3,4 juta ton menjadi 52,9 juta ton. Khusus ekspor beras dari India diperkirakan turun 4 juta ton menjadi 19 juta ton.
Sayangnya, produksi padi di dalam negeri tahun ini juga terganggu oleh situasi iklim. Kementan memperkirakan, kekeringan akibat fenomena El Nino bisa membuat Indonesia kehilangan produksi beras 380.000 ton hingga 1,2 juta ton tahun ini, bergantung tingkat keparahan paparannya. Kenaikan harga beras tentu bukan perkara sepele, terutama bagi warga menengah bawah yang sebagian besar penghasilannya harus dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Situasi itu menjadi ujian berat bagi pemerintah untuk memastikan stok mencukupi kebutuhan dan warga miskin tetap bisa mengakses pangan pokok dengan harga terjangkau. Terlebih pada periode akhir tahun hingga awal tahun yang biasanya merupakan siklus paceklik. (Yoga)
Transaksi Keuangan Digital Terus Naik
Nilai transaksi uang elektronik tumbuh 10,5 persen per Juli 2023 menjadi Rp 39,21 triliun. Adapun nilai transaksi QRIS naik 84,5 persen menjadi Rp 18,01 triliun dengan 38,24 juta pengguna, yang 70 persennya didominasi UMKM. ”Bank Indonesia terus mendorong akselerasi digitalisasi sistem pembayaran dan perluasan kerja sama antarnegara,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Erwindo Kolopaking di Labuan Bajo, Sabtu (9/9/2023). (Yoga)
Tahun Politik Tak Signifikan Dorong Inflasi
Tahun politik diperkirakan tak terlalu berpengaruh terhadap angka inflasi Indonesia. Namun, setiap jelang pemilu sejak beberapa periode terakhir, terjadi sejumlah fenomena yang tak menguntungkan Indonesia. Menurut Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro, inflasi diperkirakan tak akan terlalu terpengaruh pada tahun politik. Konsumsi masyarakat masih relatif stabil. ”Konsumsi rata-rata masih relatif terjaga stabil pada 5 % (Bagian) yang turun adalah investasi,” ujar Asmoro dalam dialog dengan wartawan yang diadakan Bank Indonesia di Labuan Bajo, NTT, Sabtu (9/9). Ia menilai, pergerakan inflasi cenderung melambat karena dalam satu tahun sebelum pemilu, kondisi ekonomi cenderung terdampak peristiwa global yang tak menguntungkan Indonesia. Hal ini terjadi dalam Pemilu 2009 hingga jelang 2024. Saat Pemilu 2009, setahun sebelumnya dunia terdampak oleh krisis ekonomi global yang terjadi di AS. Saat itu, dampaknya mulaiterasa pada semester II-2008 hingga semester I-2009.
Kemudian, jelang Pemilu 2014,terjadi taper tantrum pada 2013 ketika bank sentral AS atau The Fed akan mengurangi kebijakan moneter ekspansif seiring meningkatnya perekonomian negara itu. Pada Pemilu 2019, perekonomian global juga dinilai tak stabil, ditengarai perang dagang antara AS dan China. Akibatnya, harga komoditas saat itu turun. Disusul kemudian pandemi Covid-19 pada 2020 yang masih menyisakan imbas bagi perekonomian global, termasuk Indonesia. Negara ini memiliki pekerjaan rumah agar tingkat inflasi terkendali. ”Jadi, memang tantangannya, bagaimana membuat investasi tetap bisa tumbuh, tak turun dengan tajam seperti pola-pola yang kita temui pada pemilu-pemilu sebelumnya,” kata Asmoro. (Yoga)
Ketergantungan pada Impor Perlu Dikurangi
Indonesia kian penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah ataupun BBM. Salah satunya dengan mengoptimalkan pemanfaatan bahan bakar nabati. Pasalnya, saat ini harga minyak mentah sudah menyentuh level 90 USD per barel atau yang tertinggi sejak November 2022. Kenaikan harga minyak mentah dunia itu menjadi alarm bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak mentah dan BBM. Dari total konsumsi BBM nasional, sebanyak 60 % dipenuhi lewat impor dalam bentuk minyak mentah ataupun bahan bakar. Padahal, kebutuhan akan energi (BBM) di Indonesia terus meningkat.
”Tentu akan ada koreksi harga (BBM eceran) akibat hal tersebut. Sebagai antisipasi, Indonesia perlu mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak. Program biofuel (bahan bakar nabati) seperti biodiesel dan bioetanol dapat mendukung haltersebut secara jangka panjang,” ujar Direktur Eksekutif Energy Watch Daymas Arangga saat dihubungi di Jakarta, Minggu (10/9). Dalam mengoptimalkan pemanfaatan BBM, untuk gasoil, saat ini solar B35 atau pencampuran solar murni dengan biodiesel sebanyak 35 % sudah diterapkan di tingkat nasional. Sementara pencampuran gasolin (bensin) dengan bioetanol 5 % (E5) sudah diperkenalkan ke pelanggan, tetapi baru tersedia di 17 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta dan Surabaya, Jawa Timur. (Yoga)
Nestapa Petani Jateng Dililit Kekeringan
Selama beberapa waktu terakhir, Widodo (52) harus mendatangi dua mata air dan satu sumur desa setiap hari. Hal itu dia lakukan untuk mencari air guna mengairi sawahnya yang berlokasi di Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, Jateng. ”Saya harus mencari air dari mana saja karena sawah saya sudah pecah-pecah dan kering. Padahal, padi di sawah itu akan panen minggu ini,” kata Widodo, Kamis (7/9). Luas area tanaman padi Widodo itu 1.000 meter persegi. Dari tiga sumber air di sekitar lahannya, ada satu mata air yang telah mengering selama sebulan terakhir. Sementara itu, masih ada satu mata air yang selalu mengalirkan air. Namun, pasokan air dari mata air tersebut tidak mencukupi.
Apalagi, Widodo juga harus berbagi dengan petani lain. dari sumur desa. Pasokan air dari sumur desa berkedalaman 12 meter juga tidak bisa diandalkan. Ketika sumur terlihat mengering, Widodo harus menunggu hingga ketinggian air naik. Dia mesti telaten menengok kondisi air di dalam sumur. Selain padi, Widodo juga masih merawat 250 tanaman pepaya yang ditanamnya sekitar sebulan lalu. Masalahnya, di sekitar lahan pepaya itu tidak ada sumber air yang bias diandalkan untuk pengairan. Sekretaris Desa Deyangan Ahmad Fauzi Farkhan mengatakan, total luas lahan pertanian di desa itu 200 hektar. Memasuki musim kemarau, aliran air irigasi sudah diatur bergiliran sehingga Desa Deyangan hanya mendapat pasokan air seminggu sekali, sehingga 40 % lahan terpaksa dibiarkan menganggur. (Yoga)
Sawah di Denpasar Hasilkan 2.717 Ton Gabah
Di tengah ancaman kemarau dan dampak El Nino, sawah di Kota Denpasar, Bali, diperkirakan masih mampu menghasilkan 2.717,99 ton gabah pada musim panen September 2023. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kota Denpasar I Gusti Ayu Ari Puspayeni, Sabtu (9/9/2023), mengatakan, jenis padi yang umum dibudidayakan petani di Kota Denpasar adalah padi Ciherang, Pandan Wangi, dan Inpari 32. (Yoga)
Parpol Bisa Menjadi Kian Pragmatis
Dipercepatnya tahapan pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden seperti yang dirancang Komisi Pemilihan Umum, dari sebelumnya 19 Oktober-25 November menjadi 7 Oktober-14 November, diperkirakan membuat pragmatisme politik menguat. Visi dan ideologi para calon pun akan mengikuti setelah factor elektabilitas terpenuhi. Dari tiga koalisi yang terbentuk, baru Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) yang mendeklarasikan bakal capres-cawapres yang diusung, yakni Anies R Baswedan-Muhaimin Iskandar, kendati pasangan itu juga baru didukung dua parpol anggota koalisi, yakni Nasdem dan Partai Kebangkitan Bangsa.
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih menunggu keputusan Majelis Syura PKS terkait dukungan terhadap Muhaimin. Adapun koalisi parpol pengusung bakal capres Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto belum ada yang menetapkan bakal cawapres. Di sisa waktu satu bulan menuju pendaftaran capres-cawapres pada 10 Oktober, sesuai rancangan Komisi Pemilihan Umum (KPU), kedua koalisi itu masih sibuk konsolidasi dan berburu cawapres. (Yoga)
Polusi
Semua orang sepakat bahwa dampak buruk polusi udara di Jakarta dan sekitarnya berbahaya untuk kesehatan. Polusi bisa membuat orang batuk, seperti yang dialami Presiden Joko Widodo menjelang perayaan Hari Kemerdekaan bulan lalu. Polusi juga menyebabkan angka pasien gangguan pernapasan akut yang tercatat di rumah-rumah sakit melonjak. Predikat Jakarta sebagai kota dengan udara terburuk di dunia pun bukan promosi yang baik. Namun ada yang tidak disepakati secara bulat, apa sebenarnya penyebab buruknya udara di Jakarta itu?
Tudingan tertinggi tertuju pada banyaknya kendaraan bermotor yang berseliweran di jalanan. Sektor transportasi ini menyumbang polusi terbesar dan hal itu diungkapkan dengan data yang jelas oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam rapat terbatas kabinet di Istana Negara. Lalu solusinya adalah membatasi jumlah kendaraan bermotor. Masyarakat, khususnya pegawai negeri, diminta bekerja dari rumah. Langkah selanjutnya adalah penerapan aturan ganjil-genap, uji emisi kendaraan bermotor, dan wacana kembali satu mobil dengan empat penumpang, lebih ketat dari kebijakan three in one pada masa lalu.
Tapi udara tetap saja kotor. Pasti ada penyebab lainnya. Tudingan pun mengarah ke wilayah industri, pabrik yang melontarkan asap tebal ke udara. Bahkan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) yang berbasis batu bara dituding sebagai biang keladi. Lalu dicobalah penurunan kapasitas produksi PLTU yang ada. Udara tetap saja kotor. Dan muncul bantahan, PLTU itu, termasuk PLTU Suralaya di Cilegon, tak membawa asap kotor ke Jakarta. Angin menerbangkan asap itu ke Selat Sunda. (Yetede)









