Jalan Panjang Konsolidasi Produksi-Konsumsi Gas
Tahun 2023, performa sektor gas bumi ditandai peningkatan
produksi gas bumi dan kepastian dimulai kembalinya pengerjaan Blok Masela
setelah Pertamina dan Petronas resmi menggantikan Shell. Ada pula Train 3
Tangguh LNG yang mulai beroperasi. Catatan positif itu semakin besar gaungnya
dengan penemuan dua sumber gas besar. Pertama adalah temuan di laut lepas Kaltim
oleh perusahaan minyak dan gas bumi asal Italia, Eni, dengan potensi 5 triliun
kaki kubik (TCF) gas. Kedua, temuan di sumur eksplorasi Layaran-1, South
Andaman, di lepas pantai Sumatera bagian utara, dengan potensi 6 TCF gas.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas)
mencatat, dua temuan itu menjadi yang terbesar di Indonesia sejak 2000 atau
ketika ditemukannya sumber gas di lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku. Keduanya
juga masuk dalam lima temuan terbesar di dunia pada 2023, berdasarkan laporan
Wood Mackenzie, Rystad Energy, dan S&P Global.
Menteri ESDM Arifin Tasrif, di Jakarta, Senin (15/1) mengatakan,
temuan sumber gas baru serta lapangan-lapangan yang telah berproduksi terus dipacu.
”Ini akan kita dorong agar kepastian untuk berproduksinya dicapai (Sumber-sumber
gas di Indonesia) .Pada tahun 2030 harus sudah bisa termanfaatkan,” katanya.
Infrastruktur energi, termasuk pipanisasi gas, akan menentukan melimpahnya gas
bumi Indonesia bisa termanfaatkan atau tidak. Guna memanfaatkan besarnya potensi
gas bumi dari Blok Andaman, pemerintah berencana membangun kilang LNG di Aceh.
Muncul harapan kembalinya era kejayaan LNG Arun di Aceh, yang sempat menjadi
salah satu produsen LNG terbesar di dunia pada masanya. Perkembangan
infrastruktur transmisi gas bumi juga diharapkan mempercepat pengembangan jaringan
gas perkotaan (jargas) yang selama ini berjalan lambat.
Pada 2023, dari total penyaluran gas bumi domestik sebesar
3.745 BBTUD, pemanfaatan jargas alias yang ke rumah-rumah warga hanya 16,14
BBTUD atau 0,43 %. Padahal, setiap tahun, pemerintah menarasikan jargas sebagai
alternatif pengganti elpiji 3 kg, karena 77 % dari total kebutuhan elpiji
nasional dipenuhi dari impor. Sementara distribusi elpiji 3 kg yang bersubsidi
itu kerap kali bermasalah, karena siapa saja bisa membeli elpiji yang sejatinya
untuk warga miskin. Arifin menuturkan, pemerintah terus mengupayakan penambahan
sambungan jargas seiring dibangunnya proyek transmisi gas. ”Sebab, kita harus menghemat
devisa. Impor elpiji sudah 5-6 juta ton per tahun. Kami juga akan mempermudah
masyarakat untuk mendapat energi di rumah supaya tidak perlu gotong-gotong gas
melon lagi,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023