Menakar Masa Depan Bitung
Sepanjang Januari-September tahun ini produksi perikanan tangkap di 13 kabupaten/kota bahari di Sulut sudah 272.691 ton, melampaui 258.976 ton yang tercatat pada 2019 sebelum pandemi Covid-19. Selama semester I-2023, sekitar 21.100 ton ikan yang didominasi cakalang dan tuna sirip kuning alias madidihang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Bitung oleh 935 kapal. Jumlah itu kurang dari setengah total tangkapan 2022 yang mencapai 57.900 ton, tetapi Julius yakin produksi terus naik sampai akhir tahun ini. ”Masa panen biasanya Maret-Juni, kemudian Juli-Agustus tangkapan sedikit karena musim ombak. Saya duga, panen sudah dimulai sekarang,” tutur Julius, ketika ditemui di sebuah warung di PPS Bitung, Jumat siang.
Namun, ada satu hal yang bikin Julius khawatir akan masa depan nelayan Bitung, yaitu kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT) yang diwacanakan KKP sejak 2022. Para nelayan di Bitung menolak keras kebijakan itu, tetapi pemerintah meresmikannya dengan PP No 11 Tahun 2023. Julius setuju dengan filosofi PIT untuk menjaga sumber daya kelautan dan perikanan negeri dengan sistem kuota. Namun, menurut dia, pemerintah bertindak kontradiktif dengan membuka pintu investasi bagi kapal perikanan asing dengan skema yang berlaku paling cepat awal 2024. ”Kapal-kapal lokal enggak mungkin saingan sama asing. Kapal lokal paling tinggi 300-an GT (gros ton), di Jawa pun enggak lebih dari itu. Kalau kapal asing, misal purse seine (pukat cincin), bisa ribuan ton!” ujar Julius, mewakili 57 pemilik kapal dalam Gerakan Nelayan Perkasa Indonesia (GNPI). Ia curiga, PIT jadi akal-akalan pemerintah untuk membisniskan sumber daya perikanan negeri kepada pemodal asing. Dari empat zona yang dikhususkan untuk industri, ditawarkan kuota sebesar 4,89 juta ton ikan per tahun dengan nilai Rp 120,6 triliun. (Yoga)
Melemahnya Rupiah
Melemahnya rupiah
akhir-akhir ini sudah berdampak pada transaksi perdagangan, terutama
barang-barang impor dan sangat berdampak terhadap berbagai lini usaha. “Awal
bulan, komputer dan perantinya mengalami kenaikan harga. Harga laptop naik ratusan
ribu rupiah. Kenaikan harga juga di aksesori, seperti mouse dan lainnya. Kenaikan
bisa Rp 50.000-Rp 100.000 per item. Saat depresiasi rupiah, kenaikan harga
bercabang ke aksesori. Ini membuat berkurang penjualan. Jualnya susah, orang
malas datang (ke toko offline), jadinya lari ke online,” kata Rizky (28),
Penjual Toko Laptop Gamer.id.
Timoti Tirta (32), Pelaku
Usaha Ascenta Tour, Jakarta, mengatakan, “Menjelang akhir tahun, memang
biasanya rupiah melemah. Jadi, kebiasaan pelanggan kalau mau ke luar negeri
pada akhir tahun, dia sudah menukarkan uangnya sebelum Desember. Cuma ketika ada
pembayaran yang belum lunas, seperti maskapai atau hotel, kami memang pasti
akan kurangi keuntungan. Jadi, ketika membuat paket perjalanan di awal,
biasanya ada spare untuk perubahan kurs. Pengeluaran perjalanan ke negara Asia enggak
terlalu terasa ketika dollar AS melemah dibandingkan ke negara Barat”.
Unit usaha wisata agak
terpengaruh depresiasi rupiah karena harga kebutuhan sehari-hari makin mahal
sehingga cadangan rekreasi berkurang. Akibatnya, beberapa program yang sudah terencana
menjadi tertunda. Kebanyakan (klien) memilih memakai uang mereka untuk keperluan
sehari-hari dulu dan menunda perjalanan rekreasi mereka, ujar Budi
Kusumaningsih (50), Pelaku Usaha Wisata, Yogyakarta. (Yoga)









