Bertemu Surya Paloh, Jokowi Ingin Menjadi Jembatan untuk Semua
Menjelang Ramadan, Pemerintah Jaga Pasokan Sembako
Menjaga Pertumbuhan Ekonomi Tetap 5%
Menerka Nasib Industri Sawit
Saham Berorientasi ESG Berprospek Cerah
Saham perusahaan yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan,
sosial, dan tata kelola atau ESG dapat menjadi pilihan bagus bagi investor untuk
mendulang keuntungan lebih. Perusahaan, khususnya yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia, dipastikan memiliki fundamen keuangan dan bisnis yang berkualitas.
Prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) yang diterapkan suatu perusahaan
tercatat di bursa atau emiten tidak hanya mementingkan keuntungan finansial, tetapi
juga keuntungan dari tata kelola yang baik dalam hal menjaga lingkungan dan kesejahteraan
masyarakat. Hal ini sejalan dengan upaya global untuk menahan laju perubahan
iklim dan mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Retail
Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia, Andrian A Saputra,
mengatakan, ESG harus menjadi faktor nonfinansial yang dipertimbangkan investor
dalam menilai aktivitas bisnis suatu perusahaan. Sejauh ini, ESG telah menjadi
matriks utama investasi dan referensi emiten melaporkan dampak bisnis mereka
yang akan membantu menjaga reputasi perusahaan.
”Ketika berinvestasi, selama ini kita banyak mempertimbangkan
faktor kinerja keuangan, seperti perhatikan net income, liabilitas, dan aspek
keuangan lainnya. Aspek non-financial seperti ESG ini dapat jadi indikator juga
untuk pilih perusahaan selain yang bisa kasih potensi cuan oke, tapi juga
secara bisnis mampu merawatlingkungan," ujar Andrian dalam seminar daring,
Senin (19/2). Investor dalam negeri bisa dengan mudah mengenali perusahaan
lokal yang telah berorientasi ESG dengan membaca daftar emiten di empat Indeks
di Bursa Efek Indonesia (BEI). Empat indeks itu adalah Indeks ESG Leaders
(IDXESGL), ESG Sector Leaders IDX Kehati SRI-Kehati, dan ESG Quality 45 IDX
Kehati. Indeks tersebut mengumpulkan puluhan saham dengan kinerja keuangan dan
likuiditas transaksi baik, termasuk yang bekerja sama dengan Yayasan Keanekaragaman
Hayati Indonesia (Kehati). (Yoga)
Hunian Murah Impian Kelas Menengah
Dewasa ini, hunian merupakan kebutuhan primer yang semakin
sulit dijangkau. Harganya yang terus melejit telah membuat banyak orang,
terutama generasi muda kelas menengah berpenghasilan tanggung, semakin
berandai-andai akankah mereka dapat memiliki hunian layak untuk berteduh. Salah
satu penyebab harga properti terus merangkak naik saban tahun ialah
ketersediaan lahan yang makin hari makin susut. Hal ini tidak lepas dari pertumbuhan
populasi penduduk. Ditambah, urbanisasi tak lagi dapat terbendung,
mengakibatkan lahan-lahan di perkotaan semakin tergerus. Hukum pasar
supply-demand pun berlaku, makin banyak permintaan, makin tinggi pula harga
lantaran pasokan terbatas. Artinya, pertumbuhan demografi penduduk telah menciptakan
permintaan yang tinggi. Sementara ketersediaan lahan terus menyusut. Di kawasan
Sentul, Bogor, Jabar, pengembang menawarkan hunian yang dibanderol Rp 700 juta per
unit. Bagi kalangan masyarakat berpenghasilan tanggung, kurang lebih Rp 8 juta
per bulan, hunian tersebut cukup ideal. Namun, harga di level itu masih sulit
dijangkau.
Alhasil, keinginan memiliki rumah itu berakhir menjadi angan
semata. Dengan penghasilan tanggung, Septian (29), karyawan swasta di Jakarta, merasa
pasaran harga hunian di wilayah Jabodetabek makin tak tergapai. Mau tidak mau, upaya
untuk mendapatkan hunian ideal harus ditempuhnya dengan ”menyalakan” dua dapur.
”Dengan total pendapatan berdua sekarang, mungkin bisa berani ambil KPR (kredit
pemilikan rumah) yang tenornya 15 tahun, dengan cicilan Rp 5 juta per bulan
untuk harga rumah di kisaran Rp 600 juta-Rp
700 juta. Akan tetapi, kalau masih bujang, belum berani ambil rumah, mending sewa
atau indekos,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, Minggu (18/2). Menurut dia, terdapat
pilihan hunian lain yang harganya jauh lebih terjangkau. Namun, lelaki yang
baru membangun rumah tangga tersebut harus mengorbankan jarak tempuh yang
semakin jauh menuju tempat kerjanya. Artinya, ia harus mengalokasikan biaya
transportasi untuk pergi-pulang bekerja. (Yoga)
”Gulo Puan”, Kudapan dari Susu Kerbau Rawa Kegemaran Raja Palembang
Berada 60 km atau 2 jam tenggara Palembang, Sumsel, Desa
Bangsal di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, punya arti penting dalam
sejarah kuliner di kalangan bangsawan keturunan penguasa kerajaan di Palembang.
Desa Bangsal adalah tempat lahirnya gulo puan, camilan dari olahan susu kerbau
rawa Pampangan, yang dijuluki ”Kudapannya Raja-raja Palembang”. Seusai menerima
2,5 liter susu kerbau dari menantunya, Paisol (44), di salah satu rumah di Desa
Bangsal, Kamis (7/12) Masnah (60) menyiapkan wajan, kompor gas, elpiji 3 kg,
ember kecil, dan gula pasir 0,5 kg. Masnah mencampur susu kerbau dan gula pasir
di ember kecil, lalu menuangkan adonan yang sudah tercampur rata itu ke wajan
dan mengaduknya perlahan dengan spatula. Api kompor disetel antara kecil dan sedang
karena proses masak harus bertahap 1-2 jam. Setelah melihat adonan mengental,
Masnah mengaduknya perlahan hingga campuran susu kerbau dan gula mengkristal,
kering kasar kecoklatan. Sekilas teksturnya mirip gula aren, dengan warna lebih
pucat. Hasil masakan itulah yang disebut gulo puan. Camilan itu berasal dari
dua suku kata, ”gulo” yang artinya gula atau manis dan ”puan” yang artinya
susu. Maksudnya, gula susu atau manisan dari susu. Tak jarang gulo puan menjadi
teman minum teh atau kopi. Ada juga yang memakannya langsung.
Menurut Masnah, membuat gulo puan menjadi tradisi yang diwariskan
turun-temurun kepada para perempuan di Desa Bangsal. Masnah belajar membuat gulo
puan menjelang pernikahannya dengan Junaidi (70) pada tahun 1979, tujuannya
agar bisa menambah pemasukan keluarga atau membantu suami tanpa mengganggu
tanggung jawabnya dalam keluarga. Hasil dari gulo puan dinilai cukup
menjanjikan. Untuk menghasilkan 1 kg gulo puan, bahan yang dibutuhkan adalah
2,5 liter susu kerbau seharga Rp 62.500 (Rp 25.000 per liter) dan 0,5 kg gula
pasir seharga Rp 8.000 (Rp 16.000 per kg). Selain itu, elpiji 3 kg seharga Rp
20.000 per tabung, tapi bisa digunakan memasak dalam 2-7 hari. Dengan modal
produksi Rp 70.500, harga jual gulo puan bisa mencapai Rp 120.000 per kg.
Artinya, ada keuntungan Rp 49.500, belum termasuk keuntungan dari penjualan
produk turunan, seperti minyak samin seharga Rp 200.000 per kg dan mentega Rp
80.000 per kg. Namun, butuh proses masak berulang atau dalam jumlah besar untuk
menghasilkan 1 kg minyak samin dan 1 kg mentega. (Yoga)
Investor Mulai Ambil Posisi pada Obligasi Pemerintah
Uji Daya Tahan Lawan Resesi Global
Selain efek pemilihan umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, investor juga perlu mencermati ketidakpastian ekonomi global. Apalagi usai Jepang dan Inggris tumbang ke jurang resesi. Pasar juga dihadapkan pada bayang-bayang perlambatan ekonomi dua negara adikuasa, Amerika Serikat (AS) dan China. Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto memandang, resesi dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju sudah diprediksi cukup lama. Fendi optimistis, ketahanan ekonomi Indonesia masih bisa meredam dampak situasi tersebut. Meski kontribusi ekspor terpangkas, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa stabil di 5% dengan dorongan konsumsi dalam negeri. Begitu pula terhadap pasar modal Indonesia, Fendi meyakini daya tariknya masih memikat investor asing. "Justru flow of fund kalau terjadi resesi global, masuk ke Indonesia. Yield of return Indonesia masih sangat atraktif dari kacamata investor asing," kata Fendi, Senin (19/2). CEO Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra menimpali, banyak faktor yang mempengaruhi prospek bursa saham Indonesia. Jika resesi dan perlambatan ekonomi global berkepanjangan, apalagi di mitra dagang Indonesia, membawa sentimen negatif. Emiten berorientasi ekspor yang rentan terdampak antara lain di sektor industri dan komoditas seperti manufaktur, tambang dan energi. Komoditas energi seperti batubara dan minyak mentah bisa tertekan.
Sedangkan komoditas pertanian seperti kelapa sawit berpeluang stabil. Emiten non-tambang yang mengandalkan ekspor kayu, makanan dan barang konsumsi lain bisa turut terimbas penurunan permintaan. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menyarankan tetap waspada terhadap saham-saham komoditas tambang dan energi. Terutama yang berfundamental lemah dan eksposur tingggi terhadap volatilitas harga komoditas. Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari menambahkan, umumnya karakteristik bisnis emiten di Indonesia cenderung di pasar domestik. Sehingga, penting menilik lebih dalam mengenai ketahanan daya beli di dalam negeri. Di sisi yang lain, Rizki memandang resesi global bisa meningkatkan probabilitas bank sentral memangkas tingkat suku bunga. Hal ini dapat membawa katalis positif terhadap emiten yang sensitif terhadap penurunan tingkat suku bunga seperti properti, teknologi, perbankan, menara telekomunikasi, dan jalan tol. Investment Consultant Reliance SekuritasIndonesia, Reza Priyambada sepakat dengan dibayangi potensi resesi, bank sentral dapat menurunkan suku bunga. Dengan sentimen resesi dan perlambatan ekonomi global, Reza menyarankan mewaspadai atauwait and see saham tambang energi dan mineral seperti INDY, ITMG, ADRO dan BRMS.









