Menguji Materi Aturan Pajak Hiburan
Bayar Utang Luar Negeri, Cadev Turun Jadi US$ 145,1 Miliar
KAI Commuter Angkut 2 Juta Penmpang di 2025
Ekspor Konsentrat Tembaga Disesuaikan Daya Serap Smelter
Iklim Investasi Industri Sawit RI harus DIjaga
Efek Candu Bantuan Sosial
Blokir Anggaran demi Bansos
TANCAP GAS SEKTOR TRANSPORTASI
Mesin ekonomi Indonesia bakal mendapat tenaga ekstra pada kuartal I/2024, seiring dengan potensi melejitnya sektor usaha transportasi dan pergudangan serta akomodasi. Maklum, selama 3 bulan pertama tahun ini, kedua sektor usaha itu menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan signifi kan lantaran ditopang hari libur dan cuti bersama sebanyak 9 hari yang bisa menjadi bahan bakar bagi industri transportasi dan pariwisata. Belum lagi momentum pemilihan umum (pemilu) yang digadang-gadang turut memacu geliat sektor transportasi dan logistik. Secara historis, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penumpang transportasi mengalami peningkatan pada kuartal I/2023. Peningkatan penumpang ditorehkan semua moda transportasi mulai dari angkutan rel tumbuh 69,37% secara year-on-year (YoY), angkutan laut naik 13,30%, dan angkutan udara domestik melejit 32,69%. Kondisi tersebut berimbas positif terhadap pertumbuhan PDB sektor transportasi dan pergudangan selama 3 bulan pertama 2023 yang naik 15,93% secara YoY atau yang tertinggi dibandingkan dengan lapangan usaha lainnya. Selain itu, sektor akomodasi & makanan minuman juga naik 11,55%. Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) M. Kristi Endah Murni memperkirakan libur panjang selama 4 hari mulai 8-11 Februari 2024 akan menaikkan pergerakan penumpang hingga 5% dibandingkan dengan hari biasa. Kemenhub mencatat penerbangan ekstra dilakukan di beberapa rute domestik seperti Jakarta-Denpasar, Jakarta-Medan, dan Jakarta-Surabaya, sedangkan rute luar negeri seperti Denpasar-Xianmen dan Denpasar-Guangzhou China.
Adapun, Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia Faik Fahmi, mengatakan pergerakan penumpang domestik dan internasional di 35 unit bandara selama 1 Januari-7 Februari 2024 sudah menembus 14,64 juta orang.
Pencapaian positif juga dicatatkan moda bus. Ketua Umum DPP Organda Adrianto Djokosoetono mengatakan bahwa potensi kenaikan permintaan diperoleh bus pariwisata pada periode libur panjang Isra Mikraj dan Imlek 2024Selain itu, permintaan bus pariwisata juga ditopang oleh periode kampanye politik.
Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran juga melihat okupansi hotel pada kuartal I/2024 berbeda dibandingkan tahun sebelumnya mengingat ada Pemilu pada 14 Februari 2024.
Setali tiga uang, Wakil Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) Budijanto Ardiansjah juga memprediksi peningkatan okupansi hotel pada libur panjang Imlek 2024 dibandingkan libur Imlek 2023.
Sementara itu, ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpandangan momentum libur panjang kali memberikan sentimen positif pada prospek pertumbuhan ekonomi pada sektor usaha transportasi dan pergudangan. Kondisi itu masih ditambah dengan libur Isra Mikraj dan Imlek tidak jauh dari penyelenggaraan Pemilu pada 14 Februari 2024. Menurutnya, dampak libur panjang ke perekonomian akan makin terasa jika pemerintah mempercepat pencairan bantuan sosial (Bansos). Dia mengatakan pencairan Bansos yang efi sien akan menambah pendapatan dan turut berimbas pada kemampuan konsumsi masyarakat.
Demi Ekonomi Pemilu Harus Jurdil
Dalam dua pekan terakhir tensi politik di Tanah Air memanas. Tidak hanya di tingkat kontestasi dan akar rumput, situasi internal pemerintahan pun turut memanas, seiring dengan berembusnya isu pengunduran diri sejumlah menteri. Beberapa pekan lalu Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat diisukan bakal mengundurkan diri. Bersama sejumlah menteri yang berasal dari PDI Perjuangan. Kabar ini membuat pasar uang dan pasar modal sempat berguncang saat ekonomi dunia tak ada sentimen yang berarti. Isu pengunduran diri Sri Mulyani Cs ini memang tidak sampai terucap alias terkonfirmasi dari yang berangkutan secara langsung. Namun, sejumlah tindakan para menteri seolah-olah mengonfirmasi kabar tersebut. Sri Mulyani seolah-olah ‘menghindari’ wartawan selepas bertemu Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu. Menteri PUPR Basuki Hadimuljono pun tidak terlihat saat peresmian Tol Danau Toba, meski belakangan disebut sedang berada di luar negeri.
Di kalangan akademisi, guru besar hingga civitas akademika, ramai-ramai menyerukan bahwa masa depan demokrasi sedang tidak baik-baik saja. Mereka memprotes sikap Presiden Jokowi yang dinilai ‘cawe-cawe’ dalam kontestasi. Bahkan, mereka menilai pelanggaran etik dilakukan untuk memuluskan dinasti politik. Seperti diketahui Mahkamah Konstitusi hingga Komisi Pemilihan Umum divonis melanggar etik dalam memutuskan aturan yang disinyalir untuk ‘meloloskan’ Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden berpasangan dengan calon presiden, Prabowo Subianto. Tidak hanya dari kalangan akademisi, para pemuka agama pun ikut bersuara dengan situasi yang terjadi saat ini.
Dari lingkaran pemerintah menanggapi aksi civitas akademisi adalah skenario menjelang pilpres. Beberapa aparat pun melakukan pendekatan ke sejumlah akademisi dan rektor untuk memberikan testimoni positif pemerintahan Jokowi.
Idealnya sikap pemerintah netral. Namun, dengan kondisi seperti ini, sikap netral itu bakal menjadi isapan jempol di mata publik. Dua pelanggaran etik yang dinilai memuluskan anak presiden ikut konstentasi di pilpres sudah menjadi fakta publik.
Apabila presiden ikut kampanye langsung, padahal Jokowi bukan kontestan, tensi politik bakal terus memanas. Identitas presiden tidak netral akan terus didegung-dengungkan publik dalam pilpres ini. Yang perlu dilakukan presiden beserta jajarannya membuktikan bahwa mereka netral. Meskipun tidak mudah, karena sejumlah menteri kabinet Jokowi mendukung Prabowo-Gibran, presiden hanya perlu memastikan pemilu jujur dan adil. Jujur artinya tidak ada manipulasi hasil pemilihan. Adil yang berarti tidak ada intervensi dalam pengerahan alat negara dalam pilpres kali ini.
STABILITAS EKONOMI : WASWAS TEKANAN LANJUTAN CADEV
Tekanan atas cadangan devisa masih cukup tinggi, seiring dengan sinyal dari bank sentral negara maju yang baru akan melonggarkan suku bunga acuan pada semester II/2024 sehingga membatasi aliran modal ke Tanah Air pada paruh pertama tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada bulan pertama tahun ini menyusut US$1,3 menjadi US$145,1 miliar.Menyempitnya cadangan devisa tersebut akibat jatuh tempo pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.Kalangan ekonom pun memperkirakan, tekanan pada cadangan devisa masih cukup tinggi lantaran Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan ada beberapa faktor yang akan mendorong penguatan cadangan devisa pada semester kedua tahun ini. Hal ini berpotensi meningkatkan arus masuk baik dari penanaman modal asing (PMA) baik di sektor riil maupun pasar keuangan. Meski demikian, Josua melihat adanya potensi risiko yang berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan, yang didorong oleh kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas yang sedang berlangsung.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa cadangan devisa pada berpotensi mengalami penurunan, terutama dipengaruhi oleh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan bank sentral memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga.Stabilitas tersebut juga lahir dari sinergi bauran kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Sementara itu, otoritas fiskal dan moneter terus meramu jamu mujarab untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Selain optimalisasi instrumen operasi moneter, langkah taktis juga ditempuh dengan memperluas cakupan penempatan devisa hasil ekspor (DHE).
Tak hanya aktivitas ekspor yang diperluas, pemangku kebijakan juga tengah merumuskan diskon tambahan Pajak Penghasilan (PPh), serta memperluas jenis instrumen penampung devisa di dalam negeri.









