Polusi
Semua orang sepakat bahwa dampak buruk polusi udara di Jakarta dan sekitarnya berbahaya untuk kesehatan. Polusi bisa membuat orang batuk, seperti yang dialami Presiden Joko Widodo menjelang perayaan Hari Kemerdekaan bulan lalu. Polusi juga menyebabkan angka pasien gangguan pernapasan akut yang tercatat di rumah-rumah sakit melonjak. Predikat Jakarta sebagai kota dengan udara terburuk di dunia pun bukan promosi yang baik. Namun ada yang tidak disepakati secara bulat, apa sebenarnya penyebab buruknya udara di Jakarta itu?
Tudingan tertinggi tertuju pada banyaknya kendaraan bermotor yang berseliweran di jalanan. Sektor transportasi ini menyumbang polusi terbesar dan hal itu diungkapkan dengan data yang jelas oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar dalam rapat terbatas kabinet di Istana Negara. Lalu solusinya adalah membatasi jumlah kendaraan bermotor. Masyarakat, khususnya pegawai negeri, diminta bekerja dari rumah. Langkah selanjutnya adalah penerapan aturan ganjil-genap, uji emisi kendaraan bermotor, dan wacana kembali satu mobil dengan empat penumpang, lebih ketat dari kebijakan three in one pada masa lalu.
Tapi udara tetap saja kotor. Pasti ada penyebab lainnya. Tudingan pun mengarah ke wilayah industri, pabrik yang melontarkan asap tebal ke udara. Bahkan PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) yang berbasis batu bara dituding sebagai biang keladi. Lalu dicobalah penurunan kapasitas produksi PLTU yang ada. Udara tetap saja kotor. Dan muncul bantahan, PLTU itu, termasuk PLTU Suralaya di Cilegon, tak membawa asap kotor ke Jakarta. Angin menerbangkan asap itu ke Selat Sunda. (Yetede)
Tags :
#BencanaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023