Benahi Hulu dan Tata Kelola Tambang di Kerinci
Pemda didorong untuk membenahi tata kelola tambang galian C
di Kabupaten Kerinci, Jambi, karena berkontribusi pada pendangkalan sungai.
Ribuan warga terdampak banjir besar di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci
karena Sungai / Batang Merao dan Danau Kerinci meluap. Aktivitas tambang marak
di anak-anak sungai di pinggir Jalan Lintas Sungai Penuh-Padang, Desa Siulak
Deras Mudik, Kecamatan Danau Kerinci. Tambang itu ada yang beroperasi dan
berizin, ada pula yang sudah ditutup karena tak berizin. Dari lokasi itu,
mengalir air berlumpur dan batu ke sungai-sungai kecil, seperti Sungai Cubadak
dan Sungai Sigabung yang bergabung ke Sungai / Batang Merao, yang bermuara di
Danau Kerinci. ”Sungai dangkal karena orang menambang. Sudah bahaya, masih juga
menambang. Tembok rumah kami hampir roboh karena sungai meluap. Tetangga ada
yang dapurnya hanyut,” kata Ita, warga sekitar Sungai Tuak, Minggu (21/1).
Banjir besar sejak awal tahun menyebabkan bantaran Sungai Tuak
terkikis. Di badan sungai bertumpuk batu koral. Di bagian hulunya terdapat
tambang galian C berizin. ”Dulu sungainya dalam, sekarang dangkal. Ada 4 meter
ketebalan lumpur dan batu koralnya,” ujar Ita. Menurut Heri (55), petambang
pasir skala kecil di bantaran Batang Merao, sejak banyak tambang galian C di
hulu, air Batang Merao tak pernah jernih lagi. ”Sungai juga dangkal, dulu 2
meter, sekarang hanya1meter,” ujarnya. Berdasarkan data mutakhir BPBD Kota
Sungai Penuh, per 14 Januari 2024, wilayah terdampak banjir ada 28 desa dan 1
kelurahan. Sebanyak 7 desa tidak lagi terdampak banjir. Jumlah warga terdampak
5.673 keluarga atau 17.155 jiwa.
Jumlah pengungsi mencapai 7.175 jiwa. Sementara itu, Satgas
Tanggap Darurat Bencana Banjir dan Longsor Kabupaten Kerinci mencatat, hingga
17 Januari 2024, banjir dan longsor melanda 16 kecamatan dan 95 desa di
kabupaten ini. Sebanyak 6.668 keluarga atau 19.634 jiwa terdampak, sebagian
warga mengungsi ke rumah keluarga. Kabid Pertambangan Mineral dan Batubara
Dinas ESDM Jambi, Novaizal Varia Utama mengatakan, pihaknya tak punya
kewenangan terhadap bekas tambang galian C tanpa izin. ”Namun, terkait
penambangan yang menghasilkan lumpur akan kami koordinasikan dengan Kementerian
ESDM melalui inspektur tambang terkait pengawasannya,” ujarnya. (Yoga)
KONFLIK LAHAN DI MAIWA RAMPAS KEHIDUPAN WARGA
Konflik lahan di Kecamatan Maiwa, Kabupaten Enrekang, Sulsel,
telah berlangsung dua dekade. Warga berusaha mempertahankan ruang hidup dan penghidupannya,
sementara di sisi lain ada klaim pengelolaan dari BUMN. Kelindan persoalan menjadi
runyam karena perubahan sikap pemda setempat. Ketidakpastian akan ruang hidup
dan penghidupan itu dialami Ruding (80) warga Desa Batu Mila, Kecamatan Maiwa,
Kabupaten Enrekang, yang separuh hidupnya selalu berhadapan dengan konflik dan
ancaman bencana. ”Saya kembali ke Enrekang tahun 1999, karena program Bupati Enrekang
untuk warga tak mampu menggarap lahan yang ditelantarkan PTPN (PT Perkebunan Nusantara)
di Maiwa dan saya ikut. Ternyata di sini pun berkonflik,” katanya saat ditemui di
Desa Batu Mila, Selasa (9/1). Dia tak bisa melupakan peristiwa tahun 2022 ketika
buldoser PTPN XIV dibantu pasukan Brimob meratakan kebunnya. Seluruh kebun yang
ditanami durian, rambutan, merica, pala, hingga kakao rata dengan tanah. Tahir
(50) ingat betul ketika buldoser datang. Ia sedang memanen lada di kebun. Hari yang
seharusnya menjadi saat gembira, berubah menjadi duka.
”Sekarang saya tanam jagung. Itu pun di sekitar kampung saja dan
tak banyak. Ada juga padi ladang. Untuk keperluan makan saja. Selebihnya saya
jadi buruh tani,” kata bapak empat anak ini. Sebagai buruh tani, Tahir kerap
bekerja menanam jagung dengan upah Rp 50.000 untuk setiap kg benih yang ditanam.
Sekali musim tanam, hanya 3 kg yang ditanam karena banyak warga lain yang jadi buruh.
Panggilan kerja menanam jagungpun hanya sekali dalam empat bulan. Ibrahim (50)
dan banyak peternak lain di desa itu harus menyaksikan ternak sapi mereka mati.
”Setelah kebun diratakan, rumput-rumput disiram racun. Sapi saya banyak yang
mati dengan mulut berbusa. Ada yang kakinya ditebas dan tubuhnya dilukai. Entah
oleh siapa,” katanya. Ruding, Tahir, dan Ibrahim hanya tiga dari ratusan
keluarga yang menghadapi konflik lahan dengan PTPN XIV. Hidup mereka kini
diliputi rasa khawatir. Setiap saat waswas jika buldoser akan datang.
”Kebun sudah habis, tinggal rumah yang belum diratakan. Kalau
harus keluar, kami mau ke mana dan bekerja apa?” kata Efendi (60), penyadap
nira dan pembuat gula aren di wilayah itu. Konflik antara warga dan PTPN XIV
sebenarnya sudah berlangsung lama. Namun, menjadi ramai sejak dua tahun lalu. Konflik
bermula saat lahan seluas 5.230 hektar masuk dalam kawasan HGU Bina Multi
Ternak (BMT). Lahan itu terhampar di tiga kabupaten di Sulsel, yakni Enrekang,
Pinrang, dan Sidrap. Namun, sebagian besar lahan berada di Enrekang yang meliputi
dua kecamatan, yaitu Maiwa dan Cendana. Saat ini, lahan bekas HGU PT BMT itu
tinggal 3.265 hektar setelah sebagian di antaranya dijadikan kebun raya dan
bumi perkemahan. Pada tahun 1996, kepemilikan lahan berganti dan HGU atas lahan
itu berpindah ke PTPN XIV.
Setelah satu dekade vakum, pada 2016, PTPN kembali masuk dan
memulai aktivitas penanaman sawit. Zulfikar menambahkan, bupati saat itu,
Muslimin Bando, pernah mengeluarkan larangan karena HGU PTPN sudah habis dan belum
diperpanjang. ”Awalnya tak ada tindakan penggusuran. Namun, pascapandemi
Covid-19, pihak PTPN mulai mengusir warga. Puncaknya saat mereka meratakan
kebun warga,” kata Zul- fikar. Aksi unjuk rasa yang dilakukan warga berakhir
dengan sejumlah petani luka tertembak. Beberapa di antaranya ditangkap.
Penggusuran oleh PTPN dengan dalih land cleaning dilakukan setelah bupati yang
semula menolak berubah sikap dan mengeluarkan surat rekomendasi untuk mengurus perpanjangan
HGU pada 2020. ”Rekomendasi ini menjadi dasar PTPN menggusur warga. Padahal,
sebenarnya kegiatan mereka pun ilegal karena melakukan aktivitas penanaman di
lahan yang HGU-nya sudah habis sejak 2003. (Yoga)
Ahmad Junaidy, Mental Besi Pengolah Ulin
Ahmad Junaidy (43) berkreasi dengan limbah kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri), menghasilkan aneka perabot dapur yang disukai konsumen di Indonesia hingga mancanegara. Perabot yang terbuat dari limbah kayu ulin yang baru selesai dibuat di rumah produksi Osan Indonesia di Gambut, Kabupaten Banjar, Kalsel, Sabtu (13/1) ditumpuk di sebuah meja. ”Semua terbuat dari kayu ulin. Bisa dikatakan dibuat dari limbah kayu ulin karena menggunakan potongan-potongan kayu ulin yang panjangnya kurang dari 1 meter,” kata Ahmad Junaidy alias Odi, pemilik UMKM Osan Indonesia. Odi mulai mengolah limbah kayu ulin menjadi barang kerajinan pada 2017. Saat itu, di depan tempat kerjanya ada usaha mebel yang memproduksi kusen pintu dan jendela dari bahan kayu ulin. Sisa potongan kayu ulin ukuran 30-35 cm kerap dibuang meski masih bagus.
Odi langsung berpikir untuk membuat barang kerajinan dari limbah kayu ulin. Odi kemudian mencari inspirasi di aplikasi Pinterest. Ia menemukan contoh talenan yang bagus dan sangat ergonomis. ”Dari situ, saya langsung berpikir untuk bikin talenan dari limbah kayu ulin,” katanya. Begitu satu talenan selesai dibuat, ia mengunggah fotonya di Facebook. Teman-temannya di media sosial memberikan tanggapan positif. Hampir semua bilang,talenan yang kini diberi nama Susan Series itu bagus. Talenan Susan Series ditawarkan Rp 35.000 per buah, yang langsung protes perajin lain karena harganya terlalu murah. Akhirnya, harga jual secara bertahap dinaikkan hingga sekarang menjadi Rp 85.000 per buah.
”Setelah promosi di media sosial dan ikut pameran UMKM di Banjarbaru pada Oktober 2017, orderan terus masuk dan bertambah. Dalam sehari saya pernah bikin 30 talenan,” ungkapnya. Pada 2019, ia mulai membangun gudang atau tempat produksi di Gambut, tepatnya di Jalan Ahmad Yani Kilometer 11,8. Odi juga merekrut tenaga kerja. Dua pekerja tetap dan satu pekerja lepas. Sejak 2019, produksi talenan kayu ulin dilakukan setiap hari. Model talenannya pun semakin beragam hingga 22 model. ”Kami memproduksi 500 talenan sebulan. Untuk spatula dan sumpit, bisa sampai 1.000 buah per bulan, dengan omzet rata-rata Rp 15 juta sampai Rp 20 juta per bulan, dengan keuntungan 30-40 %,” katanya. Sejak 2021, Osan Indonesia digandeng BI sebagai UMKM mitra dan binaan Kantor Perwakilan BI Kalsel. Sejak saat itu, Osan men- dapat dukungan dan binaan dari BI sehingga bisa memasarkan produknya ke luar negeri, yaitu ke Jepang. (Yoga)
Kerbau Rawa Pampangan, Pemantik Pelestarian Lingkungan
Tradisi beternak kerbau rawa (B bubalis carabauesis) di Sumsel
bertahan sejak era kerajaan hingga kini di sejumlah desa di Kecamatan Pampangan,
Ogan Komering Ilir. Kesadaran masyarakat untuk melestarikan lingkungan pun
terbangun demi menjaga habitat rumpun kerbau lokal asli Indonesia tersebut.
Kamis (7/12/2023) Paisol (44) beranjak dari rumahnya di Desa Bangsal,
Pampangan, menuju kompleks kandang di Pulau Tapus denan perahu ketek menyusuri Sungai
Lubuk Sekayan. Ia memiliki 50 ekor kerbau rawa ternak di kandang. Paisol
membersihkan kotoran di kandang dengan menumpuknya di pundak sejumlah kerbau. ”Nanti,
kotoran itu jatuh di sungai dan padangan (hamparan rumput liar) yang menjadi pupuk
alami untuk menyuburkan rerumputan,” ujar Paisol. Setelah itu, barulah Paisol membuka
pintu kandang. Kerbau-kerbau itu pun lekas menuju padangan yang menjadi sumber
pakan mereka sehari-hari.
”Kerbau rawa Pampangan suka sekali berenang. Kalau musim
banjir (semua padangan tergenang air biasanya selama Januari-Maret), mereka bisa
berenang berjam-jam dan menyelam untuk memakan rerumputan di dasar air,” ujar M
Ali Hanapiah, Sekretaris Desa Bangsal, yang mendampingi Kompas dan Pantau
Gambut, organisasi nonpemerintah yang berfokus pada riset dan advokasi
keberlanjutan lahan gambut di Indonesia. Kerbau rawa mudah diternakkan, cukup
dilepaskan pada pukul 06.00-07.00 dan mereka akan keluar untuk mencari pakan di
lingkungan sekitar. Menjelang petang, kerbau itu kembali ke kandang. Kerbau
rawa identik dengan Pampangan karena mereka bagian tak terpisahkan dari rantai
kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Susu kerbau menjadi sumber
pendapatan harian peternak. Peternak bisa mendapatkan sekitar 1 liter susu per
ekor per hari.
Susu dihargai Rp 20.000 per liter. Susu itu laku dijual
karena ada perajin atau pembuat gulo puan yang membutuhkannya. Gulo puan adalah
produk turunan susu kerbau yang menjadi komoditas unggulan Desa Kuro dan Desa Bangsal,
dua desa paling tua di Pampangan, yang konon ada sejak era Kesultanan Palembang
Darussalam abad XVII- XIX. Gulo puan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda
Indonesia pada 2021. Dari pelatihan yang diberikan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove
serta Universitas Sriwijaya pada 2020, kelompok peternak mampu mengolah kotoran
kerbau menjadi pupuk organik yang teruji bisa membantu mengoptimalkan
pertumbuhan tanaman hortikultura. Karena belum memiliki izin jual, pupuk itu
diberikan gratis kepada warga. Keunikan kerbau rawa dan keindahan alam di
Pampangan juga menarik minat wisatawan dalam beberapa tahun terakhir. ”Kami
melihat pariwisata bisa menjadi sumber pendapatan masa depan di sini,” kata
Kades Bangsal Angkut, Join. (Yoga)









