Tuntaskan Program Sertifikasi Halal UMKM
Potensi Maggot dalam Mengelola Sampah Organik
Guru Besar Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar) Bandung Prof Judy Retti B Witono mengungkapkan bahwa maggot memiliki
potensi dan dapat digunakan sebagai solusi efektif dalam mengatasi masalah
sampah organik. Hal tersebut disampaikan Prof. Judy dalam Presentasi Kunci
“Pengolahan Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot”, Sabtu (4/11). Prof Judy
menjelaskan secara terperinci bagaimana maggot, dalam bentuk larva lalat
tentara hitam, mampu mengolah sampah organik dengan efisien. Prof Judy juga menyampaikan urgensi
pengelolaan sampah organik melalui budi daya maggot sebagai solusi terhadap
permasalahan yang semakin memprihatinkan.
Dalam pemaparannya, Prof Judy menyoroti masalah penumpukan
sampah organic yang mencapai lebih dari 50 % total sampah yang saat ini hanya
dibuang begitu saja. Prof Judy menggarisbawahi urgensi untuk memahami mengapa
pembudidayaan maggot sangat penting dalam menangani masalah ini. “Maggot
menjadi solusi yang tak hanya penting, tetapi juga mendesak dalam menangani
masalah sampah organic yang masih banyak diabaikan atau hanya ditumpuk di
tempat pembuangan sampah,” ujar Prof Judy.
“Sampah organik,
ketika terfermentasi, menghasilkan gas metana yang tak hanya berdampak pada
polusi saat ini, tetapi juga akan berdampak padaefek rumah kaca pada masa
depan,” ucapnya. Ia menekankan bahwa penanganan limbah organik dengan maggot dapat
memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya membiarkannya membusuk atau
dibuang begitu saja. “Maggot bisa digunakan sebagai sarana pengelolaan sampah
yang lebih ekonomis dan efisien,” tuturnya. Budi daya maggot tidak hanya
menangani sampah organik, tetapi juga membuka potensi penggunaan hasilnya untuk
berbagai keperluan, mulai dari pakan ternak, produk kimia, hingga produk
kosmetik. Dengan demikian, budi daya maggot menjadi solusi holistis dalam
mengelola sampah organik sambil memberikan manfaat yang lebih luas. (Yoga)
Pro Kontra Kenaikan UMP 2024
Margin Pupuk Subsidi dan Non Subsidi Berpotensi Diselewengkan
Sebulan Listing, Barito Renewables Cetak Kinerja Cemerlang
Pertamina Jalin Kerja Sama dengan Sinopec
Tingkat Keterisian Pesawat di Kertajati Capai 70-75%
Waspada Inflasi Akibat Pangan Impor
Naik Tipis Upah Minimum 2024
BI Akan Defisit Rp 29 Triliun Tahun 2024
Pada tahun depan, anggaran Bank Indonesia (BI) akan besar pasak daripada tiang. Anggaran bank sentral diperkirakan mengalami defisit setelah mencatatkan surplus pada tahun ini.
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Senin (13/11), BI menyodorkan Rancangan Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI) 2024 dengan proyeksi defisit Rp 29,30 triliun. "Ini dipengaruhi oleh pengeluaran anggaran kebijakan yang meningkat, termasuk juga kenaikan biaya operasi moneter," papar Gubernur BI, Perry Warjiyo, kemarin.
Ia menambahkan, hal ini juga terkait beban kontribusi BI terhadap program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) atau yang lebih dikenal dengan
burden sharing
antara bank sentral dan pemerintah sejak 2020 hingga 2022.
Sedangkan Anggaran Operasional BI diyakini bisa surplus sekitar Rp 9,68 triliun, terutama disumbangkan oleh penerimaan hasil pengelolaan aset valuta asing (valas). Namun Perry bilang, pihaknya akan mengupayakan anggaran dioptimalkan untuk menjaga progres pertumbuhan ekonomi nasional.
Atas usulan tersebut, BI bersama Komisi XI DPR membentuk panitia kerja (panja). Sayangnya, pembahasan atas RATBI 2024 akan dilakukan secara tertutup.
"Langsung saja bentuk panja. Jadi ada panja penerimaan dan panja pengeluaran," ungkap Ketua Komisi XI DPR Kahar Muzakir dalam raker tersebut, kemarin.
BI dan Komisi XI DPR kemudian menggelar rapat panja kemarin malam.
Surplus ini dipengaruhi optimalisasi penerimaan dari pengelolaan surat berharga, termasuk surat berharga negara (SBN). Juga realisasi pengeluaran kebijakan, seperti pembayaran jasa giro pada pemerintah dan kebutuhan beban operasi moneter.









