Harga Beras Terus Meroket, Perlu Langkah Lanjutan
Langkah pemerintah menggelontorkan beras ke ritel, pasar
swalayan, dan pasar-pasar di daerah ternyata belum mampu menahan kenaikan harga
beras. Harga beras di sejumlah daerah hingga Minggu (18/2) masih terus naik.
Sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah sepanjang pekan lalu belum
cukup untuk meredam lonjakan harga. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah
lanjutan untuk mengatasi persoalan ini. Berdasarkan pantauan Kompas, harga
beras medium di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jabar, pada Minggu sudah melesat
hingga Rp 17.500 per kg. Hanya dua hari, kenaikannya Rp 2.500 per kg. Fadhil (24),
pedagang di Pa- sar Kosambi, mengaku, kenaikan ini terbilang tinggi. Biasanya
harga beras medium hanya Rp 13.000 per kg. Dari distributornya di Sragen, Jateng,
ia mendapat informasi bahwa mereka tidak memiliki banyak stok untuk dijual. Harga
beras premium pun belum terkendali, dari biasanya Rp 16.000 per kg kini menjadi
Rp 18.000 per kg. Fadhil berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar masalah
ini.
”Semua jenis beras susah didapat. Saya sudah pesan 3 ton
beras ke distributor di Jateng sejak dua pekan lalu. Namun, sampai sekarang belum
ada barangnya,” kata Fadhil lesu. Harga beras saat ini sudah jauh melampaui HET
yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan
zonasi untuk beras medium. Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa
Refila mengungkapkan, pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium.
”Kondisi ini terjadi di ritel kami dan supermarket lainnya. Kami terus berupaya
mengatasi kondisi ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,”
ujarnya. Tidak hanya di kota besar, kelangkaan beras premium juga terjadi di sentra
padi, seperti di Kabupaten Cirebon. Sabtu (17/2) sore, seorang warga,
Artantiani Putri (32), kesulitan mendapatkan beras premium. Di supermarket
Griya Jamblang, tempat penjualan beras kosong melompong. (Yoga)
Intergarsi Bisnis dan Akuisisi Lambungkan Kinerja Petrindo
Listrik Premium Hijau dari PLTS Terapung
Bahaya Data di Luar Negeri
6 Program Digitalisasi Berdampak ke Ekonomi
Potensi Bisnis MRO Diproyeksi Tembus US$ 2 M
Ekspor Terancam Resesi dan Konflik Geopolitik
Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras
Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan
terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional
dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan
pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan
dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai
kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras
berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk
meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur
pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg
kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.
Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat
kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan
dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri
terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit
produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi
puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen
raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini
gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton).
Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah
juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering
panen petani.
Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras
nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun
terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih
harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa
mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan
fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino
dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024,
dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga)
Waspadai ”Banjir” Produk Impor Murah China
Indonesia perlu mewaspadai dan mengantisipasi ”banjir” produk
impor murah China ditengah perlambatan ekonomi negara tersebut. Pengawasan dan
penyelidikan atas barang impor itu perlu lebih ditingkatkan agar tidak
merugikan pelaku usaha di dalam negeri. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia
(Apindo) Shinta W Kamdani, Minggu (18/2) mengatakan, saat ini, industri
manufaktur di China tengah kelebihan hasil produksi. Pasar domestik tidak mampu
menyerap produk-produk itu lantaran daya beli masyarakat melemah. ”Dalam
kondisi itu, China bisa saja menerapkan dumping atau menjual barang ke luar
negeri dengan harga lebih murah dibandingkan dengan di dalam negeri,” ujarnya
ketika dihubungi di Jakarta. Harga barang dan jasa di tingkat konsumen serta
produsen tengah mengalami deflasi terburuk. Hal itu merupakan cerminan
pelemahan daya beli masyarakat, sekaligus tertahannya geliat industri domestik
China.
Biro Statistik Nasional China mencatat, pada Januari 2024 China
mengalami deflasi 0,8 % secara tahunan. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK)
itu merupakan penurunan terbesar dalam 14 tahun terakhir atau sejak September 2009.
Harga barang dan jasa di tingkat produsen juga deflasi 2,5 % secara tahunan. Indeks
Harga Produsen (IHP) tersebut masih melanjutkan tren deflasi selama 16 bulan
berturut-turut atau sejak Oktober 2022. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai
potensi ”banjir” produk impor China. Strategi, mekanisme, dan kapabilitas
penyelidikan serta penegakan antidumping terhadap impor dari China perlu
ditingkatkan. Upaya itu, ujar Shinta, sangat penting dan krusial untuk melindungi
pasar dan industri dalam negeri. (Yoga)
Utak-atik Anggaran untuk Makan Siang Gratis
Dua hari setelah pemungutan suara, Prabowo Subianto-Gibran
Rakabuming Raka menjadi sorotan karena ingin mengurangi subsidi energi demi
mendanai program makan siang gratis, janji populis yang mereka umbar selama
kampanye. Rencana itu dilontarkan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran,
Eddy Soeparno, dalam wawancara dengan Bloomberg TV, Kamis (15/2). Di situ, Eddy
ditanyai soal sumber dana untuk merealisasikan program makan siang gratis
senilai Rp 400 triliun yang menjadi ”senjata” andalan Prabowo-Gibran selama
kampanye. Eddy menjawab, cara pertama dengan meningkatkan rasio perpajakan (tax
ratio) Indonesia hingga mengimbangi negara tetangga di kawasan. Kedua,
mengurangi subsidi yang tidak terlalu dibutuhkan, seperti subsidi energi yang
penyalurannya kerap salah sasaran. Ia optimistis sumber dana itu bisa didapat
dalam waktu 2-3 bulan setelah Prabowo menjabat.
”Saat ini, Indonesia punya anggaran subsidi energi Rp 350
triliun. Sebanyak 80 % dari subsidi itu dinikmati mereka yang tidak berhak
mendapatkannya. Jadi, kami akan melakukan penyesuaian (finetune) terhadap subsidi
itu,” kata Eddy, dikutip dari tayangan Bloomberg TV. Ucapan Eddy sontak menjadi
pembicaraan hangat. Narasi yang muncul di media sosial, Prabowo-Gibran ingin
memangkas subsidi BBM dan menaikkan pajak. Warganet pun khawatir harga BBM
naik, inflasi meroket, dan tarif pajak ke depan lebih mahal. Saat dihubungi
pada Jumat (16/2), Eddy menjelaskan, TKN Prabowo-Gibran tidak ingin memangkas
subsidi BBM. Pihaknya hanya mau mengevaluasi pemberian subsidi energi yang saat
ini dinikmati masyarakat mampu supaya lebih tepat sasaran. Misalnya, untuk
masyarakat miskin, UMKM dan yayasan kemanusiaan, dengan menyempurnakan data penerima.
Lalu menyempurnakan peraturan untuk menegaskan kriteria masyarakat yang berhak
menerima subsidi energi, lengkap dengan sanksi jika ada yang melanggar. (Yoga)









